
Samuel menutup pintu mobilnya dengan begitu kuat. Saat ini dia sedang berada di depan rumah putrinya. Dia sengaja datang kemari untuk meminta penjelasan dari anaknya itu. Samuel merasa sangat malu begitu tahu kalau putrinya ternyata tidak menjalin hubungan apapun dengan pemilik Group Ma.
Dengan langkah lebar dia berjalan menuju pintu rumah. Namun langkahnya terhenti melihat deretan penjaga yang berjejer rapi di sana.
"Ada apa ini? Kenapa banyak penjaga di sini?" gumam Samuel bingung.
Karena penasaran, Samuel memutuskan untuk bertanya pada salah satu dari mereka.
"Apa yang kalian lakukan di depan rumah putriku?".
Tak ada jawaban apapun dari para penjaga. Hal itu membuat Samuel kesal, dia merasa tak di hormati sebagai orangtua dari si pemilik rumah.
"Kalian tuli ya, beraninya mengabaikan pertanyaanku!" hardik Samuel jengkel.
"Maaf Tuan, kami tidak bicara dengan orang asing" sahut salah satu penjaga dengan begitu datar.
"Orang asing kepalamu. Aku ini ayah dari pemilik rumah yang kalian jaga sekarang. Seharusnya kalian menghormatiku!".
Kejengkelan Samuel semakin menjadi saat pengawal itu kembali mengabaikannya. Dengan penuh emosi Samuel melayangkan satu pukulan ke wajah penjaga yang tadi berbicara.
Tap
"Hati-hati dengan tanganmu, Tuan. Meksipun kau adalah orangtua Nona Levi, kami tidak akan ragu untuk menghabisimu jika kau masih terus berulah!".
Wajah Samuel memucat begitu mendengar ancaman tersebut. Dia lalu menarik lepas tangannya yang berhasil di tangkap oleh penjaga.
"Minggir kau, aku mau masuk!" ucap Samuel takut-takut.
Para penjaga tak bergeming. Mereka malah berdiri semakin merapat ke depan pintu. Seolah memberi kode pada pria angkuh ini agar segera menjauh.
"Beraninya kalian!".
"Tuan, sebaiknya kau segera pergi dari sini sebelum kami menghajarmu!" usir penjaga dingin.
"Keparat kalian. Ini rumah putriku, apa hakmu mengusirku pergi dari sini hah!" sentak Samuel kembali tersulut emosi.
"Nyonya kami sedang ada di dalam rumah putrimu sekarang. Dan orang lain tidak boleh melihatnya. Kalau kau memiliki urusan pribadi dengan putrimu, datanglah setelah Nyonya kami pulang dari sini. Pergilah, jangan membuat kesabaran kami habis!".
"Kau....
Ceklek
"Kenapa kalian berisik sekali sih!".
Samuel segera melihat kearah pintu. Dia lalu menatap tajam putrinya yang sedang berdiri menyender sambil melipat tangan.
"Oh, ada Ayah rupanya. Kenapa? Ingin protes padaku setelah mempermalukan diri di hadapan Gabrielle, iya!" sindir Levi.
"Kau gadis sialan. Kenapa kau tidak bilang kalau kalian tidak memiliki hubungan apapun hah! Apa kau senang melihat Ayah di permalukan seperti ini!" bentak Samuel.
__ADS_1
"Tentu saja aku senang. Itu setimpal untuk orang tidak tahu malu seperti Ayah. Beraninya Ayah pergi menemui Gabrielle dengan mengatas namakan putrimu sendiri. Cih, orangtua macam apa kau, memalukan!" ejek Levi jengah.
Saat Levi dan ayahnya sedang berdebat, Elea yang saat itu tengah mengerjakan pr datang mendekat. Dia sangat penasaran kenapa Levi begitu lama membuka pintu.
"Kak, ada apa? Kenapa aku seperti mendengar orang yang sedang bertengkar?".
Levi segera mendorong kepala Elea ke belakang saat gadis itu berniat menyembulkan kepalanya keluar.
"Kenapa kepalaku di dorong Kak. Aku kan ingin melihat siapa yang berbicara denganmu" tanya Elea bingung.
"Kau masih di bawah umur, jadi jangan ikut campur urusan orang dewasa!" ucap Levi memberi peringatan.
"Tapi aku sudah sembilan belas tahun Kak".
"Yang bilang kau berusia seratus tahun itu siapa Elea! Sudah sana masuk, tunggu di dalam saja!".
"Tapi Kak...
"Masuk!" usir Levi.
"Kak Levi" rengek Elea sambil mencubit ujung bajunya Levi.
Melihat tingkah menggemaskan Elea membuat Levi menghela nafas. Dia lalu memikirkan cara agar makhluk kecil ini bersedia untuk masuk ke dalam.
"Elea, cepat masuk ke dalam atau aku akan mengatakan pada suamimu kalau kau telah berselingkuh!" bisik Levi penuh ancaman.
"Jadi aku dan Kak Levi itu berselingkuh ya?" tanya Elea.
"Haahhh, cepat masuk ke dalam dan selesaikan pr mu. Sekarang!".
Mendengar suara Levi yang bicara dengan pelan membuat Elea patuh seketika.
"Baik Kak" sahut Elea tanpa beranjak dari tempatnya berdiri.
"Astaga, kenapa masih belum pergi juga Elea. Cepat sana, aku akan memukul bokongmu kalau pr itu masih belum selesai saat aku datang. Aku hitung sampai tiga... Satu... Du...
