
Patricia menatap wajahnya yang muram di pantulan kaca kamar mandi. Hatinya sedang sangat kacau sekarang. Di depan matanya, dia menyaksikan bagaimana kedua orangtua dan juga Eleanor bercengkrama dengan penuh kebahagiaan. Sedangkan dia sendiri waktu itu sedang berada dalam kekuasaan Junio, pria gila yang sayangnya adalah ayah dari janin yang sedang dia kandung. Patricia iri, itu sudah pasti. Bagaimana tidak! Saat semua orang sedang menikmati kebahagiaan mereka, Patricia malah sendirian menanggung beban. Bukan keberadaan bayi ini yang membuatnya berpikiran seperti itu, melainkan keberadaan Junio lah yang membuatnya kembali merasa tertekan. Sejak Junio menangkap basah pelariannya, pria itu terus saja menempel seperti permen karet. Bahkan sejak pagi Junio sama sekali tidak mau beranjak dari sisinya, selalu berbaring di pangkuannya hanya untuk menumpang tidur.
"Sejak dulu aku selalu menantikan kebahagiaan seperti ini. Tapi kenapa di saat kebahagiaan itu datang aku malah terasingkan?" ucap Patricia lirih.
"Itu karena kau yang mudah terhasut bisikan iblis."
Patricia kaget setengah mati saat ada orang yang tiba-tiba membalas ucapannya. Cepat-cepat dia menghapus airmata yang menggenang kemudian berbalik ke arah suara tersebut berasal.
"N-Ny-Nyonya Liona."
"Ya, ini aku."
Sudah sejak awal datang ke hotel ini Liona terus memperhatikan gerak-gerik Patricia. Entah kenapa dia merasa seperti ada yang salah dengan gadis ini. Liona lalu memutuskan untuk menyusul Patricia saat melihatnya berjalan ke arah kamar mandi. Meninggalkan Junio yang selalu berada di dekatnya sejak keduanya memasuki hotel.
"A-ada apa Nyonya? Apakah aku telah menyinggung anda?" tanya Patricia gugup.
Di datangi oleh wanita mengerikan ini bukanlah sesuatu yang baik. Patricia tentu saja tahu betapa berbahayanya mertua dari Eleanor. Dan sekarang pikirannya sibuk mengingat-ingat kesalahan apa yang sudah dia lakukan sampai-sampai wanita ini datang menyusulnya ke kamar mandi.
"Apakah harus menyinggungku dulu aku baru boleh menemuimu?" sahut Liona balik bertanya.
"Ti-tidak Nyonya. Saya-saya....
"Apa kau sedang dalam masalah yang besar sekarang?"
Liona mencoba untuk melunak. Kalau Elea saja bisa memaafkan gadis ini dengan mudah, kenapa dia tidak. Meski sebenarnya Liona masih sangat marah akan tindakan gila Patricia yang ingin membunuh dan menghancurkan rumah tangga Elea, dia tetap mencoba untuk berdamai dengan kemarahannya tersebut. Liona mencontoh kebaikan hati menantunya yang tidak suka bermusuhan. Juga karena dia ingin membantu Elea mendapatkan sosok kakak dari seorang Patricia.
"Cerita saja, Patricia. Aku tahu kau sedang dalam tekanan batin yang cukup pelik sekarang!" ucap Liona lagi saat Patricia tak kunjung membuka mulut.
Bagaimana ini. Haruskah aku memberitahu Nyonya Liona kalau sekarang aku sedang hamil anaknya Junio? Tapi bagaimana nanti jika dia memberitahu Ayah dan Ibu? Aku tidak siap melihat perasaan mereka hancur.
Patricia dilema. Di satu sisi dia ingin sekali mendapat perhatian dari banyak orang, tapi di sisi lain, dia tidak siap jika harus melihat kedua orangtuanya terluka. Patricia jadi bingung sendiri harus bersikap seperti apa sekarang.
Liona yang mendengar isi pikiran Patricia nampak mengeratkan rahang. Tangannya terkepal kuat saat lagi-lagi harus menyaksikan pelecehan yang di alami oleh gadis ini. Liona kemudian berjalan mendekat, merangkul dengan hangat tubuh gadis yang sedang terdiam bingung di hadapannya.
__ADS_1
"Berapa usianya?"
"M-maksud Nyonya?"
"Kandunganmu. Berapa usianya?" ulang Liona sambil menepuk pelan punggung Patricia.
Tubuh Patricia menegang. Wajahnya yang tadi terlihat murung kini berubah menjadi sangat pucat.
"D-d-darimana Ny-Nyonya tahu kalau aku sedang mengandung?" tanya Patricia dengan suara tercekat. Tenggorokannya tiba-tiba saja kering seperti gurun pasir yang gersang.
"Jangan membalikkan pertanyaan, itu tidak sopan. Sekarang jawab berapa usia kandunganmu?" tegur Liona.
"Dokter bilang usianya sekitar empat minggu, Nyonya. M-masih sangat muda," jawab Patricia lirih kemudian tersenyum saat terkenang dengan nama-nama yang dia persiapkan untuk si jabang bayi.
