Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Akhir Penantian


__ADS_3

Tok tok tok


Patricia yang sedang asik membuat susu untuk kandungannya langsung terdiam saat pintu apartemennya diketuk. Dia mulai menerka apakah itu adalah Junio atau bukan. Sejak pengusiran malam itu, Junio pernah meminta anak buahnya untuk membawanya secara paksa. Tapi untunglah malam itu Patricia berhasil mengelabui anak buah Junio, jadi dia bisa bertahan dalam misinya bersama dengan Nyonya Liona.


Saat Patricia sedang sibuk berpikir, tiba-tiba saja pintu apartemen dibuka. Sontak saja hal itu membuat Patricia menjadi sangat panik. Dia kemudian mengambil teflon sebelum memutuskan untuk mengintip siapa orang yang telah membobol sandi pintu apartemen miliknya.


"Ini aku!"


"N-Nyonya Liona?"


Khawatir terjadi sesuatu karena pintu tak kunjung dibuka, Liona langsung meminta anak buahnya untuk meretas sandi untuk membuka apartemen Patricia. Dan begitu Liona masuk, dia langsung di sambut dengan kemunculan seorang wanita yang membawa sebuah teflon.


"Maafkan aku, Nyonya. Aku tidak tahu kalau kau yang datang!" ucap Patricia kemudian bergegas meletakkan teflon ke atas meja. "Silahkan duduk, Nyonya Liona."


"Kandunganmu baik-baik saja bukan?" tanya Liona sembari menatap ke arah perut Patricia yang masih rata.


Patricia mengangguk sambil mengelus-elus kandungannya. Dia tersenyum senang saat tangan ibunya Gabrielle ikut mengelus perutnya. Dia terharu, bahagia karena ada orang lain yang ikut memberikan perhatian untuk bayinya.


"Jangan melakukan aktifitas yang melelahkan dulu. Di semester pertama kehamilan itu sangat rentan keguguran. Kau harus bisa menjaganya dengan baik, Patricia!"


"Iya Nyonya,"


"Apa yang sedang kau lakukan tadi?" tanya Liona sambil menggiring Patricia untuk duduk di sofa.


"Tadi itu aku sedang berada di dapur untuk membuat susu. Makanya tadi aku mengambil teflon saat ada yang menerobos masuk ke dalam apartemen. Aku pikir tadi itu orang jahat yang datang," jawab Patricia jujur.


Liona tersenyum mendengar hal tersebut. Dia kemudian bergegas ke dapur untuk mengambil susu yang belum sempat di minum oleh si ibu hamil ini. Senyum Liona semakin lebar saat dia melihat banyak sekali jenis vitamin dan juga buah-buahan yang tertata di atas meja makan. Puas, karena Patricia sangat memperhatikan kesehatan bayinya.


"Minumlah,"

__ADS_1


Dengan senang hati Patricia menerima gelas yang di sodorkan oleh ibunya Gabrielle. Dia kemudian mulai meneguk susunya sedikit demi sedikit dengan perasaan yang sangat membuncah.


Ya Tuhan, sebesar inikah kebahagiaan yang di rasakan ketika mendapat perhatian ketika sedang hamil? Nyonya Liona benar-benar wanita yang sangat baik. Dia masih mau menjengukku meski aku sendiri pernah ingin menghancurkan kehidupan rumah tangga anaknya. Aku harap saat anakku besar nanti dia akan mewarisi sikap Nyonya Liona yang baik hati, tegas, dan juga berjiwa besar. Tolong kabulkan inginku, Ya Tuhan. Amiinnn.


"Oh ya Patricia, bagaimana kabar Junio setelah kau menghindarinya? Aku dengar dia tidak pernah masuk ke kantor lagi setelah menghadiri resepsi pernikahan Gleen dan Lusi. Dia tidak mungkin mati sia-sia kan?" tanya Liona. Dia sedikit tergelitik mendengar apa yang di pikirkan oleh Patricia barusan.


"Anak buahnya bilang saat ini keadaan Junio sangat memprihatinkan, Nyonya. Dia selalu mengalami muntah dan tidak pernah bisa tidur. Sebenarnya aku kasihan, tapi aku harus tetap seperti ini agar dia mau membuka hatinya untukku," jawab Patricia lirih.


Ya, ini sudah satu minggu sejak anak buah Junio datang ke apartemen untuk memaksanya pergi ke rumah pria gila itu. Sejak malam itu baik Junio maupun anak buahnya tak pernah lagi mengganggunya.


"Hal gila apalagi yang pernah dia lakukan selain meminta anak buahnya untuk memaksamu pergi?"


"Setelah malam itu dia tak pernah melakukan apa-apa lagi karena aku bilang kalau aku mual melihat dan mendengar suaranya. Aku juga bilang kalau tubuhnya bau sampah. Entah dia percaya atau tidak, yang jelas setelah malam itu aku sudah tidak mendengar kabar apapun lagi darinya."


Liona tak kuasa untuk tidak tertawa mendengar ucapan Patricia. Bau sampah... Liona yakin sekali kalau Junio pasti merasa sangat terluka dengan kenyataan itu. Tapi biarlah, kalau tidak begini Junio pasti tidak akan pernah bisa menyadari perasaannya pada Patricia. Hmm, Liona jadi tidak sabar ingin segera melihat kedua manusia ini bersatu.


