Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Daki


__ADS_3

Lolita memperhatikan Reinhard yang dengan begitu telaten mengurus putrinya yang sedang sakit. Dari balik pintu dia nampak terharu, bahagia melihat kehangatan tersebut.


"Kenapa kau berdiri di sini?" tanya Samuel sembari menepuk pelan pundak istrinya.


"Sssttt, jangan berisik" jawab Lolita lirih. "Aku sedang mengintip putri kita, Sam. Lihatlah, aku jadi iri melihat kedekatan mereka berdua. Seperti kita saat masih muda dulu."


Samuel akhirnya ikut mengintip ke dalam kamar putrinya. Dia tersenyum melihat apa yang terjadi di dalam sana.


"Ternyata apa yang di bilang oleh Levita itu benar kalau harta tak selamanya bisa memberi kebahagiaan. Reinhard, bocah miskin itu rupanya bisa membuktikan apa yang di ucapkan oleh putri kita. Haisshh, aku jadi malu pada mereka" ucap Samuel saat terkenang dengan ucapan-ucapannya yang selalu terarah pada kekayaan.


"Hush kau ini. Jika Levita mendengar kau menyebut Reinhard pria miskin dia pasti akan langsung mengamuk" tegur Lolita.


"Biar saja. Yang penting kan kita menerima pria miskin itu" sahut Samuel kemudian terkekeh bersama istrinya.


Saat Samuel dan Lolita asik bercanda, di dalam kamar Levi sedang sangat amat terpesona dengan apa yang tengah di lakukan oleh kekasihnya. Reinhard bahkan tidak merasa jijik sedikitpun ketika harus membantu Levi membersihkan punggungnya dari daki yang menempel. Sungguh, ini adalah definisi pria sejati versi Levi.


"Kenapa menatapku sampai seperti itu, hm?" tanya Reinhard setelah selesai mengelap seluruh tubuh kekasihnya dengan air hangat.


"Rein, kau tidak geli?.


Kening Reinhard berkerut.


"Maksudnya?.


"Itu lihat handuk yang ada di tanganmu. Di sana ada banyak daki yang menempel. Kau tidak jijik?" jawab Levi sembari menunjuk handuk kecil yang baru saja di gunakan untuk menyeka tubuhnya.


"Oh ini" ucap Reinhard santai. "Kenapa juga aku harus merasa jijik? Daki yang aku bersihkan berasal dari tubuh wanita yang akan menjadi ibu dari anak-anakku nanti. Jadi aku tidak punya alasan untuk berfikiran seperti itu, sayang. Lagipula nanti kalau kita sudah menikah akan ada banyak daki-daki lain yang jauh lebih jelek daripada daki ini. Mau tahu tidak itu jenis daki yang bagaimana?.


Di goda seperti itu oleh kekasihnya membuat wajah Levi merona. Dia meninju perut Reinhard pelan saat pria itu tak berhenti memainkan kedua alisnya.


"Wajahmu memerah. Jangan-jangan kau sedang memikirkan daki yang tadi aku sebutkan ya?" ledek Reinhard.


"Apa sih. Memangnya aku sudah tidak punya kerjaan apa sampai harus memikirkan kotoran seperti itu? Sudah sana bersihkan tanganmu" usir Levi pura-pura marah.


Reinhard mengulum senyum. Sebelum mencuci tangan, dia mencium kening Levi terlebih dahulu. Kembali tersenyum ketika melihat wajah kekasihnya semakin merona merah.


"Dasar gadis mesum. Baru di goda seperti itu saja pikiranmu sudah melayang kemana-mana."


"Yaaakkkkkk, Reinhard!" teriak Levi saat Reinhard menggumam dengan suara yang cukup keras.


"Hahahaa... Aku bercanda sayang, tapi kau sangat manis dengan rona seperti itu. Sungguh!" sahut Reinhard ikut berteriak dari dalam kamar mandi.


Levi mendengus. Tapi setelah itu sudut bibirnya tertarik keatas, hatinya berbunga-bunga. Karena terlalu asik bercanda dengan Reinhard, Levi sampai tak menyadari kalau kedua orangtuanya sedang berdiri di depan pintu.

