Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Kebahagiaan


__ADS_3

Elea duduk dengan sangat gelisah di kursi rodanya. Matanya terus menatap kearah pintu yang tak kunjung terbuka. Ares yang melihat Nyonya-nya begitu gelisah segera datang mendekat.


"Nyonya, anda baik-baik saja?" tanya Ares.


"Em, aku tidak tahu Ares. Itu, kenapa Kak Iel lama sekali ya di dalam? Mereka tidak sedang baku hantam kan?" ucap Elea balik bertanya.


Ares menghela nafas pelan. Dalam kondisi seperti ini saja Nyonya-nya masih sanggup untuk melawak. Saat Ares hendak menjawab pertanyaan itu, pintu ruangan terbuka. Dia segera menyingkir sebelum banteng pencemburu itu mengamuk.


"Kak Iel, bagaimana? Ayah, Ayah baik-baik saja kan?. Elea mempertanyakan kata yang berbeda dengan apa yang ada di dalam hatinya. Dia sebenarnya ingin bertanya apakah Ayahnya mau bertemu dengannya atau tidak. Tapi karena tak ingin kecewa, akhirnya dia menanyakan hal lain pada suaminya.


"Sayang" panggil Gabrielle kemudian duduk berjongkok di depan istrinya. "Saat di taman, Ayahmu itu sedang mencarimu. Dia tidak tahu kalau selama ini kau masih hidup."


Kening Elea mengernyit. Bingung dengan perkataan suaminya. "Maksudnya bagaimana Kak? Aku, aku tidak mengerti!."


Gabrielle membelai wajah istrinya yang terlihat bingung. Dia lalu menciumi jari-jari lentik dimana ada sebuah cincin berlian tersemat di jari manisnya. "Selama ini Ayahmu di bohongi oleh nenek dan kakekmu kalau kau itu sudah meninggal. Itu sebabnya dia tidak pernah mencarimu. Elea, dia sangat ingin bertemu denganmu. Waktu di taman itu dia tidak sengaja melihatmu bersama Levi kemudian berniat mengejar kalian. Tapi di tengah jalan dia di celakai oleh Jack-Gal. Itu juga yang membuatnya tertahan di rumah sakit ini."


Tess


Sebutir airmata lolos dari sudut mata Elea. Dia tidak ingin percaya, namun ini adalah kebenaran yang di bawa oleh suaminya. Suara isak tangis tertahan menghiasi lorong rumah sakit dimana Bryan Young di rawat. Untung saja Gabrielle sudah meminta Ares untuk tidak membiarkan siapapun masuk kemari, jadi Elea bisa sepuasnya menangis tanpa harus merasa terganggu.


"Hiksss... Kak Iel, aku ingin bertemu Ayah" ucap Elea di sela-sela isak tangisnya.


"Tentu sayang, apapun untukmu" sahut Gabrielle seraya menyeka airmata istrinya. "Tapi jangan menangis ya. Ini adalah hari kebahagiaanmu setelah sekian lama terpisah, aku ingin kau tersenyum bahagia nanti. Ayahmu sangat mencintaimu, dia tidak bersalah. Oke?."


Elea mengangguk cepat. Dia menarik nafas dalam-dalam sambil membersihkan sisa airmata yang membasahi wajahnya. Dengan hati yang berdebar-debar akhrinya Elea masuk ke ruangan itu. Dia tertegun melihat seorang pria yang sedang menangis sambil menatap kearahnya.


"A,Ayah...."


Tubuh Bryan kaku. Dia menatap tak berkedip kearah gadis kecil yang baru saja memanggilnya Ayah. Kembali melupakan luka di tubuhnya, Bryan melompat turun dari atas ranjang. Dia melangkah terseok-seok sambil terus menatap putrinya yang dia kira sudah meninggal.


"Eleanor..... Eleanor.... Ini Ayah Nak, ini Ayah..." gumam Bryan lirih.


Gabrielle dan Ares menjadi saksi bisu pertemuan antara ayah dan anak yang sudah sangat lama terpisah akibat keegoisan keluarga. Mereka bahkan hampir meneteskan airmata saat Bryan menangis tersedu-sedu sambil berlutut di depan putrinya.


