Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Keluarga Young


__ADS_3

"Selamat bergabung dengan perusahaan kami, Tuan Bryan!" ucap Ares sambil berjabat tangan dengan pria yang baru saja resmi menjadi mitra bisnis Tuan Muda-nya.


"Terima kasih Tuan Ares, saya merasa begitu terhormat bisa bergabung dalam proyek besar milik perusahaan Tuan Muda Gabrielle!" sahut Bryan senang.


Gabrielle tersenyum. Dia duduk santai di tempatnya sekarang tanpa berniat melakukan kontak dengan mitra bisnisnya.


"Saya harap kinerja perusahaan anda tidak akan membuat saya kecewa, Tuan Bryan!" timpal Gabrielle.


"Itu tidak akan terjadi, Tuan Muda. Saya akan pastikan kalau proyek ini akan berjalan sesuai dengan apa yang anda mau!" sahut Bryan yakin.


"Baiklah kalau begitu, saya akan tunggu bukti dari ucapan anda, Tuan Bryan Young!".


Kening Bryan mengernyit. Entah kenapa dia merasa kalau pengucapan kata yang di sampaikan oleh Gabrielle memiliki arti tersendiri. Itu terkesan seperti dia sedang mengisyaratkan sesuatu.


"Tuan Muda, apa ada sesuatu yang tidak benar di sini?" tanya Bryan hati-hati.


Berbicara dengan pria penguasa ini sangat di butuhkan ke hati-hatian. Meskipun nama keluarganya cukup besar di negara ini, Bryan tidak mau kalau pertanyaannya itu bisa menyinggung pria dingin ini kemudian berimbas pada bisnis yang baru saja mereka sepakati.


"Maaf kalau pertanyaan saya kurang berkenan di hati anda, Tuan Muda!" sambung Bryan cepat.


'Kau tidak sebodoh yang aku pikirkan, Tuan Bryan. Telingamu cukup jeli menangkap maksud dari panggilanku barusan!'.


"Tidak ada apapun, Tuan Bryan. Aku hanya ingin memanggil nama lengkapmu saja!" jawab Gabrielle setelah menggantungkan jawaban begitu lama.


'Kenapa aku masih merasa kalau bukan itu yang sebenarnya ingin di katakan oleh Tuan Muda Gabrielle ya. Ya Tuhan, pertanda apa ini?'.


Ares diam memperhatikan raut wajah Bryan yang terlihat tidak puas dengan jawaban Tuan Muda-nya.


"Oh ya Tuan Bryan, bagaimana kabar istrimu?" tanya Gabrielle sembari melirik kearah Ares.


"Istri saya baik-baik saja, Tuan Muda. Emmm maaf, kenapa anda tiba-tiba menanyakan kabar tentang istri saya? Apa istri saya telah menyinggung keluarga anda?" ucap Bryan balik bertanya.


Bryan gusar. Matilah dia jika istrinya benar-benar membuat masalah dengan keluarga legendaris itu. Bisa di pastikan kalau nama besar keluarganya akan segera lenyap dari negara ini.


"Hanya ingin tahu saja. Lalu bagaimana kabar putrimu sekarang?".


Perasaan Bryan semakin tidak enak. Kegusarannya semakin menjadi-jadi. Bryan sangat yakin, entah anak atau istrinya pasti telah melakukan sesuatu yang memancing kemarahan pria di hadapannya ini. Jika tidak, mana mungkin Gabrielle rela membuang waktu hanya untuk menanyakan kabar keluarganya. Semua orang sangat tahu kalau pria penguasa ini sangat tidak suka ikut campur dalam urusan orang lain. Dan yang sedang terjadi sekarang membuat Bryan ketakutan.


"Putri,putri saya juga baik-baik saja Tuan Muda. Saya....


"Tidak perlu gugup seperti itu, Tuan Bryan. Keluargamu sama sekali tidak membuat masalah denganku" ucap Gabrielle santai.


Gabrielle memiliki tujuan tersendiri dengan menanyakan kabar keluarga Bryan. Dia mempunyai alasan kuat yang membuatnya mau membahas masalah pribadi di dalam pekerjaan mereka. Sesuatu yang tidak pernah dia lakukan selama ini.


"Tuan Muda, sebenarnya ada apa? Saya merasa sedikit janggal dengan sikap anda sekarang. Bukan, maksud saya begini. Saya merasa terhormat anda sudi menanyakan kabar tentang anak dan istri saya, tapi saya merasa ini tidak seperti sikap yang biasa anda tunjukkan di depan rekan bisnis anda. Saya,saya merasa ada yang salah di sini. Mohon Tuan Muda memberitahu saya kesalahan apa yang telah kami lakukan!" ucap Bryan panik.


Gabrielle tersenyum samar.

__ADS_1


"Tuan Bryan, anda sudah boleh pergi dari sini. Urusan kontrak kerjasama kita telah selesai di lakukan, dan untuk masalah yang lain nanti saya akan mengirimnya lewat email!" ucap Ares.


Bryan merasa begitu berat saat dirinya di minta untuk pergi dari ruangan itu. Bukan apa, kata-kata Gabrielle tadi membuatnya merasa tidak nyaman. Namun dia juga tidak berani membantah keinginan mereka berdua.


"Baiklah. Kalau begitu saya permisi Tuan Muda Gabrielle, Tuan Ares. Selamat siang!" pamit Bryan.


"Selamat siang!" sahut Ares datar.


Gabrielle dan Ares terus memperhatikan punggung Bryan yang mulai meninggalkan ruangan mereka. Setelah Bryan menghilang di balik pintu, Ares segera melontarkan beberapa pertanyaan pada Tuan Muda-nya.