Elea lari terbirit-birit dalam hitungan kedua. Membuat Levi terkekeh lucu melihat kelakuannya.
'Kau benar-benar sangat menggemaskan, Elea. Sayang sekali aku ini perempuan, jika saja aku seorang pria, aku tidak akan ragu untuk merebutmu dari tangan Gabrielle. Kau seperti peri kecil yang selalu bisa membuat orang lain terpukau'.
"Siapa Elea?" tanya Samuel penasaran.
Levi baru tersadar kalau ayahnya masih berada di sini. Untung saja tadi dia tidak menyebutkan nama Gabrielle saat sedang berbicara dengan Elea. Levi yakin ayahnya pasti akan langsung menyelidiki identitas Elea jika dia tahu kalau Elea adalah istrinya Gabrielle.
"Manusia" sahut Levi asal.
Samuel memicingkan mata curiga. Dia merasa kalau putrinya sedang menutupi sesuatu darinya.
"Kenapa Ayah melotot seperti itu? Tidak takut bola mata Ayah akan pergi melarikan diri, hm?" ledek Levi berusaha mengalihkan kecurigaan ayahnya.
__ADS_1
"Yakk kau gadis kurang ajar, bisa-bisanya kau bicara seperti itu pada ayahmu!" omel Samuel dongkol mendengar kata-kata putrinya.
Levi berdecih. Dia sudah bosan meladeni perkataan ayahnya yang menurutnya tidak penting.
"Sudahlah, lebih baik Ayah pulang saja. Rumahku tidak mau menerima kehadiran Ayah!" usir Levi sambil mengibaskan tangan.
"Levi, Ayah belum selesai bicara denganmu!" teriak Samuel dengan emosi yang sudah naik ke ubun-ubun.
"Bicara ya bicara saja sih, tidak perlu berteriak seperti itu. Ayak pikir rumahku ini hutan apa!" ucap Levi ketus.
Samuel mendengus. Buang-buang waktu saja jika berdebat dengan putrinya,percuma, dia tidak akan bisa menang.
"Apapun yang terjadi Ayah mau kau tetap mendekati Gabrielle. Ayah menginginkan proyek di pesisir pantai itu. Kau dengar kan?".
Para penjaga menatap Samuel dengan tatapan meremehkan. Tentu saja, karena pria ini baru saja meminta putrinya untuk merayu Tuan Muda mereka.
"Kenapa bukan Ayah saja yang mendekati Gabrielle? Kan Ayah yang menginginkan proyek itu, bukan aku!" sahut Levi kesal.
Selalu, selalu saja ayahnya ingin menggunakannya untuk memupuk harta kekayaan di keluarga mereka. Levi benar-benar sudah sangat muak dengan sifat serakah ayahnya, dia benci.
"Levi!" bentak Samuel sambil melayangkan tangan hendak menampar mulut Levi.
Bugghhhhhhhh
Bukannya berhasil menampar wajah putrinya, Samuel malah mendapat satu pukulan di perutnya dari penjaga yang berdiri di sebelah pintu. Dia meringis kesakitan sambil menatap marah kearah penjaga yang terlihat begitu santai setelah memukulnya.
Tangan Levi terkepal, dia berusaha menahan diri untuk tidak menolong ayahnya. Meskipun Levi membenci ayahnya, pria ini tetaplah orangtua yang harus dia hormati. Namun Levi mengurungkan niatnya itu, dia ingin ayahnya mendapat pelajaran agar tidak selalu memaksakan kehendak pada dirinya.
"Beraninya kau. Lihat saja, aku akan melaporkan kalian pada polisi dengan tuduhan kekerasan!" ancam Samuel.
"Sudahlah, Ayah tidak akan mampu melawan atasan mereka. Aku mohon tolong berhenti bersikap serakah, Ayah. Sampai kapanpun aku tidak akan mau menuruti keinginanmu yang gila itu. Aku tidak mau menukar harga diriku dengan harta yang tidak bisa di bawa mati. Jangan memaksaku Ayah, aku mohon!" ucap Levi dengan suara tercekat.
Samuel terdiam. Tiba-tiba saja dadanya terasa sesak melihat wajah putrinya yang terlihat sedih. Ada semacam perasaan terluka melihat kesedihan itu.
"Pulanglah, Ibu pasti sudah menunggu Ayah di rumah" usir Levi sambil menoleh kearah lain.
Levi sedih, hatinya terluka karena lagi-lagi ayahnya datang hanya ingin menjadikannya tumbal untuk meraih kekayaan. Sebenarnya sejak dulu Levi sangat mengharapkan ayah dan ibunya datang mengajaknya pulang kemudian memberinya kebebasan. Levi tidak mau hidupnya di kekang oleh peraturan yang menurutnya tidak masuk akal. Dia ingin bahagia dengan pilihannya sendiri.
Samuel menurut begitu saja. Dengan langkah berat dia beranjak pergi dari kediaman putrinya. Sebelum mobilnya bergerak menjauh, Samuel sempat melihat putrinya yang seperti sedang menyeka airmata. Dadanya kembali terasa sesak.
"Levi, apa Ayah sudah menyakitimu nak?".
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS......
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
...🌻 IG: nini_rifani...
__ADS_1
...🌻 FB: Nini Lup'ss...
...🌻 WA: 0857-5844-6308...