Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Malaikat Penolong


__ADS_3

Lusi menatap lama kearah Gleen yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi. Masih teringat jelas di matanya bagaimana kekasihnya itu mendapat amukan dari Nyonya Abigail.


"Sweety, ada apa? Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Gleen sambil duduk di kursi sampai ranjang. "Kau baik-baik saja kan?.


"Gleen, bisakah lain kali kau jangan memancing kemarahan Nyonya Abigail? Aku takut dia akan melakukan sesuatu padamu" jawab Lusi lirih. "Keluarga Nyonya Liona bukan orang yang bisa sembarangan kau remehkan. Mereka memiliki garis kekejaman yang sangat berbahaya. Kau tahu kan kisah tentang Nyonya Liona dan Nyonya Abigail ketika masih muda dulu?.


Gleen tersenyum. Rupanya kekasihnya ini sedang khawatir. Pantas saja sejak semua orang pergi kekasihnya terus saja melamun.


"Sweety, tadi itu aku sebenarnya tidak berniat meneriaki Elea di depan Bibinya Gabrielle. Itu adalah tindakan spontan dariku. Siapa suruh dia bicara sembarangan, jadi begitu kan akhirnya."


"Tapi aku tetap tidak setuju dengan tindakanmu, Gleen. Bagaimana nanti jika Elea benar-benar mengadu pada Tuan Muda Gabrielle? Kau akan berada dalam masalah besar" sela Lusi semakin tak tenang. "Aku dan keluargaku bisa memiliki kehidupan seperti ini berkat kebaikan hati Nyonya Besar Liona dan Tuan Muda Gabrielle. Dan sekarang aku bisa melanjutkan pendidikanku karena ketulusan hati Elea. Aku mohon padamu tolong jangan bersikap kurang ajar pada mereka, Gleen. Itu melukai perasaanku."


Aura di wajah Gleen langsung berubah dingin ketika mendengar Lusi yang begitu mengagungkan kekuasaan Gabrielle dan keluarganya. Dia tidak suka itu.


"Jangan terlalu merasa berhutang budi pada mereka, Sweety. Kalau hanya soal materi, aku juga mampu memberikan semua yang kau butuhkan seperti mereka" ucap Gleen dingin.


"Bukan soal materinya, Gleen. Tapi di sini ada ketulusan yang tidak bisa di ukur dengan apapun. Aku tahu kau orang kaya, kau bahkan mampu membeli apapun yang kau inginkan. Tapi bagi orang-orang miskin seperti aku dan keluargaku, sedikit uluran tangan dari mereka memiliki arti yang sangat besar. Aku tidak mungkin tidak merasa berhutang budi pada mereka, aku tidak bisa!" sahut Lusi tegas.


Gleen yang tadinya duduk di kursi samping ranjang langsung berdiri saat Lusi menegaskan tentang kebaikan yang telah di terimanya dari keluarga Gabrielle. Dia merasa seperti tak di anggap oleh kekasihnya ini.


"Sekarang katakan padaku siapa yang akan kau pilih. Aku atau keluarganya Gabrielle!" bentak Gleen emosi.

__ADS_1


Lusi tersentak kaget. Dia tidak percaya kalau Gleen akan memintanya untuk memilih.


"Gleen, kenapa kau bersikap arogan begini?" tanya Lusi sedih. "Sebelum aku bertemu denganmu, aku sudah lebih dulu menjadi pelayan di rumahnya Tuan Muda Gabrielle. Usiaku baru lima belas tahun saat datang ke tempat ini, aku tersesat di jalanan sambil menahan lapar. Seandainya waktu itu aku tidak di selamatkan oleh Nyonya Besar Liona, aku pasti sudah di paksa menjadi peminta-minta oleh preman yang ada di sana. Aku di bawa ke rumah Tuan Muda Gabrielle, mereka memberiku makan dan juga tempat tinggal. Mereka juga memberiku pekerjaan, bahkan merenovasi rumah orangtuaku yang ada di desa. Salahkah jika aku berhutang budi pada mereka, Gleen? Apa salah kalau aku mengagungkan mereka sebagai malaikat penolong? Kau kejam, Gleen. Aku kecewa padamu."


Gleen langsung menghambur kearah Lusi begitu mendengar ceritanya. Dia tidak menyangka kalau keluarganya Gabrielle memiliki jasa yang begitu besar pada hidup kekasihnya. Saat Gleen hendak meraih tangan Lusi, tiba-tiba saja tangannya di tepis. Gleen panik. Dan kepanikannya semakin bertambah saat Lusi memalingkan muka tak mau menatapnya.


"Sweety, a-aku minta maaf. Aku tidak tahu kalau..


