
Patricia masih terheran-heran dengan apa yang terjadi di apartemennya. Saat dia datang, apartemennya sudah dalam kondisi bersih tanpa debu. Padahal dalam beberapa waktu terakhir tempat ini kosong. Belum lagi dengan berkas-berkas yang menumpuk rapi di ruang tamu, membuat Patricia sempat berpikir kalau selama dia tidak di sini ada orang lain yang menempati apartemen miliknya.
Kira-kira siapa ya yang tinggal di sini selama aku tidak ada? Mustahil kalau ini adalah perbuatan Junio, dia kan tidak tahu sandi untuk membuka kamar ini. Juga dengan pekerjaan kantor, manusia mana yang akan dengan sukarela menyelesaikan pekerjaan sebanyak itu? Bahkan orang ini mengirimkan semuanya pada Ayah dengan mengatasnamakan aku. Atau jangan-jangan ada penguntit? Ah, tidak masuk akal.
Karena pusing memikirkan siapa yang tinggal di sini, Patricia akhirnya terlelap di sofa. Dia tidur dengan nyaman, tenang tanpa ada gangguan. Sejak Patricia menjadi tawanan di rumah Junio, tak pernah sekalipun dia bisa istirahat setenang ini. Setiap detiknya, perasaan Patricia selalu di hinggapi rasa bersalah dan juga rasa jijik dengan kondisinya yang sudah tidak suci lagi. Coba pikirkan, wanita mana yang tidak merasa hancur di saat kepemilikannya direnggut paksa oleh seorang pria gila. Wajarlah jika Patricia sampai harus mengalami tekanan yang cukup berat, membuatnya sampai harus kehilangan berat badan yang sangat signifikan. Di tambah lagi sekarang Patricia juga kehilangan kakeknya, semakinlah batinnya merasa amat sangat tertekan.
Tok, tok, tok
"Patricia, buka pintunya. Patricia!"
Samar-samar Patricia seperti mendengar orang mengetuk pintu sambil berteriak memanggil namanya. Matanya mengerjap, dia kemudian duduk menyender ke sofa.
"Jam berapa sekarang?" gumam Patricia kemudian melihat jam di tangannya. "Whaat? Sudah jam 4 sore?"
Mungkin karena suasana di apartemen ini terlalu tenang, Patricia sampai tidak menyadari kalau hari sudah sore. Puaslah dia tertidur seharian tanpa ada yang menggangu. Kecuali orang ini. Orang ini terus saja mengetuk pintu apartemen sehingga membuat Patricia mau tidak mau bergerak untuk membukanya.
Dari lubang yang ada di pintu, Patricia mengintip terlebih dahulu untuk melihat siapa yang datang. Dan begitu Patricia tahu, dia langsung menelan ludah.
"Patricia, aku tahu kau ada di dalam. Cepat buka pintunya atau aku akan mendobraknya!"
Untuk apa Junio datang kemari? Ya Tuhan, aku tidak mau lagi menjadi boneka s*ksnya. Tolong aku Tuhan.
Dengan tangan gemetaran Patricia terpaksa membuka pintu karena Junio sekarang mulai menendang. Bibirnya bergetar ketika pandangan mata mereka saling bertemu.
"Lama sekali. Apa yang sedang kau lakukan di dalam sih?" tanya Junio kesal sambil mendorong tubuh Patricia ke samping.
"K-kau mau apa Jun?"
Patricia berbalik. Nafasnya sedikit sesak ketika membayangkan kalau kedatangan Junio adalah untuk memintanya memberikan pelayan. Ingin rasanya Patricia menjerit meminta tolong, tapi lidahnya kelu. Pun dia juga tidak berani memprovokasi kemarahan pria gila ini karena Patricia tahu betapa kasarnya sikap Junio.
"Hei, kenapa kau malah berdiri mematung di sana. Kemari!" ucap Junio sambil mengendurkan dasi yang melilit di lehernya.
"K-kau mau apa Jun?" tanya Patricia lagi sembari berjalan ke arah sofa.
"Ck,"
Junio berdecak. Dia bukannya tidak tahu kalau wanita ini sedang ketakutan, makanya Junio sengaja duduk menjauh. Entahlah, tiba-tiba saja Junio merasa sangat bersalah karena sudah membuat mental Patricia jadi seperti ini. Wanita yang dulunya terlihat angkuh dan tegas mendadak berubah seperti orang idiot setelah apa yang dia lakukan padanya. Tak ingin terbawa perasaan, Junio dengan kasar melemparkan dua paperbag ke arah Patricia.
"Mandi yang bersih kemudian pakai baju itu. Sebentar lagi Gleen akan menikah, dan aku ingin mengajakmu pergi ke sana."
__ADS_1
"Gleen menikah?"
