
Gabrielle dengan sayang mengusap keringat yang membasahi wajah istrinya. Kalian pasti tahu bukan apa yang baru saja dia lakukan?...... Ya, Gabrielle baru saja mengeluarkan biji kecebongnya di dalam rahim Elea. Tapi tenang saja, kecebong-kecebong itu sudah dalam pengamanan yang sangat ketat. Jadi mereka tidak akan bisa berkembang biak hingga menyebabkan perut istrinya terlihat seperti busung lapar. (Maaf, emak lagi gabut jadi sedikit eror di sini 🤣🤣🤣🤣🤣)
"Sayang, kau baik-baik saja kan?" tanya Gabrielle pelan. "Maaf, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak menerkammu tadi!."
Elea tersenyum mendengar permintaan maaf suaminya. Dia menganggukkan kepala kemudian menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang polos tanpa sehelai benangpun.
"Aku tidak apa-apa, Kak. Lagipula Kak Iel melakukannya dengan sangat pelan, jadi aku tidak merasakan sakit pada luka yang ada di badanku" jawab Elea. "Jangan memasang wajah sedih begini, aku sungguh tidak apa-apa Kak!."
"Hem.... " Gabrielle mendesah pelan. "Elea, besok malam Grizelle akan menggelar pesta pernikahan dan Ibu memintaku untuk membawamu kesana!."
"Lalu?" beo Elea. Dia tahu kalau masih ada kelanjutan dari ucapan suaminya.
"Perangkap untuk Jack-Gal" imbuh Gabrielle.
"Oh, aku sudah tahu Kak" sahut Elea sembari mengingat mimpi yang di lihatnya siang tadi.
Sebelah alis Gabrielle tertarik keatas. Dia lalu menatap lekat ke mata istrinya. "Apa kau kembali melihat sesuatu? Apa itu sayang, cepat beritahu aku!."
Sebelum menjawab, Elea meminta suaminya untuk membantunya duduk menyender ke kepala ranjang. Dia lalu membenamkan wajahnya di dada bidang yang selalu membuatnya merasa nyaman.
"Aku melihat Grizelle terbakar, Kak. Dan kita, kita juga akan bermandikan darah. Hanya saja aku tidak tahu apa yang membuat kita bertiga jadi seperti itu. Yang jelas, besok malam dokter Jackson akan membawaku ke suatu tempat dimana ada sebuah sangkar emas yang sangat besar. Aku akan sangat menderita selama berada di dalam sana Kak!" jawab Elea lirih.
Mengatakan hal buruk yang akan terjadi pada dirinya sendiri bukanlah sesuatu yang mudah bagi Elea. Terlebih lagi dia juga menyaksikan bagaimana suami dan adik iparnya ikut terluka parah dalam insiden tersebut.
Sorot mata Gabrielle langsung mendingin begitu mendengar cerita istrinya. Setelah mendapat teguran keras dari ibunya, Gabrielle bukan lagi menjadi orang yang lalai dan juga ceroboh. Dia bersumpah dalam hatinya akan menjadi orang yang jauh lebih kejam di bandingkan Jack-Gal jika bajingan itu berani menyentuh istrinya meski hanya secuil. Otaknya pun segera berkelana memikirkan siasat apa yang akan dia gunakan untuk menghalau kejadian mengerikan itu. Meski takdir tak bisa dia tolak, namun seribu cara akan dia lakukan untuk membawa istrinya keluar dari takdir tersebut. Tidak peduli meski dia harus mati sekalipun.
"Kak Iel, Kakak akan menyelamatkan aku bukan?" tanya Elea seraya menengadahkan wajah menatap suaminya. "Aku akan mati membusuk di sangkar itu jika Kak Iel tidak datang menolongku. Dokter Jackson, dia akan menjadikan aku seperti anjing di dalam sana. Dia juga akan melecehkan aku Kak!."
Greeeppp
__ADS_1
"Itu tidak akan terjadi, sayang. Tidak akan pernah terjadi selama aku masih hidup. Tenang saja, aku sudah mendapatkan cara untuk menghadapi kegilaan dokter keparat itu. Kau jangan khawatir lagi, oke?" hibur Gabrielle sambil mendekap erat tubuh polos istrinya.
Elea mengangguk lega setelah mendengar ucapan suaminya. Ya, dia memang tidak seharusnya merasa takut selama perisainya baik-baik saja. Elea hanya perlu mempersiapkan diri untuk menghadapi kejadian buruk besok malam.
"Oh ya sayang, bagaimana kalau besok pagi kita berkunjung ke kamar Ayah? Ayah pasti sudah menunggumu seharian ini" ucap Gabrielle sedikit merasa bersalah dengan apa yang sudah dia lakukan.
Siang tadi, karena Kakek Karim dan menantunya tak kunjung pergi dari kamar ayah mertuanya, terpaksa Gabrielle meminta Reinhard menyuntikkan obat tidur ke tubuh Elea. Dia sengaja melakukannya agar Elea berhenti merengek meminta untuk menemui ayahnya. Sampai sekarang Gabrielle masih belum rela menunjukkan keberadaan istrinya di hadapan Kakek Karim. Hatinya masih terlalu sakit memikirkan kejahatan yang sudah di lakukan pada istrinya dulu.
"Astaga. Bagaimana aku bisa lupa mengunjungi Ayah hari ini Kak? Ayah pasti sangat kesepian di sana" sahut Elea kaget.
