Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Nasehat Lusi


__ADS_3

"Nyonya Abigail, Nona Kayo" sapa Lusi ketika dia di jenguk oleh kerabat Tuan Muda-nya yang tinggal di Jepang.


"Sudah duduk saja, Lusi. Jangan bergerak dulu" sahut Abigail melarang Lusi yang ingin berdiri.


"Baik, nyonya."


Gleen duduk diam di sofa. Dia terus memperhatikan interaksi antara keluarga Gabrielle dengan kekasihnya. Dalam hatinya, Gleen begitu mengagumi kehangatan yang di tunjukkan oleh kedua wanita yang baru saja datang ke kamar ini. Gleen bisa melihat dengan jelas kalau kekasihnya tidak di perlakukan sebelah mata meskipun Lusi sebelumnya adalah seorang pelayan. Ini adalah sikap yang sudah sulit sekali di temui di zaman yang semakin maju dimana semua hal harus di ukur dengan kasta dan juga tahta.


"Bagaimana keadaanmu? Reinhard merawatmu dengan baik bukan?" tanya Abigail lembut. "Tadi kami datang bersama Elea. Tapi sekarang dia sedang mengunjungi ibunya dulu yang juga di rawat di sini."


"Iya nyonya tidak apa-apa. Kondisi saya juga sudah semakin membaik berkat dokter Reinhard. Terima kasih banyak sudah mau datang menjenguk" sahut Lusi terharu.


"Terima kasih apa sih. Kita ini keluarga, sudah seharusnya saling mensupport saat ada yang tertimpa musibah" sahut Kayo ikut menimbrung.


Penasaran, Kayo kemudian berbalik menatap seorang pria yang sedang duduk di sofa. Dia menelisik pakaiannya, sangat kentara dengan aroma seorang pembisnis.


"Lusi, apa dia kekasihmu?.


Baru saja Lusi hendak menjawab, pintu ruangan terbuka. Gleen yang melihat siapa yang datang langsung menahan nafas. Firasat buruk langsung menghampiri ketika tatapan matanya bertabrakan dengan pandangan mata Elea.


"Kenapa Paman bisa ada di sini?" tanya Elea heran melihat keberadaan pria yang membuat ibunya terbaring di rumah sakit.


"Kekasihku sedang di rawat di sini, aku mana mungkin berada di tempat yang berbeda. Pertanyaanmu ambigu sekali, Elea" jawab Gleen ketus.


Gleen masih dongkol dengan hukuman yang dia terima kemarin. Jadi dia memutuskan untuk bermusuhan dengan Elea hari ini.


"Ck, pendendam sekali sih" celetuk Elea sembari berjalan menuju ranjang. "Hai Kak Lusi, Paman Gleen tidak melakukan kekerasan padamu kan? Aku khawatir sekali."


Lusi menarik nafas, sedangkan Gleen menahan kesal.


"Siapa yang dendam pada siapa sayang?" tanya Abigail datar. "Apa pria itu ingin melakukan hal jahat kepadamu?.

__ADS_1


"Aku yang menjahatinya lebih dulu, Bi. Siapa suruh dia menghajar Ibuku sampai terluka parah. Paman Gleen sangat kejam Bi, dia tega membuat wajah Ibuku jadi jelek. Jadi kemarin aku menghukumnya tidak boleh bertemu dengan Kak Lusi. Dan tadi dia menjawab pertanyaanku dengan sangat ketus. Pasti Paman Gleen dendam sekali padaku makanya dia jadi galak " jawab Elea memberi penjelasan.


Abigail melirik kearah Gleen kemudian tersenyum samar. Rupanya pria ini adalah korban dari kepolosan Elea. Pantas saja dia terlihat sangat tidak bersahabat begitu Elea masuk ke ruangan ini. Lucu.


Ceklek


Pintu ruangan kembali terbuka. Kini muncullah Junio yang langsung diam mematung begitu melihat keberadaan tiga wanita yang tadi di temuinya di tempat parkir. Perasaannya mendadak jadi tidak enak.


"Jun, kenapa kau hanya diam saja di situ? Masuklah" tanya Gleen bingung melihat kebungkaman sahabatnya.


Elea acuh akan kedatangan Junio. Dia tidak terlalu menyukai pria sombong tersebut.


"Kak Lusi, seminggu lagi kita mulai masuk ke Universitas. Kira-kira kau sudah sembuh belum? Kita masih belum membeli tas yang baru, bagaimana nanti kalau musim penghujan tiba dan semua barang-barang kita tidak ada yang kering? Urusan kita bisa kacau kalau tidak mempunyai pengganti barang yang lain."


Abigail, Kayo, Lusi, Gleen, dan Junio tercengang heran dengan keluhan Elea. Sebagai istri seorang pewaris Group Ma dan juga menantu kesayangan Greg dan Liona, apakah mungkin bisa mengalami kekurangan seperti yang di sebutkan oleh Elea tadi? Rasanya itu mustahil mengingat betapa kayanya Keluarga Ma.