"Aku lebih memilih untuk berpisah denganmu daripada harus menjadi kacang yang lupa kulit, Gleen. Kau belum berarti apa-apa untukku karena kita bertemu di saat aku sudah melewati masa sulit. Kau tidak menyaksikan bagaimana paniknya Nyonya Besar Liona melihatku pingsan saat aku mendengar kabar kalau Ayahku menjadi korban tabrak lari. Kau juga tidak mengetahui betapa frustasinya aku saat mengetahui kalau Ibuku mengidap penyakit berbahaya yang mana pengobatannya memakan biaya yang sangat besar. Siapa yang akan peduli pada penderitaanku waktu itu selain Nyonya Besar Liona dan Tuan Besar Greg? Mereka tanpa memandang status kami langsung bergerak untuk menangkap pelaku tabrak lari yang membuat kedua kaki Ayahku di amputasi. Mereka juga lah yang membiayai seluruh pengobatan Ibuku sampai sembuh total, bahkan mereka juga yang membiayai sekolah kedua adikku hingga selesai. Katakan padaku Gleen, dimana aku bisa menemukan orang sebaik mereka? Dimana Gleen? Dimana!!" ucap Lusi emosional. "Dan kau dengan kejamnya memintaku untuk memilih. Kau salah besar jika berfikir aku akan memilihmu, kau salah besar Gleen. Mungkin memang benar kalau aku menyukaimu, tapi kau itu bukan siapa-siapa jika di bandingkan dengan mereka. Karena bagiku kita hanya orang asing yang tidak sengaja saling mengenal. Kau sangat tidak pantas jika harus di bandingkan dengan keluarga malaikat yang telah menyelamatkan hidupku dan juga hidup keluargaku. Kau tidak pantas, Gleen!.


Gleen begitu tertohok dengan kata-kata yang di lontarkan oleh Lusi. Dia diam mematung, menyesal karena sudah merendahkan keluarganya Gabrielle yang jelas-jelas adalah malaikat penolong di mata kekasihnya.


"Pergilah, Gleen. Jangan kembali lagi padaku. Carilah wanita yang tidak memiliki hutang budi sepertiku. Kau tampan dan kaya, aku yakin dalam waktu sekejap kau pasti bisa menemukan wanita yang jauh lebih baik dariku!" usir Lusi dengan tegas.


Wajah Gleen langsung memucat. Pikirannya menjadi sangat kacau saat Lusi terus mendorongnya yang ingin mendekat.


"Pergi Gleen, jangan memaksaku!" lanjut Lusi dengan wajah yang sangat sedih. "Pergi, carilah tempat yang jauh lebih nyaman daripada aku. Hidupku sudah terikat dengan semua ini, aku tidak akan bisa hidup dengan pria yang arogan sepertimu. Pergi ya, kita sudahi semua ini. Kebahagiaan orangtuaku jauh lebih penting dari perasaanku. Mereka akan kecewa jika aku sampai lupa diri dan menutup mata akan semua kebaikan yang telah kami terima dari keluarga Nyonya Besar Liona."


"Aku tidak mau!" tolak Gleen dengan cepat. "Aku tidak akan pernah pergi darimu. Kita saling sayang, Lusi. Tolong jangan seperti ini, aku minta maaf sudah menyakiti perasaanmu. Aku janji aku tidak akan pernah mengungkit masalah itu lagi. Jangan minta aku untuk pergi, Sweety. Aku tidak bisa jika tidak ada dirimu. Aku mencintaimu, sungguh."


Lusi diam tak menyahut. Dia kecewa dengan sikap Gleen, tak menyangka kalau pria ini tega membuatnya bersedih hati. Padahal Lusi sudah berbesar hati mau menerima masalalu Gleen yang gemar membunuh orang lain. Tapi sepertinya hal itu sama sekali tak memiliki arti apapun di mata pria ini. Mungkinkah ini yang namanya patah hati?.

__ADS_1


'Aku memang menyukaimu, Gleen. Tapi sikapmu membuatku kaget, kau ternyata adalah orang yang sangat arogan. Kita tidak cocok jika terus bersama.'


"Sweety, hei, jangan marah ya" bujuk Gleen ketakutan. "Em, sekarang juga aku akan pergi meminta maaf pada Gabrielle dan keluarganya. Aku akan meminta pengampunan dari mereka, tapi tolong jangan acuhkan aku. Hatiku sakit, sayang. Aku minta maaf.."


"Aku lelah, aku ingin tidur" ujar Lusi kemudian berbaring menyamping memunggungi Gleen.


"Sweety..


"Aku mengantuk, Gleen. Tolong jangan berisik!.


Gleen akhirnya diam sambil terus menatap punggung kekasihnya. Dia sadar kalau kata-katanya tadi sudah sangat melukai perasaan Lusi. Tak mau masalah ini semakin melebar, Gleen memutuskan untuk mendatangi Gabrielle. Dia perlu maaf dari pria itu untuk meredakan kesedihan Lusi.


"Tidurlah yang nyenyak, Sweety. Aku akan pergi dulu sebentar" bisik Gleen kemudian mencium puncak kepala Lusi beberapa kali. "Aku mencintaimu.."


Setelah berpamitan, Gleen bergegas pergi dari rumah sakit. Dia melajukan mobilnya menuju kediaman ibunya Gabrielle untuk mendapatkan kata maaf dari orang-orang yang paling berjasa dalam hidup kekasihnya.


🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄


...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....


...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...

__ADS_1


...🌻 IG: emak_rifani...


...🌻 FB: Rifani...


__ADS_2