Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Makhluk Transparan


__ADS_3

Di Group Ma, Gabrielle tengah sibuk memeriksa berkas pekerjaan. Keningnya nampak berkerut, sesekali dia juga berdecak.


"Sebenarnya mereka ini bisa bekerja tidak sih. Membuat laporan saja tidak becus" omel Gabrielle sambil mengetuk-ketukkan pena keatas meja.


Gabrielle menghela nafas. Benar-benar sangat membosankan bekerja tanpa kehadiran Elea di sini. Gabrielle merasa ruangan ini sangat jelek, engap, dan juga kotor. Padahal jika di perhatikan dengan baik tidak ada setitik debu pun yang berani menempel di ruangan miliknya. Ini semua bisa terjadi karena candunya tidak ada di sana. Itulah kenapa Gabrielle jadi uring-uringan sendiri seperti sekarang.


"Astaga Elea, kau benar-benar virus yang bisa merusak kinerja syaraf otak. Aku sama sekali tidak berfikir jernih sejak tadi, pikiranku terus saja tertuju padamu. Apa yang sedang kau lakukan sekarang, sayang? Aku merindukanmu" gumam Gabrielle kemudian menyender di kursi kebesarannya sambil memejamkan mata.


Sudut bibir Gabrielle tertarik keatas saat dia teringat dengan kegiatan panas yang terjadi pagi tadi. Suara rengekan Elea yang memohon untuk berhenti membuat perut Gabrielle seperti tergelitik. Bagaimana tidak, istrinya itu memohon dengan cara yang tidak biasa. Biasalah, kalian pasti tahu bukan seperti apa laknatnya mulut Elea? 😂😂


"Kak Iel, sepertinya anumu kerasukan iblis. Sejak tadi dia terus bergerak tak mau berhenti. Ayo suruh dia untuk diam dulu, rasanya rahim di perutku seperti pindah ke punggung."


"Hahahaaaa..... Bagaimana ceritanya juniorku bisa membuat rahim sampai berpindah ke punggung? Ya Tuhan Elea, darimana kau bisa mendapatkan kata-kata seperti itu sayang? Astaga" ucap Gabrielle sambil terus tertawa.


Di saat Gabrielle tengah mengenang kelucuan istrinya, pintu ruangan di ketuk. Dia segera menormalkan ekpresinya sebelum meminta orang itu untuk masuk.


"Masuk!.


Ares langsung menundukkan kepala begitu masuk ke dalam ruangan. Lalu di belakangnya muncul Gleen dan juga Junio.


"Sepertinya aku tidak memiliki janji temu dengan kalian berdua" ucap Gabrielle begitu tamunya duduk di sofa.


Ares melangkah ke samping meja Tuan Muda-nya. Dia lalu membisikkan sesuatu, setelahnya Ares kembali keluar.


"Res, lain kali jika mau berciuman carilah tempat yang agak gelap sedikit. Bisa bahaya kalau keganasanmu terlihat oleh para pemburu berita. Kan tidak lucu kalau fotomu dengan Cira tersebar luas di internet" ledek Gabrielle.


Ares berbalik. Dia tidak merasa malu sedikitpun meski ulah mesumnya di ketahui oleh Tuan Muda-nya.


"Saya malah berencana ingin memajang foto ciuman kami di sepanjang jalan yang ada di kota ini, Tuan Muda. Supaya semua orang tahu kalau sekarang saya sudah memiliki calon istri" sahut Ares dengan bangga.


Gabrielle terkekeh. Dia kemudian menulis sesuatu di sebuah kertas lalu memberikannya pada Ares.


"Atur double date untuk kita berempat di atas kapal pesiar. Dan aku ingin itu menjadi moment yang sangat romantis."


"Baik, Tuan Muda. Ada lagi?.


"Itu saja, selebihnya biar kita urus masing-masing. Kau tidak akan mungkin membiarkan aku memilihkan pakaian dalam untuk Cira kan?" ledek Gabrielle sambil tersenyum miring.


"Dan saya rasa anda juga tidak akan mungkin membiarkan saya memilih pakaian dalam untuk Nyonya Elea, bukan?" sahut Ares balas meledek.


Wajah Gabrielle langsung menghitam. Emosinya naik ke ubun-ubun.

__ADS_1


"Enyah kau dari hadapanku sekarang juga!.


"Baik, Tuan Muda. Saya permisi" pamit Ares sambil tersenyum puas.


Sebelum Ares menutup pintu, Gabrielle kembali memanggilnya.


"Res..!.


"Ya, Tuan Muda?.


"Aku turut bahagia untuk kesuksesanmu melamar Cira. Selamat, aku dan Elea sangat menantikan pernikahan kalian berdua" ucap Gabrielle memberi selamat.


Ares tersenyum.


"Terima kasih banyak, Tuan Muda. Do'akan saja semoga hubungan kami bisa segera naik ke pelaminan. Kalau begitu saya permisi."


Gabrielle mengangguk. Dia lalu melihat kearah dua tamunya yang sedang duduk sambil mendengarkan percakapannya dengan Ares.


"Sudah puas mengupingnya?.


"Lumayan" jawab Junio. "Wanita mana yang beruntung mendapatkan cintanya Ares, Gab?.


"Kenapa memangnya? Kau penasaran?.


Gabrielle mengangguk.


"Apa kau berniat mengincarnya untuk di jadikan manekin?.


"Akal sehatku masih cukup berguna untuk tidak mencari masalah dengan orang-orang terdekatmu, Gab" jawab Junio sambil memutar bola matanya, jengah.