"Hiksss, E,Eleanor, ini Ayah Nak. Maafkan Ayah, selama ini Ayah tidak tahu kalau kau masih hidup sayang. Ayah termakan kebohongan Kakekmu, dia yang telah memisahkan kita berdua.. Eleanor, putri Ayah!" isak Bryan sambil menekan dadanya yang terasa sangat sesak. Bagaikan mimpi, putrinya sekarang berada tepat di hadapannya. Sesuatu yang hampir membuat Bryan putus asa setelah gagal mengejarnya saat di taman siang itu.


"Ayah, Ayah....."

__ADS_1


Elea sama sesaknya seperti ayahnya. Dia hanya bisa menyebut nama Ayah tanpa bisa berkata apapun lagi. Sebuah pertemuan yang tak pernah berani dia bayangkan, kini benar-benar terjadi. Ayahnya, sosok yang selama ini hanya bisa dia lihat di layar komputer, kini sedang duduk menangis di hadapannya. Dengan tangan gemetaran, Elea mencoba menyentuh wajah ayahnya. Dia ingin merasakan betapa bahagianya memiliki orangtua.


"Ayah, Ayah tidak akan membuangku lagi kan?' tanya Elea parau. Takut, tentu saja perasaan itu masih ada.


"Tidak sayang, itu tidak akan pernah terjadi. Ayah lebih baik mati jika harus kembali terpisah denganmu, Nak. Ayah tidak sanggup" jawab Bryan membiarkan tangan putrinya meraba wajahnya.


Tangan lentik ini yang selalu dia rindukan setiap malam, kini benar-benar dia rasakan. Kebahagiaan ini terasa sangat membuncah saat Eleanor terus memanggilnya Ayah, Ayah, dan Ayah.


Elea tersenyum. Dia tersentak kaget melihat tubuh ayahnya yang berlumuran darah. Gabrielle yang tanggap akan hal itu segera berbisik pada Ares untuk membantu ayah mertuanya kembali ke ranjang. Namun saat Ares hendak mendekat, dengan cepat Bryan memeluk kedua kaki putrinya. Wajahnya terlihat sangat panik.


"Tuan Bryan, biarkan saya..


"Tidak. Tuan Muda, tolong jangan pisahkan saya dengan Eleanor. Kami, kami baru saja bertemu. Saya mohon Tuan Muda, tolong jangan pisahkan kami!" teriak Bryan histeris sambil menggeleng-gelengkan kepala.


"Ayah, aku tidak bermaksud memisahkan kalian. Lihatlah, tubuhmu sedang terluka. Ares hanya ingin membantumu kembali ke ranjang. Luka-luka di tubuhmu perlu di obati" sahut Gabrielle menenangkan Ayah mertuanya yang masih histeris.


Elea dengan lembut mengusap bahu ayahnya. "Ayah, Kak Iel itu sangat baik. Dia tidak akan mungkin memisahkan kita. Jadi sekarang Ayah patuh ya, aku sedih melihat Ayah terluka seperti ini!."


Karena saking paniknya, Bryan sampai tak menyadari kalau Gabrielle baru saja memanggilnya Ayah. Dia hanya terus memeluk kaki Eleanor sambil menatap curiga kearah Ares.


"Ayah ayo, aku akan menemani Ayah beristirahat. Aku tidak akan pergi kemana-mana, Ayah. Jadi Ayah jangan takut ya" bujuk Elea lagi.


"Benar kau tidak akan meninggalkan Ayah lagi?" tanya Bryan memastikan.


Elea mengangguk. "Iya, aku juga tidak mau berpisah lagi dengan Ayah. Rasanya sangat tidak enak hidup sendirian di luar sana."


Paham jika mertuanya masih curiga pada Ares, Gabrielle akhirnya turun tangan langsung. Dengan hati-hati dia memapah ayah mertuanya menuju ranjang. Baru setelahnya dia mendorong kursi roda Elea mendekat kearah sana.


"Panggil Reinhard kemari, Ares. Minta dia untuk mengobati Ayah mertuaku sekarang juga!."


"Baik, Tuan Muda" sahut Ares kemudian bergegas keluar untuk memanggil dokter.


