
Levi menatap heran kearah Reinhard yang entah kenapa menjadi sangat perhatian. Dokter tampan ini tiba-tiba saja mengajaknya makan malam di sebuah restoran dimana hanya ada mereka berdua saja di sini. Sebagai seorang model, Levi tentu saja tahu kalau tempat ini bukanlah tempat yang murah. Bukan niat untuk menghina, terlalu sayang jika harus membuang-buang uang sebanyak ini hanya untuk sebuah makan malam biasa. Meskipun tak tahu berapa gaji yang di terima Reinhard sebagai direktur dari semua rumah sakit milik Keluarga Ma, Levi tetap menyanyangkan tindakan foya-foya ini. Dia kasihan pada Reinhard, susah payah bekerja siang dan malam kemudian di hamburkan begitu saja.
"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Reinhard. "Kau tidak sedang terpesona padaku kan?."
"Cih, aku akan langsung pergi ke dokter mata jika sampai terpesona pada pria jelek sepertimu!" jawab Levi kemudian memalingkan wajah. Dadanya tiba-tiba berdebar.
"Ekhmm, di bagian mananya aku terlihat jelek, hem? Tahu tidak, di rumah sakit aku menjadi rebutan para dokter dan juga perawat. Mereka berlomba-lomba agar bisa makan satu meja denganku!" ucap Reinhard menyombongkan diri.
Levi memutar bola matanya jengah, sedikit geli mendengar kenarsisan yang terlontar dari mulut Reinhard. "Apa bagusnya bisa makan bersama dokter miskin sepertimu. Tidak ada istimewanya sama sekali."
Ucapan pedas Levi bagai pedang yang langsung menusuk relung hatinya Reinhard. Benar jika dirinya hanyalah pria miskin yang beruntung karena menjadi sahabatnya Gabrielle, pria terkaya yang ada di negaranya. Karena kedekatan mereka juga lah Reinhard bisa menjadi direktur tunggal yang bertanggung jawab pada kemajuan semua rumah sakit yang bernaung di bawah Group Ma.
Sadar jika ucapannya tadi telah menyinggung Reinhard, Levi segera meminta maaf. Dia tidak tahu kalau dokter ini akan menanggapi candaannya dengan serius.
"Rein, maaf kalau kata-kataku tadi membuatmu merasa tidak nyaman. Aku tidak bermaksud mengolok-olok profesimu, sungguh.."
"Aku tahu. Tenang saja, aku tidak marah kok" sahut Reinhard kemudian memasukan makanan ke dalam mulutnya.
Suasana yang tadinya sedikit romantis mendadak terasa canggung saat Reinhard memilih untuk diam. Dia tidak marah, hanya merasa sedikit kecewa karena Levi memang type wanita yang menyukai pria beruang. Bukan berarti salahnya Levi jika dia memiliki tolak ukur seperti itu, tapi Reinhard yang merasa sudah gagal karena tak masuk dalam kategori pria yang di inginkannya. Reinhard bukan Gabrielle yang bergelimang harta, dia hanya pria biasa yang tertimpa keberuntungan besar.
"Ekhmmm, kenapa suasananya jadi tidak enak begini ya?" sindir Levi yang mulai tak nyaman. "Reinhard, aku kan sudah minta maaf padamu, kenapa kau malah mendiamkan aku seperti ini. Kalau mau marah ya marah saja, tidak perlu di tahan. Aku benci orang yang suka berpura-pura!."
Reinhard menghela nafas. Dia bertopang dagu kemudian menatap lekat kearah Levi yang sedang menggerutu sambil menikmati makan malamnya.
"Katakan padaku, kau menyukai pria sepertiku atau tidak?."
Uhuukk... Uhuukk
Levi terbatuk-batuk setelah menyemburkan makanan yang sedang dia kunyah. Reinhard yang melihat hal itu segera mengambilkan air minum dan berpindah ke sebelah Levi. Dengan lembut Reinhard mengelus punggungnya, sedikit merasa bersalah karena sudah membuatnya tersedak.
"Astaga...." keluh Levi sambil menyeka mulut. "Kau sudah gila ya Rein, kau pasti ingin balas dendam karena tadi aku mengolokmu kan? Sialan, tenggorokanku sakit sekali!."
"Maaf, aku tidak tahu kalau ucapanku akan membuatmu tersedak" sahut Reinhard merasa sangat bersalah.
__ADS_1
"Dasar gila, lain kali lihat kondisi dulu kalau mau bicara. Elea dan Gabrielle akan merasa sangat kehilangan kalau sampai terjadi sesuatu padaku!" sungut Levi kemudian menepis tangan Reinhard yang masih bertengger di punggungnya. "Kenapa kau bertanya seperti itu?."
"Karena aku menyukaimu....!."
Levi terperangah, tak percaya dengan apa yang baru saja di katakan oleh Reinhard. Sambil menelan ludah dia memberanikan diri menatap pria yang masih berdiri di sebelahnya.
"Reinhard, apa kau salah minum obat?."
"Tidak" jawab Reinhard.
"Kau mengigau?."
Reinhard menggelengkan kepala. "Aku tidak sedang tidur, Levi!.
"Lalu kenapa kau bicara melantur?" desak Levi memaksa Reinhard untuk jujur.
Mata Reinhard menatap dalam-dalam ke manik mata wanita di sebelahnya. Tekadnya sudah bulat, malam ini apapun yang terjadi dia harus berhasil menyampaikan perasaannya. Entah setelah itu dia akan di hajar atau malah di tertawakan oleh Levi, Reinhard tak peduli. Yang penting isi hatinya sudah tersampaikan.