__ADS_1


"Ekhhhmmm, romantis sekali sih. Seperti pengantin baru saja" ledek Samuel sambil berdehem pelan.


"Ayah, Ibu!" pekik Levi kaget. "Kapan kalian datang?.


"Kapan datang?? Hei kau gadis nakal, apa kau pikir kami akan tega meninggalkanmu sendirian yang sedang sakit?" jawab Samuel menggerutu. "Ayah dan Ibu berada di sini sejak semalam. Kau saja yang tidak menyadarinya."


"Benarkah?.


"Iya sayang. Semalam Ayah dan Ibu menginap di sini. Kau demam tinggi, makanya tidak ingat kalau kami menginap di rumahmu" imbuh Lolita sambil melangkah masuk ke dalam kamar.


Bersamaan dengan itu, Reinhard keluar dari dalam kamar mandi. Dia dengan sopan langsung menyapa orangtuanya Levi begitu melihatnya sedang berdiri di samping ranjang.


"Ayah, Ibu.."


Samuel dan Lolita tersenyum. Mereka menganggukkan kepala menaggapi sapaan calon menantu mereka.


"Reinhard, kau istirahatlah dulu. Ibu tahu kau lelah setelah bekerja di rumah sakit. Biar kami saja yang merawat Levi" ucap Lolita penuh perhatian.


"Tidak apa-apa Bu, nanti saja istirahatnya. Aku masih merindukan gadis nakal ini" sahut Reinhard sambil melirik kearah kekasihnya.


"Cihhh, dasar tidak tahu malu" sindir Levi.


'Astaga, kenapa wajahku terasa panas sekali ya? Aaaa, Reinhard. Kenapa kau manis sekali sih? Aku kan jadi semakin sayang padamu...'


"Biar saja. Toh yang aku rindukan adalah calon istriku sendiri, jadi kenapa harus malu. Iya kan Bu, Yah?" tanya Reinhard pada calon mertuanya.


Levi segera melihat kearah lain saat Reinhard menatapnya penuh goda. Sungguh sialan kekasihnya ini, bisa-bisanya dia mengirimkan sinyal kenikmatan itu di hadapan orangtuanya. Levi kan jadi mati kutu. Ingin marah tapi dia suka, tapi jika tak marah, gengsinya nanti rusak. Alhasil ya dia akhirnya hanya bisa memalingkan pandangan dari semua orang untuk menutupi rasa malunya.


"Kalau aku sih terserah Levita, Ayah. Kapanpun dia mau, aku pasti siap untuk melangsungkan pernikahan" jawab Reinhard.


"Apa-apaan kau Rein. Kau pikir aku ini wanita yang serakah apa! Di mana-mana pria-lah yang mengajak wanita untuk menikah. Kenapa malah jadi aku yang seolah begitu ingin menikah denganmu!" protes Levi tak terima.


"Jadi kau tidak mau menikah dengan Reinhard?" tanya Lolita sambil menahan tawa.


"Mau lah Bu."


Blusshhhh


Levi menutupi wajahnya dengan kedua tangan begitu menyadari kalau pertanyaan ibunya adalah sebuah jebakan. Dia semakin malu saat ketiga orang itu terbahak-bahak menertawai jawabannya yang begitu menggebu-gebu.


"Hahahaaha... Lihatlah sayang, putrimu begitu ingin menikah tapi tetap saja jual mahal" ledek Samuel tak habis fikir dengan kelakuan putrinya.


"Iya Sam. Tinggal bilang iya saja masih harus melakukan protes. Untung Reinhard type pria penyabar, kalau tidak dia pasti sudah tersinggung dan berlari ke pelukan wanita lain. Iya kan Rein?" sahut Lolita ikut meledek kelakuan putrinya.

__ADS_1


Reinhard tersenyum. Dia lalu mengusap puncak kepala Levi dengan penuh sayang. Sebenarnya Reinhard sudah menyiapkan sebuah kejutan untuk wanita ini. Hanya saja semuanya jadi tertunda karena Levi jatuh sakit dan juga perintah yang sedang dia emban dari ibunya Gabrielle. Sepenting apapun kejutan itu, bagi Reinhard perintah dari Bibi Liona adalah yang paling utama. Reinhard tak ingin menjadi kacang yang lupa kulit pada keluarga yang telah mengangkatnya dari seorang pria biasa menjadi satu-satunya direktur di seluruh rumah sakit besar milik Group Ma. Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tetap mengabdikan diri pada keluarga Gabrielle sebagai bentuk balas budi atas semua kebaikan yang telah mereka beri.


