
Reinhard terus mendampingi Nyonya Wu yang masih belum sadarkan diri. Sesekali dia melirik kearah Gabrielle, mencoba mencari tahu apakah sahabatnya itu sudah memprediksi kejadian ini atau belum.
"Aku sudah menebak akan terjadi hal seperti ini kalau kau mau tahu" ucap Gabrielle tiba-tiba. "Rein, menurutmu wajar tidak kalau Elea menolak kehadiran neneknya?."
Tadi di saat Nyonya Wu pingsan, Elea sama sekali tak menunjukkan raut khawatir sedikitpun. Gadis itu malah terkesan sangat acuh, seakan tak peduli jika sesuatu yang buruk sampai terjadi pada neneknya. Untuk sesaat Gabrielle sempat di buat kaget melihat hal tersebut, dia tak menyangka kalau kelainan mental yang di idap oleh istrinya akan memiliki dampak sebesar ini. Sungguh, Elea bagai orang lain dengan sikap dinginnya yang sekarang. Tapi Gabrielle juga tidak bisa menyalahkannya begitu saja. Semua itu memiliki awal, dan Nyonya Wu masuk ke dalam daftar orang yang akan mendapat balasan atas kesakitan yang di rasakan oleh istrinya.
"Menurutku itu wajar-wajar saja Gab. Istrimu menolak kehadiran Nyonya Wu karena merasa kalau dia adalah penyebab ibunya hidup menderita. Mungkin seandainya Elea tidak mengalami truma mental ini, aku yakin dia pasti akan langsung memaafkan Nyonya Wu. Hatinya masih begitu murni, dia benar-benar bersih dalam memandang kesalahan orang lain. Tapi sayang sekali nasib Nyonya Wu sangat tidak baik karena dia bertemu Elea di saat yang tidak tepat. Ck, sikap istrimu yang sekarang benar-benar cukup mengkhawatirkan Gab. Tapi ada untungnya juga sih, karena dengan begini dia jadi tidak mudah di tindas orang lain " jawab Reinhard.
"Kau benar, Elea-ku bukan lagi gadis yang lemah. Aku jadi penasaran akan seperti apa sikapnya nanti jika bertemu dengan Patricia" ucap Gabrielle sambil mengusap dagu.
"Patricia?" beo Reinhard. "Maksudmu anak angkat ayah mertuamu?."
Gabrielle mengangguk. Sebelum bicara, dia melihat kearah istrinya yang sedang di tenangkan oleh Levi di luar ruangan. "Ya, anak angkat itu seringkali mencoba untuk menggodaku. Dan aku yakin dengan kepribadian Elea yang sekarang dia pasti akan langsung memberinya pelajaran jika ketahuan sedang mendekatiku. Di tambah lagi Levi, wanita bar-bar itu pasti akan menjadi kompor meleduk yang akan membuat keadaan semakin memanas!."
Reinhard terperangah. Saat dia hendak bicara, terdengar lenguhan pelan dari mulut Nyonya Wu. Cepat-cepat Reinhard memeriksa denyut nadinya sebelum mengambil air minum untuk wanita berwajah tegas itu.
"Silahkan di minum dulu Nyonya" ucap Reinhard sopan sembari membantu Nyonya Wu untuk duduk.
Clarissa diam. Airmata kembali menetes saat dia teringat satu kenyataan yang dia dengar sebelum jatuh pingsan. Dengan tangan gemetaran dia menerima gelas berisi air putih tersebut kemudian meminumnya sambil menangis. Dadanya sesak sekali, putri yang selama puluhan tahun dia rindukan ternyata sudah lama pergi meninggalkannya. Clarissa bagai di terpa badai yang tak berkesudahan. Bermimpi agar bisa hidup bersama putrinya di masa tua, malah harus mendapat kenyataan yang begitu pahit. Dia tidak mengerti kenapa Tuhan selalu memberinya cobaan yang tiada habisnya.
"Hiksssss....."
Gabrielle diam memperhatikan Nyonya Wu yang sedang menangis. Sebenarnya Gabrielle ingin sekali bertanya alasan kenapa dulu wanita ini meninggalkan ibu mertuanya seorang diri. Apakah benar hanya untuk menyembunyikan aib demi kebangsawanannya saja ataukah ada hal lain yang di sembunyikannya. Jika benar ada alasan lain, maka Gabrielle berniat membantu Nyonya Wu memperbaiki hubungannya dengan Elea.
"Hikssss.... Sandara, putriku" ratap Clarissa sesak.
Reinhard menghela nafas panjang. Terenyuh menyaksikan betapa wanita dengan status sosial yang sangat tinggi ini terisak sedih sambil menyebut nama anaknya yang sudah lama meninggal. Dia lalu menyikut lengan Gabrielle, memberi isyarat agar temannya ini membuka pembicaraan.
__ADS_1
"Nyonya Wu, apa alasanmu meninggalkan Ibu mertuaku seorang diri di negeri orang?" tanya Gabrielle tanpa basa-basi. "Apa kau tahu, putri yang kau buang itu menjalani kehidupan yang sangat menyedihkan. Dan juga....
Ucapan Gabrielle terjeda. Tiba-tiba saja dia merasa tidak berhak untuk mengungkap kejahatan besar yang sudah di lakukan oleh Kakek Karim, pria yang turut andil dalam kematian ibu mertuanya.
"Dan,dan juga apa?" beo Clarissa penasaran. Tangisnya sedikit mereda, kini dia menatap lekat kearah pria yang menjadi suami dari cucunya. "Gabrielle, tolong lanjutkan perkataanmu. Hal lain apalagi yang sudah di alami putriku? Apa yang terjadi padanya sebelum meninggal?."
