
"Iel, menantu Ibu kenapa?."
Gabrielle yang tengah memandangi wajah istrinya menoleh. Dia menghela nafas berat melihat kedatangan orangtuanya. "Dia baik-baik saja awalnya, Bu. Tapi sepertinya Elea mengalami mimpi buruk saat tertidur siang tadi."
Liona dan Greg saling menatap. Keduanya tengah berada di rumah sakit saat Gabrielle memberi kabar tentang menantu mereka.
"Iel, orang yang mencelakai Elea bukanlah dokter biasa. Paman Mario sudah menelusurinya, dan ternyata kejadian itu bersamaan dengan penyerangan yang terjadi pada walikota tujuh tahun lalu. Dan Elea ikut menjadi korban dari si pembunuh bayaran itu!" ucap Liona sembari duduk di tepian ranjang.
Melihat wajah pucat menantunya membuat hati Liona terasa sakit. Gadis kecil ini tidak tahu apapun. Dia harus mengalami pelecehan parah yang membuatnya trauma seperti ini.
'Elea, seberapa besar penderitaan yang selama ini kau tanggung sebelum bertemu dengan putraku?.'
Gabrielle hanya terdiam sedih saat mendengar isi pikiran ibunya. "Oh ya Bu, bagaimana kabar Bibi Cleo? Maaf aku tidak bisa datang kesana, aku tidak tega meninggalkan Elea sendirian."
"Bibimu baik-baik saja berkat kegilaan calon suami adikmu" ucap Greg menggantikan istrinya menjawab.
"Drax?" beo Gabrielle.
Greg mengangguk. "Dia bahkan memaksa menikahi Izel malam ini juga."
"Oh."
"Hanya oh? Ya Gabrielle, adikmu akan di nikahi mafia dan kau hanya berkata oh..? Kau ini sebenarnya kakaknya Grizelle bukan sih?" kesal Greg sembari mendelikkan mata.
"Tentu saja aku kakaknya, Ayah. Dan sebagai kakak yang baik sudah seharusnya aku mendukung kebahagiaan adikku. Benar begitu kan, Bu?" tanya Gabrielle kemudian menoleh kearah ibunya yang sedang duduk sambil menatap wajah Elea.
"Kau harusnya bisa mencontoh sikap putramu, Greg. Bukan malah protes" omel Liona.
"Terus saja kalian bersekongkol. Aku seperti ini karena Grizelle adalah putri kesayanganku. Dan putrinya Greg Ma haruslah hidup bahagia bersama pria yang mencintainya" sahut Greg tak terima.
"Dan pria itu adalah Drax Osmond" ucap Gabrielle dan ibunya bersamaan.
Gabrielle terkekeh saat ayahnya tak bisa lagi berkutik. Dia lalu teringat dengan ucapan ibunya tadi.
"Bu, apa Paman Mario bisa melihat wajah dokter yang melecehkan Elea?."
"Tidak. Tapi bisa di pastikan kalau dokter itu adalah Jack-Gal. Karena tujuh tahun lalu walikota negara ini di incar olehnya" jawab Liona.
Mata Gabrielle membelalak lebar setelah tahu siapa orang yang telah melecehkan istrinya. Tangannya terkepal kuat dengan dada yang bergemuruh.
"Jack-Gal, aku pasti akan menemukan keberadaanmu untuk membalas semua ini!."
"Jangan gegabah. Jack-Gal, kau tidak bisa menyentuhnya sembarangan karena sekarang dia di lindungi oleh orang-orang dari kepemerintahan. Dia harus mengusik keluarga kita dulu baru kita bisa menyentuhnya. Jika tidak, keluarga kita akan terkena masalah besar kalau pemerintah melakukan perlawanan untuk membelanya!" ucap Liona memberi peringatan pada putranya.
Greg yang melihat putranya hendak bicara, segera menepuk bahunya. Wajahnya berubah menjadi sangat serius.
"Gabrielle, mungkin di dunia bisnis keluarga kita memang rajanya. Tapi di bawah naungan pemerintah, kita hanyalah masyarakat biasa. Negara ini memiliki undang-undang yang harus kita patuhi. Dan Jack-Gal, dia merupakan aset berbahaya yang di beri perlindungan khusus oleh mereka. Yang di katakan oleh Ibumu tadi benar kalau kita tidak bisa menyentuhnya sebelum dia menyentuh salah satu dari kita terlebih dahulu. Sekuat-kuatnya keluarga kita, akan di anggap sebagai pemberontak jika berani melewati garis batas milik pemerintah. Kau harus ingat itu, Gab."
__ADS_1
"Tapi Ayah, bajingan itu sudah membuat Elea jadi seperti ini. Apa aku salah jika menuntut pertanggung jawaban dari dia?" kekeh Gabrielle tetap pada keputusannya.
"Tidak salah, sayang. Tapi waktunya yang belum tepat" sahut Liona. "Kau diam dan tenanglah, masalah ini sudah Ibu ambil alih. Jack-Gal, cepat atau lambat dia akan segera berhadapan dengan kita."
Uuugghhhhhh
Mata semua orang tertuju kearah ranjang dimana Elea tengah melenguh pelan sembari memijit kepalanya.
"Uhh, pusing sekali" gumam Elea seraya mengerjapkan mata. "Oh Ibu Liona, Ayah Greg, Kak Iel."
Liona tersenyum.
"Sayang, kau baik-baik saja?" tanya Liona memastikan.
"Aku tidak tahu, Ibu Liona. Rasanya aneh, aku seperti baru tersadar dari pingsan" jawab Elea sedikit bingung.
