Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Seandainya...


__ADS_3

"Keluarlah, aku ada di bawah."


Mata Cira membulat begitu dia membaca pesan dari Ares. Dia yang sedang mengobrol bersama Nyonya Clarissa menjadi kikuk saat wanita itu memandanginya sambil tersenyum penuh goda. Seketika wajah Cira memerah, dia malu.


"Pergilah. Temui calon suamimu itu" ledek Clarissa sembari mengulum senyum.


"Nyonya, jangan seperti itu. Kami, kami belum terfikir untuk menikah" sahut Cira sambil mengusap tengkuknya.


"Belum terfikir apa. Ares kan sudah membawamu bertemu dengan kedua orangtuanya, tidak mungkin kalau dia tidak mempunyai maksud ingin menikahimu, Cira. Kau ini ada-ada saja."


Clarissa terkekeh sambil menggelengkan kepala. Cira adalah gadis yang sangat pintar dan juga gesit, tapi sepertinya dia begitu tidak memahami arti perasaan seseorang. Padahal sudah sangat jelas kalau asistennya Gabrielle itu menginginkan gadis ini. Tapi tetap saja Cira mengelak. Entah karena malu atau karena memang tidak bisa memahami, Clarissa tidak tahu. Yang jelas, Clarissa tidak akan membiarkan Cira menikah dengan pria yang salah. Dan yang akan Clarissa izinkan menjadi pendamping gadis ini hanyalah Ares seorang karena Clarissa sudah tahu seperti apa bibit, bebet, dan bobot dari pria tersebut.


"Saya tahu itu, nyonya. Tapi Ares belum melamar saya, dia belum menyatakan keinginannya untuk hidup bersama saya, nyonya. Jadi saya tidak mungkin mengakuinya sebagai calon suami."


Memang benar kalau Ares belum melamarnya secara sah. Dia hanya bercanda saja ketika mengajaknya untuk menikah ketika mereka berdua sedang makan siang. Sebagai seorang wanita, Cira tentu saja tahu kalau pria itu memang menginginkannya. Karena Cira pun sebenarnya menginginkan hal yang sama. Hanya saja dia merasa tidak pantas jika membahas masalah ini terlebih dahulu, dia canggung.


"Itu masalah gampang" ucap Clarissa. "Biar nanti aku dan Gabrielle yang mengatur semuanya. Kau dan Ares hanya cukup mempersiapkan hati dan cincin saja."


Cira terdiam. Dia lalu menatap lekat kearah wanita yang sudah dia anggap sebagai orangtuanya sendiri.


"Nyonya, biar masalah ini menjadi urusan kami berdua saja. Maaf kalau kata-kata saya membuat anda tersinggung. Pernikahan adalah sesuatu yang sangat sakral, jadi saya ingin Ares lah yang maju untuk memperjelas semua ini. Saya tidak mau ada paksaan atau apapun itu yang mendasari hubungan kami. Kalau memang benar Ares menginginkan saya untuk menjadi istrinya, dia pasti akan datang melamar saya tanpa harus ada dorongan dari nyonya maupun dari Tuan Muda Gabrielle. Saya harap nyonya bisa memahami apa yang saya inginkan!.


Clarissa tersenyum. Dia meraih tangan Cira kemudian menggenggamnya dengan erat.


"Aku sama sekali tidak tersinggung, Cira. Kau berhak bicara seperti ini karena yang akan menjalani pernikahan itu kau, bukan aku ataupun Gabrielle. Aku hanya terlalu antusias ingin segera melihatmu naik ke pelaminan bersama Ares, makanya ingin membantu hubungan kalian supaya tidak jalan di tempat. Maaf ya kalau keinginanku membuatmu merasa tidak nyaman. Aku hanya ingin yang terbaik untukmu, sayang. Kau sudah seperti putriku sendiri, dan sebagai Mama yang baik wajar bukan kalau ingin melihat putrinya bahagia di pelukan pria yang tepat?.


"Nyonya...."


Mata Cira berkaca-kaca. Dia merasa sangat terharu mendengar ucapan majikannya. Sungguh, Cira benar-benar sangat beruntung karena dulu sudah di adopsi oleh Nyonya Clarissa.


Tok, tok, tok


Saat Cira dan Clarissa tengah dalam suasana mengharu biru, tiba-tiba ada yang datang mengetuk pintu. Segera Cira berjalan untuk membukanya.


"Ada ap... Ares!" pekik Cira kaget melihat seorang pria tengah menatapnya dalam.


"Kau membuatku khawatir, Cira. Aku pikir ada sesuatu yang terjadi di sini karena kau tak kunjung turun. Kau juga tidak membalas pesanku" ucap Ares kemudian menarik nafas lega. "Syukurlah kau baik-baik saja. Astaga.."


Cira terbengang. Dia kemudian membuka pintu selebar-lebarnya, memperhatikan penampilan Ares yang sedikit acak-acakan dengan peluh yang membasahi wajahnya.


"Kau.. berlari?" tanya Cira.


Ares mengangguk. Dengan cepat dia meraih tangan Cira kemudian menempelkannya ke dada.

__ADS_1


"Kau tahu, jantungku seperti akan terlepas saat kau tak kunjung memberi kabar. Aku benar-benar sangat khawatir terjadi sesuatu yang buruk padamu, Cira. Lain kali tolong jangan abaikan aku lagi. Setidaknya, setidaknya kau bisa membalas pesanku dulu kalau belum bisa turun untuk menemuiku. Aku bisa mati mendadak kalau kau mengacuhkanku seperti tadi. Jangan di ulangi lagi ya, sayang!.


Glukkk


Hanya karena Cira terlambat turun dan tidak segera membalas pesan Ares sampai ketakutan seperti ini? Apa ini masuk akal?.