"Iya,"
Patricia dengan hati-hati mengeluarkan isi dari paperbag tersebut. Seulas senyum tipis muncul di bibirnya tatkala dia melihat gaun putih bercorak bunga yang terlihat sangat anggun. Dia kemudian membuka paperbag yang satunya. Ternyata isinya adalah sepasang sepatu kaca.
"Suka?" tanya Junio.
Ekspresi di wajah Patricia membuat Junio terpana. Dia sampai menelan ludah.
"Iya. Gaunnya sangat indah dan sepatunya cantik" jawab Patricia pelan. "Terima kasih."
"Ekhm, kalau begitu cepatlah pergi mandi dan berdandan. Sebentar lagi acaranya akan dimulai" ucap Junio salah tingkah sendiri.
Patricia mengangguk. Dia lalu membawa gaun dan juga sepatunya ke dalam kamar. Meletakkannya di atas ranjang kemudian dia pergi untuk membersihkan diri.
Di ruang tamu, Junio nampak terdiam sambil menatap langit-langit ruangan. Dia mencoba membayangkan akan seperti apa cantiknya Patricia ketika mengenakan gaun yang dia bawakan.
"Apa wanita akan sesenang ini jika dibawakan hadiah oleh seorang pria? Lucu sekali."
Sambil menunggu Patricia selesai bersiap, Junio melihat-lihat berkas yang bertumpuk di atas meja. Keningnya mengernyit ketika mendapati ada yang salah pada berkas tersebut.
Terlalu banyak tapi yang Junio pikirkan hingga membuatnya tak menyadari kalau Patricia sudah selesai bersiap. Dia terlihat gugup saat panggilannya tak dihiraukan oleh Junio.
"Jun, aku sudah siap. Ayo berangkat!"
Junio tak bergeming. Dia masih sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Junio! Jun, ayo berangkat!" ucap Patricia setengah berteriak.
Teriakan Patricia akhirnya berhasil menyadarkan Junio. Dia menoleh, terbengang kaget melihat kemunculan seorang wanita cantik di sebelahnya.
"Cantik sekali,"
Wajah Patricia memanas. Dia lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"K-kau bilang acaranya akan segera di mulai. Ayo cepat bangun, nanti kita terlambat."
Junio mengerjapkan mata. Dia berdehem beberapa kali untuk menormalkan rasa kagumnya. Sambil merapihkan dasi, Junio bangkit dari tempatnya duduk. Dia lalu menggandeng tangan Patricia tanpa meminta izin terlebih dahulu.
__ADS_1
"Lepas Jun, aku bisa jalan sendiri" protes Patricia risih dengan sikap Junio.
"Diamlah. Hak sepatumu sangat tinggi, aku tidak mau kalau kau sampai terpeleset kemudian jatuh di lantai. Itu akan membuang-buang waktu dan aku sedang tidak mau direpotkan!" sahut Junio mendustai suara hatinya.
Padahal sesungguhnya di hati Junio mulai ada rasa tidak suka kalau-kalau ada pria lain yang akan ikut menikmati kecantikan Patricia. Jadilah dia dengan sengaja menggandeng tangannya agar tidak ada pria yang berani macam-macam.
"Kau yang memilih" sungut Patricia kesal.
"Bukan aku, tapi karyawan toko. Aku hanya menyebutkan saja kalau ingin membeli sepatu wanita yang cocok untuk dipasangkan dengan gaun yang sedang kau pakai."
"Alasan saja kau!"
Junio mengulum senyum. Saat mereka masuk ke dalam lift, dengan tidak tahu malunya Junio menutupi tubuh Patricia saat ada dua orang pria ikut masuk bersama mereka. Patricia yang melihat ulah nyeleneh Junio hanya bisa mendesah pelan. Dia tak tahu lagi harus bagaimana menyikapinya, jadi Patricia memilih untuk diam membiarkan Junio melakukan apa yang dia mau.
Ting
Pintu lift terbuka. Junio memicingkan mata saat salah satu dari pria itu terlihat penasaran dengan Patricia. Dengan tatapan membunuh, dia melemparkan kata-kata yang langsung membuat pria tersebut pergi melarikan diri.
"Aku tidak keberatan untuk menggorok lehermu kalau kau masih berani menatap kemari. Dasar pria cabul, beraninya kau menggoda wanita milik orang lain. Sudah bosan hidup ya, hah!"
"Apa-apaan kau Junio. Seperti orang tidak waras saja!" omel Patricia sambil mendorong tubuh Junio agar tak menghalangi jalan.
"Hei, aku ini sedang melindungimu dari pria cabul itu. Malah mengomel!" keluh Junio seraya mengejar Patricia yang sudah meninggalkannya jauh di depan.
"Melindungi kepalamu. Yang cabul itu kau, bukan pria itu!"
"Jangan fitnah ya, Patricia."
"Fitnah apa. Itu memang kenyatannya kok."
Junio berdecih, dia tak bisa bisa lagi mengelak dari tuduhan Patricia.
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
...🌻IG: rifani_nini...
__ADS_1
...🌻FB: Rifani...