"Sebenarnya kau sama sekali tidak cocok menyandang gelar sebagai seorang pembisnis, Jun. Kau itu lebih cocok di juluki sebagai pembuat patung manekin" ejek Gabrielle dengan sengaja.


"Sialan kau!.


Junio dan Gabrielle sama-sama tertawa. Gleen yang bibirnya terluka hanya bisa tersenyum kecil.


"Kenapa diam saja, Gleen? Apa Lusi benar-benar sudah membuangmu?" tanya Gabrielle penasaran.


"Sembarangan!" jawab Gleen kesal. "Tidak akan kubiarkan Lusi pergi meninggalkan aku asal kau tahu. Dia milikku, selamanya akan tetap seperti itu."


"Oh ya? Percaya diri sekali kau."

__ADS_1


"Itu harus. Apalagi menghadapi pasangan gila seperti kau dan Elea. Aku harus tahan banting untuk mempertahankan Lusi."


Gabrielle terkekeh.


"Ada tujuan apa kalian berdua datang kemari? Aku yakin ini tidak ada hubungannya dengan pekerjaan."


Junio melirik kearah Gleen. Sebenarnya dia ingin tahu penyebab kenapa wajah sahabatnya bisa babak belur begini, tapi sepertinya waktunya kurang tepat.


"Aku ingin meminta izin darimu untuk memboyong keluarga Lusi kemari" jawab Gleen dengan raut wajah serius. "Aku juga ingin memberitahu kalau aku akan secepatnya mengajak Lusi menikah."


Mendengar perkataan Gleen, Gabrielle akhirnya berpindah duduk ke sofa. Dia menatap dengan seksama kearah pria yang baru saja menyampaikan keinginannya untuk meminang salah satu orang terdekat Elea.


"Lusi adalah milik Elea. Jadi aku rasa kau perlu untuk membujuknya dulu, Gleen. Lagipula tinggal hitungan hari lagi mereka akan masuk ke Universitas. Apa tidak sebaiknya kau tunda dulu keinginanmu untuk menikahinya?.


"Justru karena itulah aku ingin cepat-cepat menikahinya, Gab. Memangnya kau lupa ya kalau di Universitas itu banyak sekali pria hidung belang yang berkeliaran? Bagaimana kalau pria-pria itu sampai menggoda Lusi di saat aku tidak ada di sana? Posisiku bisa terancam, Gab. Aku tidak mau ada yang menggeserku dari hatinya Lusi" jawab Gleen menyatakan kekhawatirannya.


Alarm tanda bahaya langsung menyala begitu Gabrielle mendengar alasan Gleen yang ingin secepatnya menikahi Lusi. Benar juga, Universitas adalah tempat berkumpulnya pria-pria segar yang seumuran dengan Lusi dan juga Elea. Kalau begini ceritanya bukan hanya posisi Gleen saja yang terancam, tapi posisinya juga ikut terancam. Di tambah lagi Elea memiliki daya tarik yang sangat luar biasa, bisa di pastikan istrinya itu akan langsung menjadi bunga kampus yang akan menjadi incaran semua pria yang ada di sana. Memikirkan hal itu membuat Gabrielle menjadi gusar, dia takut istrinya akan berpaling.


"Astaga kalian berdua ini. Mana mungkin Lusi dan Elea bisa berlari ke pelukan pria lain kalau mata-mata kalian saja selalu muncul di mana-mana" ejek Junio tak habis fikir.


"Kau diam saja, Jun. Jangan ikut campur masalah rumah tangga kami berdua" sergah Gabrielle kesal.


"Benar. Kau itu tidak punya kekasih, makanya kau bisa bicara seperti itu. Coba saja kalau kau yang ada di posisi kami berdua, kau pasti tidak akan bisa tidur dengan nyenyak. Kejiwaanmu pasti terguncang setiap kali memikirkan kalau wanitamu sedang di incar oleh pria lain!" imbuh Gleen ikut memprotes ejekan Junio.


"Tapi bukan berarti kalian harus bersikap berlebihan seperti ini kan ? Wajar saja kalau Lusi dan Elea menjadi bahan rebutan, secara mereka mempunyai modal untuk memikat para pria itu. Aku saja cukup tertarik dengan mereka. Sayang, mereka sudah ada yang punya!.


Setelah Junio berkata seperti itu, tiba-tiba suhu ruangan berubah menjadi sangat dingin seperti Kutub Utara. Tengkuk Junio meremang, dia lalu meringis sambil menggaruk kepala ketika menyadari kalau ucapannya tadi sudah menyinggung jin yang tinggal di tubuh Gabrielle dan juga di tubuhnya Gleen.


"Oke-oke aku salah. Sekarang aku akan diam dan tidak akan berkomentar apapun lagi. Sungguh!" ucap Junio menyerah.


"Ku pegang kata-katamu, Jun. Awas saja kalau kau bicara sembarangan lagi, mulutmu akan langsung ku jahit!" ancam Gabrielle sambil mendelikkan mata.


Junio mengangguk. Setelah itu dia berubah menjadi makhluk transparan saat Gleen dan Gabrielle mulai sibuk membahas rencana untuk melindungi pujaan hati mereka dari ancaman para pria muda yang ada di Universitas. Sungguh, keberadaan Junio benar-benar tidak di anggap oleh kedua pria posesif itu.


'Kenapa aku jadi teringat Patricia ya. Kira-kira dia sedang apa di rumah? Gadis itu merindukan aku tidak ya?.


🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄


...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....


...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...

__ADS_1


...🌻 IG: emak_rifani...


...🌻 FB: Rifani...


__ADS_2