Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Teman Kesayangan


__ADS_3

"Selamat datang, Tuan Muda, Nyonya Elea!" sapa Nun yang langsung di ikuti oleh para pelayan dan penjaga.


Elea mengangguk. Dia tersenyum kemudian menarik tangan Lusi dan membawanya masuk ke dalam rumah.


"Kak Lusi, aku membelikan oleh-oleh untuk kalian semua!."


Lusi tersenyum kikuk. Bagaimana tidak, dia yang hanya seorang pelayan tiba-tiba mendapatkan hadiah dari majikannya yang baru saja pulang dari luar negeri. Tak tahu harus bagaimana, Lusi akhirnya memutuskan untuk melihat kearah Nun. Dia takut sekali akan di anggap sebagai pelayan yang lupa diri.


"Ambil saja. Istriku sudah susah payah memilihkan hadiah untukmu dan juga teman-temanmu" ucap Gabrielle yang tanggap melihat kesungkanan di diri Lusi.


"Apa tidak apa-apa, Tuan Muda?" tanya Lusi meragu.


"Ih, Kak Lusi ini bagaimana sih. Kak Iel kan sudah bilang terima saja, jadi ya sudah" sahut Elea sembari membongkar koper. "Nah ini dia. Teman-teman, ayo pilih!."


Gabrielle hanya tersenyum lucu melihat bagaimana istrinya menyeret satu-persatu pelayan yang terlihat segan untuk datang mendekat. Tak ingin merusak kebahagiaan itu, Gabrielle akhirnya memutuskan untuk pergi ke ruang kerjanya. Dia perlu mengajak Nun dan Ares mendiskusikan sesuatu mengenai Patricia yang sudah berani mengirimkan orang untuk mencelakai Elea saat berada di Paris.


"Kau sudah meminta orang untuk mengawasi wanita itu belum, Nun?" tanya Gabrielle setelah sampai di ruangannya.


Nun berjalan mendekat. Dia kemudian mengeluarkan sebuah amplop dari dalam saku bajunya.


"Tuan Junio juga mengirimkan mata-mata untuk mengawasi Nona Patricia, Tuan Muda. Jadi kami tidak terlalu mendekatinya!."


"Junio?."


Alis Gabrielle terangkat sebelah. Dia segera mengeluarkan sesuatu yang berada di dalam amplop kemudian melihatnya.


"Aaa, jadi dia menyukai wanita ini?" ucap Gabrielle sembari terkekeh lucu. "Tidak ku sangka selera Junio adalah seorang wanita berambut blonde!."


"Tuan Junio sudah cukup lama mengamati gerak-gerik Nona Patricia. Di beberapa rekaman CCTV yang berhasil saya kumpulkan mereka sempat terlihat bersama meskipun Nona Patricia seperti menolak kehadiran Tuan Junio. Tapi Tuan Muda, semalam mereka berada di sebuah club dan sepertinya hubungan mereka mengalami kemajuan!" sahut Nun menjelaskan.


"Memangnya apa yang terjadi disana?" tanya Gabrielle penasaran.


"Kurang jelas Tuan Muda, karena mereka berada di dalam kamar mandi. Tapi setelah keluar, Tuan Junio sama sekali tidak melepaskan Nona Patricia dari dekapannya. Mungkin saja mereka sudah menjalin hubungan, atau lebih tepatnya Tuan Junio yang memaksa" jawab Nun.


"Bagaimana menurutmu, Res? Apa ini sesederhana yang di katakan oleh Nun?."

__ADS_1


"Tidak, Tuan Muda. Target Nona Patricia adalah anda, jadi mana mungkin dia beralih pada pria lain yang memiliki status di bawah anda. Kalaupun benar semalam mereka bersama, bisa saja itu hanya tipu muslihat yang di mainkan oleh Nona Patricia. Dia itu wanita yang sangat pandai memainkan keadaan, dan saya rasa Tuan Junio sudah termakan jebakannya" jawab Ares.


"Mari kita buktikan" ucap Gabrielle kemudian mengeluarkan ponsel dari balik jasnya.


Sambil menunggu panggilannya di jawab, Gabrielle melihat-lihat foto yang di ambil oleh anak buahnya. Dia menyeringai jijik.


"Halo Gabrielle, ada apa malam-malam begini menghubungiku? Apa terjadi sesuatu?."


"Tidak Junio, aku hanya ingin bertanya sesuatu padamu" jawab Gabrielle serius. "Ini tentang Patricia."


Terdengar kekehan dari balik telefon yang membuat Gabrielle tersenyum sinis. Tebakan Ares salah, Junio tak benar-benar tertarik pada wanita bermuka dua itu.


"Hahahahaha, astaga Gabrielle, kau serius menghubungiku hanya demi membahas wanita itu? Hahhhaa, sulit di percaya..."


"Sudah katakan saja ada hubungan apa antara kau dengan wanita itu? Junio, saat aku di Paris, wanita itu mengirimkan dua orang pembunuh untuk menghabisi istriku. Kau pasti bisa paham kan apa yang sedang dia inginkan?."


"Apaa???? Patricia mengirim orang untuk membunuh istrimu??? Dia sudah tidak waras rupanya. Maaf Gabrielle, untuk masalah ini aku benar-benar tidak tahu. Ya memang aku sedang mengejarnya, tapi bukan untuk menjadikannya sebagai kekasih apalagi istri. Aku yakin kau juga pasti sudah mengetahui tentang rahasiaku, bukan?."


