
Jackson dengan sangat erat menggenggam tangan Elea saat mereka memasuki halaman gedung rumah sakit. Hari ini dia akan kembali melakukan pemeriksaan pada ginjal adiknya, karena Jackson ingin secepatnya melakukan operasi untuk memenuhi sumpahnya di masalalu.
"Dokter, apa aku boleh bertanya sesuatu padamu?" tanya Elea.
"Bertanya apa?.
Dada Jackson berdebar.
"Bagaimana kalau kau menikah dengan Kayo, anaknya Bibi Abigail?.
Langkah Jackson langsung terhenti. Keningnya mengerut heran.
"Kayo?.
"Iya, Kayo" jawab Elea. "Dia cantik, pintar, dan juga sangat baik. Dokter pasti tidak akan menyesal jika menikah dengannya."
"Elea, aku tidak tertarik untuk menjalin hubungan dengan wanita mana pun. Karena sekarang aku hanya ingin fokus merawatmu dulu, kau sedang butuh aku saat ini" ucap Jackson.
Mata Elea mengerling nakal.
"Dasar genit!.
"Hehe... Tapi dokter, di masa depan aku melihatmu menikah dengan Kayo. Kalian berdua duduk di pelaminan yang sangat indah. Di sana semua orang terlihat bahagia, semuanya tertawa lepas. Tidakkah kau ingin mewujudkan apa yang aku impikan? Kayo adalah gadis yang sangat cocok untukmu, dokter. Ayo menikahlah dengannya!" desak Elea sambil menusuk-nusuk lengan dokter Jackson.
'Apa iya Elea melihat aku menikah dengan Kayo? Tapi aku sama sekali tidak tertarik padanya, aku bahkan tidak pernah menginginkan wanita mana pun selama ini. Sekarang aku hanya ingin menghabiskan sisa umurku untuk membahagiakannmu, Zhou'er. Aku tidak ingin ada wanita lain selain dirimu di hidupku.'
Saat Jackson tengah termenung memikirkan ucapan Elea, dari arah belakang muncul Levi yang sedang berjalan berjingkat-jingkat.
"Doorrrr!.
Levi tertawa. Namun sedetik kemudian tawanya langsung menghilang karena baik Elea mau pun Jackson tidak ada yang terkejut sama sekali. Malah kedua makhluk itu menatap heran kearahnya. Membuat Levi jadi kikuk sendiri.
"Apa Kak Levi baik-baik saja?.
Pertanyaan Elea sukses membuat Levi naik darah. Sungguh sangat tidak berperikemanusiaan.
"Lalu kau ingin aku bagaimana, Elea?.
"Tadi kan Kak Levi gagal membuat kami terkejut, hati Kak Levi pasti sakit sekali. Iya kan?.
Seandainya saja bisa dilihat, saat ini di kedua telinga Levi sudah keluar asap yang sangat tebal. Bisa-bisanya Elea menyebutkan sesuatu yang jelas-jelas sudah gagal dia lakukan? Sungguh, Levi benar-benar sangat ingin merobek mulut teman kecilnya ini.
__ADS_1
"Elea..." panggil Levi sambil menarik nafas berat.
"Ya Kak, ada apa?.
Mata bening Elea menatap polos ke arah Levi yang sedang bertarung dengan emosinya. Dalam hati, Elea merasa sangat lucu menyaksikan Levi yang lagi-lagi menjadi korban kepolosan mulutnya. Suatu hiburan yang selalu menjadi favoritnya Elea.
"Bisa tidak kalau sedang bicara jangan melukai perasaan orang lain? Kau sadar tidak kalau kata-katamu tadi sudah membuatku malu!" omel Levi kemudian mengipasi wajahnya yang terasa panas.
Emosinya sangat membakar jiwa. Elea seperti titisan iblis neraka yang lahir untuk membakar jiwa para manusia sepertinya. Sangat sialan.
"Malu? Untuk apa Kak Levi merasa malu? Kakak kan sudah memakai baju, apa yang harus di malukan?.
"Yaakkkkkk!!!!!" jerit Levi frustasi. "Oh astaga, aku bisa mati kalau seperti ini terus. Aarrghhhhh Elea, kau sebenarnya paham tidak sih aku bicara apa hah!.
"Jangan meneriaki Elea. Dia sedang sakit dan sebentar lagi akan melakukan pengecekan ulang. Kau jangan membuat moodnya rusak!" tegur Jackson tak terima adiknya di teriaki oleh wanita yang dulu pernah dia sakiti.
"Cihhh, tidak usah sok peduli pada Elea kau Jack-Gal. Sudah lupa ya bagaimana dulu kau menyiksanya? Dan ya, lihat wajahku baik-baik!" ucap Levi kemudian mendekatkan wajahnya hingga berada dalam jarak yang cukup dekat dengan si mantan penjahat ini. "Lihat, ingat tidak kalau kau dulu pernah menghajarku dan mematahkan salah satu tanganku? Ingat tidak!.
Jackson mendengus. Dia kemudian mendorong wajah Levi dari depan wajahnya.
"Nafasmu bau. Jauh-jauh dariku!.
"Ap-apa???.
