Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Sambutan


__ADS_3

Satu minggu kemudian....


"Hati-hati, Tuan Muda!" ucap Ares sambil memegangi pintu mobil.


Setelah Gleen menikah dengan Lusi, Elea terus merengek meminta pulang ke rumah. Namun karena waktu itu Reinhard dan Jackson belum memberikan izin, terpaksa Elea masih harus tinggal di rumah sakit selama satu minggu lamanya. Dan hari ini akhirnya Elea bisa menginjakkan kaki di lantai rumah yang penuh kenangan. Eittss, tidak menginjakkan kaki dalam artian yang sebenarnya ya. Karena sejak keluar dari dalam mobil, Elea terus berada dalam gendongan suaminya yang kian posesif.


"Kak Iel, apa tidak sebaiknya kau menurunkan aku saja? Kakiku kan masih utuh, aku masih bisa berjalan sendiri" tanya Elea.


"Mana boleh seperti itu, sayang. Kau baru saja keluar dari rumah sakit. Tulang di kakimu masih lemah" jawab Gabrielle menolak keinginan sang istri. "Patuh ya, jangan membantah. Ini semua demi kebaikanmu, jadi tolong jangan banyak protes seperti tukang demo yang turun ke jalanan."


Nun yang waktu itu sedang sibuk mengatur penyambutan di dalam rumah langsung memberi kode pada pelayan untuk menyanyikan lagu selamat datang. Tak lupa juga seluruh ruangan sudah di penuhi banyak bunga berwarna-warni sesuai dengan kesukaan sang nyonya kecil.


"Selamat datang kembali ke rumah ini, Nyonya Elea" ucap Nun yang langsung diikuti oleh para pelayan dan penjaga.


Elea yang masih terkesima dengan penyambutan tersebut hanya bisa menganggukkan kepala. Matanya berkaca-kaca, dia amat sangat terharu dengan apa yang dilakukan oleh Nun dan teman-temannya.


"Senang tidak?" tanya Gabrielle.


"Senang sekali, Kak" jawab Elea lalu menatap wajah suaminya. "Apa ini Kakak yang menyiapkan?"


Gabrielle menggeleng. Dia lalu melihat ke arah Nun.


"Semua ini adalah idenya Nun dan teman-temanmu. Saat aku bilang kalau hari ini kau akan pulang dari rumah sakit, mereka semua langsung meminta izin membuat acara kecil-kecilan untuk menyambutmu. Dan inilah hasilnya."


Dengan airmata yang mulai menetes Elea langsung melihat ke arah semua orang. Entahlah, di rumah ini Elea selalu mendapatkan banyak kasih sayang. Dia benar-benar sangat amat bersyukur karena Tuhan sudah menempatkannya di tengah-tengah orang baik.


"Pak Nun, kakak-kakak semua, terima kasih banyak ya. Aku senang sekali dengan sambutan yang kalian lakukan. Aku bahagia," ucap Elea seraya menyeka airmatanya.


"Sama-sama, Nyonya. Kami juga sangat bahagia karena kita bisa berkumpul lagi dengan Nyonya seperti biasanya. Rumah ini seperti mati saat Nyonya tidak ada di sini," sahut salah satu pelayan ikut menitikkan airmata.


Nun hanya tersenyum sambil mengangguk saat si nyonya kecil melihat ke arahnya. Dia lalu menatap Tuan Muda-nya.


"Kamar dan makan siang sudah saya siapkan, Tuan Muda."


"Terima kasih, Nun. Kau selalu yang terbaik!" sahut Gabrielle puas.


"Sudah menjadi kewajiban saya, Tuan Muda."


Saat Gabrielle ingin membawa Elea masuk menuju ruang makan, tiba-tiba saja Elea meminta untuk berhenti. Matanya nampak melihat ke sekeliling ruangan, heran karena di sana tidak ada siapapun selain Nun dan para pelayan.


"Ada apa, sayang?" tanya Gabrielle bingung.


"Em Kak Iel, kemana perginya semua orang?"

__ADS_1


Ada perasaan terabaikan saat Elea tidak melihat satupun keluarganya di sana.


"Oh, semua orang sedang sibuk membantu Gleen menyiapkan resepsinya."


"Semuanya?" kaget Elea. "Ayah Bryan dan Ibu Yura juga?"


Gabrielle mengangguk.


"Kak Iel, ayo kita susul mereka."


"Tidak boleh,"


"Kenapa?"


Bibir Elea mengerucut. Dia lalu menusuk-nusuk dada suaminya dengan jari telunjuk. Kesal karena lagi-lagi dia dilarang pergi ke acaranya Lusi.


"Karena....


"TARAAAAA....


Elea yang masih berada di gendongan suaminya terkejut saat ada suara balon meletus. Dia lalu tersenyum lebar melihat kemunculan seluruh keluarga besarnya di ruangan itu.


"Waahhh, kalian berteleportasi ya? Hebat sekali!"


"Elea,"


"Iya Kak Levi, ada apa?" tanya Elea.


"Bisa tidak kau jangan merusak suasana dulu? Apa kau pikir kami semua ini berasal dari dunia antah-brantah yang bisa melakukan gaya teleportasi untuk berpindah tempat? Kita ini hidup di zaman modern, Elea. Tolonglah jangan membuatku terkena darah tinggi!" omel Levi menahan emosi.