Gabrielle menganggukkan kepala. Dia masih menunggu kelanjutan dari perkataan Junio.


Sorot mata Gabrielle terlihat sangat dingin. Mengerikan? Cih, coba saja kalau dia sampai berani menyentuh istrinya. Gabrielle bersumpah akan memotong semua jari-jari tangan Patricia kemudian memberikannya pada Sully dan anak-anaknya di danau.


"Em Gabrielle, mewakilkan Glenn aku ingin mengatakan kalau temanku itu jatuh cinta pada salah satu orangmu. Namanya Lusi, dia adalah asisten pribadi istrimu. Apa kau akan mengizinkan temanku untuk mendekati gadis itu?."


"Apa tujuan Glenn mendekati Lusi hanya untuk menjadikannya sebuah manekin saja?" sahut Gabrielle balik bertanya.


"Owh tentu saja bukan. Glenn sangat serius dengan Lusi, dia ingin menjadikannya sebagai pasangan hidup. Bagaimana Gab, boleh tidak?."


Gabrielle tak langsung menjawab pertanyaan Junio. Lusi adalah gadis baik-baik, dan juga dia adalah pelayan kesayangan istrinya. Akan sangat aneh kalau dia mengambil keputusan tanpa berbicara dulu dengan istrinya.


"Aku akan memberitahumu setelah membicarakannya dengan istriku. Terlepas istriku mengizinkan atau tidak, katakan pada Glenn jangan coba-coba berani menyentuh Lusi. Kalian berdua akan tahu akibatnya jika hal itu sampai terjadi!" ancam Gabrielle serius.


"Wettss, selow brother. Aku tidak set*lol Patricia yang berani mencari masalah denganmu. Okelah, kalau begitu aku dan Glenn akan menunggu kabar baiknya. Selamat malam!."


Panggilan terputus. Gabrielle kemudian menatap kearah Nun.

__ADS_1


"Kau tahu?."


"Iya, Tuan Muda. Kemarin saat saya meminta Lusi untuk berbelanja di supermarket Tuan Glenn datang menemuinya. Dia juga mengantarkan Lusi sampai di depan pintu gerbang rumah ini. Perlukah saya merantai kaki pelayan itu, Tuan Muda?" jawab Nun.


"Ck, kau sudah gila ya. Elea bisa menangis seharian kalau teman kesayangannya kakinya kau rantai. Kau ini bagaimana sih Nun!" sahut Gabrielle.


"Maaf Tuan Muda!."


"Begini saja Nun. Sebentar lagi kan Elea masuk ke Universitas, kau atur gadis itu untuk ikut pergi menemani Elea kesana. Masukkan dia ke kelas yang sama dengan istriku. Kalau Glenn memang benar-benar menyukai Lusi, maka ini akan membawa keuntungan untukku. Penjagaan Elea akan semakin ketat, jadi aku tidak perlu khawatir lagi akan ada yang mencelakainya!."


Ares dan Nun saling menatap. Sedikit kaget dengan keputusan Tuan Muda mereka.


"Tuan Muda, apa anda yakin ingin menyekolahkan Lusi di tempat yang sama dengan Nyonya Elea?" tanya Ares.


Gabrielle mengangguk. Dia kemudian menyalakan layar CCTV dimana istrinya masih terlihat sibuk dengan para pelayan yang sedang membongkar isi koper.


"Res, Elea itu tidak sama dengan gadis-gadis di luaran sana. Lihatlah, meskipun dia adalah Nyonya di rumah ini, dia tidak membangun batas dengan para bawahannya. Malah aku yakin dia akan semakin bersemangat lagi jika tahu kalau teman kesayangannya juga ikut bersekolah. Tenang saja, hartaku tidak akan habis hanya karena membayar biaya sekolahnya Lusi!."


"Bukan seperti itu maksud saya, Tuan Muda. Lusi hanyalah pelayan biasa di rumah ini, dia tidak pandai ilmu bela diri. Jadi bagaimana caranya dia melindungi Nyonya Elea jika ada orang yang mengganggunya saat di sekolah?."


"Ares Ares, Lusi itu mengemban tugas yang jauh lebih berat dari sekedar menjadi seorang bodyguard khusus untuk Elea. Aku sengaja melakukannya agar Lusi bisa menjauhkan para pria hidung belang yang akan mendekati istriku nanti. Kalau masalah keamanan, aku yakin kau pasti bisa mengaturnya dengan baik. Bahkan seandainya bisa aku malah berniat mengirim Levi juga, tapi sayang wanita itu tidak bersedia. Jadi ya sudah si Lusi saja. Apa kau keberatan dengan ideku?."


"Tidak, Tuan Muda" jawab Ares.


"Bagus. Kalau begitu kalian uruslah semuanya, jangan lupa juga hubungi keluarganya Lusi. Katakan pada mereka kalau Lusi akan di kontrak secara eksklusif untuk menemani majikannya. Dan kau Nun, tetap kirimkan gaji Lusi pada keluarganya karena mulai sekarang segala hal tentangnya akan menjadi tanggung jawab kalian berdua. Apa kalian mengerti?."


Ares dan Nun kompak mengangguk. Mereka kemudian segera menjalankan tugas masing-masing.


🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄


...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....


...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...


...🌻 IG: emak_rifani...

__ADS_1


...🌻 FB: Nini Lup'ss...


__ADS_2