
Gabrielle tersenyum sembari mengelus-elus punggung istrinya yang sedang terlelap. Saat ini mereka masih berada di dalam pesawat, masih harus menunggu sekitar satu jam lebih untuk bisa sampai di Paris.
"Syuuttt... Syuuutttt..."
Kepala Gabrielle tertoleh kearah pintu saat dia mendengar suara bisik-bisik dari arah sana. Keningnya mengerut, heran melihat kelakuan Levi dan Reinhard yang sedang berebut untuk mengintip.
"Apa kalian berdua kekurangan pekerjaan?" sindir Gabrielle kesal. "Pergi sana, ini ruangan khusus untuk aku dan Elea. Jangan jadi lalat pengganggu!."
Bukannya pergi, Reinhard dan Levi malah meringsek masuk ke dalam ruangan. Mereka sama-sama tersenyum tanpa dosa saat Gabrielle melayangkan tatapan membunuh pada mereka berdua.
"Jangan emosi Gab. Ingat, istrimu sedang tidur. Elea bisa bangun kalau kau berteriak!" ucap Levi saat melihat Gabrielle hendak mengeluarkan makian.
"Benar yang di sampaikan Levi, Gab. Lebih baik kau duduk santai saja memangku Elea, dan biarkan kami berada di sini untuk menjadi lalat pengganggu" imbuh Reinhard tanpa merasa malu.
Meski tak terima karena waktunya terganggu, Gabrielle akhirnya dengan terpaksa membiarkan kedua lalat ini berada di dalam ruangannya. Dia lalu menunduk, menatap wajah lelap istrinya yang sama sekali tidak merasa terganggu. "Aku sangat suka jika melihat wajah polosmu saat sedang tertidur, sayang. Itu terasa mendamaikan hati!."
Levi terbatuk mendengar bualan Gabrielle. Dia lalu menoleh saat Reinhard menjewer telinganya. "Apa sih?."
"Jangan mengganggunya kalau kau masih ingin berada di dalam pesawat ini" bisik Reinhard mengingatkan.
"Apa maksudmu?" tanya Levi heran.
Reinhard menarik nafas. "Levi, tolong jangan bodoh. Aku ingatkan kau untuk tidak mengusik apapun yang sedang di lakukan oleh Gabrielle pada Elea. Kita berdua bisa di keluarkan dari dalam pesawat jika dia marah. Memangnya kau mau mati dengan tubuh terpisah-pisah?."
Levi menelan ludah kemudian menggelengkan kepala. Dia lalu melotot saat teringat dengan sesuatu. "Kalau kau tahu nyawa kita bisa terancam kenapa kau setuju saja saat aku mengajakmu kemari? Harusnya tadi itu kau mengingatkan aku, bukannya malah ikut mengintip!."
"Aku lupa. Dan aku juga sangat penasaran seperti apa ruangan si sultan ini" sahut Reinhard sembari menggaruk kepala.
"Iissshhh, dasar nyamuk recung!" sungut Levi dengan bibir berkomat kamit.
"Nyamuk recung? Apa itu, namanya aneh sekali?."
Levi melengos. Dia kemudian melihat kearah Gabrielle yang tengah menciumi rambut istrinya. Levi tersenyum, dia ikut merasa bahagia karena sekarang Elea sudah terbebas dari jerat seorang Jack-Gal.
"Hei, aku bertanya apa itu nyamuk recung. Seumur-umur aku berada di bidang kesehatan belum pernah sekalipun aku mendengar istilah seperti itu. Cepat beritahu aku Levi, aku bisa mati penasaran kalau kau diam saja!" desak Reinhard tak sabar.
"Ya sudah mati saja sana!" sahut Levi kejam.
__ADS_1
"Levi, ayolah beritahu padaku. Aku sangat...
"Ekhmmmm, jika aku menjatuhkan kalian sekarang, maka kalian akan menjadi santapan ikan hiu di tengah laut. Mau!" ancam Gabrielle yang kesal mendengar perdebatan Reinhard dan Levi.
"Tidak!" sahut Reinhard dan Levi berbarengan.
"Kalau begitu diamlah. Istriku sedang istirahat, tolong jangan membuat gaduh" ucap Gabrielle penuh penekanan.
Levi berjalan mendekat. Dia memandangi Elea yang masih betah terlelap di pelukan suaminya. "Gabrielle, makhluk kecil ini tidak takut lagi pada Jack-Gal bukan?."
Gabrielle seakan ragu saat ingin menjawab pertanyaan Levi. Bukan apa, dia sendiri merasa heran karena Elea sama sekali tidak membahas masalah ini. Istrinya lebih terkesan bungkam, entah karena syok setelah tahu tentang rahasia ibunya atau karena ada masalah lain. Yang jelas, Gabrielle sendiri enggan untuk membahas masalah Jack-Gal di hadapan Elea. Dia tidak ingin ketenangan istrinya menjadi terganggu jika nama bajingan itu di sebut.
"Untuk sekarang sebaiknya kita jangan membahas bajingan itu dulu, Lev. Aku belum yakin apakah Elea sudah benar-benar lupa pada ketakutannya itu atau dia sedang berusaha menutupi ketakutannya dari kita semua. Yang jelas, saat ini aku hanya ingin melihatnya merasa tenang, dan aku tidak mau liburan kali ini rusak hanya gara-gara satu nama itu. Kau paham maksudku bukan?."
"Iya aku paham. Tenang saja, aku tidak akan pernah menyebut nama bajingan itu di hadapan Elea" sahut Levi setuju.
"Tapi Gab, entah kenapa aku merasa apa yang telah di lakukan Jackson pada istrimu akan sedikit meninggalkan dampak!" timpal Reinhard. "Ini yang sejak beberapa hari lalu terus aku khawatirkan!."