Liona menarik nafas panjang. Dia lalu melepaskan pelukannya kemudian menatap datar ke arah Patricia.
"Apa Junio ayah dari bayi ini?"
"Dia sudah tahu kalau kau sedang mengandung anaknya?"
"Junio tahu kalau ini adalah darah dagingnya, Nyonya. Bahkan dia juga yang menahanku agar tidak pergi ke German pagi tadi. Junio bilang dia tidak mau jauh dari anaknya."
"Itu sikap yang bagus. Tapi kenapa kau terlihat tidak senang dan tertekan? Apa Junio melakukan hal yang buruk, seperti mengancammu mungkin?" cecar Liona penuh selidik.
Kepala Patricia tertunduk. Dia tertekan bukan karena Junio yang mengancamnya, tapi dia tertekan karena beban perasaan. Dia ingin dinikahi, akan tetapi Patricia tahu kalau Junio tidak menginginkannya. Mungkin jika tadi pagi kepergiannya ke German tidak di halang-halangi, Patricia pasti tidak akan sesedih dan setertekan sekarang. Tapi sayang, dia di cegah oleh seseorang yang paling ingin dia hindari. Dia ingin membuang jauh-jauh nama Junio, tapi sekarang malah kembali terjebak di sisinya. Sungguh nasib yang sangat sial.
"Patricia, jangan menutup-nutupi perasaanmu. Jujurlah, kau ingin membina rumah tangga dengan Junio bukan?" tanya Liona iba.
Tidak di sangka kalau Patricia adalah seorang gadis yang sangat kasihan. Membuat naluri keibuan di diri Liona mencuat untuk mencarikan satu keadilan bagi gadis ini.
"Iya Nyonya, aku ingin. Tapi aku tidak mau menikah dengan pria yang tidak mencintaiku. Ak-aku tidak mau mengalami nasib seperti Ibu Yura yang selalu di acuhkan oleh Ayah Bryan selama bertahun-tahun. Aku ingin keluarga yang bahagia, Nyonya. Seperti anda dan juga Elea. Aku ingin yang seperti itu, hiksss."
Tangis Patricia akhirnya pecah setelah beberapa waktu menahannya. Biarlah, dia sudah tidak memikirkan harga dirinya lagi sekarang. Meskipun Nyonya Liona begitu dingin, tapi caranya memberi perhatian membuat Patricia merasa terharu. Dia seolah mendapat tempat untuk bersandar di kala tengah menanggung beban yang sangat berat di pundaknya.
__ADS_1
"Jadi kau mencintai Junio?"
"Hikss, saya tidak tahu Nyonya. Yang saya pikirkan hanya tentang masa depan anak ini saja. Tapi bukan berarti saya tidak mau membuka hati untuknya, Nyonya. Saya mau, sangat sangat mau asalkan Junio benar-benar menginginkan saya," jawab Patricia sambil menangis terisak.
"Kalau begitu mari buat pria itu jatuh cinta padamu."
Hampir saja Patricia tersedak ingus saat mendengar ide yang dilontarkan oleh Nyonya Liona. Dengan berlinang airmata, Patricia menunggu wanita ini melanjutkan ucapannya.
"Aku setuju dengan pemikiranmu yang peduli akan nasib anak kalian nanti. Ini adalah pemikiran yang sangat mulia, Patricia. Dan mengenai Junio yang tidak menginginkanmu, itu bisa kita atur. Bukankah kau bilang kalau Junio tidak menolak kehadiran bayi ini?"
Patricia mengangguk.
"Lalu caranya bagaimana, Nyonya? Saya tidak mau Junio menikahi saya karena terpaksa. Karena yang saya ingin adalah dia menikahi saya atas dasar perasaan, bukan kasihan apalagi paksaan. Itu sama saja bohong, Nyonya."
Liona tersenyum. Dia lalu membisikkan beberapa kata di telinga Patricia. Setelah selesai, dia segera keluar dari kamar mandi meningggalkan Patricia yang sedang diam mematung memikirkan ucapannya barusan.
Berjuanglah, Patricia. Aku sekarang tahu alasan kenapa Elea kekeh untuk memaafkan kesalahanmu. Tidak kusangka kau memiliki hati yang sangat baik. Aku do'akan kau mendapat kebahagiaan seperti yang kau harapkan selama ini. Aku mendukungmu bersatu dengan Junio, Patricia. Bersemangatlah.
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
✅Hai hai hai... yuk absen siapa yang udah nonton PESONA SI GADIS DESA EPISODE 7 sore tadi?? Gimana, perut kalian masih aman kan 🤣🤣🤣🤣
Yuk yak belum mampir, jangan ragu-ragu lagi. Di jamin bengek jamaah membaca+mendengar alur ceritanya. Kuy lah... Jangan lupa nanti di akhir bulan akan ada giveaway nya juga lho. Yakin nih tetep gak mau mampir???
...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
...🌻 IG: rifani_nini...
...🌻 FB: Rifani...
__ADS_1