"Tunggu setelah kau sembuh, aku akan langsung melamarmu" ucap Reinhard dengan sungguh-sungguh. "Tapi tolong beri aku sedikit waktu ya karena sekarang aku masih mengemban tugas yang sangat penting. Kau mau menunggu kan?.


Levi langsung membuka wajahnya. Dia menatap lekat kearah Reinhard yang juga tengah menatapnya.


"Kau lebih tahu mana yang harus di dahulukan, Rein. Bagiku asal kau masih milikku, selama apapun itu aku pasti akan menunggu. Tidak perlu terburu-buru melamarku, karena tanggung jawabmu sebagai seorang dokter adalah yang paling utama. Jangan khawatir, aku tidak akan mempersalahkan hal itu, kau selesaikan lah tugasmu dengan benar" sahut Levi bijak.


"Terima kasih sayang. Kau memang yang terbaik!.


"Tapi nanti saat kau melamarku usahakan membooking tempat yang mahal ya Rein. Aku ingin lamaran itu menjadi lamaran yang paling berkesan dalam hidup kita. Kau tidak keberatan kan menguras tabunganmu?" ledek Levi dengan sengaja.


Reinhard terkekeh. Sungguh, wanita ini sangat mengemaskan.


"Apapun itu. Jangankan hanya menguras tabungan, menguras lautan pun akan aku lakukan."


"Iyuuhhh, kau menjijikkan Rein."


"Aku tahu, dan kau sangat mencintai pria menjijikkan ini. Benar kan?" jawab Reinhard tak mau kalah.


"Haiihhh, sayangnya iya" sahut Levi kemudian tersenyum. "Rein, sadar tidak kalau sejak tadi ada dua induk jin yang sedang menguping pembicaraan kita? Lihatlah."


Samuel ingin sekali menyentil kening putrinya karena menyebut dia dan istrinya sebagai induk jin. Mulut putrinya ini sungguhlah sangat tajam, suka asal bicara tanpa memikirkan perasaan orang yang di bicarakannya.


"Kalau kami induk jin, berarti kau adalah anak jin. Benar tidak Rein?" sungut Samuel kesal.


"Iya Ayah, Levita Foster memanglah anak jin" jawab Reinhard kemudian mengaduh pelan saat pinggangnya di cubit oleh Levi. "Sayang, sakit."


"Biar saja. Siapa suruh kau berada di pihak Ayah, jadi kau rasakan saja capitan kepiting dariku sebagai imbalannya" sahut Levi dongkol.


Setelah itu semua orang tertawa bersama. Levi yang tadinya hidup dalam kesepian kini kembali merasakan kehangatan setelah kedatangan Reinhard. Ayah dan Ibunya pun kini lebih banyak menghabiskan waktu untuk menemaninya, lebih mempedulikan perasaannya ketimbang memikirkan harta yang sangat di benci oleh Levi. Dalam hatinya, Levi selalu bersyukur dan memanjatkan doa karena Tuhan dengan baiknya mau memberikan kebahagiaan ini. Belum lagi dengan Elea. Gadis bodoh nan polos yang selalu membuat hari-harinya menjadi jauh lebih berwarna. Sungguh lah, nikmat Tuhan mana lagi yang ingin dia dustakan. Levi berhasil mendapatkan semua kebahagiaan ini setelah sekian lama hidup menderita dalam kesepian.


🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄


✅Maaf ya gengss up nya agak siang, hehehe,,,


✅Kuy mampir ke novel @Ovie NurAisyah,, seru lho gengss.. Mengisahkan tentang perjodohan dimana sang wanita mengalami lupa ingatan karena sebuah kejadian yang menimpanya. Hingga pada akhirnya dia di pertemukan dengan seorang pria yang berasal dari masa lalunya. Penasaran kan?? Kuy lah di pinang...



...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....


...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...

__ADS_1


...🌻 IG: emak_rifani...


...🌻 FB: Rifani...


__ADS_2