Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Kecurigaan Kayo


__ADS_3

Kayo dan Jackson saling melemparkan tatapan dingin ketika keduanya tak sengaja berpapasan. Fedo yang melihat adik kesayangannya berada dalam jarak yang cukup dekat dengan si pembunuh bayaran itu pun langsung bereaksi keras. Dia pasang badan tepat di tengah-tengah keduanya.


"Mau kau apakan adikku hah!" sentak Fedo.


"Aku rasa matamu tidak buta, Tuan Fedo. Bukannya kau bisa melihat sendiri apakah adikmu terluka atau tidak?" sahut Jackson balik bertanya.


"Jangan mengelak. Aku tahu kau pasti ingin berbuat jahat dengan ramuan-ramuan itu kan?" tuduh Fedo seraya menunjuk botol yang ada di tangan Jackson.


"Tuan Fedo, aku tidak mau mendebatkan sesuatu yang tidak berguna denganmu. Silahkan menyingkir, aku mau lewat."


Kayo terus menatap lekat kearah Jackson. Dia merasa ada yang berbeda dengan pria ini.


"Jackson, apa yang sedang kau coba lakukan? Ini rumah Bibi Liona, kau sebaiknya jangan macam-macam" tegur Kayo dengan seribu rasa penasaran di benaknya.


Tanpa mempedulikan teguran Kayo, Jackson melangkah pergi dari sana menuju ruang bawah tanah. Saat ini dia sedang sibuk meracik ramuan untuk Elea yang mengalami masalah dengan rahimnya. Mungkin ini adalah jalan yang di bukakan oleh Tuhan agar Jackson bisa membalas kemurahan hati gadis itu. Tanpa di sengaja dia mendengar pembicaraan ibunya Gabrielle dengan anak buahnya yang sedang membahas masalah penyakit yang di idap oleh Elea. Dia yang memang adalah seorang dokter lulusan terbaik dari luar negeri segera menawarkan diri untuk ikut andil. Dan kebetulan juga dia menguasai ilmu tentang tanaman herbal dimana bahan tersebut akan di gunakan dalam pembuatan obat.


"Kau mau apalagi?!" teriak Jackson kesal saat Kayo mengikutinya masuk ke ruang bawah tanah.


"Kau berani membentakku?" balas Kayo ikut berteriak.


Orang-orang yang ada di dalam sana langsung menatap heran kearah Kayo dan juga Jackson dimana keduanya saling menatap penuh emosi. Salah satu dari mereka kemudian datang melerai.


"Nona Kayo, ada masalah apa?.


"Penjahat ini kenapa di biarkan masuk kemari? Bagaimana jika dia melakukan sesuatu pada kalian? Tidakkah kalian tahu dia siapa?" jawab Kayo sambil menunjuk dadanya Jackson.


"Jackson bisa berada di sini atas seizin Nyonya Besar Liona, Nona. Dia sekarang sudah menjadi bagian dari kita semua."


Kayo membelalakkan mata begitu mengetahui kalau Jackson sudah menjadi bagian dari anak buah bibinya. Masih tak percaya, Kayo akhirnya menghubungi bibinya untuk menanyakan tentang kebenaran tersebut.


"Iya sayang, ada apa?


"Bibi Liona, apa benar Jackson sekarang sudah menjadi anak buah Bibi? Dia sekarang berada di ruang bawah tanah bersama yang lain" tanya Kayo sambil memicingkan mata kearah Jackson.


Jackson acuh. Dia malah sibuk meracik obat bersama yang lain. Sambil mengerjakan itu semua, pikiran Jackson tiba-tiba terbayang wajah Elea tujuh tahun lalu saat dimana dia melakukan sesuatu yang sangat kasar terhadapnya. Sungguh sangat memalukan karena sekarang Jackson bisa kembali hidup normal berkat kata maaf yang di berikan oleh gadis yang pernah di aniaya olehnya dulu.


"Iya benar, sayang. Sekarang Jackson adalah orang kita, dia kini tengah meracik obat untuk menyembuhkan penyakit kakak iparmu."

__ADS_1


Kayo menghela nafas. Ternyata laporan itu memang benar adanya.


"Sayang, apa kau bertengkar dengannya?


"Iya, Bi. Aku pikir orang-orang di sini sudah di pengaruhi olehnya. Makanya aku menelfonmu" jawab Kayo.


Ekor mata Jackson melirik kearah Kayo. Dia menyeringai karena tuduhan yang di lontarkan padanya tidak terbukti. Tak ingin kembali berdebat dengan gadis itu, Jackson memutuskan untuk pergi dari sana. Sepertinya dia perlu bermain dengan Lan untuk merelakskan pikiran.


"Sudah dulu ya, Bi. Aku mau menemui Ayah dan Ibu dulu" ucap Kayo yang penasaran kemana Jackson pergi.


"Iya, ajaklah Ayah dan Ibumu untuk istirahat di kamar. Sebentar lagi Paman dan Bibi akan segera sampai di rumah."


Setelah panggilannya usai, Kayo buru-buru mengejar Jackson. Entah kenapa hatinya tergerak untuk mengawasi mantan penjahat itu.


Sementara itu, di luar Jackson tengah bersama Lan. Dia berbaring di rerumputan sambil menatap langit, membayangkan wajah polos Elea yang terlihat sangat menyejukkan hati.


