Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Nasib Anak Pungut


__ADS_3

Bryan membaca dengan seksama berkas yang di bawa oleh Patricia. Dia menghela nafas pelan kemudian menutup berkas tersebut setelah selesai memeriksanya.


"Kerja bagus, Patricia. Kau melakukan pekerjaanmu dengan sangat baik" puji Bryan.


Meski Bryan tak begitu menyukai keberadaan Patricia, dia tetap tak bisa menutupi fakta tentang kemampuan yang di miliki oleh gadis ini. Bryan bahkan tak ragu untuk memujinya secara terang-terangan, walau masih dalam batasan antara bos dan bawahan. Bukan selayaknya sikap seorang ayah yang memuji kemampuan anaknya sendiri.


"Terima kasih banyak atas pujiannya, Ayah. Aku hanya melakukan apa yang seharusnya di lakukan" sahut Patricia senang.


Sudah lama, sudah sangat lama Patricia menunggu pintu hati ayahnya terbuka. Sebenarnya dia tahu kalau pujian yang baru saja dia dapatkan merupakan pujian dari seorang bos pada bawahannya. Hatinya sangat sedih, tapi dia tidak bisa berbuat apapun. Satu-satunya hal yang bisa dia lakukan hanyalah terus berpura-pura. Mungkin inilah nasib dari seorang anak pungut yang tidak di anggap meski sudah berusaha memberikan yang terbaik untuk orangtuanya.


"Apa Tuan Muda Gabrielle menanyakan ketidakhadiranku kemarin?" tanya Bryan.


Patricia mengangguk.


"Iya Ayah, mereka menanyakannya. Aku beralasan kalau Ayah sedang tidak enak badan. Dan untungnya mereka tidak mempermasalahkan hal itu kemarin".


"Syukurlah. Aku sempat khawatir kalau ketidakhadiranku di sana bisa berimbas pada proyek ini. Bagaimana pun keuangan perusahaan kita bisa langsung merosot jika kerjasama ini sampai gagal di lakukan" ucap Bryan seraya menghela nafas.


"Aku juga berpikiran sama seperti Ayah. Tapi untunglah Tuan Muda Gabrielle bisa memahami kondisi Ayah kemarin. Jadi perusahaan kita selamat" timpal Patricia lega.


Bryan mengangguk.


"Kembalilah ke ruang kerjamu!".


"Baik Ayah, kalau begitu aku permisi" pamit Patricia.


Baru saja Patricia hendak membuka hendle pintu, dia di panggil oleh ayahnya. Segera dia datang mendekat.


"Ada apa Ayah, apa ada yang tertinggal?".


"Mulai sekarang proyek kerjasama dengan Group Ma kau yang akan mengambil alih. Pertemuanmu dengan Tuan Muda Gabrielle sepertinya bisa membawa keberuntungan untuk perusahaan ini. Lakukan pekerjaanmu dengan baik Patricia. Jangan sampai membuatnya kecewa" jawab Bryan datar.


Patricia diam terpaku mendengar perintah ayahnya. Dia tidak percaya kalau ayahnya mau memberikan tanggung jawab sebesar ini untuk dia tangani. Ini sangat mengejutkan.

__ADS_1


"Kenapa? Kau tidak sanggup meng-hendel proyek ini?".


"Tidak, bukan seperti itu Ayah. Aku, aku sanggup. Tadi aku hanya sedikit kaget karena Ayah tiba-tiba menunjukku untuk memegang proyek kerjasama ini!" jawab Patricia gugup.


"Aku mau menunjukmu karena aku tahu kau mampu, Patricia" ucap Bryan lagi.


"Baik Ayah. Aku berjanji akan memberikan yang terbaik untuk perusahaan kita dan juga Group Ma. Aku tidak akan membuat Ayah kecewa!" janji Patricia dengan penuh semangat.


Bryan mengangguk.


"Kembalilah ke ruanganmu".


Patricia mengangguk. Dengan hati senang dia melangkah keluar dari ruangan ayahnya menuju ruangannya sendiri.


'Ayah, terima kasih sudah membuka jalan untukku bisa mengambil alih perusahaan ini. Maaf jika aku bertindak terlalu jauh, semua ini tidak akan terjadi seandainya kau tidak menyakitiku dan juga ibu. Tunggu sebentar lagi Ayah, perusahaan ini akan segera berpindah ke tanganku!'.


Saat Patricia hendak membuka pintu ruangannya, ada seorang kurir pengantar pesan yang berjalan mendekat. Patricia yang menyadari kalau kurir tersebut bukanlah kurir biasa segera mengajaknya masuk ke dalam. Orang ini sebenarnya adalah mata-mata yang bekerja untuknya selama ini.


"Nona Patricia, ada informasi penting yang baru kami dapatkan!" lapor mata-mata tersebut.


"Informasi apa?".


"Putri Tuan Bryan masih hidup, Nona Eleanor Young tidak benar-benar mati sembilan belas tahun lalu!".


Mata Patricia melotot lebar begitu dia mendengar laporan dari orang suruhannya. Dia menggeretakkan gigi kemudian menggebrak meja dengan kuat.


Bbrraaakkkkk


"Brengsek, rupanya kakek dan nenek tidak benar-benar membunuh anaknya Sandara. Aarrgghhhh, keparat!" amuk Patricia.


