
Pagi ini Junio turun dari ranjang dengan wajah pucat pasi dan tubuh yang sangat lemas. Sejak dia pulang dari acara pemberkatan pernikahan Gleen dan Lusi, tiba-tiba saja Junio terkapar tak berdaya. Kepalanya tidak berhenti berputar dan perutnya selalu mual. Satu-satunya makanan yang bisa masuk ke perut Junio hanyalah asinan kedondong. Hanya makanan ini yang bisa dia telan sejak beberapa hari lalu.
"Uhh, aku ini sebenarnya sakit apa sih. Apa iya karena iri melihat pernikahan Gleen makanya aku jadi seperti ini," ujar Gleen sembari berjalan menuruni anak tangga.
"Selamat pagi, Tuan Junio!" sapa para pelayan.
Junio mengangguk. Tiba-tiba saja air liurnya menetes saat dia mencium aroma yang sedap yang memenuhi ruangan. Penasaran dengan bau tersebut, Junio lantas bertanya pada pelayannya.
"Aroma masakan apa ini?"
"Sepertinya ada pelayan yang sedang memasak mie instan, Tuan. Sebentar, saya akan meminta mereka agar tidak memasak makanan seperti itu lagi," jawab si pelayan kemudian pamit untuk pergi menegur pelayan yang ada di dapur.
"Berhenti!" teriak Junio.
Mendengar teriakan sang majikan si pelayan tadi pun langsung berhenti. Dia kemudian berbalik, menatap bingung ke arah majikannya.
"Ada apa, Tuan?"
"Aku akan kesana sendiri,"
Dengan langkah lebar Junio bergegas pergi ke dapur. Benar saja, di sana ada dua orang pelayan yang sedang sibuk memasak sesuatu. Junio yang sudah tidak sabar ingin mencicipi makanan tersebut pun langsung datang menghampiri. Namun kemunculannya yang tiba-tiba membuat kedua pelayan itu terkejut hingga menyebabkan dua butir telur yang sedang mereka pegang terlepas dan jatuh ke lantai.
"T-Tuan Junio, m-maafkan kami. K-kami tidak sengaja!" cicit salah satu pelayan ketakutan.
Aroma amis dari telur yang sudah pecah membuat perut Junio bergejolak. Dia langsung berlari ke arah kamar mandi sambil menutup mulutnya dengan erat.
Hoeeekkk, hooeeekkk
Salah satu dari pelayan segera berlari ke arah kamar mandi sambil membawakan air hangat untuk Junio. Dia lalu membantunya menepuk punggung, juga menyeka keringatnya menggunakan tisu.
"Brengsek!" umpat Junio emosi sambil memukul pinggiran kloset. "Aku ini sebenarnya kenapa hah! Konyol sekali. Masa hanya gara-gara bau telur aku jadi muntah-muntah begini. Dasar sialan!"
"Tuan, mungkin anda sedang masuk angin makanya muntah-muntah seperti ini. Ini minumlah air hangat dulu untuk meredakan rasa mualnya," ucap pelayan dengan hati-hati.
Dengan tangan gemetaran Junio mengambil gelas dari tangan si pelayan. Tenggorokannya terasa lebih baik saat air hangat tersebut mengalir masuk ke dalam perutnya. Setelah menghabiskan segelas air, dia meminta pelayan untuk membantunya berdiri. Junio kemudian menatap ngeri ke arah lantai dimana tadi pecahan telur berceceran. Dia menelan ludah.
__ADS_1
Aku mempunyai dua butir telur yang sangat istimewa tapi sekarang aku di kalahkan oleh dua telur asing yang berasal dari makhluk yang berbeda. Huhh, apa ini karma karena aku selalu menggunakan telur-telur ini untuk meniduri wanita? Ahh, mustahil sekali. Kan burungnya yang bekerja, bukan telurnya. Tidak masuk akal.
"Tuan Junio, ada apa? Apakah ada yang salah dengan daerah dapur?" tanya pelayan memastikan.
"Mana kedua pelayan tadi?" tanya Junio sambil berjalan ke arah kursi yang ada di sana.
Kedua pelayan yang di maksud oleh Junio pun mendekat. Mereka terlihat ketakutan.
"Apa yang sedang kalian masak tadi?"
"Itu Tuan, kami sedang membuat tomyam untuk sarapan."
"Tomyam?"
Air ludah Junio kembali menggenang saat membayangkan aroma sedap yang tadi di masak oleh kedua pelayan ini.
"Masak lagi. Aku ingin makan makanan itu" ucap Junio tak sabar. "Tapi ingat, jangan masukkan telur ke dalamnya. Aku jijik!"
Awalnya kedua pelayan itu terkejut saat mendengar ucapan Junio. Tapi mereka segera pergi untuk memasaknya saat Junio memberikan tatapan tajam pada mereka berdua.
"Tuan, tapi ini masih pagi. Perut anda bisa sakit nanti," ucap pelayan khawatir.
