Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Auman


__ADS_3

Jackson yang sudah hampir pingsan akhirnya bisa bernafas lega setelah melihat kedatangan Fendry. Dengan pandangan mata yang mulai mengabur dia melambaikan tangan meminta Fendry untuk segera mendekat.


"Kenapa kau lama sekali?" tanya Jack.


"Di atas ada sedikit masalah tadi" jawab Fendry sambil membantu Jack berdiri. "Kau bisa jalan sendiri tidak?."


Jack menoleh kemudian menatap tajam kearah Fendry. Tapi sedetik kemudian dia merasa ada yang aneh dengan diri temannya ini. Wajahnya terlihat sangat datar, tidak seperti yang biasa dia lihat.


"Fendry, apa kau baik-baik saja?" tanya Jack curiga. "Sikapmu sedikit berbeda, kau bukan orang lain yang sedang menyamar menjadi temanku kan?."


"Yang benar saja Jack. Aku seperti ini karena tadi melihat sesuatu yang sangat mengerikan sebelum turun ke jurang untuk menolongmu" jawab Fendry kesal.


"Memangnya apa yang sudah kau lihat?" tanya Jack penasaran sembari melangkah perlahan saat Fendry mulai memapahnya.


"Tadi kau mendengar suara auman binatang buas tidak?."


Jackson terdiam. Dia tadi memang sempat mendengar suara auman binatang, namun hanya terjadi sekali dan itupun tidak ada suara jeritan manusia. Jadi Jack menganggap kalau auman tersebut adalah suara milik binatang buas yang tidak sengaja lewat di atas jurang.


"Ya, aku mendengarnya. Lalu?."


"Itu auman seekor harimau milik orangtuanya Gabrielle. Aku lama menolongmu karena menunggumu mereka pergi dari sini. Seandainya itu kau, aku yakin kau pasti akan melakukan hal yang sama dengan menunda untuk turun ke jurang kan? Kau pasti tidak akan berani menampakkan diri di hadapan binatang buas itu" jawab Fendry sambil membantu Jack naik. "Awas, tanahnya cukup licin. Jangan membuatku harus dua kali turun untuk membawamu keatas Jack!."


Kecurigaan Jack akhirnya menghilang setelah dia melihat bagaimana Fendry memperlakukannya. Jujur saja tadi dia sempat merasa takut kalau yang datang menolong bukan temannya, melainkan orang yang menyerupainya saja. Dalam dunia Jackson, memakai wajah orang lain untuk sesuatu hal adalah hal yang lumrah, karena dia pun beberapa kali juga sering melakukannya. Itulah mengapa tadi dia sempat merasa tidak nyaman melihat ekpresi datar di wajah Fendry, rupanya dia seperti itu karena ada alasannya.


Setelah perjuangan panjang, Jackson dan Fendry akhirnya bisa keluar dari jurang tersebut. Dengan sigap Fendry segera memapah Jack menuju mobilnya yang terparkir tak jauh dari sana.


"Aarrgghh, sial!" umpat Jack saat luka tembak di perutnya berdenyut.


"Kenapa Jack?" tanya Fendry dingin.


Sekali lagi Jackson merasakan hal aneh itu. Fendry-nya bertanya tanpa melihat kearahnya. Entahlah, Jackson bingung, apakah ini hanya halusinasinya saja atau memang benar ada yang aneh dengan temannya ini. Saat dia sedang memikirkan keanehan tersebut, tiba-tiba dari kejauhan kembali terdengar suara auman binatang. Sontak saja hal itu membuat keduanya terperanjat kaget kemudian segera melajukan mobil untuk pergi dari sana.

__ADS_1


Fendry palsu, dia dengan luwes menirukan segala yang biasa di lakukan oleh Fendry asli. Bahkan dia tidak kesulitan sama sekali saat Jackson meminta untuk di antarkan ke rumahnya langsung, bukan ke apartemen dimana dia tinggal selama ini.


"Jack, apa kau tidak ingin pergi ke rumah sakit?" tanya Fendry setelah mobil mereka berhenti di sebuah pekarangan rumah yang sangat luas.


"Tidak. Mereka sudah mengetahui identitasku, akan sangat beresiko jika aku muncul sembarangan di depan publik" jawab Jack masih dengan menekan luka tembak di perutnya. "Cepat bantu aku, peluru-peluru ini semakin membuatku kesal!."


"Baiklah."


Dengan santai Fendry membantu Jackson keluar dari dalam mobil. Dia lalu memapahnya masuk ke dalam rumah. Tanpa di ketahui oleh Jackson, Fendry menyalakan sensor yang tersembunyi di belakang telinganya. Itu adalah sebuah kamera kecil yang terhubung dengan markas dimana tuannya sedang mengawasi.


