Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Pria Sombong


__ADS_3

Levi dan Gleen saling bertatapan di halaman rumah Gabrielle. Mereka sama-sama tidak ada yang mau mengalah hingga Lusi dan Elea akhirnya muncul. Lusi yang melihat Gleen ada disana tanpa sadar menggenggam tangan Nyonya-nya dengan erat. Entah kenapa dia merasa sedikit takut pada pria yang hari itu memaksa menjadi kekasihnya.


"Kak Lusi, ada apa?" tanya Elea sambil menatap tangannya yang di genggam dengan sangat erat.


"Ti,tidak apa-apa, Nyonya" jawab Lusi pelan.


Nun tanggap. Dia segera berdiri di sebelah Nyonya-nya kemudian memberitahukan perihal Lusi dan juga Gleen.


"Nyonya, pria itu bernama Tuan Gleen. Beliau adalah sahabatnya Tuan Junio, salah satu rekan bisnis Tuan Muda. Tuan Gleen menyukai Lusi, jadi kedatangannya kemari adalah untuk bertemu dengannya!."


"Oh begitu. Ya sudah ayo Kak kita kesana" sahut Elea kemudian menarik tangan Lusi untuk mendekat kearah Gleen dan juga Levi.


Gleen segera mengalihkan pandangannya begitu melihat kedatangan Lusi. Dia terpaku melihat kecantikan kekasihnya itu.


"Halo sweety, bagaimana kabarmu hari ini? Kau cantik sekali" sapa Gleen sembari melontarkan pujian.


Lusi gelagapan. Sementara Levi dan Elea, kedua wanita itu menampilkan ekpresi yang berbeda di wajah mereka. Elea dengan ekpresi lucunya, sementara Levi dengan ekpresi anehnya. Penasaran, Levi akhirnya memutuskan untuk bertanya. Sejak dia datang kemari dan bertatap muka dengan pria ini Levi sudah merasa ada yang salah. Dengan tatapan galaknya Levi mencoba untuk menginterogasi.


"Hei kau pria sombong, ada hubungan apa antara kau dan Lusi?."


Mendapat pertanyaan seperti itu membuat Gleen tersadar dari keterpesonaannya. Dengan acuh dia menjawab pertanyaan tersebut.


"Tidak ada hubungannya denganmu!."


"Ada, tentu saja ada. Selama itu masih bersangkutan dengan Elea maka urusanmu akan menjadi urusanku juga" sahut Levi ngotot.


Untung saja tadi dia sudah meminum obat pemberian Reinhard. Kalau tidak Levi pasti sudah jatuh pingsan saat tubuhnya seperti terbakar api karena demam yang dia derita.


"Siapa kau berani bicara seperti itu padaku, hah?" tanya Gleen sarkas.


"Cih, tidak usah merasa sok tampan kau pria sombong. Kau tahu aturan bicara tidak sih. Di mana-mana orang itu harus menjawab dulu baru balik bertanya. Tidak sopan!."


Gleen meradang. Dia menatap tajam kearah model yang dia tahu bernama Levita Foster sembari menggeretakkan gigi. Namun sedetik kemudian dia di buat kaku oleh celetukan gadis kecil yang berstatus majikan kekasihnya.


"Paman, kenapa pagi-pagi begini kau sudah datang kemari? Apa di rumahmu tidak ada makanan?."


Paman???? Yang benar saja. Pria Casanova seperti Gleen di panggil Paman. Sungguh, gadis kecil ini sangat pandai menjatuhkan harga dirinya, Gleen sampai tidak bisa berkata apa-apa.


"Hahahhahaa, rasakan!" ejek Levi sembari tertawa puas.


Lusi sedikit iba melihat Gleen yang tidak bisa berkutik lagi setelah menjadi korban kepolosan Nyonya-nya. Namun dia juga tidak berani mendekat, Lusi masih merasa kalau pria ini cukup berbahaya dan sedikit,, aneh.

__ADS_1


"Selamat pagi, Tuan Gleen. Tolong maafkan perkataan Nyonya kami" ucap Nun dengan sopan.


"Kau siapa?" sahut Gleen balik bertanya.


"Saya Nun, ketua pelayan di rumah ini" jawab Nun. "Kalau boleh tahu ada kepentingan apa anda datang kemari, Tuan?."


"Aku merindukan kekasihku" jawab Gleen blak-blakan. "Gadis cantik yang berdiri di sebelah Nyonya-mu, dia adalah wanitaku!."


"Bu,bukan Nun. Ka,kami bukan kekasih. Dia saja yang tidak tahu malu terus memaksaku. Kami tidak ada hubungan apapun, sungguh" sahut Lusi dengan suara terputus-putus. Dia malu dan juga takut.


Wajah Gleen berubah masam.


"Sweety, apa kau lupa dengan yang kuucapkan saat di supermarket?."


Lusi menggeleng pelan. Sedetik kemudian dia mengangguk. Levi yang sejak tadi memperhatikan Lusi entah kenapa merasa kalau pelayan ini memiliki sikap polos yang hampir sama dengan Elea. Dia kemudian tersenyum samar.


"Mana yang benar, hem? Lupa atau tidak?" desak Gleen gemas.


"Ti,tidak sih" jawab Lusi.


"Nah, kalau begitu kau ingat bukan kalau kita ini sepasang kekasih?."


"Tapi kau yang memaksa, aku sama sekali tidak pernah menyetujui keinginanmu" sahut Lusi setengah jengkel. "Sudahlah lebih baik kau pergi saja dari sini. Karena aku berserta Nona Levi dan juga Nyonya Elea ingin pergi berbelanja!."


