
Tok, tok, tok
"Patricia, Gabrielle dan asistennya sudah datang nak. Ayo cepat keluar, jangan membuatnya menunggu terlalu lama sayang!" ucap Yura dari luar kamar.
Patricia yang sedang memikirkan perkataan Levi siang tadi langsung tersenyum cerah begitu tahu kalau lelaki incarannya sudah datang. Dia segera berlari kearah meja rias untuk memeriksa dandanannya.
"Sempurna, Gabrielle pasti akan terpesona melihat penampilanku malam ini" gumam Patricia dengan penuh percaya diri.
Yura tersenyum saat pintu kamar putrinya terbuka. Dengan sayang dia merapihkan anak rambut yang menutupi mata tajam putrinya.
"Kau berdandan begitu cantik, apa khusus untuk dia?" tanya Yura penasaran.
"Ibu ini bicara apa" jawab Patricia malu-malu. "Apa semuanya sudah siap, Bu? Makanannya bagaimana? Gabrielle itu bukan type penyuka sayuran seperti kita."
"Tenang saja, semua aman di tangan Ibu" sahut Yura sambil mengacungkan jari jempolnya.
"Lalu Ayah dan Kakek bagaimana? Apa Ibu sudah memberitahu mereka untuk tidak mengatakan kalau makan malam ini aku yang sengaja mengundangnya datang?" cecar Patricia memastikan.
"Astaga sayang, kau sudah menanyakan hal ini puluhan kali" jawab Yura gemas. "Tenang saja Cia, Ayah dan Kakekmu sangat senang saat Ibu memberitahu mereka kalau Gabrielle bersedia untuk datang kemari. Bahkan semua makanan Ayah yang memesannya secara khusus untuk Gabrielle. Hmmm, gayanya sudah seperti sedang menyambut calon menantunya saja."
Patricia tersenyum. Tentu saja Gabrielle akan menjadi menantu di Keluarga Young karena Patricia sudah mengatur beberapa rencana untuk memiliki pria itu.
"Nah, sekarang kau temani saja dulu Gabrielle dan asistennya. Ibu akan mengatur makanan yang akan kita suguhkan nanti" ucap Yura kemudian sedikit mendorong tubuh putrinya kearah ruang tamu.
Wajah Patricia merona saat tak sengaja bertatapan dengan Gabrielle. Dengan langkah yang di buat seanggun mungkin dia ikut bergabung bersama ayah dan kakeknya.
"Selamat malam, Tuan Muda. Selamat malam, Tuan Ares" sapa Patricia lembut.
Gabrielle dan Ares sama-sama mengangguk. Ares yang melihat senyum di bibir Patricia mencibir samar. Belum lagi dengan kedua pria di Keluarga Young yang sejak tadi tidak berhenti mencari perhatian Tuan Muda-nya.
'Baguslah kalau Nyonya Elea tidak tinggal dengan manusia-manusia seperti kalian. Sikapnya yang polos bisa ternodai jika sampai membaur dalam ruang lingkup yang sangat buruk di rumah ini.'
Ekor mata Gabrielle melirik kearah Ares. Dia merasa cemburu karena asistennya ini sedang mengkhawatirkan istrinya.
"Tuan Muda, bagaimana kabar Tuan Besar Greg dan Nyonya Liona?" tanya Bryan memecah kesunyian.
"Mereka baik-baik saja, Tuan Bryan. Terima kasih sudah mau menanyakan kabar orangtuaku" sahut Gabrielle sambil menggerutu di dalam hati.
Bryan tersenyum kecil. Dia sadar kalau kedatangan pria penguasa ini pastilah membawa niat tertentu. Tidak mungkin seorang Gabrielle bersedia datang ke rumahnya begitu saja. Jika menyukai Patricia pun terdengar sedikit mustahil karena mereka baru bertemu saat Bryan meminta Patricia untuk datang mewakilkannya.
__ADS_1
'Ada apa dengan ekpresi Gabrielle? Kenapa dia terlihat tidak senang? Gawat, aku tidak boleh membiarkannya pergi dengan cepat, malam ini aku harus bisa mengambil perhatiannya.'
Kekesalan Gabrielle semakin bertambah saat dia mendengar apa yang di pikirkan oleh Patricia. Dengan nada yang sedikit cetus, dia mulai menyinggung tentang bayi yang di buang oleh keluarga ini.
"Oh ya Patricia, siang tadi kau mendengar berita tentang bayi yang di buang oleh orangtuanya tidak?."
Kening Patricia mengerut. Dia merasa heran karena Gabrielle tiba-tiba membicarakan seorang bayi. Tapi karena rasa ingin memiliki jauh lebih besar, Patricia mengabaikan keanehan tersebut.
"Tidak, Tuan Muda. Memangnya bayi siapa yang di buang?" sahut Patricia balik bertanya.
"Entahlah. Padahal bayi itu sangat menggemaskan, dia juga berasal dari keluarga kaya."
Karim yang sedang tidak sehat merasa tertampar saat tamunya menyinggung tentang bayi yang di buang. Dalam sorot matanya yang dalam, terkenang lah wajah lucu cucunya sebelum Karim meninggalkannya di panti asuhan. Dia lalu memegangi dadanya yang tiba-tiba kembali terasa sesak.
'Eleanor.'
Rahang Gabrielle mengetat saat dia mendengar Kakek Karim menyebut nama istrinya. Tapi anehnya, hanya kakek tua itu saja yang terkenang. Lain halnya dengan Bryan, pria itu hanya diam menyimak perkataan Gabrielle. Seolah tak pernah merasa kalau dia pernah membuang seorang bayi tak berdosa.
