Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Oleh-Oleh


__ADS_3

Setelah kembali dari acara, Elea bergegas mengumpulkan semua teman-temannya. Di tangannya terbungkus berbagai macam cemilan yang dia bawa dari tempat pesta.


"Ayo ayo kita makan semua cemilan ini!" ajak Elea dengan begitu bahagianya.


Lusi dan teman-temannya yang lain terlihat begitu canggung. Mereka tidak tahu harus bagaimana sekarang, apalagi Tuan Muda mereka masih ada di sana. Semakin membuat mereka merasa tidak nyaman.


"Kak Lusi ayo, kenapa malah diam seperti patung di sana?" tanya Elea heran.


Gabrielle yang sadar kalau para pelayan itu merasa segan karena keberadaannya, segera mendekat kearah istrinya untuk berpamitan.


"Sayang, jangan lama-lama ya. Kau nikmatilah waktumu bersama mereka dulu, aku akan ke kamar untuk berganti baju. Ingat, jangan berangin di dekat kolam renang. Angin malam tidak bagus untuk tubuhmu."


"Iya Kak Iel" sahut Elea patuh.


Cup.


"Kalian temani lah istriku di sini. Dan kau Lusi, jika sampai terjadi sesuatu maka kau yang akan bertanggung jawab" perintah Gabrielle tegas.


"Baik Tuan Muda" sahut Lusi.


Elea melambaikan tangan saat suaminya pergi meninggalkannya. Dia lalu kembali meminta teman-temannya untuk duduk bergabung menikmati oleh-oleh yang dia bawa dari acara pernikahan Grizelle tadi.


"Ayo makan sama-sama, jangan malu."


"Terima kasih banyak, Nyonya Elea. Anda benar-benar majikan yang sangat baik" ucap salah seorang pelayan terharu.


"Majikan apa si Kak. Aku ini kan sama seperti kalian, Kak Iel saja yang bodoh mau menjadikan gadis miskin sepertiku sebagai istrinya" sahut Elea sambil memasukkan sepotong kue ke dalam mulutnya.


Pelayan yang tadi bicara langsung terbatuk-batuk saat Elea menyebut Tuan Muda mereka bodoh. Khawatir terjadi sesuatu, Elea segera berlari kearah dapur untuk mengambilkan minuman.


"Astaga, matilah kita. Bagaimana ini, kenapa malah Nyonya yang melayani kita semua. Bagaimana ini, aku takut sekali" ucap seorang pelayan dengan wajah pucat pasi.


"Setelah ini kita semua pasti di hukum oleh Nun. Ya Tuhan, apa yang harus kita lakukan sekarang?."


Saat semua pelayan sedang ketakutan, Elea muncul dari dapur sambil membawa segelas air. Dia lalu menyerahkan air minum tersebut pada pelayan yang tadi tersedak.


"Pelan-pelan saja Kak. Tidak akan ada yang berebut makanan denganmu" ucap Elea lembut. "Lihat, makanannya masih sangat banyak, jadi jangan takut kehabisan ya?."

__ADS_1


Lusi dan teman-temannya sudah seperti ingin menangis menyadari keberadaan Nun yang ternyata sejak tadi mengawasi mereka. Elea yang melihat semua orang ketakutan merasa heran. Dia lalu mengedarkan pandangannya kemudian tidak sengaja melihat Nun yang sedang berdiri di kegelapan.


'Oh pantas saja teman-temanku ketakutan. Mereka pasti mengira kalau Nun adalah seorang hantu bayangan. Ckckck, Nun ini ternyata suka menggoda mereka ya.'


Nun merasa was-was sendiri melihat nyonya nya datang mendekat. Tadinya dia ikut naik keatas untuk melayani Tuan Muda-nya, tapi dia kembali di minta untuk turun mengawasi para pelayan yang sedang menikmati makanan bersama nyonya kecil mereka. Dan di sinilah dia sekarang. Berdiri di balik kegelapan sambil memperhatikan interaksi antara pelayan dan majikan yang tidak memiliki batas. Terlebih nyonya nya yang tak pernah mengumbar status meskipun sudah menjadi istri dari seorang konglomerat terkaya di negara ini.


"Nun, kenapa kau malah bermain petak umpet di kegelapan? Kau malu ya untuk meminta bagianmu?" tanya Elea sambil menepuk bahu kepala pelayan di rumah ini.


'Keras sekali. Ini tubuh atau beton sih.'


Nun segera mundur ke belakang saat nyonya nya ingin kembali menyentuhnya. Dia khawatir kalau nyonya nya menyadari jika dirinya bukanlah seorang manusia. Nun tidak mau gadis kecil ini pergi melarikan diri karena takut padanya.


"Malu kenapa Nyonya? Dan bagian apa maksudnya?" tanya Nun bingung.


"Malu untuk meminta cemilan yang tadi aku bawa Nun. Siapa tahu kau bersembunyi di sini karena tidak berani meminta jatahmu dari kami semua" jawab Elea dengan sangat polos.


Jujur, lebih baik Nun mendapat hukuman dari Tuan Muda-nya daripada harus menjadi korban dari kepolosan nyonya kecilnya. Dia yang biasanya di takuti oleh seisi rumah akan langsung mati kutu jika nyonya kecilnya sudah membuka suara. Entahlah, kata-kata nyonya seperti momok yang mengerikan baginya dan juga Ares. Karena mereka berdua lah yang paling sering menjadi korbannya selama ini.


"Saya tidak seperti itu Nyonya. Silahkan anda kembali untuk menikmati makanan yang anda bawa tadi. Lihatlah, teman-teman anda sudah menunggu" ucap Nun sambil menunjuk kearah para pelayan yang sedang menatap kearah mereka.