Dua bulan lalu, Patricia tidak sengaja mendengar pembicaraan kakeknya dengan seseorang di telepon. Awalnya Patricia tidak merasa curiga, namun tiba-tiba saja kakeknya meminta orang itu untuk mencari keberadaan seseorang. Patricia pikir orang yang ingin di cari oleh kakeknya adalah orang lain, siapa yang menyangka kalau kakeknya sedang mencari keberadaan cucunya yang sudah dia buang belasan tahun lalu.


"Dimana parasit itu sekarang hah!".

__ADS_1


"Maaf Nona, kami sudah menelusuri semua jejak Nona Elea. Tapi tiba-tiba saja jejaknya seperti hilang di telan bumi. Jejak terakhir yang berhasil kami temukan ada di salah satu restoran tempatnya bekerja. Kami sudah menanyakan tempat tinggalnya dari salah satu karyawan di sana. Namun tidak satupun dari mereka yang tahu dimana dia tinggal. Juga tidak ada yang tahu apa penyebab Nona Elea keluar dari restoran itu!".


Nafas Patricia memburu. Dia tidak boleh membiarkan parasit itu tetap hidup. Jika dia tidak segera menyingkirkannya, posisinya di Keluarga Young bisa tergeser jika kakeknya sampai menemukan keberadaan Elea. Patricia tidak mau itu terjadi, dia tidak rela jika harus kehilangan kemewahan dan juga status tinggi yang selama ini dia punya. Dia tidak mau itu.


"Cari, cari di semua tempat! Jika perlu, kelilingi dunia ini dan sebar orang sebanyak-banyaknya. Ingat, jangan biarkan siapapun tahu kalau parasit itu masih hidup, terutama ayah dan kakekku. Semua rencanaku bisa rusak jika hal itu sampai terjadi" ucap Patricia kacau. "Apapun yang terjadi, dapatkan dia kemudian bunuh. Aku tidak peduli cara apa yang akan kalian gunakan nanti. Yang jelas, dia harus secepatnya pergi menyusul ibunya ke alam baka. Dia tidak boleh hidup, Elea harus mati!!".


"Baik Nona, kami akan melakukan seperti apa yang Nona mau. Tapi Nona, jika ingin menyebar banyak orang maka Nona perlu mentransfer uang ke rekening saya dalam jumlah besar. Semua itu tidak murah, Nona!".


"Tenang saja, aku akan mentransfernya sekarang juga. Kau tidak perlu cemas mengenai hal itu!" sahut Patricia kemudian meraih ponsel di atas meja.


Dalam hitungan menit Patricia sudah mentransfer uang dalam jumlah yang sangat besar ke rekening mata-mata ini. Dia tidak ragu untuk menguras tabungannya hanya demi menyingkirkan parasit yang bisa mengancam keberadaannya sekarang. Mungkin untuk saat ini dia akan kehilangan banyak uang, tapi itu akan sebanding setelah Group Young ke tangannya. Apa yang hilang sekarang akan terganti jutaan kali lipat nantinya.


"Done. Pergi dan lakukan tugasmu dengan baik. Ingat, aku tidak mau uangku melayang sia-sia. Jika kalian gagal, maka nyawa kalian yang akan jadi penggantinya. Seperti yang kau bilang tadi kalau di dunia ini tidak ada yang murah, semua tidak ada yang gratis!" gertak Patricia sembari menyeringai licik.


"Baik Nona, terima kasih. Kalau begitu saya permisi!" pamit si mata-mata kemudian bergegas pergi dari ruangan itu.


Setelah kurir palsu itu pergi, Patricia kembali duduk di kursi kerjanya seraya menghela nafas panjang. Dia masih tidak percaya kalau putri kandung ayahnya masih hidup. Hal yang tak pernah dia bayangkan selama ini.


"Kenapa saat itu kakek dan nenek tidak benar-benar membunuh Elea? Apa alasannya? Dan kenapa juga mereka berbohong pada ayah? Mungkinkah ada rahasia yang tidak kuketahui?" gumam Patricia penuh tanya.


Jika mendengar dari cerita ibunya, kakek dan neneknya dulu begitu membenci istri ayahnya yang bernama Sandara. Kakek dan neneknya selalu melakukan berbagai upaya untuk memisahkan cinta mereka. Tapi naas, istri ayahnya mengalami musibah yang mengharuskannya melahirkan prematur sebelum meninggal. Tanpa sepengetahuan siapapun, ternyata kakek dan neneknya telah bekerjasama dengan dokter rumah sakit yang menangani operasi istri ayahnya. Mereka bersekongkol untuk berbohong dan mengatakan kalau Elea sudah meninggal. Dan sampai detik ini ayahnya masih belum tahu tentang kebenaran itu.


"Aaaaa, bukankah rahasia ini bisa aku gunakan untuk menekan kakek tua itu? Hahahahahaha, aku bisa mengancam akan memberitahukan rahasia ini pada ayah jika dia menolak memberikan saham miliknya menjadi atas namaku di perusahaan ini. Dengan begitu aku akan menjadi pemilik saham terbesar kedua setelah ayah. Ini menarik, hahahahahaha.....!".


Kekesalan di benak Patricia memudar setelah dia mendapatkan calon tangkapan ikan yang sangat besar. Dia sudah tak sabar menunggu waktunya tiba.


🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄


...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSSS.....


...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...


...🌻 IG: nini_rifani...

__ADS_1


...🌻 FB: Nini Lup'ss...


...🌻 WA: 0857-5844-6308...


__ADS_2