"Siapa kau berani melarangku meminum minuman itu hah! Pokoknya aku tidak mau tahu sekarang juga buatkan untukku. Kalau kau masih berani membantah, akan kuminta penjaga menenggelamkanmu ke dalam septitank. Mau!" ancam Junio kesal.
"M-maaf Tuan. K-kalau begitu saya akan segera membuatnya."
"Ya sudah sana, tunggu apalagi!" sahut Junio cetus.
Setelah pelayan itu pergi, melintas satu jenis makanan lain yang juga membuat Junio menelan air liurnya. Dia menginginkan sup telur puyuh di campur dengan banyak wortel dan juga daging sapi.
"Kau kemari!"
"Ada apa, Tuan?"
"Buatkan aku sup telur puyuh yang di campur dengan banyak wortel dan daging sapi. Tapi aku ingin dagingnya di iris dadu. Harus sama, tidak boleh besar kecil. Paham?"
__ADS_1
Junio tak mempedulikan raut wajah pelayan yang terlihat keheranan saat mendengar ucapannya. Kini dia lebih tertarik memperhatikan ke arah kompor dimana si tomyam mulai mengeluarkan aroma yang sangat sedap. Tak tahan hanya melihatnya dari kejauhan, Junio pun memutuskan untuk mendekat. Dia terus mengendus aromanya sampai-sampai Junio memejamkan mata.
"Hemm, baunya sungguh enak sekali. Bahan apa saja yang kalian campurkan ke dalam tomyam ini?"
Kedua pelayan itu segera memberitahu Junio bahan apa saja yang mereka masukkan ke dalam panci. Mereka sebenarnya heran dan juga bingung karena tidak biasanya majikan mereka memakan makanan murahan seperti ini. Di tambah lagi majikan mereka juga memesan makanan lain yang jelas-jelas tidak di sukainya. Tapi walaupun begitu mereka tidak berani melakukan protes. Bisa mati berdiri mereka kalau pria ini sampai merasa tersinggung.
Tak lama kemudian makanan itu akhirnya selesai di masak. Junio yang sudah tidak sabar segera duduk di meja makan menunggu makanan itu di sajikan. Layaknya anak kecil, Junio mengetuk-ngetukkan sendok ke atas meja. Jangan tanya lagi seberapa banyak air liur di dalam mulutnya. Sangat banyak.
"Tuan, hati-hati. Lidah anda bisa melepuh jika langsung memakannya tanpa meniupnya terlebih dahulu!" pekik pelayan kaget melihat Junio yang ingin langsung memakan tomyam yang masih mengeluarkan asap.
"Ck, kalian ini kenapa rewel sekali sih. Aku itu sudah meneteskan air liur sejak tadi, jadi kalian jangan menghalang-halangi aku untuk menyantap makanan ini!" keluh Junio mulai kesal.
Para pelayan akhirnya diam membiarkan sang majikan menikmati makanan tersebut. Mereka terus memperhatikan cara makan si majikan yang terkesan seperti orang kelaparan.
"Tuan Junio kenapa ya? Dia terlihat seperti orang yang sedang mengidam," bisik salah seorang pelayan.
"Sembarangan. Bagaimana caranya seorang pria bisa mengidam? Dia kan tidak punya rahim, mustahil Tuan Junio hamil."
"Hei, kau jangan salah. Ini bisa saja terjadi jika kekasih Tuan Junio sedang mengandung anaknya. Mengidam itu tidak hanya terjadi pada wanita saja, pria pun bisa merasakannya."
"Hah? Masa ada hal seperti itu sih?"
"Ada, aku tidak bohong. Ayahku adalah contohnya. Setiap kali Ibuku hamil, Ayahku yang akan menderita selama berbulan-bulan. Sedangkan Ibuku tidak merasakan apa-apa selain perutnya yang membesar. Makanya aku curiga kalau kekasihnya Tuan Junio itu sedang hamil. Lihat saja sekarang, Tuan bahkan memakan makanan yang selama ini tak pernah dia makan. Ini sudah menjadi tanda kalau junior Tuan Junio siap lounching."
"Waahhh, itu keren. Ah, aku jadi tidak sabar ingin melihat wanita mana yang sedang mengandung anaknya Tuan Junio."
Para pelayan yang tadi berbisik-bisik nampak terkikik pelan membayangkan sang majikan yang akan segera merasakan fase ngidam. Mereka dengan usil sibuk memikirkan menu makanan yang biasanya di cari oleh orang yang sedang hamil muda. Terutama manisan dan mangga muda. Dua jenis makanan ini biasanya yang paling di incar oleh wanita-wanita yang sedang berbadan dua. Sungguh definisi pelayan yang baik hati dan perhatian. π€£π€£
πππππππππππππππππ
...π»VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS......
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
...π»IG: rifani_nini...
__ADS_1
...π»FB: Rifani...