
Levi yang sejak semalam menanti kepulangan Elea menjadi sangat tidak tenang. Dia khawatir terjadi sesuatu pada teman kecilnya karena mendadak mereka menginap di rumah orangtuanya Gabrielle. Setelah bersiap, Levi bergegas keluar dari kamar kemudian mencari keberadaan Nun. Dia berniat menanyakan padanya kenapa Gabrielle dan Elea tidak pulang ke rumah.
"Selamat pagi Nona Levi" sapa Nun sopan.
"Pagi juga. Oh ya Nun aku ingin bertanya padamu" ucap Levi. "Apa kau tahu kenapa makhluk kecil dan pria tengik itu semalam tidak pulang kemari? Tuan Muda-mu bilang mereka tidak akan menginap, tapi kenapa sampai pagi ini batang hidung mereka belum kelihatan juga? Di sana tidak sedang terjadi sesuatu kan?."
Di cecar seperti itu oleh wanita di depannya membuat Nun menggelengkan kepala. Dia heran kenapa wanita ini sanggup berbicara dengan begitu panjang hanya dalam sekali tarikan nafas.
"Nun, ayo jawab. Kenapa malah diam saja sih? Apa mulutmu di tumbuhi sariawan?" desak Levi dengan tidak sabaran.
"Tuan Muda dan Nyonya Elea tidak pulang ke rumah karena mereka di minta untuk menginap di sana, Nona Levi" jawab Nun yang akhirnya mengalah.
Kening Levi mengerut. '*Jelas-jelas semalam Gabrielle bilang mereka akan segera pulang ke rumah setelah Elea selesai membungkus makanan untuk para pelayan. Tapi kenapa jawaban Nun berbeda? Mungkinkah sudah terjadi sesuatu pada mereka dan Nun tidak di bolehkan untuk memberitahuku? Waahhh, ini tidak adil. Segala yang menyangkut Elea aku harus ikut terlibat. Aku tidak mau asetku yang paling berharga itu lecet meskipun hanya sediki*t!.'
Nun diam memperhatikan wanita di depannya yang sedang mengangguk-anggukkan kepala. Dia sudah bisa menebak jika wanita ini pasti sedang merencakan sesuatu yang bisa memancing kekesalan Tuan Muda-nya.
"Nona Levi, saya harap Nona tidak sedang merencakan sesuatu yang aneh-aneh."
"Cih, siapa juga yang mau melakukannya. Jangan memfitnahku Nun" sahut Levi asal.
"Tapi itu terlihat jelas di wajah Nona" ucap Nun.
"Astaga, memangnya di keningku ada tulisan hahahahaha, aku akan melakukan sesuatu yang aneh-aneh, begitu? Iyuhhh, kau sangat tidak masuk akal Nun. Sudahlah, aku mau pergi ke Group Ma dulu. Di rumah tanpa makhluk kecil itu rasanya tidak menyenangkan!" sahut Levi kemudian pergi meninggal Nun yang terdiam menatapnya.
Saat Levi baru akan melangkah keluar, tiba-tiba ada yang menarik kerah bajunya dari belakang. Sontak saja hal itu membuat Levi sangat kaget kemudian segera berbalik untuk melihat siapa pelakunya.
"Nun, apa-apaan kau ini hah! Beraninya kau menyentuhku! Dasar cabul!" teriak Levi emosi.
"Secabul-cabulnya saya, saya tidak akan bernafsu menyentuh wanita berisik seperti anda, Nona Levi. Jadi tolong jangan sembarangan bicara" sahut Nun mulai kesal dengan kelakuan wanita ini.
"Hilih, masih juga tak mau mengaku!."
Setelah Nun melepaskan tarikannya, Levi kembali berniat untuk pergi ke luar. Dia mendengus marah melihat banyaknya pengawal yang menghadang jalannya.
__ADS_1
"Mau apa lagi kalian hah!" teriak Levi jengkel.