"Ares, Cira lupa membalas pesanmu karena tadi aku mengajaknya mengobrol dulu. Makanya dia juga terlambat turun ke bawah untuk menemuimu. Maaf ya" ucap Clarissa ikut menimbrung.


"Oh, Nyonya Clarissa. Selamat siang" sapa Ares kemudian membungkukkan tubuh.


Clarissa mengangguk. Dia kemudian berjalan menghampiri Ares dan Cira.


"Apa kau ingin mengajak calon istrimu keluar?.


"Iya Nyonya Clarissa. Tuan Muda Gabrielle hari ini membebaskan saya dari semua pekerjaan" jawab Ares kemudian melihat kearah Cira yang sedang menundukkan kepala. "Beliau meminta saya untuk mengajak Cira pergi berkeliling menikmati pemandangan di negara ini. Juga agar gadis ini semakin membuka hati untuk saya."


"Ares, kau ini bicara apa sih. Jangan melantur" tegur Cira menahan malu.


"Siapa juga yang melantur. Aku bicara jujur, Cira sayang. Kalau tidak percaya tanyakan saja pada Tuan Muda Gabrielle" sahut Ares tanpa malu-malu lagi meski ada Nyonya Clarissa di depannya.


'Astaga apa-apaan Ares ini. Kenapa dia memanggilku seperti itu di depan Nyonya Clarissa. Ya Tuhan, membuatku malu saja.'


Clarissa mengulum senyum, dia merasa lucu saat Ares terang-terangan menunjukkan rasa sukanya pada Cira. Tak ingin membuat pria ini menunggu lebih lama, Clarissa segera mengajak Cira masuk ke kamar untuk berganti pakaian.


"Ck, jangan mengikuti gaya polos Elea dalam berfikir. Aku tahu kau tidak bodoh sepertinya" omel Clarissa sambil memoles lisptik di bibir Cira. "Kau terlihat sangat cantik dengan gaun ini. Aku yakin Ares pasti akan semakin tergila-gila padamu."


"Nyonya, jangan menggodaku terus."


"Kalau begitu menurutlah. Percayakan saja padaku, oke?.


Mau tidak mau Cira hanya bisa pasrah saat wajah dan tubuhnya di kuasai oleh majikannya. Dia yang jarang sekali berdandan tersentak kaget begitu melihat pantulan wajahnya di cermin.


"Perfect! Kau benar-benar sangat cantik sayangku" puji Clarissa puas dengan hasil karyanya.


Cira tersipu.


"Ini tidak terlalu mencolok kan, Nyonya?.


"Tidak.. Sudah, ayo cepat pergi temui Ares. Kasihan dia sudah terlalu lama menunggumu" jawab Clarissa kemudian mengajak Cira untuk keluar dari sana.


Bagai patung, Ares begitu terkesima melihat sesosok wanita cantik yang muncul dengan memakai gaun hitam tanpa lengan. Mulutnya terngaga lebar, yang mana hal itu mengundang gelak tawa Nyonya Clarissa.


"Ekhmm, lalat bisa masuk ke dalam mulutmu kalau kau menganga terlalu lama, Res" sindir Clarissa merasa tergelitik. "Bagaimana? Calon istrimu cantik tidak?.

__ADS_1


Wajah Cira merona. Dia sampai tidak berani melihat kearah Ares.


"Cantik, benar-benar sangat cantik Nyonya. Ayah dan Ibuku pasti akan sangat senang melihat penampilan Cira nanti" jawab Ares tanpa melepaskan pandangan matanya dari Cira yang terlihat malu-malu.


"Oh, jadi kau ingin membawa putriku kembali bertemu dengan orangtuamu ya?" tanya Clarissa dengan seribu antusiasme.


"Sebenarnya tidak, Nyonya. Tapi Ibu mengancam akan mencoret nama saya dari daftar kartu keluarga jika hari ini saya tidak membawa Cira pulang ke rumah. Ayah dan Ibu sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan calon menantu mereka yang cantik ini."


"Ares..." sela Cira salah tingkah.


"Apa sayang?.


Clarissa terkekeh geli melihat pasangan ini. Dia kemudian memeriksa riasan di wajah Cira, juga memastikan kalau gaun yang di pakainya tidak akan membuatnya terlihat buruk di depan orangtua Ares.


"Pergilah, jemput kebahagiaan dan masa depanmu."


"Terima kasih, Nyonya" sahut Cira penuh haru.


"Kau putriku, sudah seharusnya aku melakukan ini padamu!" ucap Clarissa sambil mengusap genangan air bening di mata Cira. "Ares, tolong jaga putriku baik-baik."


"Itu sudah pasti, Nyonya Clarissa" jawab Ares kemudian mengulurkan tangan kearah Cira. "Ayo, Ayah dan Ibu sudah mengirimkan banyak ancaman padaku. Mereka curiga kalau aku sudah menculikmu!.


"Astaga Ares, tolong berhenti bercandanya" omel Cira sembari menerima uluran tangan dari pria yang sedang tersenyum manis di depannya.


"Baiklah, sayang. Aku tidak akan bercanda lagi."


"Ares!!.


"Iya-iya.."


Clarissa melambaikan tangan kearah Cira saat mereka pergi dari sana. Dia terus menatap punggung keduanya hingga masuk ke dalam lift. Setelah itu Clarissa masuk ke dalam kamar, dia termenung.


"Seandainya saja Cira adalah Sandara, aku pasti akan sangat bahagia. Sayang, waktu tak bisa lagi di ulang. Hmm...."


🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄


...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS...


...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...


...🌻 IG: emak_rifani...


...🌻 FB: Rifani...

__ADS_1


__ADS_2