Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Istri Kecil Sang Pewaris ( END)


__ADS_3

"Apa sayang?" tanya Gabrielle sambil mengelus rambut Elea yang terus menatapnya.


"Hadiah apa yang akan Kakak berikan padaku?"


"Apa yang kau inginkan?"


"Em, apa ya?" sahut Elea sambil mengusap bibirnya. "Sebenarnya aku tidak butuh apa-apa lagi karena semuanya sudah aku miliki. Tapi kalau boleh ... aku ingin bisa segera masuk ke kampus. Aku sudah tidak tahan ingin segera bertemu dengan teman-temanku, Kak."


Gabrielle tersenyum. Inilah Elea ketika sedang berdua dengannya. Istrinya yang cantik ini tidak akan mungkin meminta sesuatu yang berlebihan. Jika sedang berada di hadapan orang lain, Elea akan menjelma menjadi sosok gadis lugu yang suka asal bicara. Namun ketika hanya berdua dengan suaminya, sosok lugunya langsung hilang. Berganti dengan sikap dewasa yang penuh perhitungan.


"Sayang, aku sama sekali tidak keberatan kalau kau masuk sekolah besok pagi sekalipun. Tapi kan kau bilang sendiri kalau hubungan kita jangan sampai terekspos dulu. Dengan kondisimu yang masih harus duduk di kursi roda sudah pasti semua teman-temanmu akan tahu kalau aku adalah suamimu," ucap Gabrielle penuh maksud.


"Kenapa bisa begitu, Kak? Memang apa hubungannya kuliah dengan kursi roda?" tanya Elea bingung.


"Jelas sangat berhubungan, sayang. Kan aku yang akan mendorong kursi rodamu."


Elea tergelak. Dia baru sadar kalau suaminya ternyata sangat licik. Dalam keadaan seperti ini pun suaminya masih tidak mau mengalah dan tetap posesif. Elea kan jadi geli hati memikirkannya.


"Bersabarlah. Tunggu setelah keadaanmu sedikit membaik, aku baru akan mengizinkanmu berangkat ke kampus."


"Em kira-kira itu berapa lama, Kak? Apakah harus menunggu bertahun-tahun atau tidak?"


"Asalkan kau patuh pada semua perkataan Reinhard dan Jackson, itu pasti tidak memakan waktu yang lama. Tenang saja, kampus juga belum terlalu aktif. Jadi kau tidak akan ketinggalan," jawab Gabrielle.


Cup


"Suamiku memang yang terbaik. Aku janji akan patuh pada aturan yang di berikan oleh dokter Jackson dan dokter Reinhard. Aku juga janji tidak akan merengek lagi saat Ares dan Paman Junio menggelar pernikahan mereka nanti," ucap Elea dengan raut penuh kegembiraan.


Setelah acara lamaran selesai, semua keluarga akhirnya memutuskan untuk menikahkan ke empat calon pengantin secara bersamaan. Hanya waktu resepsinya saja yang berbeda, itupun hanya berselang satu malam saja. Ide ini di ungkapkan oleh Tuan Greg karena datang terlambat. Dia ingin melihat kebahagiaan beruntun yang katanya bisa membuat tubuhnya menjadi awet muda.


"Sayang?"


"Hemm .....


"Nanti saat kau mulai sekolah tolong jangan genit-genit ya. Aku bisa mati berdiri kalau kau sampai berdekatan dengan pria lain," ucap Gabrielle mengeluarkan ketakutannya.


"Ya ampun Kak Iel. Ini sudah ke lima puluh kalinya kau berkata seperti ini. Astaga, hahahaha."


Mata Elea menyipit saat dia menertawakan keluhan suaminya. Sungguh, entah apa yang pria ini takutkan. Jelas-jelas Elea hanya mencintainya seorang, tapi masih saja cemburu dengan pria-pria yang sedang menuntut ilmu di kampus. Suaminya ini kadang-kadang.


"Sayang, aku ini serius. Di kampus itu banyak sekali buaya-buaya yang berkeliaran. Bagaimana kalau salah satu dari mereka berhasil mencurimu?"

__ADS_1


"Kak Iel, kau tahu bukan kalau aku ini hanya mencintai Kakak seorang? Bahkan saat melihat wajah pria lain mataku menjadi buram. Apa iya aku akan tertarik dengan buaya-buaya itu?" tanya Elea gemas.


"Bohong. Aku masih ingat dulu kau pernah menyebut pria lain tampan di depanku, sayang. Kali ini aku tidak akan percaya."


Sambil terkikik lucu, Elea menurunkan kaca mobil kemudian menyembulkan kepalanya keluar. Gabrielle yang tidak menyangka kalau istrinya akan berbuat seperti itu kaget setengah mati. Tapi baru saja dia ingin meminta istrinya agar kembali duduk, dia di buat salah tingkah begitu mendengar suara teriakan Elea.


"Semua orang πŸ“’πŸ“’πŸ“’... Tolong dengarkan kata-kataku dengan baik. Aku Eleanor Young, sampai mati hanya akan mencintai Gabrielle Shaquille Ma. Dia adalah suamiku, nafasku, cahayaku, dan tujuan hidupku. Aku sangat mencintainya. Benar-benar sangat mencintainya!!!"


"Kenapa wajah Kak Iel memerah? Malu ya?" ledek Elea setelah kembali duduk di kursi mobil.


"Kau ... sangat manis."


Elea tersenyum. Dia lalu menggenggam tangan suaminya kemudian menempelkannya ke dada.