"Ada Kakek Karim dan Nyonya Yura yang menemani Ayah, sayang. Beliau tidak sendirian" ucap Gabrielle memberitahu.
Elea langsung terdiam begitu suaminya menyebut nama kakeknya. Masih ada sebersit rasa sakit yang membelenggu hati jika dia teringat dengan apa yang telah di lakukan oleh kakek dan neneknya dulu. Elea sebenarnya tidak ingin membenci, tapi akan sangat munafik jika dia bilang baik-baik saja selama menerima perlakuan buruk nan kejam dari orang-orang yang seharusnya menyayanginya.
Gabrielle yang menyadari kebungkaman Elea segera mengetahui jika ada luka dalam yang begitu membekas di hati istrinya. Dengan perlahan Gabrielle melepaskan pelukan, menangkup pipi Elea kemudian menyesap bibirnya perlahan. Dia terus melakukan hal itu hingga terdengar suara kekehan dari mulut istrinya.
"Hehehe, ini mulut Kak bukan permen" ledek Elea yang gemas melihat kelakuan suaminya.
"Biar saja. Bagiku bibirmu itu sangat manis seperti permen" lanjut Gabrielle kemudian kembali asik dengan kegiatannya.
Elea hanya diam membiarkan kelakuan nakal suaminya. Tapi lama-kelamaan, ada sebuah tangan besar yang mulai merayap di dadanya. Saat Elea ingin menahannya, dengan cepat Gabrielle mengunci kedua tangannya keatas. Dia tersenyum, sadar jika nafsu suaminya kembali naik.
"Ingin lagi, hem?" goda Elea sambil mengedipkan sebelah mata.
Gabrielle terkekeh melihat cara Elea menggodanya. Dia lalu menelan ludah saat selimut yang menutupi dada istrinya merosot ke bawah. Alhasil dua buah gundukan putih nampak menyembul keluar seolah menantangnya untuk segera bertarung.
"Sayang, apa kau sengaja membuat selimut itu pergi dari tempatnya? Aku tidak keberatan jika harus kembali bertarung dengan kenikmatan tubuhmu" ucap Gabrielle dengan suara serak menahan nafsu.
"Ck, bagaimana caranya aku memindahkan selimut itu Kak? Tanganku saja kau kunci seperti ini, memangnya aku belut yang bisa meliuk-liuk saat ingin melarikan diri" sahut Elea asal.
__ADS_1
"Lalu sekarang aku harus bagaimana sayang? Aku takut kau kelelahan jika kembali melayani aku" ucap Gabrielle mulai frustasi merasakan juniornya yang sudah kembali on fire.
Bibir Elea berkedut. Gemas melihat bagaimana suaminya yang sedang mencoba untuk menahan nafsu. "Ya terserah Kakak saja. Yang penting satu pesanku, jangan buat aku tidak bisa berjalan karena besok pagi-pagi sekali kita harus pergi mengunjungi Ayah. Bagaimana? Mampu tidak Kak?."
Di tantang seperti itu tentu saja membuat Gabrielle semakin terbakar gairah. Tanpa membuang waktu lagi, dia segera menikmati bibir ranum istrinya yang selalu membuatnya tergoda. Dia lalu menyatukan telapak tangannya dengan telapak tangan Elea, menekannya kuat di atas bantal saat penyatuan itu kembali terjadi.
Ranjang rumah sakit yang seharusnya menjadi tempat untuk beristirahat sekarang berubah menjadi tempat untuk menyalurkan hasrat. Tidak ada yang salah memang, karena pelakunya adalah sepasang suami istri yang sudah sah di mata hukum dan negara. Hanya saja kejadian ini terlihat sedikit ambigu jika sampai ada orang yang melihatnya.
Wajah Gabrielle dan Elea sama-sama memerah di saat keduanya mengalami pelepasan. Gabrielle sengaja melakukannya dalam durasi yang jauh lebih cepat dari biasanya. Segila-gilanya dia pada tubuh Elea, otaknya masih sadar kalau istrinya ini masih belum sepenuhnya sembuh.
"Euuggghhhh..... ". Elea melenguh pelan saat milik suaminya di tarik keluar dari bawah sana. Ada semacam rasa kehilangan saat benda keras itu pergi dari miliknya.
"Aku akan membantumu membersihkan diri sebelum kita istirahat" ucap Gabrielle sambil mengenakan cd miliknya.
"Benar istirahat?" tanya Elea sembari memperhatikan milik suaminya yang masih menegang. "Kak Iel, sepertinya dia masih belum menyerah. Apa dia baik-baik saja jika berdiri seperti itu?."
Gabrielle tergelak mendengar pertanyaan konyol istrinya. Dia lalu mengangkat tubuh polos Elea kemudian membawanya masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah beres, dia kembali membawanya ke ranjang. Membantunya mengenakan pakaian kemudian mengajaknya untuk tidur. Gabrielle dan Elea tidak sadar jika di bawah tubuh mereka ada ribuan anak kecebong yang kini sudah tidak bernafas lagi akibat tertindih tubuh keduanya.
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
MAAF YA GENGS EMAK LAGI GABUT... 🤣
...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS......
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
...🌻 IG: emak_rifani...
...🌻 FB: Nini Lup'ss...
__ADS_1
...🌻 WA: 0857-5844-6308...