
"Bibi, tempat apa ini?" tanya Elea sembari menatap ke sekeliling bangunan yang terlihat sangat kotor.
Yura terdiam. Ekor matanya melirik kearah samping dimana ada beberapa orang yang sedang bersembunyi di balik tembok. Wajah Yura terlihat cemas, dia takut dan juga khawatir di saat yang bersamaan.
"Bibi ini tempat apa? Kenapa membawaku kemari?" tanya Elea lagi sambil mengguncang lengan ibu sambungnya.
"Elea, apa Bibi boleh mengatakan sesuatu hal yang sangat penting padamu?.
Meski merasa aneh, Elea tetap menganggukkan kepala. Dia kemudian menatap manik mata ibu sambungnya yang terus melirik kearah samping. Sambil tersenyum Elea mengusap tangan yang sejak tadi terus menggenggam erat. Dia tahu, sangat tahu kalau ibu sambungnya tengah merasakan perang batin yang sangat hebat.
"Tidak apa-apa Bi, semuanya pasti baik-baik saja. Jangan cemas, oke?.
Yura tersentak.
"K-kau tahu tentang rencana ini?.
"Iya. Patricia kan yang memaksa Bibi untuk membawaku ke tempat ini?.
"Maafkan Bibi, Elea. Bibi sangat bingung, Bibi tidak tahu mana di antara kalian yang harus lebih dulu di selamatkan. Kau dan Patricia adalah putri Bibi, jadi Bibi tidak bisa memilih salah satu di antara kalian. Maafkan Bibi terpaksa membawamu ke tempat seperti ini, sayang. Bibi sudah tidak ada pilihan!.
Elea terdiam. Dia kemudian mengajak ibu sambungnya untuk melangkah menuju pintu belakang. Hingga pada akhirnya...
Dduuuaaaaarrrrrrrrr
Lusi dan penjaga yang saat itu tengah mengendap-endap ingin mengintip ke dalam bangunan kosong itu terpental ke belakang hingga menabrak pepohonan. Tubuh keduanya terlempar cukup jauh dari jarak bangunan yang baru saja meledak.
"Tidak, tidak mungkin. NYONYAAAAAAAAAA.....!" teriak Lusi histeris melihat bangunan yang mulai di lalap api.
Tanpa mempedulikan kepalanya yang terluka, Lusi dengan langkah terseok-seok berjalan masuk ke dalam bangunan. Sedangkan si penjaga saat itu sudah tidak sadarkan diri karena kepalanya terluka parah akibat berbenturan dengan batang pohon setelah terpental akibat ledakan tersebut.
"Uhukkkk-uhuukkkkk... Nyonya Elea, kau dimana Nyonya. Nyonyaaaa!" teriak Lusi sambil terbatuk-batuk karena menghirup asap pekat yang mengepul di dalam bangunan.
Saking takutnya Lusi memikirkan keadaan nyonya-nya, dia akhirnya menangis histeris. Dia jatuh terduduk ketika kakinya tersandung sebuah benda yang tergeletak di lantai. Meski pandangannya sedikit mengabur, Lusi bisa melihat kalau benda yang membuatnya terjatuh adalah potongan kaki yang tinggal telapaknya saja. Sontak saja hal itu membuat Lusi tergugu antara syok dan juga tidak percaya.
"T-tidak mungkin. Ny-Nyonya tidak mungkin mati. Tidak, ini pasti kaki orang lain, ini bukan kaki Nyonya Elea. Bukan... Hiksssss Nyonya, kau dimana. Nyonyaaaa...!.
__ADS_1
Menolak untuk meyakini kalau itu adalah anggota tubuh milik nyonya-nya, Lusi kembali bangkit berdiri. Namun baru saja dia hendak melangkah, sebuah kayu yang berlumuran api jatuh tepat mengenai punggungnya.
Bugghhhhh
"Aaarrgghhhhhhh..!.
Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Baru saja punggung Lusi tertimpa kayu, sekarang dia kembali tertimpa reruntuhan bangunan. Kali ini bukan punggungnya yang terluka, melainkan kepalanya. Tak kuat menahan rasa sakit Lusi akhirnya jatuh terkapar di lantai. Sebelum Lusi pingsan, dia masih sempat menggumamkan nama nyonya-nya. Meminta maaf karena dirinya gagal menjalankan tugas sebagai seorang pengawal.
Sementara itu di luar bangunan, Elea dan Yura terkejut ketika mendapati seorang pria tengah terkapar dengan kepala bersimbah darah. Segera mereka datang mendekat untuk melihat apakah pria itu adalah salah satu anak buahnya Patricia atau bukan.
"Astaga, ini kan Paman penjaga yang tadi ada di rumah?!" pekik Elea kaget setelah membersihan darah yang menutupi wajah pria tersebut. "Apa yang terjadi padanya? Kenapa Paman bisa ada disini?.
Mungkin karena mendengar suara Elea yang sedang panik, mata penjaga itu perlahan-lahan terbuka. Dia tak kalah kaget melihat nyonya-nya dalam kondisi baik-baik saja.
"Ny-Nyonya, anda baik-baik saja?.
"Iya Paman aku baik-baik saja. Paman, kenapa Paman ada disini dan kenapa Paman bisa terluka begini?" cecar Elea khawatir.
