
"Nah, hati-hati!" ucap Gabrielle sembari membantu istrinya yang hendak bergeser duduk ke samping ranjang. "Jangan cepat-cepat. Nanti kalau jatuh bagaimana?"
Elea tersenyum. Dia lalu menarik tangan suaminya kemudian menciuminya dengan gemas. Elea merasa sangat bahagia dengan perlakuan suaminya ketika berada di pesta tadi. Dia yang belum boleh makan sembarangan hanya bisa menikmati masakan yang dibuat khusus oleh koki pribadi. Elea sebenarnya merasa sangat sedih karena tidak bisa menikmati makanan-makanan enak yang ada di sana. Namun kesedihannya langsung terhapus begitu saja ketika suaminya memakan makanan yang sama dengannya. Ya, suaminya memilih untuk ikut menikmati makanan tawar yang rasanya benar-benar sangat hambar. Jadi bagaimana mungkin Elea tidak semakin mencintai suaminya yang tampan ini ketika melihat pengorbanannya yang begitu besar.
"Ada apa, hm? Kenapa senyum-senyum seperti itu?" tanya Gabrielle sambil mengusap lembut pipi Elea.
"Kak Iel, aku rasa saat Tuhan menciptakanmu, Dia pasti melakukannya sambil bersedekah," jawab Elea melenceng dari pertanyaan suaminya.
Kening Gabrielle mengerut. Dia kemudian duduk di samping istrinya lalu menatapnya dalam.
"Maksudnya bagaimana sayang? Aku kurang paham."
"Aku hanya merasa heran kenapa Tuhan bisa menciptakan manusia sebaik Kak Iel. Dan aku menebak dalam proses penciptaan Kakak, Tuhan pasti melakukannya sambil bersedekah. Makanya manusia baik hati seperti Kakak bisa terlahir ke dunia ini. Sedangkan aku... aku adalah perempuan paling beruntung yang ada di jagat raya ini."
"Astaga sayang. Darimana kau dapat kata-kata seperti itu, hm? Bagaimana bisa Tuhan menciptakan manusia sambil bersedekah? Kau ini ada-ada saja sih. Membuat orang gemas saja."
Gabrielle tertawa sambil memencet hidung mungil istrinya. Sungguh, pemikiran Elea terkadang masih berada di luar nalar manusia. Meski istrinya sangat cerdas, tapi kecerdasannya itu tidak bisa menutupi sikap polosnya yang mana suka berpikir aneh-aneh.
"Tapi yang aku bilang itu ada benarnya juga lho, Kak. Coba sekarang Kakak pikir... iblis di ciptakan dari api, makanya dia selalu membawa aura panas dengan wajah yang sangat buruk. Berbeda dengan kita manusia. Iblis berwajah jelek karena dalam proses pembuatannya dia sudah terpanggang api. Sedangkan manusia... aih, aku ini bicara apa sih. Pokoknya aku yakin sekali kalau Tuhan menciptakan Kakak sambil bersedekah. Titik!"
Gabrielle terbahak-bahak melihat Elea yang terbelit oleh ucapannya sendiri. Dan tawanya semakin pecah ketika Elea kebingungan untuk melanjutkan kata-kata nyeleneh tersebut.
"Ya ampun sayang, Tuhan mana mungkin menciptakan manusia dengan cara seperti yang kau sebutkan tadi. Kebaikan hati seseorang itu berasal dari didikan kedua orangtuanya. Saat kecil, sikap dan perilaku kedua orangtua kita adalah cermin bagi anak-anak mereka. Jika orangtua memberikan contoh yang baik, maka anak merekapun pasti akan memiliki sikap yang baik juga walaupun tidak semua anak bisa tumbuh dengan sikap dan perilaku yang sama. Jadi kesimpulannya adalah... kebaikan datang dari dalam hati manusia itu sendiri, bukan dari bagaimana cara Tuhan membentuknya. Bahkan tak jarang manusia yang awalnya mempunyai prilaku baik tiba-tiba berubah menjadi orang yang sikapnya sangat buruk karena suatu alasan. Dan begitu juga sebaliknya. Jadi kau tidak bisa berpatokan seperti itu dalam mengartikan kebaikan seseorang. Paham?"
Elea begitu serius saat mendengarkan ucapan suaminya. Meksi bodoh, dia bisa meresapi kalau di balik kata-kata tersebut menyimpan banyak nasehat positif. Elea sungguh beruntung mempunyai seorang suami yang begitu dewasa dan juga bijak.
"Kenapa diam? Apa penjelasan tadi masih kurang jelas?" tanya Gabrielle.
"Sudah sangat jelas, Kak Iel. Sejelas hubungan kita berdua," jawab Elea menggombal.
