Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Neraka Dunia


__ADS_3

"Awwwhhhhhh.... Perih."


Seorang wanita berambut blonde yang baru saja terbangun dari tidurnya nampak meringis lirih sembari menyentuh bagian intimnya dari luar selimut. Patricia, wanita malang itu langsung menangis histeris begitu teringat kalau dirinya sudah tak suci lagi. Ya, dia mana mungkin lupa dengan kejadian buruk yang baru saja menimpanya dimana dia di perkosa oleh Junio di hadapan Gleen. Hidup Patricia hancur, dia sudah tidak memiliki harapan apapun lagi setelah ini.


"Hikkssss.. Ibu" isak Patricia lirih.


Patricia tak pernah menduga kalau niatnya yang ingin menghabisi ibunya dan bersama Elea malah harus berakhir setragis ini. Kini rasa sesal mulai menyeruak setelah dirinya di perlakukan dengan begini hina oleh seorang pria. Pada siapa lagi dia akan bersandar sekarang. Ibunya pasti sudah mati di dalam ledakan bom yang dia persiapkan di sebuah bangunan kosong.


"Hikkssss, Ibu. Maafkan aku Bu, aku salah. Aku tidak sanggup hidup terhina seperti ini. Ibu tolong aku Bu, hiksss."


Sebanyak apapun airmata yang menetes dari mata Patricia tidak akan mampu membangkitkan ibunya dari kematian. Sambil meratapi kesialan yang terjadi dalam hidupnya, perlahan-lahan Patricia bergerak ke tepian ranjang. Dia berniat pergi ke kamar mandi, ingin membersihkan seluruh bagian tubuhnya yang sudah di sentuh secara paksa oleh Junio.


Brruugghhhhh


"Aawwwhhh, perih. Hiksss..."


Junio yang saat itu berdiri menyenderkan di dekat pintu sama sekali tidak bergeming melihat Patricia yang jatuh tertelungkup di lantai. Dia kesal, sangat kesal karena dirinya gagal menjadikan Patricia sebagai manekin. Semalam, saat dia dan Gleen baru akan melumuri tubuh Patricia dengan cairan khusus untuk mayat, tiba-tiba saja Gabrielle mengirimkan pesan padanya. Pria itu meminta Junio mengurungkan niat untuk menghabisi Patricia karena istrinya masih menginginkan wanita ini agar tetap hidup. Jangan di tanya lagi bagaimana emosinya dia saat itu, tapi Junio dan Gleen tidak berani berbuat banyak. Dengan sangat tidak rela Junio akhirnya membatalkan keinginannya, bahkan dia harus rela semalaman merasa sangat tersiksa akibat obsesinya yang tidak terpenuhi.


Saat Junio sedang menderita dalam obsesi gilanya, dia kembali mendapat pesan dari Gabrielle. Junio di minta untuk tetap menyembunyikan Patricia dari semua orang karena Gabrielle sudah menggantikannya dengan orang yang baru. Kabar ini sedikit banyak membuat Junio merasa senang karena dalam kurun waktu yang tidak bisa di tentukan wanita ini akan terus berada di bawah kuasanya. Patricia akan menjadi mainan baru dan juga alat pemuas **** yang bisa dia gunakan sewaktu-waktu. Membayangkan hal itu hati Junio jadi sedikit menghangat. Dia hanya tinggal menunggu waktu dimana Gabrielle akan memerintahkannya untuk menghabisi wanita ini.


"Hiksss Ibu, tolong aku Bu. Aku kotor, aku sudah tidak suci lagi" isak Patricia sambil menyandarkan tubuh ke samping ranjang.


Sambil menangis tersedu-sedu Patricia mengenang kejahatan yang sudah dia lakukan. Han-Yura Foster, satu-satunya orang yang begitu tulus mau mempedulikannya kini sudah tidak ada lagi di dunia ini. Ibunya meninggal akibat keserakahan dan juga kebenciannya sendiri. Kini Patricia baru menyadari betapa dia sudah sangat salah mengabaikan peringatan dari ibunya. Seandainya saja dia mau menurut, dia pasti tidak akan kehilangan mahkotanya di tangan seorang pria gila bernama Morigan Junio. Mengingat kembali pelecehan yang terjadi semalam membuat dada Patricia terasa sangat sesak. Belum lagi dengan kesakitan yang harus dia rasakan sekarang, semakin membuatnya merasa sangat bersalah terhadap ibunya.


"Menangis sampai mati pun keperawananmu tidak akan bisa kembali, Patricia!.


Junio akhirnya memutuskan untuk berbicara dengan Patricia. Ada segilintir rasa iba, tapi bukan berarti dia ingin menghibur wanita ini. Junio masih kesal karena dia gagal menjadikan Patricia sebagai koleksi manekin di rumahnya, jadi dia ingin sedikit berbincang dengan wanita yang sudah resmi menjadi tahanan di rumahnya.

__ADS_1


"Mau apalagi kau hah! Belum cukup kau menodai tubuhku, iya!" amuk Patricia sembari menutupi tubuh polosnya dengan selimut. "Menjauh dariku. Aku jijik melihat wajahmu, Junio!.


"Ini rumahku, kenapa harus menjauh?" tanya Junio santai kemudian menjambak rambut Patricia yang semakin beringsut menjauh. "Sayang sekali Gabrielle memintaku untuk tidak membunuhmu. Padahal tinggal sedikit lagi kau akan menjadi penghias rumahku bersama para wanita cantik yang ada di sana. Sekarang kau seharusnya sudah menjadi manekin yang bisa memuaskan obesesiku, sayang. Ck, sungguh sialan!.