"Elea, bukankah beberapa waktu lalu kita baru saja pergi memborong ya? Aku bahkan belum memakai satupun barang yang kita beli. Tidak baik membuang-buang uang, mubadzir nanti. Lebih baik kita sisihkan uangnya untuk membantu orang-orang yang lebih membutuhkan. Karena pakaian yang kita beli lama-lama akan membusuk dan terbuang percuma. Tapi jika kita beramal maka hal itu akan abadi sampai kita mati" ucap Lusi dengan sabar memberi nasehat.


"Jadi sebaiknya jangan ya Kak?.


"Bukan jangan, Elea. Tapi ada baiknya kita gunakan dulu barang-barang yang sudah kita beli. Nah nanti jika semuanya sudah terpakai barulah kita membeli lagi. Elea, bukan maksudku ingin menceramahimu. Tapi sebaik-baik istri dialah yang pandai dalam melayani dan mengelola keuangan rumah tangga. Istri itu ibarat wadah bagi si suami karena istri adalah poros perputaran dalam rumah tangga. Karena itulah kita sebagai sesama wanita pandai-pandailah dalam mengatur nafkah yang sudah dengan susah payah di cari oleh suami kita. Kasihan mereka kalau kita tidak bisa menggunakannya dengan baik!.


Kayo begitu takjub akan nasehat yang di sampaikan oleh Lusi. Meskipun dia belum berumah tangga, tapi ilmu yang baru saja dia dapat bisa menjadi pembelajaran untuknya kelak. Sungguh, Kayo tidak menyangka kalau kata-kata sebagus ini bisa keluar dari mulut seorang gadis yang jauh lebih muda darinya.


"Ah Kak Lusi, aku jadi tidak rela memberikanmu pada Paman Gleen" keluh Elea sembari menggenggam erat tangan Lusi.


"Yakkk Elea, apa-apaan kau!" teriak Gleen tak terima.


Abigail langsung menatap tajam kearah Gleen yang baru saja meneriaki keponakan tersayangnya. Gleen dan Junio yang melihat tatapan itupun menjadi menciut. Mereka tentu saja tahu kalau wanita ini memiliki sikap yang jauh lebih kejam dari ibunya Gabrielle. Dan Gleen baru saja melakukan sesuatu yang menyinggung kemarahan wanita tersebut.


"Tuan, aku rasa kau cukup tahu diri untuk tidak membuat gaduh di dalam kamar rawat seorang pasien. Apa aku perlu memanggil security untuk menyeretmu keluar dari ruangan ini?" gertak Abigail kesal.

__ADS_1


Lusi memandang iba kearah kekasihnya yang sedang di marahi oleh Nyonya Abigail. Dia tidak tega, tapi juga tidak bisa membenarkan tindakan Gleen karena sudah membentak Elea yang notabennya adalah kesayangan semua orang. Dia pun tak suka, tapi Lusi tidak berani bersuara karena ada Nyonya Abigail di sini.


"Maaf nyonya, saya hanya refleks tadi."


Gleen tidak mau masalah ini berbuntut panjang, apalagi dengan wanita mengerikan ini. Di bayar pun dia tidak akan mau jika harus bersinggungan dengannya.


"Reflek pun kau harus tetap menjaga tinggi suaramu. Wanita di takdirkan bukan untuk di sakiti, apapun bentuknya. Tapi wanita di lahirkan untuk di lindungi oleh kalian para pria. Kami memang lebih lemah daripada laki-laki, tapi jika kami kaum wanita sudah marah, maka habislah kalian. Beruntung kau meneriaki Elea di depanku. Coba saja kau lakukan itu di hadapan ibu mertuanya. Aku yakin sekali kau akan merasakan apa yang namanya kemarahan seorang wanita!" sindir Abigail dengan ketus.


"Maaf nyonya. Saya salah" sahut Gleen getir. "Elea, maaf aku sudah meneriakimu tadi."


Elea mengangguk.


"Kakak ipar, kau memaafkannya begitu saja?" tanya Kayo memanas-manasi keadaan.


"Iya, lagipula Paman Gleen kan sudah di marahi oleh Bibi Abigail. Jadi kenapa aku tidak memaafkannya saja" jawab Elea.


"Adukan saja pada Kak Iel!.


Gluk


Kalau Gabrielle sampai tahu, itu artinya Nyonya Liona dan Tuan Greg pasti akan mengetahuinya juga. Seketika wajah Gleen di banjiri keringat dingin. Dia berdoa dalam hati semoga Elea tidak menuruti saran dari Kayo.


"Ya sudah nanti aku akan mengatakannya pada Kak Iel. Kak Lusi, kau sudah makan belum? Mau aku suapi tidak?.


Junio setengah mati menahan diri agar tidak tertawa melihat wajah frustasi Gleen. Sungguh, istrinya Gabrielle benar-benar tidak bisa di ajak kerjasama. Gadis kecil itu langsung mengiyakan ucapan Kayo yang menghasutnya agar melapor pada Gabrielle. Luar biasa. Baru kali ini Junio bertemu dengan orang yang sangat polos.


🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄


...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....


...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...

__ADS_1


...🌻 IG: emak_rifani...


...🌻 FB: Rifani...


__ADS_2