
Elea begitu bahagia mendapat sambutan hangat dari istri ayahnya. Dia pikir semua ibu tiri akan sejahat yang pernah dia dengar, tapi nyatanya tidak. Meski Elea belum berani memanggilnya Ibu, setidaknya sekarang dia memiliki keluarga yang lengkap. Ada ayah, ibu, mungkin setelah ini dia juga akan segera memiliki kakek dan juga satu saudari. Karena terlalu bahagia, Elea sampai tidak menyadari kehadiran Levi di sampingnya. Dia hanya asik tersenyum memikirkan betapa baiknya Tuhan memberinya banyak kebahagiaan secara beruntun.
"Ekhm, sesenang ini kau menghadiri sebuah pesta besar, iya?" ledek Levi gemas melihat kelakuan teman kecilnya.
Mendengar ada yang berbicara di sebelahnya, Elea langsung menoleh. Matanya membulat kaget. "Kak Levi, Kakak kenapa bisa ada di sini?."
Levi memutar bola matanya jengah. Jika bukan karena mendengar dari Reinhard jika malam ini teman kecilnya akan menghadapi bahaya besar, mungkin saat ini dia masih berada di rumah sakit. Tapi untunglah tadi sore Gabrielle mengizinkannya untuk tetap datang kemari. Pria tengik itu juga mengirim anak buahnya untuk memberi obat yang entah kenapa langsung membuat badan Levi seakan sembuh dari rasa sakit. Sangat ajaib, mungkin itu juga salah satu kelebihan yang di miliki oleh Keluarga Ma.
"Memangnya kenapa? Tidak boleh?."
"Tidak lah" sahut Elea singkat.
"Yakk, kau jangan membuatku naik darah di depan orang banyak begini, Elea. Lagipula kenapa juga kau melarangku untuk datang. Siapapun berhak ada di sini selagi menerima undangan dari si pengantin!" kesal Levi sambil menarik nafas mengatur emosinya.
Bukannya menjawab, Elea malah menelisik dengan seksama kearah tubuhnya Levi. Dia khawatir, tentu saja itu yang menjadi alasan utamanya. Tapi melihat temannya ini segar bugar dengan mulut yang masih beringas, sepertinya kekhawatiran Elea itu tidak nyata. Levi baik-baik saja dengan luka yang ada di tubuhnya.
"Ck, kau ini sebenarnya kenapa Elea? Kenapa melihatku sampai seperti itu?" tanya Levi heran.
"Aku hanya penasaran saja di baju Kakak ada kantongnya tidak" jawab Elea berkilah. Tentu saja dia harus berbohong untuk menutupi kenormalannya sebagai manusia.
"Kantong? Kantong apa maksudnya?" beo Levi semakin heran.
"Kantong yang biasa di pakai orang untuk menyelipkan makanan, Kak. Kak Levi ini seperti tidak tahu saja, jangan malu, aku pernah melihat orang yang seperti itu kok. Siapa tahu Kak Levi adalah salah satu dari mereka" sahut Elea begitu enteng tanpa mempedulikan reaksi wanita yang berada di sebelahnya.
Jedaaarrrrr
Kantong untuk menyelipkan makanan? Astaga, apakah Levi semiskin itu di hadapan Elea sampai membuatnya berfikir jika kedatangannya ke pesta ini adalah untuk mencuri makanan? Kesal karena tak bisa berkata-kata lagi, Levi akhirnya melihat kearah pelaminan. Dia iba, bagaimana bisa wanita secantik, sepintar, sekaya, sesexy Grizelle Shaenette Ma memiliki seorang kakak ipar sebodoh Elea. Sungguh miris, keluarga itu pasti sering hampir mati berdiri gara-gara makhluk kecil ini.
__ADS_1
"Sayang, kau sedang bicara dengan siapa?."
Gabrielle yang baru saja kembali dari toilet buru-buru menghampiri Elea saat melihatnya sedang berbicara dengan seseorang. Dia menghela nafas lega setelah tahu jika yang bersama istrinya adalah Levi, salah satu pawang yang ahli menipu istrinya.
"Oh, Kak Iel sudah kembali?" jawab Elea seraya tersenyum. "Aku sedang bicara dengan Kak Levi, Kak. Aku heran kenapa dia bisa datang kemari, padahal kan di tubuhnya masih banyak luka yang belum sembuh."
Levi hanya diam mendengarkan. Dia masih terlalu malas untuk menanggapi perkataan Elea setelah gadis kecil ini membuatnya mati kutu. Saat sedang melihat-lihat para tamu undangan, ekor mata Levi tidak sengaja menangkap pergerakan dari dua orang yang amat dia kenal. Matanya membulat. Jika kedua orang itu ada di sini, berarti si kucing belang juga ada. Levi segera mengedarkan pandangannya untuk mencari Patricia, sepupu jahatnya yang menginginkan Gabrielle menjadi miliknya.
'Awas saja kau Patricia jika berani mengganggu Elea. Meski kita adalah sepupu dekat, aku tidak akan membiarkanmu begitu saja. Aku akan terus melawanmu sampai kau jera menginginkan suami orang. Huhh, dasar pelakor sungguhan!.'
Bibir Gabrielle berkedut mendengar julukan baru yang muncul di dalam pikiran Levi. Dia lalu menatap dalam kearah istrinya yang sedang terdiam.
"Kenapa sayang? Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?."
Elea mengangguk. "Jam berapa kita pulang Kak? Aku harus mempersiapkan diri untuk nanti!."