"Dasar brengsek kau Jack-Gal! Siapa bilang nafasku bau. Aku ini selalu rutin melakukan pembersihan di dokter gigi. Jadi kau jangan sembarangan menuduhku ya!" amuk Levi tak terima.
Jackson acuh. Dia lebih tertarik memperhatikan adiknya yang sedang tertawa lepas tanpa beban. Sudut bibir Jackson tertarik keatas, dia senang melihat kebahagiaan di wajah adiknya.
'Elea, teruslah tersenyum seperti ini. Kalau dengan menghina orang itu bisa membuatmu bahagia, maka aku rela menghina semua orang yang ada di dunia ini demi-mu. Kau adalah oksigenku, Elea. Hanya kebahagiaanmu yang menjadi tujuanku hidup sekarang ini!.
"Hahahahaha... Kak Levi, apa benar nafasmu bau? Kau tidak pernah gosok gigi ya? Hahahahaa...." ledek Elea.
Dada Levi benar-benar memburu akibat ulah kedua manusia yang ada di depannya. Namun tanpa ada yang menyadari, Levi sebenarnya sedang memperhatikan wajah Elea dengan seksama. Semalaman dia tak bisa tidur karena terus memikirkan keadaan teman kecilnya yang tiba-tiba mengidap penyakit bocor ginjal. Di tambah lagi perbedaan hasil tes milik Reinhard dan Jackson, membuat Levi semakin frustasi memikirkan apa yang sebenarnya terjadi.
'Elea, sebenarnya antara kau dan Jackson itu ada hubungan apa? Kenapa aku merasa kalau hubungan kalian itu bukan hubungan yang biasa? Rahasia apa yang sedang kau sembunyikan dariku? Tolong baik-baik saja, Elea. Aku takut.'
"Sudah puas tertawanya?" sindir Levi jengkel.
"Hehehe, sudah Kak. Kau benar-benar sangat lucu, seperti badut" sahut Elea.
Levi mendengus kasar. Dia kemudian memilih untuk tidak meladeni kegilaan Elea. Darahnya sudah naik-turun tak beraturan yang membuat pandangannya menjadi berkunang-kunang.
__ADS_1
"Dokter Jackson, kenapa rasanya aku lelah sekali. Kakiku juga terasa pegal. Kenapa ya?" keluh Elea sambil menyeka keringat yang mengucur deras di wajahnya.
Sebenarnya sejak pagi tadi sudah ada yang sakit di tubuh Elea. Akan tetapi dia berusaha menahannya. Elea tak ingin membuat kepanikan di diri semua orang. Dia ingin semua berjalan normal seperti biasa tanpa ada yang menyadari kalau dirinya sedang sakit. Tapi sekarang Elea benar-benar sudah tidak kuat menopang berat tubuhnya lagi. Kakinya seperti di tusuk-tusuk duri, dan rasanya benar-benar sangat menyakitkan.
"Levi, tolong hubungi Reinhard dan minta dia untuk menyeterilkan tempat pemeriksaan. Elea harus segera melakukan check-up ulang saat ini juga!" ucap Jackson panik kemudian segera menggendong tubuh adiknya yang sudah sedingin es.
"Oke, tunggu sebentar" sahut Levi kemudian segera menghubungi Reinhard untuk menyampaikan apa yang di katakan oleh Jackson.
Elea segera merebahkan kepalanya ke leher dokter Jackson saat mereka akan masuk ke dalam lift. Ada rasa sakit yang sangat menusuk di bagian perutnya, yang mana hal itu membuat nafas Elea tersengal. Namun sebisa mungkin Elea berusaha untuk menjaga nafasnya agar tetap normal. Dia tak mau membuat Levi dan juga dokter Jackson menjadi khawatir padanya.
"Jangan di tahan, Elea. Menangis saja kalau itu sangat menyakitkan!" ucap Jackson tak tega.
"Aku bukan bayi yang akan menangis saat sedang kesakitan, dokter" sahut Elea lirih. "Aku sudah dewasa sekarang."
"Orang dewasa pun tak akan berdosa jika menangis, sayang" sambung Jackson lagi. "Menangislah!.
"Tidak mau, nanti Kak Levi mengejekku."
Levi diam tak merespon saat namanya di sebut. Matanya sibuk melihat kearah lain, dia tak mau melihat wajah pucat teman kecilnya yang sudah berwarna putih seperti kertas.
"Kak Levi, aku besok menjadi mahasiswi. Kau mau ikut masuk ke Universitas tidak?" tanya Elea pelan.
"Tidak!" jawab Levi singkat.
"Kenapa?.
"Aku sibuk memeras uang suamimu."
"Dasar pelakor" ejek Elea kemudian tertawa lirih.
Levi sudah tidak bisa bicara lagi. Sementara Jackson, pria itu juga tidak bisa berkata apa-apa lagi seperti Levi. Lidahnya kelu, dan dadanya sangat sakit melihat kondisi adiknya yang mulai melemah di gendongannya.
'Yang kuat, Zhou'er. Gege yakin kau pasti sembuh.'
πππππππππππππππππ
...π»VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
...π» IG: rifani_nini...
__ADS_1
...π» FB: Rifani...