"Bantu aku mengeluarkan peluru ini, Fen. Ambil beberapa botol alkohol dan juga peralatan medisku di kamar" ucap Jackson mulai lemah.


Dalam keadaan setengah berbaring, Jackson membuka seluruh pakaiannya hingga menyisakan ****** ******** saja. Dia mengerang saat tidak sengaja menekan luka tembak yang ada di pahanya.


"Fendry, cepat sedikit!" teriak Jackson tak sabaran.


Sementara yang di panggil, saat ini sedang mendengarkan instruksi dari seseorang melalui alat yang terpasang di dalam telinganya.


"Saya mengerti, Nyonya Besar!."


Setelah itu Fendry segera mengambilkan barang-barang yang tadi di minta oleh Jackson. Dia tak mempedulikan tatapan tajam dari pria jahat itu begitu dia duduk di sebelahnya.


"Bukankah kau tahu kalau aku paling tidak suka menunggu!" amuk Jackson menahan kesal pada temannya.


Untung saja saat ini dia sedang terluka. Jika tidak, dia pasti akan langsung menghajar pria yang sedang duduk santai di sebelahnya ini.


"Maaf, perutku sedikit mulas tadi" sahut Fendry beralasan.


"Cih... " Jackson berdecih kesal. "Ambilkan alkohol itu, dan jangan lupa sterilkan pisau yang akan kupakai untuk mencongkel peluru ini keluar!."


Fendry dengan patuh menuruti perintah yang di ucapkan oleh Jackson. Diam-diam, dia menaruh cairan yang bisa membuat luka selalu dalam kondisi basah. Jadi akan butuh waktu yang sedikit lama untuk menunggu luka tersebut mengering.

__ADS_1


"Sssshhhhhhhhh...." desis Jackson menahan perih saat luka di kakinya dia siram menggunakan alkohol. "Pisau.."


Seperti gelarnya, Jackson dengan dinginnya mulai mengorek peluru yang ada di bagian kakinya. Wajahnya terlihat sangat dingin, sama sekali tidak ada ekpresi kesakitan di sana. Sedangkan Fendry, dia hanya duduk diam sambil memperhatikan kelakuan Jackson. Sesekali dia juga tampak menyeringai samar saat pisau yang sudah dia beri cairan khusus menempel di kulit Jackson yang terluka.


"Jack, apa yang akan kau lakukan pada gadismu selanjutnya?" tanya Fendry sambil membungkus luka menganga di kakinya Jack.


Jackson menghela nafas. Dia memainkan pisau berdarah yang ada di tangannya. "Mungkin untuk sekarang ini aku akan memulihkan keadaanku terlebih dahulu. Baru setelahnya aku akan mencari cara untuk merebut Eleanor dari tangannya Gabrielle. Mereka sudah mengetahui rahasiaku, akan sangat berbahaya jika aku muncul tanpa persiapan yang matang!."


"Kau benar sekali" timpal Fendry. "Sebenarnya ada hubungan apa ya antara Gabrielle dan gadismu? Aku sangat kaget melihat betapa dia menggila dengan membawa ratusan anak buahnya untuk menyelamatkan Eleanor tadi. Sepertinya gadismu begitu berarti untuknya!."


Aura di wajah Jackson berubah menjadi sangat bengis. Dengan kasar dia mengoyak pinggiran perutnya kemudian berusaha mengeluarkan peluru yang bersarang disana.


"Gabrielle, dia menganggap Eleanor sebagai gadisnya" geram Jackson dengan tatapan menyala.


"Apaaa? Yang benar saja Jack!" pekik Fendry pura-pura kaget.


"Dia mengakuinya sendiri. Tapi Fen, selama aku masih hidup, aku tidak akan membiarkannya menguasai Eleanor. Dia adalah milikku, tidak akan kubiarkan satu orangpun merebut apa yang sudah menjadi miliknya seorang Jackson. Tidak Gabrielle atau siapapun. Eleanor adalah ratuku, dia hanya bisa hidup jika bersamaku!" ucap Jackson.


Setelah mengeluarkan emosinya, Jackson kembali mencongkel peluru-peluru yang masih bersarang di tubuhnya. Mengabaikan tatapan datar Fendry yang hanya diam sejak dia menguatkan posisinya dalam memiliki Eleanor. Aneh memang, tapi Jackson tidak peduli. Yang ada di pikirannya sekarang hanyalah bagaimana cara agar dirinya bisa secepat mungkin membawa ratunya pulang ke rumah ini.


🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄


MAAF YA CUMA UP SATU DOANG, INSYAALLAH SORE EMAK UP LAGI...


...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSSS.....


...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...


...🌻 IG: emak_rifani...


...🌻 FB: Nini Lup'ss...

__ADS_1


...🌻 WA: 0857-5844-6308...


__ADS_2