"Di sini hanya ada nama Kakak seorang. Jadi Kak Iel tidak perlu merasa khawatir kalau aku akan berpaling pada pria lain. Jika Tuhan mengizinkan, selamanya kita akan tetap bersama. Kakak harus percaya itu."


Gabrielle speechless. Dia begitu tersentuh dengan kata-kata yang di ucapkan oleh Elea barusan. Dengan penuh cinta Gabrielle mengecup punggung tangan Elea, setelah itu dia beralih mencium keningnya lama.


"Aku benar-benar sangat beruntung karena memilikimu, sayang. Aku mencintaimu."


"Aku juga mencintaimu, Kak. Sudah ya, jangan resah lagi memikirkan para buaya yang berkeliaran di luar sana."


"Oh iya Kak. Saat Kakak pergi ke kantor, di rumah aku ada menuliskan beberapa nama untuk calon anak kita nanti. Kau mau dengar tidak nama seperti apa yang sudah aku pilih?" tanya Elea dengan mata berbinar.


Kening Gabrielle mengerut. Dia sedikit tidak suka saat Elea membahas tentang anak. Gabrielle ingin Elea hanya fokus pada kesembuhannya saja. Masalah anak biar menjadi urusan belakangan nanti.


"Bern, artinya ber-uang. Dia akan menjadi pria tampan yang kaya raya. Karl, artinya kuat dan bebas. Aku berharap anak ini bisa menjadi sosok panutan yang bisa melindungi kedua saudaranya. Dan ketiga, Florence. Artinya bunga. Aku ingin anak perempuan kita nanti bisa mekar indah seperti bunga, Kak. Bagaimana? Bagus tidak?"


"Sayang, masalah anak kita bahas nanti saja ya."


"Apa Kak Iel tidak ingin memiliki anak dariku?" tanya Elea sedih.


"Astaga sayang, kau ini bicara apa. Siapa yang tidak ingin memiliki anak dari perempuan hebat sepertimu? Aku seperti ini karena sekarang aku ingin kau fokus pada kesembuhanmu dulu. Bukan berarti aku tidak ingin memiliki anak denganmu. Tidak begitu konsepnya, sayang," jawab Gabrielle kaget.


Melihat mata istrinya yang berkaca-kaca, dengan lembut Gabrielle memberikan pelukan. Dia menyesal karena tadi langsung bicara tanpa memikirkan perasaan Elea yang memang sudah sangat ingin memiliki anak. Sambil menciumi puncak kepala Elea, Gabrielle mencoba meluruskan kata-katanya barusan. Dia tidak suka melihat istrinya sedih begini.


"Sayang, dari awal aku selalu berharap bisa memiliki keturunan yang terlahir dari rahimmu. Setiap waktu aku selalu mendambakannya, tapi semuanya berubah setelah aku melihatmu sering kesakitan. Aku takut sayang, benar-benar sangat takut. Aku tidak bisa jika harus kehilanganmu, aku tidak sanggup. Jadi untuk sekarang tolong fokus dulu pada pengobatanmu ya. Lagipula setelah menjalani operasi besar kau tidak boleh langsung mengandung. Itu bisa berbahaya. Paham?"


"Jadi bukan karena Kakak tidak mau mempunyai anak denganku?"


"Bukan sayang, bukan seperti itu. Dan juga kau kan sudah pernah bilang kalau kita akan mempunyai tiga anak. Jadi aku mana mungkin tidak bersedia? Aku hanya sedang mengkhawatirkan keadaanmu. Itu saja," jawab Gabrielle dengan sabar.

__ADS_1


"Kalau begitu apa tanggapan Kak Iel tentang nama bayi yang aku sebutkan tadi? Bagus tidak?"


Gabrielle mengangguk. Dia menarik nafas lega karena kesedihan di wajah Elea sudah menghilang.


"Apapun itu asal kau yang memilih aku pasti setuju. Bern, Karl, dan Flow. Pangggilan ini terdengar sangat unik. Sama sepertimu, unik dan menggemaskan."


Senyum lebar langsung mengembang di bibir Elea. Dia kemudian memberitahu keseluruhan nama yang sudah dia persiapkan untuk ketiga anaknya kelak.


"Bern Wufien Ma, Karl Wufien Ma, dan Florence Wufien Ma. Aku sengaja menggabungkan marga keluarga Mama dan marga keluarga Kakak di sini. Tidak apa-apa kan Kak?"


"Bukankah marga mendiang Mama itu Young ya?"


"Sebenarnya iya, tapi aku ingin nama keluarga Wu tetap hidup di diri anak-anak kita. Apa Kak Iel keberatan?" tanya Elea was-was.


Lama Gabrielle baru menjawab pertanyaan Elea. Dia hanya menatap lekat manik mata istrinya yang begitu indah. Sangat indah sampai-sampai Gabrielle tak bisa lagi berpaling darinya.


"Kak Iel, ayo jawab."


"Apa kau akan bahagia dengan nama itu?" tanya Gabrielle.


"Iya,"


"Kalau begitu ya sudah. Asal kau bahagia maka aku akan menurut saja. Kau tahu kan siapa kau di hidupku?"


Elea mengangguk.


"Aku adalah istri kecil kesayangan sang pewaris."


"I love you, my little wife."


"I love you too, my hubby."


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


...🌻VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....


...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...


...🌻IG: rifani_nini...


...🌻Fb: Rifani...

__ADS_1


__ADS_2