Sudut bibir Gabrielle berkedut. Dia terus mengulum senyum saat mendengar gombalan yang di lontarkan oleh istrinya. Berbunga-bunga, itu sudah pasti. Bahagia, jangan di tanya lagi. Yang jelas, saat ini jiwa Gabrielle seperti di ajak terbang melayang ke nirwana. Cinta benar-benar membuatnya menjadi gila.
Cup
"Apa ini?"
"Itu hadiah karena Kak Iel sudah mau menjadi suamiku," jawab Elea seraya tersenyum malu.
__ADS_1
"Yakin hanya satu kali? Lalu bagaimana dengan bayaran saat aku mencintaimu, memimpikanmu, merindukanmu, membayangkanmu dan juga menyentuhmu? Tidak ada harga untuk semua itukah?" tanya Gabrielle gemas dengan sikap istrinya.
Mata bening Elea menatap penuh cinta ke arah pria yang sedang melakukan negosiasi untuk membayar semua hal yang telah dia lakukan.
"Satu ciuman bagiku tidak ada artinya jika di bandingkan dengan kesetiaan seumur hidup. Jika Kak Iel meminta bayaran karena sudah mencintaiku, maka aku akan membayarnya dengan kasih sayang yang tulus setulus aku menyayangi diriku sendiri. Jika Kakak meminta bayaran karena sudah memimpikan dan menyentuhku, maka aku akan membayarnya dengan kehangatan dari tubuhku. Dan jika Kakak meminta bayaran karena sudah merindukan dan membayangkan aku, maka aku akan membayarnya dengan mencintai Kakak sampai batas akhir nafasku. Semuanya untuk Kak Iel, tidak akan terbagi dan tidak akan terganti."
Gabrielle speechless mendengar jawaban sang istri. Dia bahkan sampai ternganga tak percaya kalau kata-kata seperti itu bisa keluar dari mulut Elea. Setelah beberapa detik berada dalam uforia kebucinan, Gabrielle dengan penuh cinta menghujani wajah Elea dengan sejuta ciuman. Iya, sejuta ciuman yang sarat akan cinta dan perasaan.
"Kak Iel, jangan menciumi wajahku terus. Nanti aku bisa menua sebelum waktunya!" protes Elea.
"Biar saja, aku tidak peduli."
"Jahat sekali."
"Mana ada jahat, sayang."
"Itu tadi Kak Iel bilang biar saja dan tidak peduli kalau aku menua dengan cepat. Kan jahat itu namanya."
"Sayang, tak peduli meski kau menua sekalipun aku akan tetap mencintaimu seperti sekarang. Karena yang aku cintai itu bukan fisikmu, melainkan kebaikan hati dan juga kenyamanan yang kau beri. Fisik itu hanya bonus saja, bonus berharga yang di berikan Tuhan untukku. Jadi kau jangan sampai salah berpikir ya?" jawab Gabrielle meluruskan maksud kata-katanya barusan.
Elea menyunggingkan senyum. Dia lalu mengernyit sambil memegangi bekas operasinya.
"Perutku sakit sekali, Kak," jawab Elea dengan posisi tubuh membungkuk. "Sakit, karena sudah tidak sabar ingin segera mengandung anaknya Gabrielle."
Gabrielle langsung menggigit bibir bawahnya. Dia kemudian menengadah ke atas sambil menutupi mulutnya dengan tangan. Astaga, istrinya ini kenapa romantis sekali sih. Bisa-bisanya menggoda dengan cara yang begini manis. Kan Gabrielle jadi berbunga-bunga dan salah tingkah karenanya.
"Rahimku seperti meronta-ronta ingin segera memiliki anak kecebong, Kak. Bagaimana ini?"
Tak tahan di goda seperti itu oleh istrinya, Gabrielle dengan hati-hati mengangkat tubuh Elea kemudian membawanya berputar-putar. Malam ini sangat indah, benar-benar sangat indah.
"AKU MENCINTAIMU, ELEA.... AKU SANGAT MENCINTAIMU!!" teriak Gabrielle seperti orang gila.
Tangan Elea berpegangan dengan sangat erat ke leher suaminya. Dia tertawa, terharu melihat reaksi suaminya yang begitu bahagia. Andai saja kamar ini tidak kedap suara, Elea yakin kalau para penjaga dan juga pelayan akan mendengar suara teriakan suaminya. Meski perutnya sedikit berdenyut, Elea memilih untuk diam. Dia tidak mau merusak kebahagiaan suaminya yang sedang membuncah.
"Sayang, seumur hidup aku tidak akan pernah melepaskanmu. Paham?" ucap Gabrielle setelah puas berputar.
"Kalau aku mati bagaimana?" tanya Elea.
__ADS_1
"Jika kau mati lebih dulu, maka aku tidak akan pernah mencari penggantimu. Aku akan menunggu malaikat Tuhan datang menjemputku dengan mengenang kebersamaan kita. Dan jika memang ada jalan, aku akan meminta pada Tuhan agar kita bisa kembali di persatukan di surga sana. Kau adalah hidupku, Elea. Aku ingin hidup dan mati bersamamu," jawab Gabrielle tulus.
