
Gabrielle tersenyum melihat istrinya yang sedang berdiri menyambutnya di depan pintu masuk. Dengan penuh kerinduan dia merentangkan tangan kearahnya.
"Kemari!."
Tanpa di suruh dua kali Elea langsung masuk ke dalam pelukan suaminya. Keningnya mengerut saat dia merasakan pelukan yang sedikit berbeda dari biasanya. "Kak Iel, ada apa? Kakak sedang cemas ya?."
"Tidak sayang, aku hanya terlalu merindukanmu saja. Kau tahu, aku benar-benar tidak bisa berjauhan denganmu. Aku merasa sangat bosan karena kau tidak ada bersamaku di perusahaan" jawab Gabrielle bohong.
Sebenarnya Gabrielle sedikit kaget saat Elea menyadari kecemasannya. Namun dia tidak mungkin mengatakan apa alasannya. Jadi mau tidak mau sekarang dia harus berbohong dulu. Dan seperti biasa, istrinya yang cantik ini hanya akan mengangguk patuh tanpa banyak bertanya.
"Oh ya Kak Iel, tadi siang Ibu Liona datang berkunjung. Dia juga membawakan aku mie goreng yang sangat lezat" ucap Elea dengan mata berbinar cerah. "Tapi sayang mie goreng itu tidak di produksi masal. Kata Ibu Liona kalau aku mau tinggal bilang saja padanya. Nanti Ibu Liona akan membuatkannya khusus untukku."
Gabrielle tersenyum. Dia lalu mengangkat tubuh istrinya. "Lingkarkan kakimu di pinggangku."
"Begini?" tanya Elea mempraktekkan.
Ares, Nun dan semua orang segera menundukkan kepala melihat keromantisan yang sedang terjadi di hadapan mereka. Jujur saja menurut mereka itu terlihat sangat menggemaskan karena nyonya kecil mereka terlihat sangat menyukai apa yang sedang di lakukan oleh suaminya.
"Malam ini belajar tidak?" tanya Gabrielle sambil melangkah masuk ke dalam rumah.
"Belajar Kak, tapi Kak Safira belum datang. Mungkin sedang di jalan" jawab Elea.
"Dimana dia?."
"Dia siapa Kak?."
"Siapa lagi kalau bukan pengacau itu, Levi" jawab Gabrielle kemudian duduk sambil memangku istrinya. "Sayang, kau cantik sekali. Aku jadi ingin memakanmu sekarang."
Elea tersipu.
"Hehe, wajahmu memerah. Apa kau sedang malu, hem?" ledek Gabrielle sembari menoel-noel hidung mungil istrinya.
"Sedikit" jawab Elea jujur.
Gabrielle terkekeh. Padahal tadi dia berharap kalau istrinya akan mengelak jika sedang merasa malu. Tapi sepertinya dia harus bersyukur karena memiliki istri yang sangat amat jujur. Saking jujurnya terkadang sampai membuat orang lain merasa ketakutan.
"Sayang, dimana Levi? Dia tidak kabur dari sini kan?" tanya Gabrielle lagi.
Elea menggeleng. Wajahnya langsung memelas saat teringat dengan insiden siang tadi.
"Kak Levi mengurung diri di kamar tamu Kak Iel. Dia sedang marah padaku."
__ADS_1
"Marah? Kenapa bisa begitu?."
"Kak Levi marah karena aku memfitnahnya di depan Ibu Liona. Begitu katanya" jawab Elea sedih.
Gabrielle tersenyum samar. Dia lalu mengusap pipi istrinya lembut. "Jangan sedih, ceritakan padaku kenapa kalian bisa bertengkar."
"Kami tidak bertengkar Kak Iel. Kak Levi hanya sedang merajuk saja" ucap Elea tak suka.
"Oke oke, kalau begitu aku minta maaf. Sekarang bisa tolong ceritakan padaku apa yang terjadi pada kalian saat di rumah tadi?."
Elea langsung mengangguk. Wajahnya yang tadi terlihat sedih kini berubah menjadi sangat serius.
"Aku melapor pada Ibu Liona kalau Kak Levi itu pelakor. Wajahnya tadi terlihat sangat buruk sebelum pergi mengurung dirinya di dalam kamar Kak. Padahal Ibu Liona sendiri tidak marah, Ibu Liona malah tersenyum lucu kemudian pamit pulang dari sini."
Gabrielle tertegun. Sebenarnya istrinya ini paham tidak sih apa maksud dari kata pelakor? Wajar saja kalau Levi kesurupan dan ibunya langsung pergi melarikan diri dari sini. Sungguh, istrinya masih sangat polos sampai tidak bisa memahami arti dari ucapannya sendiri.
"Ya, adukan saja terus. Masih belum puas juga kau setelah mempermalukan aku di depan Bibi Liona. Iya!."
Gabrielle dan Elea menoleh.
"Jangan melihatku seperti itu. Aku masih marah padamu ya Elea!" kesal Levi sambil berkacak pinggang.
"Lama sekali si Kak marahnya. Memangnya tidak lelah ya?" tanya Elea dengan tampang merasa bersalah.