Saat Patricia sedang berbincang hangat dengan ibunya Gabrielle, tiba-tiba saja pria gila yang sedang mereka bicarakan muncul. Baik Liona maupun Patricia, keduanya sama-sama terperangah kaget melihat keadaan Junio yang datang dalam kondisi yang sangat berantakan.


"Cia, tolong bujuk anak kita untuk berhenti mengirim santet padaku. Aku sudah tidak kuat lagi, Cia. Aku menyerah," keluh Junio dengan suara gemetar.


Liona menoleh ke arah Patricia saat wanita itu melihat ke arahnya. Dia sedikit tidak tega melihat keadaan Junio yang begitu mengenaskan. Datang hanya dengan memakai piyama yang sudah lusuh, lingkaran hitam yang cukup besar di bawah matanya, juga dengan kondisi wajah yang sangat pucat. Sangat mirip dengan orang yang mengalami depresi akut.


"Aku harus membujuk bagaimana, Jun? Kau bilang dia kan masih sebesar biji kecambah, dia mana mungkin mendengar apa yang akan aku katakan," sahut Patricia sambil menahan diri agar tidak datang mendekat ke arah pria yang menjadi ayah dari bayinya.


Junio terlihat bingung setelah mendengar ucapan Patricia. Dia kemudian memikirkan cara agar dirinya bisa terus berada di sisi si kecambah bar-bar yang sangat jahat itu.


"Cia, ayo kita menikah. Aku bisa mati jika terus berjauhan dengan kalian berdua. Ayo kita menikah saja, biarkan si kecambah mendapat kasih sayang yang utuh dari Mommy dan Daddy-nya."


Patricia hampir tersedak air ludahnya sendiri saat mendengar ajakan Junio. Dia gugup, juga bahagia. Namun masih ada satu hal lagi yang mengganjal di hatinya. Junio... pria ini tidak mencintainya. Dia mengajaknya menikah karena tidak mau terus-terusan merasa tersiksa.

__ADS_1


"Junio, menikah itu bukan hanya tentang kau dan Patricia saja. Dalam berumah tangga, di perlukan rasa cinta yang kuat agar pondasi hubungan kalian tidak mudah goyah. Jangan hanya karena kau yang mengalami morning sickness saat Patricia hamil lalu kau bisa dengan mudah mengajaknya untuk menikah sebagai obat yang bisa membuatmu merasa lebih baik. Ingat Junio, Patricia itu seorang wanita. Dia butuh kepastian yang jelas untuk masa depannya nanti!" tegur Liona lembut. "Sekarang aku tanya padamu, kau mencintai wanita yang sedang mengandung anakmu atau tidak?"


Mata Junio dan Patricia saling memandang lekat. Mereka sama-sama menyelami perasaan yang ada. Patricia yang melihat kebungkaman Junio hampir saja menangis jika seandainya Junio tidak segera mengeluarkan pernyataan yang membuatnya diam terpaku.


"Aku selalu takut untuk memiliki hubungan dengan wanita, Nyonya. Tapi setelah melihat ketidakberdayaan Patricia, aku merasa ada yang beda darinya. Entah itu cinta atau bukan, yang jelas aku sangat suka ketika menatap matanya. Aku juga merasa nyaman ketika kami sedang bersama. Dia membuatku bisa menunjukkan sikap asliku tanpa harus ada kepura-puraan lagi."


"Singkat katanya kau bersedia untuk memberikan hatimu pada Patricia?" desak Liona.


Junio tersenyum. Tanpa menjawab pertanyaan ibunya Gabrielle, dia malah melenggang pergi dari sana. Patricia yang melihat hal itu pun segera berlari mengejarnya.


"Jun, kau mau kemana?"


"Membeli seserahan untuk menjinakkan ayah dan ibumu."


Tangis Patricia akhirnya pecah. Dia histeris sendiri begitu tahu kalau Junio akan datang ke rumah orangtuanya untuk melamar. Sambil terisak-isak, Patricia menghampiri ibunya Gabrielle kemudian memeluknya dengan sangat erat.


"Selamat ya. Akhirnya kau memenangkan hati Junio juga!" ucap Liona penuh haru.


"Hikssss, Nyonya....


"Jangan menangis. Lebih baik sekarang kau segera bersiap untuk pulang ke rumah orangtuamu. Jangan khawatir, aku akan mendampingimu untuk menjelaskan tentang kehamilan ini pada mereka."


Patricia sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi sekarang. Dia kemudian bergegas masuk ke dalam kamarnya untuk bersiap. Berkat Nyonya Liona, Patricia akan segera memiliki status yang jelas dan juga akan menikah dengan pria yang mencintainya. Sambil bersiap diri, Patricia tak henti-hentinya mengucap syukur pada Tuhan. Dia tidak menyangka kalau kebahagiaan seperti ini akan datang menghampirinya. Sungguh, tidak ada yang tahu bagaimana Tuhan akan membolak-balikan takdir. Rencana Tuhan tiada siapalah yang mampu menebak.


🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄


...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....


...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...

__ADS_1


...🌻IG: rifani_nini...


...🌻FB: Rifani...


__ADS_2