
"Hati-hati!" ucap Gleen sambil memegangi tubuh Lusi yang hampir terjatuh.
Lusi mengangguk. Dia menarik lengan kemeja Gleen dengan sangat erat. Tadi itu dia berencana untuk belajar berjalan sendiri, Lusi merasa tidak enak jika terus-terusan merepotkan Gleen dan juga Luri. Dia cukup tahu diri.
"Sweety, aku kan sudah bilang kalau tidak ada orang jangan melakukan sesuatu yang bisa membahayakan keselamatanmu. Punggungmu itu masih dalam proses penyembuhan, akan sangat fatal kalau kau sampai terjatuh!" omel Gleen sembari memapah calon istrinya ke arah ranjang. "Kenapa sulit sekali sih. Kau bisa menjadi cacat jika tulang di punggungmu sampai patah lagi. Tahu tidak?.
Merasa bersalah, Lusi hanya diam saja saat Gleen tak berhenti mengomelinya. Manik mata Lusi terus mengamati wajah tampan calon suaminya yang kini tengah mengupas buah sambil berdiri di samping ranjang.
"Gleen...."
"Hmmm,"
Gleen menoleh. Dia tertegun ketika netranya bertabrakan dengan pandangan mata Lusi yang entah kenapa terlihat seperti orang yang sedang mendamba. Dadanya berdebar kuat.
'Tahan Gleen, tahan. Ini ujian. Bersabarlah! Tidak lama lagi kau akan segera memiliki Lusi seutuhnya. Tahan, tahan!...
"Seandainya tadi aku benar-benar jatuh kemudian dokter memvonis kalau aku akan cacat seumur hidup, apa kau akan meninggalkan aku?" tanya Lusi.
"Astaga Sweety, kau ini bicara apa sih. Jangan melantur" jawab Gleen terkejut dengan jenis pertanyaan yang di sampaikan oleh calon istrinya. "Jangan berpikiran macam-macam ya. Seperti apapun dirimu aku akan tetap mencintaimu seumur hidup. Bahkan jika bisa aku akan memohon pada Tuhan agar kita di satukan di tempat yang sama saat di surga nanti!.
"Sungguh?.
Gleen mengangguk pasti. Setelah itu dia kembali mengupas kulit buah yang hampir selesai.
"Kalau aku lumpuh dan mulai berkeriput?.
"Maka aku akan menjadi kakimu dan menjadi skincare yang bisa membuat wajahmu kembali cantik seperti semula" jawab Gleen asal.
"Kau ini. Aku bertanya serius, Gleen!" protes Lusi sedikit kesal dengan jawaban asal calon suaminya.
__ADS_1
Mungkin jika menjadi kaki itu masih terdengar normal, tapi jika menjadi skincare... Lusi rasa hanya Gleen yang bisa berpikiran seperti itu. Konyol, tapi juga membahagiakan.
"Sweety, aku kan sudah bilang mau seperti apapun dirimu aku akan tetap mencintaimu sampai akhir hayat. Entah kau itu lumpuh, matanya hilang satu, atau apapun itu aku tidak peduli. Lusi adalah miliknya Gleen, selamanya akan tatap seperti itu sampai maut yang memisahkan. Paham?.
Lusi mengulum senyum dengan pipi merona merah. Dia merasa amat sangat tersanjung mendengar kejujuran Gleen yang begitu mendalam. Sungguh, dia yang dulunya hanya seorang pelayan rendahan tak pernah menyangka akan di cintai dengan begini mendalam oleh seorang pria tampan dan juga kaya raya. Lusi sungguh bingung kenapa dulu Gleen bisa begitu tergila-gila mengejarnya. Padahal jika dilihat dengan benar, sama sekali tidak ada yang menarik dari dirinya. Lusi hanyalah gadis desa yang memiliki nasib baik karena di pertemukan dengan majikan yang begitu loyal. Mungkin tanpa uluran tangan dari Nyonya Besar Liona dia tidak akan bisa memiliki hidup sebahagia ini. Tuhan benar-benar Maha Adil. Segala kebaikan yang pernah dia lakukan kini berbuah manis.
"Jangan melamun. Ayo makan!" ucap Gleen sembari menyodorkan potongan buah ke mulut Lusi.
"Gleen....
"Kalau kau hanya ingin membahas yang cacat-cacat aku tidak mau dengar" sela Gleen kemudian menutup satu telinganya.
"Aishh kau ini. Aku itu hanya ingin bilang terima kasih, bukan ingin membahas yang cacat-cacat seperti yang kau sebut!" protes Lusi kemudian memakan buah yang di sodorkan untuknya.
Gleen terkekeh. Dia menyuapi Lusi, kemudian ikut menyuapkan potongan buah ke dalam mulutnya. Mata mereka berdua saling memandang tak berkedip, sama-sama sedang meresapi rasa cinta yang membakar hati keduanya.