Gabrielle mencium kening istrinya saat mendapat omelan dari Levi. Sungguh, celetukan spontan Elea memang sanggup menghancurkan suasana yang seharusnya di penuhi rasa haru dan bahagia. Kata teleportasi nyatanya mampu membuat mulut semua orang terkatup rapat saking syoknya. Tapi inilah pesona Elea yang selalu dirindukan oleh Gabrielle. Elea-nya yang polos nan baik hati kecintaan semua orang.


"Aku itu tidak merusak suasana, Kak Levi. Karena tadi Kak Iel bilang kalian semua sedang sibuk membantu Paman Gleen menyiapkan acara resepsi pernikahannya dengan Kak Lusi. Makanya tadi aku kaget melihat kemunculan kalian di sini. Bisa saja kan kalian mengunakan ilmu itu untuk berpindah tempat?" tanya Elea tanpa merasa bersalah.


Levi mendengus. Alasan ini tak bisa dibantahnya. Sambil menatap kesal ke arah Elea, Levi datang mendekat sambil membawa kotak kado di tangannya.


"Apa ini bom?" ledek Elea dengan gaya tengil.


"Iya, ini bom untuk meledakkan mulutmu yang cerewet ini" jawab Levi dongkol. "Dasar gadis sembrono, bisa tidak sih jangan membuat orang emosi? Aku heran kenapa setiap kali rahangmu terbuka itu bisa membuat darahku mendidih. Kau sebenarnya makan apa, Elea?"


Semua orang yang ada di sana tak tahan untuk tidak tertawa melihat pertengkaran antara Levi dengan Elea. Gabrielle yang khawatir istrinya merasa tidak nyaman dalam gendongan segera menurunkannya ke sofa. Dia melakukan hal itu dengan sangat hati-hati, khawatir kalau istrinya akan terluka.


"Terima kasih banyak, suami."

__ADS_1


"Sama-sama sayangku."


"Wooeeekkkkk,"


Levi dengan sengaja membuat ekpresi ingin muntah saat melihat kemesraan Gabrielle dan Elea. Dia lalu mendekat, menyodorkan kado yang dia bawa pada makhluk kecil yang sedang duduk sambil tersenyum.


"Ini isinya bom. Bom penuh cinta khusus dariku" ucap Levi dengan lembut. "Cepat sehat ya, Elea. Aku rindu berburu berlian denganmu."


Elea menerima kado tersebut lalu memeluk Levi. Pelakor tetaplah pelakor, tapi Elea sangat menyayanginya.


"Terima kasih banyak ya Kak. Kau baik sekali."


"Ekhmm, apa hanya Kak Levi saja yang akan dipeluk, hem? Ayah dan Ibu tidak? Kedua mertuamu bagaimana? Lalu Grandma Clarissa? Cira? Lusi dan Gleen? Bagaimana nasib kami semua sayang?" ledek Greg yang sudah tidak sabar ingin segera memeluk menantunya.


Mata Gabrielle memicing. Dia menatap penuh aura permusuhan ke arah ayahnya.


"Jangan macam-macam, Ayah. Ayah kan sudah punya Ibu, jadi jangan sembarangan memeluk wanitanya orang lain!" tegur Gabrielle cemburu.


"Astaga Hon, lihatlah putramu itu. Keposesifannya benar-benar sudah berada di luar nalar manusia!" keluh Greg mengadukan perbuatan putranya pada sang istri.


Liona hanya tersenyum. Dia lalu mendekat ke arah sofa kemudian duduk di samping menantunya. Dengan penuh sayang Liona memeluk Elea.


"Semoga setelah ini kau tidak akan menemui masalah lagi ya sayang. Ibu tidak bisa memberimu apa-apa, hanya doa tulus yang selalu Ibu panjatkan pada Tuhan."


"Ibu Liona, doa dari orangtua adalah kado yang paling berharga. Terima kasih" sahut Elea terharu.


"Sama-sama sayang,"


Setelah Liona, bergiliran semua orang memberi pelukan pada Elea. Tapi itu hanya berlaku bagi kaum wanita saja karena para pria dilarang untuk berada dalam jarak yang dekat oleh Gabrielle. Sungguh, pria ini semakin hari semakin pelit saja. Greg dan Bryan sedikit merutuki perbuatannya.


"Kak Iel, jangan pelit-pelitlah. Orang pelit itu kuburannya sempit. Memangnya Kakak mau nanti saat meninggal tubuh Kakak dihimpit bumi? Mau badan Kakak menjadi gepeng seperti triplek?" tegur Elea.


Dan... akhirnya teguran Elea membuat Gabrielle merinding takut. Dengan sangat tidak rela dia terpaksa merelakan istrinya dipeluk oleh ayahnya dan juga ayah mertuanya. Sedangkan Gleen, dia cukup tahu diri dengan hanya mengucapkan kata selamat dari jauh.


Kebahagiaan ini begitu mengena di hati Elea. Meskipun masih ada beberapa orang yang belum hadir, tapi ini sudah lebih dari cukup untuknya. Segala kepedihan yang dijalani oleh Elea kini benar-benar berbuah manis. Airmatanya berganti dengan seribu kebahagiaan yang datang dari orang-orang baik yang kini tengah tertawa bersamanya. Hidup ini indah bukan jika kita mau bersabar dan bersyukur atas semua nikmat yang kita dapat. Coba saja. πŸ’œπŸ’œπŸ’œ


πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„


...🌻VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....


...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...


...🌻IG: rifani_nini...

__ADS_1


...🌻 FB: Rifani...


__ADS_2