Gabrielle mendekat. Dia membenarkan letak selimut yang menutupi tubuh polos istrinya. "Sayang, lapar tidak, hem?."
Elea menggeleng. Sadar kalau dirinya tak mengenakan pakaian, wajahnya langsung memerah. Dia meringis saat kedua mertuanya memperhatikan dengan tatapan aneh.
"Elea kau kenapa? Wajahmu merah sekali, kau demam?" tanya Liona kemudian memegang kening menantunya. "Tapi tubuhmu tidak panas."
Mendengar pertanyaan Ibunya, dada Gabrielle mendadak jadi berdebar-debar. Dia berdoa dalam hati agar istrinya tidak dulu mengeluarkan jurus nyelenehnya.
'Jangan sekarang Elea, jangan.'
"Emm itu Ibu Liona. Aku, aku...
"Sayang, ingin makan buah tidak? Biar aku ambilkan ya?" sela Gabrielle memotong perkataan istrinya.
"Kak Iel, kenapa Kakak memotong perkataanku? Bukankah itu tidak sopan ya?" tanya Elea heran.
"Siapa yang bilang begitu?."
"Kak Iel" jawab Elea jujur.
"Kapan aku bicara seperti itu padamu, sayang? Seingatku tidak pernah" tanya Gabrielle bingung.
"Memang tidak secara langsung sih" sahut Elea dengan tampang polosnya. "Aku tidak sengaja mendengarnya saat Kak Iel sedang memarahi Ares yang ikut menyela pembicaraan Kakak dengan Nun."
Liona dan Greg sama-sama menekan tulang hidung mereka setelah mendengar perkataan Elea. Lagi, mereka lagi-lagi di buat tak berkutik saat Elea dengan polosnya membalik perkataan Gabrielle.
'Ibu, aku ingin menangis rasanya.'
"Ekhmm Elea, sekarang katakan pada Ibu apa yang sedang kalian sembunyikan. Bisa?" tanya Liona memecah kebisuan.
Elea langsung mengangguk. Dengan wajah yang semakin merah, dia memberitahukan sesuatu yang membuat kedua mertuanya seperti terkena serangan bom atom.
__ADS_1
"Aku tidak pakai baju, Ibu Liona. Kak Iel yang merobeknya tadi."
Mata Gabrielle terpejam erat. Dia lalu melirik kearah orangtuanya yang tiba-tiba menjadi patung bernyawa.
"Aku lupa bilang kalau di sini tidak ada baju ganti untukku sebelum Kak Iel merobeknya. Sungguh" lanjut Elea lagi.
Sambil menghela nafas, Greg melihat kearah putranya. Dia tidak tahu lagi harus berkata apa tentang menantunya ini.
"Gabrielle.."
"Iya Ayah" sahut Gabrielle salah tingkah.
"Kamarmu ini kan lumayan besar. Kau seharusnya menyiapkan beberapa stel pakaian untuk istrimu. Kalau di biarkan seperti ini kan orang lain yang menjadi korban. Kau mau Ayah dan Ibu kena serangan jantung mendadak. Iya?" tanya Greg dengan wajah seperti orang menahan menangis.
Sementara si pelaku, saat ini tengah duduk diam mendengarkan suami dan ayah mertuanya berbicara dengan frustasi. Elea hanya bicara jujur, tapi dia tidak menyangka kalau efeknya akan seperti ini. Memang benar kalau tadi baju yang dia pakai di robek oleh suaminya saat mereka ingin berolahraga ranjang. Dia sama sekali tidak mengatakan fitnah.
"Gabrielle, Greg, sudah. Kepalaku sakit mendengar ocehan kalian berdua" lerai Liona.
"Benar Ibu Liona. Kepalaku juga sakit mendengarnya" sahut Elea ikut menimpali perkataan ibu mertuanya.
Liona tergelak. 'Dia yang membuat ulah, dia juga yang merasa pusing. Ya Dewa, bisakah Engkau memberikan lebih banyak kekuatan pada Jendral ini? Aku lebih baik maju berperang ketimbang harus berhadapan dengan gadis berbahaya yang hanya bermodal lidah dan kepolosan. Ya Dewa, kenapa aku bisa kalah oleh menantuku sendiri.'
Gabrielle yang memang sudah tahu rahasia ibunya hanya bisa mendesah pasrah. Dia kasihan sekali melihat bagaimana orangtuanya terus menerus di buat syok oleh istri kecilnya.
"Ibu Liona baik-baik saja?" tanya Elea.
"Apa menurutmu Ibu akan baik-baik saja kalau kau selalu bicara sefrontal itu Elea?" ucap Liona balik bertanya.
"Harusnya Ibu Liona baik-baik saja. Aku kan hanya bicara jujur, bukan bicara frontal" sahut Elea apa adanya.
"Ya, ya, ya, kau hanya bicara jujur. Greg, ayo kita pulang, sepertinya tekanan darahku kembali naik" ucap Liona sembari beranjak dari sana. "Oh ya Gabrielle, malam ini ajaklah Elea ke pernikahan Grizelle. Pastikan dia datang dengan sangat cantik."
Gabrielle mengangguk. Dia lalu menatap istrinya.
'Kau terlalu hebat Elea. Sekali bibirmu bergerak, seorang Jendral Liang Zhu seperti Ibu Liona langsung lari terbirit-birit. Haruskah aku menganggap ini sebagai berkah? Hanya Tuhan lah yang tahu.'
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.......
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
...🌻 IG: nini_rifani...
...🌻 FB: Nini Lepas...
...🌻 WA: 0857-5844-6308...
__ADS_1