Brraaakkk
Pintu ruangan terbuka. Clarissa yang tengah mendesak Gabrielle untuk bicara langsung terdiam melihat kemunculan cucunya yang datang dengan raut wajah sengit. Dia menelan ludah, canggung dan juga bingung harus bagaimana bersikap.
"Kak Iel, jangan katakan apapun pada wanita jahat ini. Dia tidak berhak mengetahui kehidupan yang di jalani oleh Ibuku dulu!" ucap Elea dingin sambil menatap tajam kearah wanita tua yang tak lain adalah neneknya sendiri. "Kau Nyonya Wu, kau dan Kakek Karim adalah orangtua terkejam yang ada di dunia ini. Sangat di sayangkan ibuku harus terlahir sebagai putri kalian!."
"Sayang, tolong jangan sekasar itu pada Nyonya Wu. Kita belum tahu alasan sebenarnya kenapa dia tega meninggalkan Ibu Sandara di negara kita" sahut Gabrielle yang kaget mendengar ucapan pedas dari mulut istrinya.
Rahang Elea nampak mengetat saat Gabrielle membela neneknya. Reinhard yang menyadari kemarahan itu segera berbisik pada Gabrielle, memintanya untuk sesegera mungkin menenangkan Elea sebelum keadaan semakin memburuk.
"Kendalikan istrimu, aku tidak mau Nyonya Wu mati di tangannya."
"Aku muak Kak Iel. Coba Kakak lihat kehidupan wanita tua ini, dia sangat bahagia. Sedangkan Ibuku, Ibuku harus hidup dalam tekanan manusia yang tidak memiliki hati nurani. Bahkan untuk bahagia saja Ibuku seperti tidak sempat. Bagaimana mungkin aku sebagai putrinya tidak sakit hati melihat kebahagiaan wanita tua ini? Aku bahkan sangat ingin membunuhnya sekarang!" sahut Elea dengan wajah yang sudah basah airmata. "Kasihan Ibu, Kak Iel. Dia tidak salah apapun pada mereka!."
"Iya sayang, aku tahu Ibu Sandara tidak melakukan kesalahan apapun. Sudah ya jangan sedih lagi" bujuk Gabrielle kemudian menoleh kearah Nyonya Wu yang sedang menangis dalam diam. "Nyonya Wu, bisa tolong jawab pertanyaanku tadi? Aku tidak mau istriku terus salah paham begini jika masalahnya tidak segera di bereskan!."
Bibir Clarissa bergetar, dadanya bagai tertusuk pedang melihat luapan kebencian dari cucunya. Ingin sekali dia bicara jujur, tapi Clarissa takut ada mata-mata Kimmy yang sedang mengawasi mereka. Clarissa tidak ingin cucunya ini terlibat masalah dengan saudari tirinya yang sangat licik itu. Sudah cukup kesakitannya kehilangan Sandara, tidak dengan Elea.
"Tutup butik ini sekarang juga dan minta semua orang yang tidak berkepentingan untuk segera keluar dari sini!" perintah Gabrielle pada anak buahnya saat menyadari kekhawatiran Nyonya Wu. "Pastikan juga tidak ada satupun orang yang bisa menguping pembicaraan kami. Jika itu terjadi, bersiaplah menerima hukumannya!."
Setelah memberikan perintah, Gabrielle menoleh kearah Ares yang sedang berdiri di samping Levi. "Awasi semuanya dengan baik!."
__ADS_1
"Baik Tuan Muda" jawab Ares kemudian pergi dari ruangan itu.
Clarissa masih merasa ragu. Dia terhenyak kaget saat sebuah tangan mengelus bahunya pelan.
"Nyonya saya mohon jujurlah. Jangan khawatir, Tuan Gabrielle sudah mengamankan tempat ini dari mata-mata Nyonya Kimmy. Sudah tiba waktunya untuk Nyonya melepas semua beban itu, ceritakanlah semuanya pada Nona Elea agar dia tidak salah paham lagi. Jangan ragu Nyonya, ini semua demi kebahagiaan kalian bersama!" ucap Cira menyemangati majikannya yang terlihat ragu-ragu.
"Apa harus?" cicit Clarissa lirih. "Apa kejujuran ini bisa membuat Sandara hidup kembali?."
"Tidak!" sahut Elea cepat. "Ibuku tidak akan bisa hidup lagi meskipun ka...
Gabrielle langsung membungkam mulut istrinya dengan ciuman di depan semua orang. Bisa panjang urusannya jika dia tidak segera membuatnya berhenti bicara.
"Sayang kita dengarkan dulu apa yang ingin di katakan oleh Nyonya Wu ya? Jangan marah, oke" rayu Gabrielle setelah melepaskan tautan bibirnya.
Sambil menahan malu Elea akhirnya mengangguk setuju. Levi dan Reinhard yang melihat kegilaan Gabrielle hanya bisa mencibir sinis. Masih saja pria pencemburu ini mengambil kesempatan dari istri kecilnya.
"Elea, beri Grandma sedikit waktu untuk menjelaskan semuanya ya sayang?" bujuk Clarissa melembut.
Tak ada jawaban dari Elea. Gadis kecil itu masih tetap acuh sembari mengeratkan pelukan ke tubuh suaminya. Dalam kemarahannya, Elea sebenarnya sangat berharap kalau neneknya tidak lah bersalah. Hatinya sudah sangat lelah menerima kenyataan pahit yang terus datang menghampirinya.
'Ya Tuhan, untuk kali ini saja, aku mohon rubahlah takdir menyakitkan yang akan aku dengar. Setidaknya buatlah Nenekku mengatakan alasan yang bisa aku terima dengan ikhlas. Aku lelah menderita Ya Tuhan...!.'
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS......
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
__ADS_1
...🌻 IG: emak_rifani...
...🌻 FB: Nini Lup'ss...