"Nona Levi, mohon kerjasamanya. Tuan Muda sudah berpesan agar Nona tidak pergi dari rumah ini karena keberadaan Nona sedang tidak aman. Tapi jika Nona tetap memaksa, saya doakan supaya Nona mati di tangan Jack-Gal agar tidak bisa kembali ke rumah ini lagi!" sahut Nun dengan santainya.
Levi tercengang mendengar perkataan Nun yang begitu terus terang. Ingin rasanya dia menghajar kepala pelayan itu karena sudah menyumpahinya dengan begitu kejam.
"Dasar sialan. Kenapa kau malah menyumpahiku untuk mati di tangan Jack-Gal sih. Kau ini sebenarnya ada di pihak siapa Nun, kata-katamu terdengar sangat mencurigakan!" ucap Levi memutar balik keadaan untuk menyerang Nun.
"Sampai mati saya hanya akan berada di pihak Tuan Muda, Nona!."
"Kalau begitu kenapa kau mendoakan hal buruk untuk selir Tuan Muda-mu ini hah!."
"Selir?" beo Nun dan para penjaga.
"Iyalah, memangnya sebutan apa yang pantas untukku selain selir? Sudahlah, kalian minggir saja. Aku ingin pergi ke perusahaan Gabrielle untuk menginterogasinya kenapa tidak membawa teman kecilku pulang ke rumah. Jangan menghadangku lagi, kalau kalian berani melakukannya maka aku akan mengadukan yang tidak-tidak pada Gabrielle. Mau!" gertak Levi saat para pengawal hendak maju untuk menahannya.
"Bagaimana ini Nun?" tanya salah satu pengawal bingung.
Tak ingin lagi berdebat, Levi segera berjalan menuju mobilnya. Mulutnya komat-kamit menyumpahi Nun yang masih terus menatapnya saat mobilnya mulai melaju meninggalkan pekarangan rumah Gabrielle.
"Kalian awasi Nona Levi dari jauh. Pastikan dia selamat sampai di Group Ma!" perintah Nun pada anak buahnya.
"Baik Nun!."
Sementara itu, Levi yang sedang asik mengemudi tak sengaja melihat sebuah mobil hitam yang mengikutinya di belakang. Tiba-tiba saja dia langsung terfikir dengan omongan Nun saat berdebat tadi.
"Astaga, apa aku sedang di ikuti oleh bajingan itu? Bagaimana ini, aku tidak mungkin pergi menemui Elea sekarang. Bisa gawat kalau mereka sampai tahu dimana keberadaannya!" ucap Levi mulai panik.
Tak ingin terkejar, Levi dengan gilanya mengendarai mobil sport itu dengan kecepatan yang sangat tinggi. Matanya melotot melihat mobil hitam itu yang hanya dalam sekejap sudah bisa menyusulnya.
"Ya Tuhan, apa mobilnya memiliki kekuatan torpedo? Cepat sekali" gumam Levi takjub.
Otak Levi kembali memikirkan cara agar bisa terlepas dari mobil hitam tersebut. Dia lalu memutuskan untuk berputar-putar di taman kota yang kebetulan sedang dia lewati. Berharap dengan begini pengendara mobil tersebut akan merasa pusing dan berhenti untuk tidak mengikutinya lagi.
__ADS_1
Dalam sekejap, terjadi kejar-kejaran antara Levi dengan mobil hitam tersebut. Suara knalpot mobil milik Levi rupanya menarik perhatian beberapa orang yang berada di taman tersebut. Mereka semua berdiri kemudian saling bersorak dengan menjadikan mobil Levi sebagai jargon mereka.
"Ya ampun, apa orang-orang ini sudah gila. Aku ini bukan sedang bertanding tuan-tuan, tapi aku sedang berusaha untuk menyelamatkan diri dari kejaran penjahat" ucap Levi menggerutu melihat kelakuan orang-orang yang ada di sana.