"Apa anda yakin ingin masuk ke keluarga mereka, Tuan Muda?" tanya Ares ingin tahu.


Gabrielle menghela nafas. Dia memainkan pena di tangannya.


"Hanya dengan jalan itu aku baru bisa mengungkap kebenarannya, Ares. Aku harus turun tangan sendiri untuk masalah ini".


"Tapi Tuan Muda, Tuan Bryan memiliki seorang putri. Tidakkah itu akan membuatnya merasa besar kepala jika anda membuka pintu untuk mereka?".


"Aku tahu apa yang harus aku lakukan, Res. Jangan kau pikir aku akan membiarkannya mendekatiku. Aku sudah menikah, ada seorang bidadari kecil yang menguasai hatiku saat ini!" jawab Gabrielle bangga.


Ares berdehem pelan. Tuan Muda-nya mulai lagi.


"Patricia Young, dia bukan gadis yang mudah untuk di hadapi Tuan Muda. Licik dan arogan, itu yang saya dengar dari orang-orang yang pernah menjalin kerjasama dengannya!" ucap Ares memperingatkan.


"Jadi menurutmu aku ini lemah, begitu?" tanya Gabrielle tersinggung.


Gabrielle terdiam. Yang di katakan oleh Ares ada benarnya juga. Tapi hanya ini satu-satunya jalan yang bisa dia ambil untuk membongkar rahasia itu. Tetua Keluarga Young sangat ketat, hampir tidak ada satu rahasiapun yang bocor media. Hal itulah yang membuat anak buah Gabrielle kesulitan mengumpulkan informasi yang dia inginkan.


"Aku tidak akan membiarkan Elea tahu mengenai hal ini, Res. Dan kau, pastikan Patricia tidak mengganggu istriku setelah permainan ini di mulai!".


"Apa anda sudah benar-benar yakin?" tanya Ares memastikan.


"Seorang Gabrielle tidak pernah ragu dalam mengambil keputusan. Aku akan membongkar rahasia itu dengan tanganku sendiri!" jawab Gabrielle dengan sorot mata yang terlihat begitu dingin.


"Baiklah kalau itu yang anda inginkan. Saya akan melindungi Nyonya Elea dari Nona Patricia!".


Gabrielle mengangguk. Dia kemudian teringat dengan istrinya di rumah.


"Apa Nun menelfonmu?" tanya Gabrielle sambil berjalan kearah kamar mandi.


"Saya tidak tahu Tuan Muda. Sejak meeting di mulai, ponsel di nonaktifkan" jawab Ares.


Gabrielle terdiam. Perasaannya mendadak menjadi tidak enak.


"Kenapa kau menonaktifkannya hah? Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada Elea dan Nun tidak bisa menghubungimu. Kau ini bagaimana Ares, seharusnya kau tidak ceroboh begini!" kesal Gabrielle setelah keluar dari kamar mandi.


'Tadi anda yang meminta saya untuk menonaktifkan ponsel, Tuan Muda. Kenapa sekarang saya yang salah?'.

__ADS_1


"Maaf, Tuan Muda. Saya akan segera mengaktifkannya kembali!".


Belum sempat Ares mengambil ponsel, pintu ruangan di ketuk dari luar. Salah seorang penjaga masuk dengan tergesa sambil membawa ponsel di tangannya.


"Tuan Muda, Nun ingin berbicara dengan anda. Ini sangat penting!".


Nafas Gabrielle tercekat. Dengan langkah lebar dia segera menghampiri penjaga itu kemudian merebut ponsel dari tangannya.


"Jangan katakan hal buruk padaku atau aku akan...


"Tuan Muda, Nyonya Elea pingsan!".


"APAAAA......!".


Gabrielle melemparkan ponsel itu ke sembarang arah kemudian segera berlari keluar dari ruangannya.


"Siapkan mobil sekarang juga!" teriak Gabrielle pada anak buahnya.


"Baik Tuan Muda!".


Ares yang melihat Tuan Muda-nya berlarian seperti orang gila langsung tahu kalau ada hal buruk yang terjadi pada nyonya mereka. Dia segera menyusul Tuan Muda-nya yang sudah berada di dalam lift.


Bughhhhhhhh


"Brengsek, kau seharusnya tidak mematikan ponselmu tadi Res. Lihat sekarang, istriku pingsan dan aku baru mengetahuinya. Ini semua gara-gara kecerobohanmu!" amuk Gabrielle setelah memukul wajah Ares.


Ares diam tak menyahut. Dia membiarkan wajahnya menjadi pelampiasan amarah Tuan Muda-nya.


"K*parat, kenapa lift ini lama sekali. Ganti dengan yang baru besok!" kesal Gabrielle sambil menendangi pintu lift yang masih bergerak.


"Baik Tuan Muda!".


Pikiran Gabrielle begitu panik. Dia mengusap wajahnya hingga memerah.


"Elea, tolong baik-baik saja. Tidak boleh terjadi apapun padamu sayang, tidak boleh!" gumam Gabrielle ketakutan.


"Nyonya Elea pasti baik-baik saja Tuan Muda!" ucap Ares.


"Baik kepalamu. Elea pingsan, dia tidak sadarkan diri brengsek!" teriak Gabrielle.


Ares menghela nafas. Tak lama kemudian, pintu lift akhirnya terbuka. Dia dan Tuan Muda-nya sama-sama berlari keluar dengan wajah khawatir. Membuat para karyawan di sana kebingungan melihatnya.


🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄


🌻 IG: nini_rifani


🌻 FB: Nini Lup'ss

__ADS_1


🌻 WA: 0857-5844-6308


__ADS_2