Elea menoleh. Dia tersenyum saat Lusi melambaikan tangan kearahnya. "Nah, itu Kak Lusi memanggil. Bagaimana kalau kita berkumpul ramai-ramai di sana Nun? Rasanya pasti akan sangat menyenangkan."


Nun hanya bisa pasrah saat tangannya di seret kearah para pelayan berkumpul. Tanpa di sadari oleh nyonya nya, dia menganggukkan kepala kearah para pelayan, memberi tanda kalau mereka bebas melakukan apapun asalkan tidak menimbulkan bahaya.


"Nun, kau mau makan kue apa? Kalau merasa malu biar aku yang ambilkan saja... Aaaa.." ucap Elea sambil mengarahkan satu makanan ke mulutnya Nun.


Tubuh semua orang kaku saat mereka mendengar tarikan nafas berat dari arah belakang. Siapa lagi jika bukan Tuan Muda mereka yang sedang terbakar api cemburu melihat betapa perhatiannya Elea pada Nun.


"Nun, apa kau sudah bosan hidup?" tanya Gabrielle dingin.


"Belum Tuan Muda. Saya masih ingin melayani anda" sahut Nun sembari menghindar dari jangkauan nyonya nya.


Selamat, selamat


Senyum Elea mengembang melihat kedatangan suaminya. Dia bergegas masuk ke pelukannya kemudian menghirup dalam-dalam aroma wangi yang menguar dari tubuhnya.


"Sayang, kenapa mengendusku seperti anjing?" tanya Gabrielle merasa gemas dengan tingkah istrinya.

__ADS_1


"Yang mengendus bukan hanya anjing Kak Iel. Tapi manusia juga" jawab Elea.


Gabrielle terkekeh. Dia lalu menatap sinis kearah Nun. "Beraninya kau menggoda istriku."


Num diam tak menyahut. Begini lebih baik daripada harus menjadi korban dari jebakan maut yang di lakukan oleh nyonya nya.


"Kak Iel, Nun tidak menggodaku kok. Tadi dia itu sedang bersembunyi di kegelapan seorang diri. Dan teman-temanku merasa ketakutan karena mengira Nun adalah setan. Jadi aku mengajaknya ikut berkumpul dan menikmati semua makanan ini" ucap Elea sambil tertawa lucu.


Para pelayan menundukkan kepala saat Gabrielle menatap kearah mereka. "Kenapa diam saja, habiskan semua makanan itu. Istriku jauh-jauh membawakan itu semua untuk kalian, dia sangat baik hati sekali bukan?."


Lusi mewakili teman-temannya maju selangkah kemudian mengangguk. Dia merasa sangat amat terharu akan kebaikan hati nyonya mereka.


"Terima kasih banyak Nyonya Elea atas perhatian yang Nyonya berikan. Kami benar-benar merasa sangat beruntung memiliki majikan sebaik anda."


"Kak Lusi, tadi aku kan sudah bilang kalau aku sama seperti kalian. Jadi jangan menyebutku sebagai majikan lagi ya karena aku tidak memiliki harta apapun. Aku sama miskinnya seperti kalian juga. Iya kan Kak Iel" tanya Elea yang tak suka di sebut majikan oleh teman-temannya.


Gabrielle menghela nafas panjang. Percuma saja dirinya kaya kalau di mata istrinya itu sama sekali tak berharga. Miskin, astaga. Bahkan restoran tempat istrinya bekerja dulu sekarang sudah berganti atas nama Elea. Belum lagi dengan belasan pabrik mie goreng yang juga sudah beralih menjadi atas namanya juga. Dan seandainya Elea berani meminta bagian dari perusahaannya, Gabrielle tidak akan ragu untuk memberikan setengah saham miliknya untuk Elea. Tapi Gabrielle yakin hal itu tidak akan pernah terjadi mengingat betapa butanya Elea terhadap harta yang dia miliki. Mungkin Elea baru akan memintanya jika ada setan yang datang menghasut. Dan setan itu adalah Levi, si wanita bar-bar yang sialnya begitu menyayangi istrinya.


"Tidak ada yang miskin sayang. Semua orang sama kaya nya, hanya berbeda bagaimana cara mereka mensyukurinya saja" jawab Gabrielle.


"Benarkah? Kalau begitu aku kaya ya Kak?" tanya Elea sembari menunjuk wajahnya sendiri.


"Ya, kau sangat kaya karena memiliki ATM berjalan yang sangat tampan" jawab Gabrielle gemas.


"Benar juga. Kak Levi bilang aku tidak boleh menyia-nyiakan ATM berjalan ini karena hukumnya mubadzir. Kalau begitu bagaimana jika Kak Iel mengajak kami semua pergi berbelanja. Uang di tubuhmu pasti masih sangat banyak kan Kak?" celetuk Elea dengan riangnya.


Gabrielle, Ares, Nun, Lusi dan teman-temannya yang lain hanya bisa tertunduk pasrah mendengar celetukan gadis kecil ini. Ingin menangis pun rasanya percuma karena gadis kecil itu mulai mencatat barang apa saja yang akan di belinya nanti.


'Aku datang untuk membawamu masuk ke kamar lalu membuat adonan, Elea. Tapi kenapa kau malah mencatat sensus kebutuhan di rumah ini? Elea kau benar-benar sangat pandai menghancurkan imajinasi suamimu yang malang ini.'


🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄


...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSSS.....


...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...


...🌻 IG: nini_rifani...

__ADS_1


...🌻 FB: Nini Lup'ss...


...🌻 WA: 0857-5844-6308...


__ADS_2