Perkiraan Levi ternyata benar. Mobil hitam tersebut berhenti setelah hampir setengah jam membuntuti mobilnya yang tidak berhenti berputar. Nampak dua orang pria keluar kemudian memuntahkan isi perutnya di dekat got.
Levi yang berhasil melumpuhkan lawannya tertawa puas. Sebelum keluar, dia terlebih dahulu melepas high heels miliknya kemudian bergegas menghampiri pengendara mobil hitam tersebut.
"Hei kalian, siapa yang menyuruh kalian untuk membuntutiku hah! Kalian sudah bosan hidup ya!" amuk Levi sembari mengacungkan ujung high heelsnya yang sangat runcing kearah pria yang sedang berjongkok sambil menyender ke badan mobil.
Alis Levi saling bertaut saat dia melihat wajah pucat dari orang tersebut. Matanya membelalak begitu dia sadar kalau pria ini ternyata adalah anak buahnya Gabrielle. Dia ingat betul kalau pengawal ini ikut menyaksikan berdebatannya dengan Nun saat di rumah tadi. Seketika Levi merasa seperti orang bodoh karena mengira kalau mobil hitam yang mengikutinya adalah mobil milik Jack-Gal, orang paling harus dia hindari.
"Brengsek, kenapa tidak bilang kalau kalian yang mengikutiku hah! Aaaaaa, menyebalkan. Aku bahkan sudah mengeluarkan skill terbaik seperti yang ada di film-film hanya demi bisa melarikan diri dari kejaran kalian. Dasar sialan!" amuk Levi.
"Ma, maaf Nona Levi, Nun meminta kami mengawasi Nona diam-diam" jawab si pengawal dengan suara yang sangat lemas setelah memuntahkan isi perutnya. "Lagipula kenapa tadi Nona mengendarai mobil dengan begitu cepat? Kami pikir Nona melihat sesuatu, makanya kami terus mengikuti kemanapun mobil Nona bergerak!."
Levi hanya bisa mendesah pasrah mendengar perkataan pengawal tersebut. Sudah cukup dia merasa bodoh, dan ternyata anak buahnya Gabrielle jauh lebih bodoh lagi. Entahlah, pagi ini nasib Levi sepertinya sedang tidak baik. Dia harus mengawali harinya dengan saling berkejaran dengan orang-orang yang di tugaskan untuk melindunginya. Benar-benar sangat konyol.
"Karena kondisi kalian yang sedang sekarat, lebih baik kau dan temanmu itu pulang ke rumah saja. Tidak perlu mengikutiku sampai ke perusahaan, aku tidak mau menanggung malu jika pikiranku kembali berubah dan mengira kalau kalian adalah anak buahnya Jack-Gal!" ucap Levi kemudian kembali masuk ke dalam mobilnya.
Tanpa Levi dan kedua pengawal itu sadari, dari kejauhan ada sebuah mobil hitam yang sedang mengawasi mereka. Sebenarnya dugaan Levi tidak lah salah kalau mobil hitam yang mengikutinya adalah milik Jack-Gal. Karena nyatanya pria itu memang berada di dalam mobil tersebut. Jack-Gal dengan sengaja menyingkir saat mobil Levi dan mobil anak buahnya Gabrielle saling berkejaran. Dia tentu saja tidak mau mengambil resiko ketahuan jika anak buahnya Gabrielle sampai menyadari keberadaannya. Beruntung mobil mereka mempunyai warna dan model yang sama, jadi Jack-Gal bisa menghindar dengan begitu mudah. Dan bodohnya lagi anak buahnya Gabrielle sama sekali tidak menyadari kalau mobilnya sudah tidak ada di antara mobil mereka lagi.
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
...🌻 IG: emak_rifani...
...🌻 FB: Nini Lup'ss...
...🌻 WA: 0857-5844-6308...
__ADS_1