"Elea... kenapa Tuhan bisa menciptakan gadis malaikat sepertimu?.


"Karena Tuhan tahu mana yang harus di takdirkan menjadi orang baik dan menjadi orang jahat. Kakak ipar sebagai malaikatnya dan kau sebagai iblisnya!.


Jackson menarik nafas dalam-dalam begitu dia mendengar suara Kayo. Sungguh, gadis ini membuatnya sangat kesal.


"Aku tidak peduli dengan keraguanmu itu, Nona Kayo. Mau kau menganggapku hanya berpura-pura atau menuduhku menyukai Elea, semua itu aku masa bodo. Kau sebaiknya jangan terlalu suka mencampuri urusan orang lain, urus saja hidupmu sendiri!" hardik Jackson tanpa menatap lawan bicaranya.


"Yang menjadi urusannya kakak ipar itu akan menjadi urusanku juga, Jackson. Kalau kau tidak peduli, maka aku jauh lebih tidak peduli lagi."


Dari kejauhan, Abigail dan Mattheo mengawasi Kayo yang seperti sedang berdebat dengan Jackson. Mereka berdua tadi sempat merasa heran melihat Jackson yang bisa dengan mudah keluar masuk ke ruang bawah tanah yang ada di rumah ini. Tapi setelah mendengar penjelasan dari Liona, mereka berdua akhirnya mengerti kalau Jackson sudah bertobat.


"Jackson.. menurutmu bagaimana?" tanya Abigail.


"Bagaimana apa?" sahut Mattheo balik bertanya.


"Dia dan putri kita."


Mattheo menunduk agar bisa menatap wajah istrinya.


"Apa kau berniat menjodohkan putri kita dengan pembunuh berdarah dingin itu, Darling?.

__ADS_1


Abigail tersenyum. Dia mengusap rahang tegas suaminya kemudian mengangguk.


"Jackson sangat bisa di andalkan, Matt. Dia memang seorang penjahat, tapi tidak semua orang mengetahui identitas aslinya. Menjaga Kayo bukanlah hal yang mudah, kita perlu sosok yang jauh lebih dingin dan juga tegas supaya gadis itu bisa sedikit menurunkan keras kepalanya. Jackson tampan, dia kaya raya dan juga pintar. Dan yang paling membuatku tertarik adalah sikapnya. Dingin, tak banyak bicara, dan gesit dalam mengambil tindakan. Tidakkah kau perlu sosok sepertinya dalam Keluarga Eiji kita? Di mataku Kayo sangat serasi jika bisa bersama Jackson, Matt. Aku akan langsung membuka jalan jika seandainya Jackson tertarik pada putri kita!.


Mattheo kemudian melihat kearah putrinya yang sedang berbincang dengan Jackson. Kayo Eiji, gadis itu adalah kebanggaan keluarganya. Dia permata yang sangat berarti, haruskah Mattheo menyerahkan permata tersebut pada seorang mantan pembunuh bayaran?


"Pikirkan saja dulu, jangan langsung mengambil keputusan. Lagipula aku juga belum membicarakan hal ini pada Liona. Kau jangan cemas" ucap Abigail yang menyadari kegundahan di hati suaminya.


"Darling, kau yakin memilih Jackson untuk menjadi pendamping putri kita? Apa kau tidak takut kalau Jackson akan melakukan sesuatu yang jahat pada Kayo? Bagaimana kalau jiwa psikopatnya kembali mencuat? Apa kau tidak memikirkan hal ini?" tanya Mattheo gusar. "Aku menghargai pemikiranmu, Darl. Tapi Kayo adalah putriku juga. Aku jelas tidak rela jika putri kesayanganku jatuh ke tangan pria yang salah."


"Kita tunggu Greg dan Liona pulang kemudian baru membahas masalah ini lagi. Oke?.


"Tapi aku..


"Ssstttt, malam ini aku milikmu."


Mattheo berdehem pelan begitu mendapat kode rahasia dari istri tercintanya. Tanpa pikir panjang lagi dia segera membopong Abigail dan membawanya masuk ke dalam kamar.


"Matt, ini masih sore!" pekik Abigail yang terkejut dengan tindakan suaminya.


"Tidak ada yang bilang kalau sekarang sudah pagi, Darling" sahut Mattheo asal.


"Sekarang?.


"Aku akan mencicilnya dulu."


"Kau gila, Matt. Bagaimana kalau Liona dan Greg pulang?" tanya Abigail tak habis fikir dengan kemesuman suaminya.


"Jangan khawatir. Jika Greg tahu kita sedang membuat adonan, di jamin seratus persen dia pasti akan langsung menyeret Liona masuk ke dalam kamar. Percaya padaku" jawab Mattheo sambil membuka pintu kamar.


Abigail hanya bisa menarik nafas panjang mendengar jawaban Mattheo. Sudah bukan rahasia lagi kalau Mattheo dan Greg selalu bersaing dalam semua hal, termasuk dalam urusan ranjang. Kedua pria ini bersikap seperti anak kecil, dan sayangnya baik Abigail maupun Liona sama-sama mencintai dua pria kekanak-kanakan tersebut. Sungguh takdir yang sangat aneh.


🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄


...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....


...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...

__ADS_1


...🌻 IG: emak_rifani...


...🌻 FB: Rifani...


__ADS_2