"Aku ingin makan yang banyak, Kak. Tenagaku akan terkuras habis nantinya" jawab Elea jujur. "Kak Iel, bantu aku merubah garis takdir malam ini. Hidup dan matiku bergantung dari kecepatan Kak Iel datang menyelamatkan aku. Jika terlambat, mungkin ini adalah malam terakhir kita bersama. Kakak harus mengingatnya baik-baik!."
"Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi, sayang. Tidak akan" ucap Gabrielle kemudian memeluk istrinya. Khawatir, itu sudah pasti. Istrinya yang cantik ini akan berhadapan dengan seorang pembunuh yang paling di takuti di negara ini. Dan sebagai seorang suami tentu saja Gabrielle merasa sangat cemas meskipun dia sudah menyiapkan segala sesuatunya.
Levi yang mendengar percakapan Gabrielle dan Elea pun ikut merasa cemas. Dengan penuh kekhawatiran dia membelai punggung polos teman kecilnya, dia lalu tersenyum hangat saat gadis kecil ini berbalik menatapnya.
"Aku akan menemanimu, Elea. Kau tidak sendirian. Dari awal kita berdua sudah bersinggungan dengan dokter psikopat itu, jadi malam ini kita akan menghabisinya bersama-sama!."
"Tidak Kak Levi. Kau tidak boleh ikut bersamaku. Aku tahu tubunmu belum sepenuhnya pulih, biar aku dan Kak Iel saja yang membereskan masalah ini. Dan juga..... Jika nanti aku tidak selamat, tolong jangan lupakan aku ya Kak. Ingat kalau Kakak pernah memiliki seorang teman yang sangat bodoh sepertiku" sahut Elea seakan sedang berpamitan.
Mata Levi langsung berkaca-kaca. Dia sangat tidak rela jika harus kehilangan satu-satunya orang yang mau berteman tulus dengannya. Tak tahan, Levi segera menatap kearah Gabrielle. Dia ingin pria tengik itu menyelamatkan Elea apapun yang terjadi, tapi sayangnya tidak ada sedikitpun suara yang bisa keluar dari mulutnya. Dia tergugu.
__ADS_1
"Tenanglah, Elea kita pasti baik-baik saja. Dia akan segera melewati masalah ini dengan aman" ucap Gabrielle paham dengan keinginan Levi. "Benar yang di katakan oleh Elea tadi, kau sebaiknya tidak ikut terlibat. Jack-Gal bukan orang yang mudah, biar aku dan anak buahku saja yang menanganinya!."
Entahlah, seharusnya pesta ini menjadi pesta yang bisa membuat semua orang bahagia. Tapi bagi beberapa orang, acara ini terasa sangat menegangkan karena begitu pesta usai, mereka akan langsung berhadapan dengan bahaya yang cukup besar dari seorang Jack-Gal. Untuk menghilangkan ketegangan, Gabrielle mengajak Levi dan istrinya untuk menikmati berbagai macam makanan yang tersedia di sana. Tak lupa juga dia selalu memantau keadaan dari alat penghubung yang terpasang di telinganya.
Sementara itu, Yura yang memang sudah terpikat oleh kecantikan dan kepolosan anak sambungnya nampak sedang mencari-cari keberadaannya. Bryan hanya tersenyum saja melihat kelakuan istrinya, dia lega karena ternyata Yura bisa menerima dengan baik kehadiran Eleanor.
"Eh, bukannya itu Levita ya?" gumam Yura keheranan melihat keponakannya tengah bercanda dengan putri sambungnya.
"Iya, mereka sudah berteman lama" sahut Bryan menjelaskan.
"Jadi selama ini dia...
"Kau benar, Yura. Awalnya aku juga tidak menyangka kalau keponakanmu mengenal putri kita. Dunia ini tidak seluas yang kita pikir bukan? Anak ada di depan mata tapi kita tidak menyadarinya. Tuhan benar-benar sangat pandai memainkan takdir" imbuh Bryan sambil menatap haru kearah putrinya yang terlihat begitu bahagia.
Yura tersenyum. Suaminya benar, Tuhan sangat pandai memainkan takdir. Seperti sekarang, tiba-tiba saja Tuhan berbaik hati melunakkan hati Bryan setelah puluhan tahun Yura menunggu untuk di akui. Dan pengakuan ini terjadi setelah Tuhan membawa Eleanor ke hadapan suaminya. Saat Yura sedang mensyukuri nasib baik yang di alaminya, ponselnya bergetar. Wajahnya langsung memucat begitu dia membaca pesan yang baru saja dia terima.
"Bu, kau sekarang tersenyum lah sebanyak yang kau mau. Tapi ingat, kau pernah memiliki niat untuk menghilangkan nyawa gadis sialan itu. Bahkan rekaman saat kau menghubungiku masih aku simpan dengan baik. Hahahahah, Ibu Ibu. Jangan kau pikir kau bisa cuci tangan begitu saja. Aku akan menyeretmu ke dalam masalah ini, aku juga tidak keberatan untuk mengadukan hal ini pada Kakek jika suatu saat Ibu menolak untuk memberiku bantuan. Jika aku harus berakhir menyedihkan, maka aku akan membawa Ibu dalam kesengsaraanku. Ingat pesan ini baik-baik Ibuku tersayang? Hahhahahaa...!.'
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
...🌻 IG: emak_rifani...
...🌻 FB: Nini Lup'ss...
__ADS_1