Bryan sekarang baru sadar. Dia lalu menatap dalam kearah Gabrielle. "Tuan Muda, apa anda baru saja menyebut saya sebagai Ayah mertua?."


"Iya. Kenapa? Apa aku tidak di bolehkan memanggil Ayah mertuaku seperti itu?" ucap Gabrielle balik bertanya.


"Tidak tidak, bukan,bukan seperti itu maksud saya, Tuan Muda" jawab Bryan gugup. "Saya hanya sedikit kaget mendengarnya."

__ADS_1


Gabrielle tersenyum. Dia lalu melihat kearah istrinya yang terlihat begitu bahagia setelah bertemu dengan orangtua kandungnya. "Sayang, apa sekarang kau sudah merasa lega?."


Elea mengangguk sambil menatap penuh cinta kearah suaminya. Dengan sepenuh hati dia meraih tangan suaminya lalu menempelkannya di pipi. "Suamiku yang terbaik. Hidupku menjadi sangat bahagia dan sempurna berkatmu, Kak Iel. Kau dewa penyelamatku. Terima kasih sudah memberikan pelangi indah untuk kami berdua. Aku mencintaimu, Kak Iel!."


Mungkin jika tidak ada ayahnya Elea, Gabrielle akan langsung menciumnya sekarang juga. Hatinya bagai berbunga-bunga setelah mendengar kata cinta dari istrinya.


"Apapun akan aku lakukan asal bisa melihatmu tersenyum, sayang" ucap Gabrielle.


Bryan tersenyum. Dia merasa bahagia melihat putrinya di nikahi oleh pria yang tepat. Tak lama kemudian, pintu ruangan terbuka. Tampak Ares berjalan masuk bersama dengan Reinhard.


"Gabrielle, mereka...


"Kita bicara nanti. Sekarang kau obati dulu luka di tubuh Ayah mertuaku" ucap Gabrielle menyela perkataan Reinhard.


Meksipun sangat penasaran, Reinhard akhirnya mengikuti apa yang di perintahkan oleh Gabrielle. Dia menarik nafas pelan melihat selang infus yang sudah tergeletak di lantai dengan darah yang berceceran dimana-mana.


"Tuan Bryan, lain kali jangan melakukan hal seperti ini lagi ya. Itu akan sangat berbahaya untuk kesehatanmu" ucap Reinhard memberi nasehat pada ayahnya Elea.


"Maafkan saya dokter. Saya terlalu bahagia bertemu dengan putri saya sampai mengabaikan keselamatan sendiri. Setelah ini tidak akan ada kejadian seperti ini lagi" sahut Bryan sambil terus menggenggam tangan Eleanor.


"Oh iya Ayah mertua, aku harap pertemuan ini tidak ada orang lain yang tahu, terutama Tuan Karim. Untuk sekarang aku belum bisa memberikanmu alasan, cukup rahasiakan dulu tentang keberadaan Elea!" pesan Gabrielle serius.


"Tapi kami masih boleh bertemu kan, Gabrielle?" tanya Bryan hati-hati saat menyebut nama menantunya.


Gabrielle sedikit lucu melihat kehati-hatian ayah mertuanya. Dia lalu menganggukan kepala. "Pasti Ayah. Lagipula aku mana tega membiarkan istriku yang cantik ini berjauhan dengan keluarga yang baru saja di temukannya. Tapi kalian tidak boleh sembarangan bertemu" jawab Gabrielle. "Reinhard, kau yang akan menjadi burung pengantar pesan!."


"Dengan senang hati, Tuan Muda!" sahut Reinhard bangga.


Setelah itu, semua orang kembali berbincang. Bryan seakan tak percaya kalau saat ini dia sedang bersama Eleanor, putri yang selama sembilan belas tahun ini terpisah darinya. Dalam hati, Bryan sangat sangat berterima kasih pada Gabrielle yang mau merawat putrinya hingga sekarang. Menyelamatkannya dari jurang penderitaan yang di sebabkan oleh orangtuanya.


🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄


...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....


...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...


...🌻 IG: emak_rifani...

__ADS_1


...🌻 FB: Nini Lup'ss...


...🌻 WA: 0857-5844-6308...


__ADS_2