Gluuukkk


Tubuh Patricia membatu. Dia dengan susah payah menelan ludah begitu Junio menyebut jika dirinya akan di jadikan sebuah patung manekin. Seketika bulu kuduk Patricia berdiri, dia tidak bisa membayangkan akan seperti apa jadinya kalau dia harus mati dengan cara seperti itu. Sungguh, pria ini tidak hanya gila, tapi psikopat.


"K-k-kau jangan macam-macam padaku, Junio. Aku-aku...


"Aku apa hah!!!.


Plaaaakkkkkk


"Kau pikir kau itu siapa, Patricia! Sudah tidak ada orang yang akan mempedulikanmu lagi setelah apa yang kau perbuat pada istrinya Gabrielle dan juga Nyonya Yura. Kau sekarang hanyalah kuman yang sangat di benci oleh semua orang, dasar j*lang tidak tahu diri. Cuiihhhhh!" bentak Junio kemudian meludahi wajah Patricia yang baru saja di tamparnya.


"Apa arti ekspresi ini sayangku?" tanya Junio sembari mencengkeram dagu runcing milik Patricia. "Apa kau berfikir kalau istrinya Gabrielle sudah meninggal, iya? Kalau benar seperti itu maka kau salah besar, Patricia. Istrinya Gabrielle baik-baik saja, bahkan sehelai rambutnya pun tidak berhasil kau sentuh. Jebakan yang kau buat untuk menghabisinya berbalik mengenai ibumu sendiri. Kau sudah salah menargetkan orang karena Elea tidak sebodoh yang kau pikirkan."


"J-jadi gadis sialan itu tidak mati?.


Patricia syok. Matanya membelalak lebar begitu mengetahui kenyataan yang sangat mengguncang jiwanya. Gadis yang sangat ingin dia singkirkan ternyata masih hidup. Ini sungguh di luar dugaan.


"Junio, kau pasti bohong kan? Kau hanya ingin menekankanku agar mau patuh padamu saja kan?" cecar Patricia tak percaya.


Junio terkekeh.


"Patricia-Patricia, sebenarnya kau itu bukan wanita yang bodoh. Coba kau pikir, bagaimana caranya Elea bisa celaka kalau di belakangnya saja ada Gabrielle dan juga Nyonya Liona? Siapa manusia di negara ini yang mampu melawan kekuasaan dan juga kecerdasan orang-orang dari Keluarga Ma itu hah! Hanya Tuhan yang mampu menjatuhkan keluarga itu, Patricia. Sedangkan kau, kau itu hanya butiran debu yang tidak ada artinya di mata mereka. Khayalanmu terlalu tinggi untuk bisa mencelakai Elea meskipun hanya bayangannya saja. Kau seharusnya sadar kalau Elea bukanlah orang yang bisa sembarangan kau sentuh, tapi kegilaanmu akan Gabrielle membuatmu melupakan fakta tersebut. Bahkan kegilaanmu itu sudah menutup mata hatimu hingga tega mencelakai wanita yang selama ini sudah membesarkan dan merawatmu seperti anak kandungnya sendiri. Tidakkah kau merasa kalau kau itu sangat bodoh dan tidak berguna, Patricia Young, hm?.

__ADS_1


Junio dengan kasar menghempas wajah Patricia yang sedang tertegun. Dia menyeringai, sangat puas melihat wanita jahat ini menderita karena kejahatannya sendiri.


"A-apakah Ibuku benar-benar meninggal, hikkssss...?" tanya Patricia sambil terisak.


"Bagaimana caranya Ibumu bisa selamat kalau bangunannya saja hancur lebur setelah di ledakkan? Kau pikir Ibumu mempunyai nyawa cadangan apa!" sahut Junio sengaja berbohong.


Tangis Patricia semakin pecah. Semuanya sudah hilang, tidak ada lagi yang tersisa dalam hidupnya. Frustasi memikirkan kehidupannya yang menyedihkan, dengan cepat Patricia memeluk kedua kaki Junio yang hendak pergi. Dia lalu menatapnya dengan berderai airmata.


"Tolong bunuh aku saja, Junio. Aku-aku tidak mau hidup lagi!.


Junio tersenyum. Dia melepaskan pegangan tangan Patricia kemudian duduk berjongkok di sebelahnya.


"Bunuh? Hahahahahhaaa... Sayangku, kau tenang saja. Aku pastikan setelah ini kau akan mati di tanganku. Tapi...


"T-tapi apa?.


"Tapi setelah aku puas menikmati tubuhmu dulu tentunya. Sayang sekali bukan jika barang bagus sepertimu tidak di gunakan dengan sebaik-baiknya? Lumayanlah daripada aku harus membayar wanita malam untuk menghangatkan malam-malamku. Jadi sayangku, terimalah profesi barumu sekarang ya? Nanti akan ada pelayan yang datang untuk membawakan lusinan lingerie yang akan kau kenakan setiap kali menyambutku pulang. Oke??.


Inikah yang di namakan neraka dunia??? Siapa yang lebih kejam di sini? Patricia dengan keserakahannya, atau Junio dengan kegilaannya?? Hanya Tuhan lah yang tahu.


🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄


...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....


...LIKE, COMMENT , DAN RATE BINTANG LIMA...


...🌻 IG: emak_rifani...

__ADS_1


...🌻 FB: Rifani...


__ADS_2