'Apa ada sesuatu yang salah di sini? Atau jangan-jangan ada misteri lain di balik makam yang bertuliskan nama Eleanor Young? Sepertinya tak mungkin juga kalau Elea memiliki saudara kembar.'
"Tuan Muda, anda sepertinya sangat tertarik dengan berita tersebut. Ada apa?" tanya Patricia curiga.
Yah, gelagat Gabrielle yang tak biasa membuat Patricia merasa aneh. Yang dia tahu, pemilik Group Ma sangatlah anti mengurusi masalah orang lain. Tapi sekarang, pria ini malah sibuk membahas berita yang menurutnya sangat tidak penting. Bayi lucu yang di buang, hah, itu sudah menjadi takdir hidupnya karena tak di inginkan.
Saat menyebut kata sampah, Gabrielle sengaja mengatakannya dengan penuh penekanan. Dia ingin keluarga ini merasa rendah karena telah menelantarkan Elea sejak bayi.
Ares yang sadar kalau Tuan Muda-nya mulai kesal, segera memikirkan cara untuk menghentikannya. Rencana mereka bisa gagal kalau sampai salah bicara.
"Ekhmm Tuan Muda, mungkin ada sebagian manusia yang seperti itu. Tapi ada juga manusia yang rela bertaruh nyawa demi kebahagiaan anaknya. Contohnya Tuan dan Nyonya Besar. Saya yakin mereka mengorbankan banyak hal demi kebahagiaan anda dan Nona Muda Grizelle."
Patricia,Bryan dan Karim hanya diam sambil mengamati sikap Gabrielle yang terlihat aneh. Saat dia bicara tadi, terlihat jelas di matanya kalau dia sedang memendam luapan emosi. Dan yang menyadari hal itu adalah Patricia. Wanita licik itu tahu kalau perkataan Gabrielle sengaja di tujukan untuk salah satu dari mereka.
'Siapa yang sebenarnya ingin di serang oleh Gabrielle?.'
Saat kelima orang itu sedang sibuk dengan pikirannya masing-masing, Yura datang menimbrung. Dia meminta semua orang untuk pergi ke ruang makan karena makan malam sudah siap.
"Semuanya, silahkan datang ke meja makan untuk menyantap jamuan yang sudah di hidangkan."
Gabrielle menarik nafas dalam-dalam. Dia memang sedikit terbawa suasana tadi. Untung saja Ares segera mengingatkannya. Jika tidak, Gabrielle yakin dirinya pasti sudah memaki seluruh keluarga ini.
__ADS_1
"Tuan Muda, Tuan Ares, mari silahkan masuk ke dalam untuk menikmati hidangan ala kadarnya di rumah kami" ucap Bryan mempersilahkan tamunya terlebih dahulu.
"Terima kasih banyak, Tuan Bryan" sahut Gabrielle sopan.
Patricia langsung berdiri hendak berjalan di samping Gabrielle. Namun niatnya itu harus kandas saat Ares dengan santainya berdiri di tengah-tengah menghadang keinginannya.
'Sial.'
Sudut bibir Gabrielle berkedut. Dia melenggang santai kearah ruang makan dengan Ares yang selalu menempel di sisinya.
"Kerja bagus. Nanti bonusmu aku tambah" bisik Gabrielle saat Ares menarik kursi untuknya duduk.
Ares mengangguk. Dia kemudian ikut duduk tepat di sebelah Tuan Muda-nya saat Patricia ingin kembali melakukan pendekatan.
"Emm maaf Tuan Ares, bisakah saya duduk di sana?" tanya Patricia sambil menunjuk kursi yang sudah di duduki oleh asisten Gabrielle. "Saya tidak bermaksud apa-apa, hanya ingin melayani Tuan Muda mengambil makanan karena beliau adalah tamu kami."
"Tidak perlu repot-repot, Nona Patricia. Di rumah, setiap hari saya lah yang melayani semua kebutuhan Tuan Muda. Jadi lebih baik sekarang Nona Patricia kembali duduk lalu nikmati makan malam ini dengan tenang" jawab Ares santai.
Wajah Patricia merah padam saat permintaannya di tolak mentah-mentah. Sambil menahan malu, dia segera duduk bersebelahan dengan kakeknya.
"Jangan mempermalukan Keluarga Young, Patricia!" hardik Bryan tak suka.
"Maaf Ayah, aku hanya ingin membantunya saja" sahut Patricia dengan kepala tertunduk.
"Tuan Bryan, tidak usah di perpanjang. Aku sangat maklum dengan niat baik yang ingin di lakukan oleh Nona Patricia. Hanya saja aku tidak terbiasa di layani oleh orang asing. Biasanya Ares dan pelayan pribadiku lah yang mengurus semua kebutuhanku, termasuk saat di meja makan!" sela Gabrielle santuy.
Bryan menghela nafas kasar kemudian melirik kearah Patricia. "Baik Tuan Muda. Saya minta maaf jika kelakuan putri kami membuat anda merasa tidak nyaman."
"Sama sekali bukan masalah, Tuan Bryan."
Akhirnya makan malam pun berlanjut. Karena kejadian tadi, Keluarga Young jadi merasa canggung. Mereka diam-diam memendam rasa kecewa dengan kelakuan Patricia yang di anggap terlalu lancang pada tamu agung yang datang ke rumah ini.
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
...🌻 IG: nini_rifani...
__ADS_1
...🌻 FB: Nini Lup'ss...
...🌻 WA: 0857-5844-6308...