Gabrielle langsung menatap serius kearah Reinhard begitu mendengar ucapannya. Dadanya langsung berdebar kuat. "Apa yang salah, Rein?."
"Reinhard!" ucap Gabrielle dengan menekan suaranya. "Katakan dengan jelas, sekarang!."
"Gabrielle, ini hanya perkiraan saja. Sepertinya kekerasan yang di lakukan Jackson telah menumbuhkan sisi lain di diri Elea. Dia, ah bagaimana cara menyampaikannya!" desah Reinhard sedikit bingung menata ucapannya sendiri.
"Rein, Elea kenapa? Dia, dia baik-baik saja kan?" tanya Levi panik. Dia lalu mendekat kearah dokter yang terlihat sedang bingung ini kemudian memegang lengannya. Levi takut.
"Aku tidak bisa menganggapnya baik-baik saja. Dari segi kejiwaan yang aku pelajari, kalian harus siap dengan segala perubahan yang akan terjadi pada Elea. Aku menangkap gelagatnya yang seperti orang mendendam, mungkin ini adalah dampak dari apa yang telah di perbuat Jackson malam itu!" jawab Reinhard. "Dengan kata lain Elea bisa saja memiliki kepribadian yang jauh menyimpang dari kepribadiannya yang sekarang. Bahkan aku rasa bibit kekejaman itu sudah tumbuh subur di pikirannya!."
Tubuh Gabrielle langsung menegang begitu mendengar penjelasan dari Reinhard. Namun sedetik kemudian dia tersenyum, semacam ada kelegaan dengan apa yang ada di tubuh istrinya sekarang.
"Hei, istrimu sedang mengalami kelainan mental dan kau malah tersenyum? Gabrielle, apa kau masih waras?" cecar Levi heran.
"Tentu saja aku masih waras, karena itulah aku tersenyum" sahut Gabrielle senang. "Reinhard, terima kasih. Kali ini kabar yang kau sampaikan berhasil membuatku senang!."
"Haaaaaaa.......!" pekik Reinhard syok. "Gabrielle, kau.. Astaga, bagaimana bisa kau sesenang itu menanggapi kondisi mental Elea. Bukankah seharusnya kau itu merasa prihatin atau malah bersedih ya?."
"Iya benar, kita sepemikiran Rein!" imbuh Levi ikut memprotes kelakuan Gabrielle.
__ADS_1
"Ya memang betul kabar ini sebenarnya tidak terlalu bagus. Tapi asal kalian tahu, dengan Elea memiliki kepribadian lain, tidak akan ada orang yang berani macam-macam lagi dengannya. Dia akan mengambil tindakan sendiri jika ada yang mengancam keselamatannya. Lagipula aku juga tidak keberatan istriku menjadi seorang psikopat. Kenapa seperti itu? Karena setelah ini Elea masih harus berhadapan dengan orang-orang yang tidak menginginkan kehadirannya!" jawab Gabrielle menjelaskan. "Levi, bukankah kau bilang istriku harus menjadi kucing liar yang jauh lebih galak untuk melawan kucing belang yang ingin mendekatiku?."
Levi mengangguk. Dia sebenarnya sangat syok dengan pemikiran Gabrielle, tapi setelah di pikir-pikir ada untungnya juga jika Elea berubah sedikit jahat. Makhluk kecil ini pasti akan terlihat lebih imut jika membasmi lawan dengan tampang polosnya. "Ya, aku memang pernah meracuni pikiran Elea dengan mengatakan kalau ada kucing belang yang ingin merebutmu darinya. Patricia, dia yang aku maksud!."
"Sepupumu itu cukup cerdik dalam bertindak, Lev. Sebenarnya sangat mudah bagiku untuk menyingkirkannya, tapi karena sekarang Elea memiliki kepribadian lain, apa salahnya menjadikan Patricia sebagai bahan uji coba.Jika Elea gagal, barulah aku yang akan bertindak!" ucap Gabrielle dengan seringai liciknya.
"Benar juga apa katamu, Gab. Ah, aku jadi tidak sabar melihat seperti apa kagetnya Patricia saat Elea membalas kelakuannya nanti. Pasti akan sangat seru Gab, apalagi jika Elea membalas sambil memasang wajah bodohnya, Patricia pasti akan langsung muntah darah!."
Reinhard hanya bisa ternganga mendengar obrolan Gabrielle dan Levi yang terdengar janggal. Bisa-bisanya kedua orang ini malah membahas kejahatan di saat orang lain tengah mengidap penyakit mental yang cukup serius.
"Gabrielle, Levi, apa kalian sudah gila? Elea itu harusnya di obati, bukan malah di manfaatkan seperti ini!" protes Reinhard tak habis fikir.
"Sialan, siapa juga yang sedang memanfaatkannya?" kesal Levi tak terima.
"Tentu saja kalian lah. Memangnya ada manusia lain selain kita di sini apa?."
"Yaaakkkkk.....
Elea langsung terbangun begitu Levi berteriak. Dia lalu menatap satu-persatu orang yang ada di depannya. Termasuk juga dengan suaminya yang tengah tersenyum sembari memeluknya. "Aku akan membuat boneka salju nanti."
Setelah berkata seperti itu Elea kembali terlelap. Gabrielle, Levi, dan Reinhard saling memandang kemudian tertawa bersama.
"Menggemaskan!" ucap Gabrielle.
"Aaaaa, imutnya" ucap Levi.
"Astaga, dia lucu sekali" ucap Reinhard.
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS......
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
...🌻 IG: emak_rifani...
...🌻 FB: Nini Lup'ss...
__ADS_1