"Boleh, tapi setelah dokter mengeluarkan surat izin" jawab Gleen. "Sweety, aku ingin sebelum kau masuk kuliah kita sudah menikah. Dengan begitu aku baru merasa aman melepaskanmu karena di jarimu sudah ada cincin yang akan melindungimu dari gangguan para predator mata keranjang!.
Mulut Lusi berhentilah mengunyah ketika dia mendengar kata predator mata keranjang. Keningnya mengerut bingung, tidak paham dengan arti kata tersebut.
"Apa itu predator mata keranjang, Gleen? Aku baru pertama kali ini mendengarnya?.
"Itu julukan bagi pria-pria yang suka mengganggu kekasih orang lain, Sweety. Kau sangat cantik, aku yakin sekali nanti kau pasti akan menjadi sasaran empuk mereka. Makanya aku ingin kita menikah dulu supaya mereka tidak berani mengganggumu. Jika mereka mulai mendekat, kau tinggal menunjukkan cincin yang melingkar di jari manismu saja, Sweety. Mereka pasti akan lari terbirit-birit!.
"Kalau mereka tetap tak mau pergi bagaimana?" tanya Lusi sambil menahan tawa.
"Aku pastikan mereka semua akan kencing di celana!" jawab Gleen di barengi dengan kilat kemarahan di matanya.
Lusi terpingkal-pingkal saat Gleen terus memperlihatkan wajah yang garang. Padahal tadi itu Lusi hanya bercanda saja, tapi siapa yang menyangka kalau hal ini akan di tanggapi dengan sangat serius oleh calon suaminya. Benar-benar sangat lucu.
__ADS_1
"Sweety, jangan menertawaiku. Aku bersikap posesif begini karena aku sangat mencintaimu. Aku tidak rela jika ada pria lain menggodamu, aku cemburu!.
Gleen terang-terangan mengatakan tentang kecemburuannya pada Lusi jika nanti ada yang mendekatinya saat berada di universitas. Meski sebelumnya Gleen dan Gabrielle sudah membahas masalah ini, tetap saja dia merasa tak tenang. Seandainya saja bisa, ingin rasanya Gleen membungkus tubuh Lusi kemudian menyimpannya di dalam kamar supaya hanya dia saja yang bisa melihat kecantikannya. Gleen kini baru tahu ketakutan yang di rasakan oleh Gabrielle setelah menikah dengan Elea. Ternyata wanita itu terlalu pandai dalam menjungkirbalikkan emosi pria. Hanya dengan membalas senyuman pria lain sudah bisa membangkitkan sisi psikopat yang tinggal di dalam tubuh manusia. Wanita benar-benar sangat mengerikan.
"Aku hanya akan mencintaimu, Gleen. Perasaanku tidak akan pernah berpaling pada pria mana pun meski mereka jauh lebih tampan dan juga kaya raya dari dirimu. Kau adalah cinta pertamaku, kau juga adalah satu-satunya pria gila yang dengan sangat tidak tahu malu terus mengikutiku kemana pun aku pergi. Semua pengorbanan yang telah kau lakukan akan selamanya membekas di hatiku, Gleen. Jadi kau tidak perlu khawatir, selamanya aku hanya untukmu" ucap Lusi dengan nada suara yang sangat romantis.
Gleen tertegun. Hatinya begitu sejuk saat mendengar Lusi menegaskan tentang dirinya dalam kehidupannya. Gleen sungguh beruntunglah karena menjadi yang pertama bagi Lusi, yang artinya kalau dia juga akan menjadi yang pertama dalam membuka segel kesuciannya. Membayangkan malam pertama mereka tiba-tiba saja membuat seluruh tubuh Gleen menjadi padas dingin. Hatinya meleleh seperti es krim.
"Sweety, aku mencintaimu."
"Aku juga, Gleen. Aku bahkan lebih lebih lagi dalam mencintaimu. Mari kita sama-sama menjaga hati ya."
Mata Gleen sampai berkaca-kaca saking senangnya. Entah siapa yang memulai, kedua bibir mereka kini sudah saling menempel. Ciuman mereka terasa begitu romantis karena Gleen melakukannya dengan sangat perlahan. Gleen ingin mencecapi rasa manis yang ada di bibir calon istrinya. Jadi dia sengaja membuat slow motion agar rasa itu selalu mengendap di dalam otaknya.
Mungkin dulu Gleen tak pernah percaya pada Tuhan, tapi sekarang dia seperti mendapat pencerahan setelah bertemu dengan Lusi. Dia di ajari bagaimana cara untuk bertobat dan memperbaiki diri, di ajarkan untuk berlapang dada ketika orang lain membuat hati merasa sakit. Dan kini di hati Gleen sudah ada nama Tuhan. Sesosok dewa penyelamat yang telah mengangkatnya dari jurang hitam.
'I love you forever, my girlfriend. You're my destiny.'
πππππ
πππππππππππππππππ
π»VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS..
LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA
π» IG: rifani_nini
π»FB: Rifani
__ADS_1