"Elea, sebaiknya kita segera membawanya pergi ke rumah sakit dulu. Bibi takut dia kehabisan darah" ucap Yura yang sudah pucat pasi melihat banyaknya darah yang mengotori wajah si penjaga.
"T-tunggu dulu, Nyonya. Lusi, Lusi... dia ada di dalam bangunan. Dia tadi sedang mencari Nyonya."
"Apaaaa!!!!" pekik Elea dan Yura berbarengan.
"Astaga, bagaimana ini Bi? Bangunan itu sudah mau runtuh dan Kak Lusi masih terjebak di dalam? Apa yang harus aku lakukan?" tanya Elea panik.
"Bibi Yura, tolong pegangi Paman ini dulu, aku harus segera menyusul Kak Lusi dan membawanya keluar sebelum bangunan itu benar-benar runtuh!.
"Elea, kau jangan gila! Sebentar lagi bangunnya akan hancur. Kau bisa celaka nanti!" cegah Yura sambil memegangi tangan anak sambungnya.
"Tapi Bi, Kak Lusi ada di dalam. Aku tidak mungkin membiarkan mati konyol disana!.
"Nyonya, tolong jangan membahayakan keselamatan anda sendiri. Kami semua bisa mati di bunuh Tuan Muda jika sampai terjadi sesuatu pada anda. Le-lebih baik Nyonya menghubungi Tuan Ares saja, saya-saya sudah tidak kuat lagi Nyo...
Belum sempat penjaga itu menyelesaikan perkataannya, dia kembali jatuh pingsan. Yura yang kaget melihat tubuh si penjaga hampir tumbang ke tanah berniat memapahnya. Tapi karena tidak hati-hati, kaki Yura keseleo setelah menginjak material bangunan yang berserakan disana. Alhasil, dia beserta Elea dan si penjaga jatuh terjerembab ke tanah. Yura meringis sambil memegangi kakinya yang terkilir.
__ADS_1
"Bibi, Bibi baik-baik saja?" tanya Elea kepanikan.
"Hanya terkilir saja, Elea. Elea, Bibi mohon tolong jangan pergi kesana. Bibi tidak mau kalau kau sampai celaka Nak" jawab Yura kembali membujuk anak sambungnya supaya tidak jadi masuk ke dalam bangunan yang tinggal sedikit lagi akan segera hancur.
"Tapi Kak Lusi ada di dalam, Bi. Dia pasti sedang menangis sambil mencariku. Aku tidak mau terjadi sesuatu padanya!.
Yura terdiam bingung. Dia memikirkan cara agar anak sambungnya tak perlu masuk untuk menyusul Lusi yang sedang terjebak di dalam bangunan.
"Ponsel, cepat hubungi Gabrielle dan minta dia untuk datang kemari. Ponsel Bibi ada di dal.....
Barulah Yura ingat kalau tas milik mereka berdua berada di dalam mobil lain yang mereka tinggalkan di persimpangan jalan. Tak kehabisan ide, Yura segera merogoh baju yang di kenakan oleh penjaga. Namun dia harus kembali menelan kekecewaan karena ternyata ponsel milik penjaga ini tidak bisa menyala karena bagian luarnya sudah retak disana sini. Mungkin ini terjadi akibat ledakan yang membuatnya terluka seperti ini. Sambil menahan tangis, Yura beralih menatap kearah anak sambungnya.
"Eleanor, bagaimana ini Nak? Kita tidak bisa menghubungi Gabrielle!.
"Jangan khawatir Bi. Sekarang Bibi tunggu disini, aku baru ingat kalau Kak Iel sudah menempatkan beberapa penjaga tak jauh dari sini. Aku pergi dulu!" ucap Elea kemudian bergegas pergi dari sana.
Sambil harap-harap cemas menantikan anak sambungnya kembali datang, Yura mencoba membangunkan si penjaga. Sesekali dia juga menatap kearah bangunan, berharap kalau Lusi akan keluar dari sana dalam kondisi baik-baik saja.
Saat Yura sedang menatap kobaran api yang kian membesar, tiba-tiba saja ada yang menarik rambutnya dari arah belakang. Dia terpekik, kemudian menjerit kesakitan ketika sebuah tinju mendarat di wajahnya.
"Aaaakkhhh, a-apa yang kau lakukan? S-siapa kau?" lirih Yura sambil menatap seorang pria yang sedang menatapnya dengan sorot mata merah menyala.
"Beraninya kau!!!! K*parat!!!.
Kesadaran Yura akhirnya menghilang saat pria ini menghajarnya dengan membabi buta. Mungkinkah pria ini adalah orang suruhan Patricia? Entahlah, Yura tak berani berujar. Satu yang dia harapkan, semoga apa yang dia lakukan bisa menyelesaikan semua permasalahan yang ada. Biarlah dia yang menanggung semuanya, bahkan matipun dia rela asalkan kedua putrinya tidak ada yang celaka.
'Bryan, tolong maafkan aku. Hanya ini yang bisa aku lakukan untuk melindungi kedua putri kita. Jika aku mati, tolong jangan membenciku karena ketidakjujuran ini. Berbahagialah sayang!.
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
...🌻 IG: emak_rifani...
__ADS_1
...🌻 FB: Nini Lup'ss...