"Haaaa....!."


Levi, Lusi, dan Elea sama-sama tergelak ketika Gleen meminta untuk ikut pergi bersama mereka. Dalam hatinya, Elea merasa kalau sikap pemaksa pria ini hampir mirip dengan kelakuan suaminya. Tiba-tiba dia mempunyai rencana untuk mendekatkan keduanya.


"Kalau begitu Kak Lusi naik mobilnya Paman ini saja. Dan kau Paman, ban mobilmu tidak akan kempes bukan kalau di tumpangi oleh Kak Lusi?."


"Tentu saja tidak" sahut Gleen penuh semangat.


"Nyonya, aku tidak mau ikut dengannya. Aku ingin bersama Nyonya saja" rengek Lusi.


"Tidak apa-apa Kak Lusi, ikut saja. Nanti disana kita bisa memerasnya bersama-sama untuk membayar barang belanjaan kita. Iya kan Paman?."


Seandainya tidak memikirkan harga diri tamunya, Nun sangat ingin tertawa kencang melihat bagaimana cara Nyonya-nya memperalat Gleen. Pria ini adalah daftar orang yang kesekian kalinya menjadi korban kepolosan Nyonya-nya. Sungguh lucu, benar-benar sangat lucu.


"Elea benar, Lus. Kau turuti saja apa katanya. Lagipula dimana lagi kau bisa menguras harta pria kaya seperti orang ini? Kesempatan ini tidak akan datang dua kali. Kan lumayan karena aku jadi ikut merasakan berkah secara gratis!" imbuh Levi yang langsung semangat setelah mendengar ide hebat Elea.


"Tapi Nona, Nyonya, aku...

__ADS_1


"Sudah sana" sela Levi kemudian mendorong tubuh Lusi kearah Gleen. "Oke pria sombong, sekarang kekasihmu sudah berada di tanganmu. Bagaimana? Apakah dompetmu sudah siap untuk kami kuras?."


"Kuras saja jika kalian mampu. Asalkan aku bisa menghabiskan waktu bersamanya, kalian ingin membeli Menara Eiffel pun pasti akan aku bayarkan" jawab Glenn sambil memandangi wajah cantik Lusi. "Sweety, kau benar-benar sangat manis!."


"Huueeekkkkkkkkkk!."


Levi berpura-pura seakan ingin muntah kemudian segera membawa Elea pergi dari sana. Sebelum masuk mobil, dia memperhatikan bagaimana Gleen memperlakukan Lusi dengan begitu perhatian. Levi tersenyum.


'Kau mempunyai nasib baik, Lusi. Meski aku tidak mengenal siapa Gleen, aku bisa melihat kalau dia benar-benar sangat memujamu. Semoga saja hubungan kalian akan berakhir pelaminan. Aku tulus mendoakanmu!.'


"Kau sedang melihat apa Kak?" tanya Elea yang penasaran karena Levi tak kunjung masuk ke dalam mobil.


"Lusi dan Gleen. Aku turut bahagia melihat mereka berdua" jawab Levi kemudian segera masuk. "Dia pria baik-baik bukan?."


"Em aku tidak tahu, Kak. Tapi nanti aku akan menanyakan hal ini pada Kak Iel. Kalau ternyata Paman itu orang jahat, maka kita bertiga harus memberinya pelajaran. Dia tidak boleh menyakiti Kak Lusi, aku tidak rela" jawab Elea.


"Aku pun. Ya sudah ayo kita berangkat, kita masih harus melaporkan penampilanmu pada pria tengik itu bukan? Cihh, benar-benar merepotkan!."


Elea tersenyum mendengar gerutuan Levi. Dia kemudian menatap mobil Gleen yang berada tepat di belakang mobil yang di naiki. Jangan lupakan juga deretan mobil penjaga yang mengikuti mereka. Setiap kali dalam kondisi seperti ini, Elea merasa kalau dirinya akan berangkat ke medan perang. Kendati demikian Elea sangat menghargai cara suaminya memberikan perlindungan. Toh masih banyak di luaran sana orang-orang jahat yang kemungkinan ingin menyakitinya lagi mengingat nama seorang Gabrielle Shaquille Ma yang begitu sukses di dunia perbisnisan.


"Oh ya Elea, kapan kau mulai masuk sekolah?" tanya Levi sambil terus fokus mengemudi.


"Sebentar lagi, Kak. Kenapa? Kakak ingin ikut pergi sekolah juga?."


"Iyuuhhh, malas sekali!."


"Kenapa seperti itu? Bukannya Kak Levi belum lulus S1 ya?" cecar Elea.


Levi mengangguk. Dia sedikit mengernyit saat kepalanya berdenyut. 'Ah sial. Sepertinya aku harus menghemat tenaga untuk berburu berlian nanti. Tahan emosimu Levi, jangan meladeni ocehan Elea atau kau akan kehabisan tenaga. Sabar!.'


Karena tak di jawab, Elea memutuskan untuk mengirim pesan pada suaminya. Dia mengatakan kalau sudah dalam perjalanan menuju kantor. Tanpa menunggu lama Elea sudah mendapat pesan balasan dari suaminya. Dia tersipu.


"Hati-hati. Dan ingat ya sayang, kalau kau datang dengan pakaian terbuka maka aku akan mengurungmu di ruanganku. Yang boleh melihat bagian tubuhmu hanya aku, orang lain tidak boleh. Aku tunggu kau di kantor, i love you!."


🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄


🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS..


LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA


🌻 IG: emak_rifani

__ADS_1


🌻 FB: Nini Lup'ss


__ADS_2