"Levi, sejak awal pertemuan kita aku sudah menyimpan perasaan lebih padamu. Aku tahu aku tidak memiliki banyak uang, tapi perasaanku tulus. Aku menyukaimu, semua yang ada di dirimu aku suka. Bukan karena kau adalah Levita Foster, tapi karena kau adalah satu-satunya wanita yang bisa menggerakkan hatiku. Levi, kau mungkin akan mentertawakan aku setelah ini, kau juga pasti akan menganggapku konyol. Tapi perasaan ini sungguh nyata, aku tulus menginginkanmu!."
"Jadi dia menyukaiku?."
Tak lama kemudian Reinhard kembali muncul. Levi yang melihat kedatangannya segera mengalihkan pandangan kearah lain. Dia gugup, tentu saja. Wanita mana yang tidak akan terkejut jika mendengar sesuatu yang tiba-tiba seperti ini. Untuk menghilangkan kecanggungan yang ada, Levi mencoba membuka pembicaraan lain dengan Reinhard yang juga terlihat kikuk. Seulas senyum samar muncul di bibir Levi, ada perasaan tersanjung setelah melihat keberanian pria ini.
"Kenapa kau kembali?" tanya Levi.
"Aku masih lapar" jawab Reinhard berkilah.
Padahal sebenarnya tujuan dia kembali masuk ke dalam restoran adalah khawatir ada pria lain yang akan menggoda Levi mengingat jika gadis ini memakai pakaian yang cukup ketat. Juga karena Reinhard sedikit penasaran akan seperti apa respon yang di tunjukkan oleh Levi setelah dia mengungkapkan perasaannya.
"Benar hanya karena lapar?" ledek Levi dengan sengaja. "Bukan karena ingin mendengar apa jawabanku?."
"Sudahlah Levi, jangan bahas masalah itu lagi. Lebih baik sekarang kau cepat habiskan makan malammu. Gabrielle dan Elea pasti sudah menunggu kita di rumah" sahut Reinhard dengan wajah merah padam menahan malu.
__ADS_1
Levi terkikik, gemas melihat gelagat malu-malu di diri Reinhard. Jujur saja sebenarnya Levi juga sedikit memendam perasaan lebih pada dokter tampan ini. Hanya saja Levi tak terlalu serius menaggapi perasaannya sendiri karena tak mengira kalau Reinhard akan tertarik padanya. Levi sadar betul jika dirinya bukanlah wanita anggun seperti yang di inginkan oleh banyak pria. Dia adalah wanita yang menyukai kebebasan, jadi wajar saja kalau selama ini tidak ada satupun pria yang mengajaknya menjalin hubungan. Dan Reinhard adalah pria pertama yang berani mengakui perasaannya secara langsung. Sangat mengejutkan sekaligus membuatnya merasa sangat bahagia.
"Jangan tertawa. Aku tahu kau pasti sedang mengolok apa yang aku katakan barusan kan!" protes Reinhard yang salah tingkah sendiri.
"Tidak kok. Aku malah senang mendengarnya" jawab Levi.
Reinhard kaget. Dia segera mengangkat wajahnya kemudian menatap penuh harap kearah Levi. "Jadi kau tidak marah kalau aku menyukaimu?."
"Tidak lah, kenapa juga aku harus marah. Lagipula aku juga sedikit tertarik padamu. Tapi cuma sedikit ya, tidak banyak!."
"Levi, kau...
"Apa sih Rein. Kalau bicara itu jangan setengah-setengah. Membuat orang penasaran saja" gerutu Levi kesal melihat Reinhard yang tidak melanjutkan perkataannya.
"Jadi kau juga menyukaiku, begitu? Levi, astaga, aku tidak percaya ini. Itu artinya cintaku tidak bertepuk sebelah tangan, iya? Ya Tuhan....!" teriak Reinhard heboh sambil menelungkupkan kedua tangannya keatas.
"Biasa saja lah Rein, tidak perlu seheboh itu. Aku saja tidak berlebihan sepertimu kok!."
Bohong, Levi sengaja berbohong karena tidak mau harga dirinya turun. Padahal yg terjadi sesungguhnya adalah hatinya sangat bahagia, akhirnya setelah sekian lama melajang ada juga pria yang tertarik dengannya.
"Ehehheheee...Baiklah sayang" ucap Reinhard tanpa ragu memanggil Levi dengan sebutan sayang.
"Dasar kadal!" ejek Levi dengan wajah merona.
Setelah itu keduanya menghabiskan makan malam dengan perasaan membuncah. Mereka tidak saling berbicara, tapi jelas terlihat di mata keduanya kalau mereka sama-sama bahagia dengan hubungan yang baru saja terjalin. Reinhard yang sempat merasa khawatir merasa sangat lega karena dia tak harus merasakan yang namanya patah hati. Siapa yang menduga kalau ternyata Levi juga memiliki perasaan yang sama sepertinya.
'Gabrielle, terima kasih sudah menyemangati aku untuk bicara jujur pada Levi. Aku akan mentraktirmu nanti sebagai hadiah atas apa yang sudah kau siapkan untuk kami malam ini. Kau benar-benar sahabat sejati Gab, aku bangga bisa berteman denganmu!.'
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
__ADS_1
...🌻 IG: emak_rifani...
...🌻 FB: Nini Lup'ss...