"Nyonya Elea, Nona Safira sudah datang" lapor Nun.
Ketiga orang itu menatap tajam kearah Nun. Yang mana membuat Nun segera menyingkirkan diri dari sana.
"Kak Levi, marahnya nanti lagi ya. Sekarang aku harus belajar supaya pintar" ucap Elea. "Kak Iel, aku belajar dulu dengan Kak Safira ya?."
Gabrielle mengangguk kemudian mencium pipi istrinya. "Belajarlah yang rajin. Nanti aku akan memberimu hadiah jika berhasil membuat Safira menyerah mengajarimu."
Mata Elea langsung berbinar. Dia menganggukkan kepala kemudian beranjak dari pangkuan suaminya.
"Gabrielle, apa benar pria asing itu suruhan Jack-Gal?" tanya Levi setelah Elea pergi meninggalkan mereka.
"Iya, namanya Fendry. Dia kaki tangannya di negara ini" jawab Gabrielle sembari mendesah panjang. "Sampai masalah ini selesai, sebaiknya kau tetap tinggal di sini. Aku tidak mau di salahkan Elea jika sampai terjadi sesuatu padamu."
Levi terdiam. Dia lalu duduk berseberangan dengan Gabrielle.
"Aku tidak keberatan jika hanya di minta untuk tinggal di sini Gab. Yang aku khawatirkan adalah Elea. Apa tidak sebaiknya kita memberitahu tentang semua ini padanya?Setidaknya dia bisa ada persiapan jika sewaktu-waktu Jack-Gal berhasil menculiknya!."
__ADS_1
"Itu juga yang sedang aku fikirkan, Levi. Ibuku juga mengatakan kalau Elea akan tetap di korbankan jika ingin mengakhiri permasalahan ini. Jack-Gal berada dalam lindungan orang pemerintah, akan sangat beresiko jika menyentuhnya tanpa alasan" jelas Gabrielle sambil menekan pelipisnya kuat. "Tapi bagaimana caranya untuk memberitahu Elea kalau dia saja sangat takut pada dokter yang melecehkannya?."
"Langsung saja berikan terapi di tempat umum, Gab. Kita biarkan Elea bertemu dengan beberapa dokter dan lihat bagaimana reaksinya nanti" ucap Levi memberi ide.
"Kau gila ya!" sentak Gabrielle. "Bagaimana kalau Elea sampai tidak bisa mengendalikan diri di depan umum? Astaga Levi, apa kau tidak ada ide yang jauh lebih berbahaya lagi hah?."
Wajah Levi berubah masam di katai gila oleh Gabrielle. Dia lalu menatapnya kesal sambil melipat tangan. "Ideku itu jauh lebih baik daripada Elea harus tertangkap Jack-Gal dalam kondisi yang masih menyimpan trauma. Ya Tuhan Gabrielle, ada Reinhard dan juga anak buahmu yang bisa mengawasi Elea nanti. Uangmu itu sangat banyak, gunakan saja kenapa!."
"Maksudmu apa?" tanya Gabrielle tak mengerti.
"Dengarkan aku baik-baik wahai Tuan Muda yang bodoh. Pengobatan yang di lakukan oleh Reinhard akan memakan waktu cukup lama Gabrielle. Dan itupun belum bisa menjamin kalau Elea akan pulih sepenuhnya. Dengan kita membuat syok terapi di depan umum, kita akan tahu bagaimana cara Elea mengendalikan diri. Istrimu memang bodoh, tapi hati dan perasaannya cukup peka terhadap orang sekitar. Kita akan men-setting sebuah drama dimana akan ada seseorang yang terluka di dekat Elea saat dia sedang di landa ketakutan. Lalu kita tunggu akan seperti apa reaksinya, memilih untuk melarikan diri atau malah menolong orang itu. Simpel kan!" jawab Levi.
"Jadi kau akan menggunakan orang lain untuk mengetes Elea?."
"Ya iyalah, mana mungkin aku menggunakan diriku sendiri kalau istrimu saja menyebutku sebagai pelakor di depan ibumu. Aku tidak mau nantinya akan ada julukan aneh lagi jika Elea tahu kalau ini adalah rencanaku."
Sudut bibir Gabrielle berkedut.
"Jangan tertawa kau. Belum saja tiba waktunya Elea memberimu julukan yang lebih aneh lagi dariku" sungut Levi.
"Tapi dia sangat manis bukan?" ledek Gabrielle menahan tawa.
Levi tersenyum. "Iya, Elea sangat manis. Terkadang aku bahkan ingin membungkusnya dan membawanya pulang ke rumahku."
"Jangan macam-macam."
"Hehehehe.."
Kedua orang itu sama-sama tertawa setelah membicarakan Elea. Mereka kemudian mengintip kearah kolam renang dimana Elea yang terlihat sedang sangat fokus pada pembelajarannya.
"Memang benar-benar sangat manis."
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS......
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
...🌻 IG: emak_rifani...
...🌻 FB: Nini Lup'ss...
__ADS_1
...🌻 WA: 0857-5844-6308...