Sebutir airmata menetes keluar dari sudut mata Elea. Satu tangannya kemudian terulur mengusap pipi pria yang sangat di cintainya ini.
"Apa kau begitu mencintaiku?"
"Ya, aku sangat mencintaimu. Selain Ibu, adik, dan saudara-saudaraku, aku tidak akan pernah mencintai wanita lain selain dirimu. Kau percaya aku kan?"
Gabrielle menatap penuh puja ke arah istrinya yang tengah menangis sambil tersenyum. Dia tahu, sangat tahu kalau itu bukan airmata kesedihan, melainkan airmata kebahagiaan. Bidadarinya sedang terharu.
"Jika Tuhan mengizinkan, kita nanti akan memiliki tiga orang anak. Apa Kakak tidak akan merasa bosan jika perhatian dan kasih sayangku terbagi dengan mereka?"
"Bagaimana mungkin aku merasa bosan kalau yang kau sayang adalah buah cinta kita sendiri, sayang? Yang ada aku malah akan merasa sangat bangga karena anak-anakku mempunyai seorang ibu yang hebat," jawab Gabrielle. "Elea, suami yang baik iyalah suami yang akan selalu mengerti akan kesibukan istrinya. Apalagi jika itu di sebabkan untuk merawat buah hati mereka. Tidak semua wanita mau merawat anak-anak mereka, sayang. Banyak di antaranya lebih memilih untuk membayar jasa babysitter demi agar mereka bisa bebas berkarir dan berkumpul dengan teman-teman mereka. Sebenarnya begitupun tidak salah, hanya saja kodrat seorang wanita adalah menjadi ibu. Merawat, mendidik, dan juga membesarkannya dengan penuh cinta dan kasih sayang. Banyak terjadi di luaran sana dimana hati nurani si anak lebih berpihak pada si babysitter karena waktu kebersamaan mereka yang jauh lebih banyak di bandingkan dengan kebersamaan mereka bersama ibunya sendiri. Ini menjadi contoh besar agar ke depannya bisa menjadi orangtua yang baik untuk anak-anak kita kelak."
"Kak Iel benar. Hmm....
"Kenapa hmm?"
"Hmm... karena aku dibuat tak bisa berkata-kata oleh nasehat Kakak. Jadi ya sudah, aku hmm saja," jawab Elea.
"Sayang, kau tahu tidak kalau kau itu adalah istri yang sangat nakal?"
Dengan perlahan Gabrielle mendudukkan istrinya di pinggiran meja. Gabrielle kemudian mencium bibir Elea dengan gemas. Menyesapnya sedikit lama, membiarkan gelenyar aneh itu kian datang menyiksa.
"Aku tahu kok, Kak. Kenapa memangnya?" sahut Elea setelah terbebas dari ciuman maut suaminya.
"Tidak kenapa-kenapa. Tapi mulai sekarang aku akan mulai menghitung kemudian mencatat semua kenakalanmu sebelum nanti waktunya tiba untuk menagih."
"Menagih bagaimana? Aku kan tidak punya hutang?"
Satu seringai muncul di bibir Gabrielle, yang mana seringai tersebut membuat bulu kuduk Elea meremang.
Oh Tuhan, kau jangan macam-macam ya Kak. Kalau Kak Iel berniat buruk padaku, maka aku akan kabur ke rumahnya dokter Jackson.
Silahkan kalian bayangkan sendiri seperti apa raut wajahnya Gabrielle saat Elea menyebut nama pria lain di hadapannya. Sepertinya nama Jackson akan segera menjadi pembinor, sedangkan Levi masih tetap kokoh dengan statusnya sebagai seorang pelakor halal yang menjadi orang ketiga dalam hubungannya dengan Elea.
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
__ADS_1
✅Hai gengss... emak mau kasih tahu nih kalo sebentar lagi novel ini akan segera tamat. Eittsss, tapi jangan sedih. Masih akan ada part duanya ya? Kalau kalian bingung kenapa musti tamat, jawabannya adalah karena ide untuk alur novel ini sudah habis. Dan untuk karakter-karakter lain, kemungkinan masih akan menghiasi novel ini untuk beberapa hari ke depan. Jadi kalian jangan protes ya kalau partnya Gabrielle dan Elea agak sedikit berkurang, soalnya kebersamaan mereka akan emak pindahkan ke novel yang baru. Oh iya, novelnya emak tetap di Noveltoon/Mangatoon ya. Untuk waktu rilisnya insyaallah tanggal 1 bulan depan nanti. Di part 2 tersebut nanti kisah Elea menjadi mahasiswi, menjadi model, dan juga menjadi ibu dari ketiga anaknya akan di tulis. Genrenya tetap sama, komedi romantis. Jadi tungguin ya kisah lucu+baper mereka gengss 💜