
"Silahkan duduk Nona Safira, Nyonya Elea dan Tuan Muda sedang makan malam sekarang!" ucap Nun mempersilahkan tamunya duduk.
"Terima kasih, Tuan" sahut Safira sopan.
"Panggil Nun saja".
"Oh, baiklah Nun".
Safira duduk di sofa sambil memperhatikan ruang tamu milik pria terkaya di negara ini. Sangat megah, kesan itu yang dia dapatkan sekarang. Ini sebenarnya bukan pertama kali Safira datang, tapi dia tetap mengagumi kemewahan yang ada di rumah ini. Dia sangat beruntung karena bisa masuk ke rumah yang konon sangat sulit untuk bisa berada di sini.
"Kalau begitu saya permisi dulu Nona" pamit Nun.
Safira mengangguk. Tak lama kemudian muncul Ares dari dalam sambil membawa map di tangannya. Cepat-cepat Safira berdiri kemudian membungkuk hormat kearahnya saat pria itu menatapnya datar.
"Selamat malam Tuan Ares".
Ares mengangguk.
"Silahkan duduk. Ada hal penting yang ingin aku sampaikan padamu".
"Baik Tuan" sahut Safira lalu kembali duduk.
Safira memperhatikan Ares yang sedang membolak-balikan kertas di tangannya. Keningnya mengerut.
'Kertas apa itu? Kenapa pikiranku tiba-tiba menjadi tidak enak?'.
"Ini adalah aturan kontrak yang harus kau taati saat memberi les pada Nyonya Elea. Baca dan pahamilah isinya. Ingat, semua ini di tulis langsung oleh Tuan Muda, kau harus benar-benar menjaganya seperti menjaga nyawamu sendiri!" ucap Ares sambil meletakkan kertas di atas meja.
Glluuukkk
Belum apa-apa saja Safira sudah di hadapkan pada satu peringatan yang cukup pelik. Dengan tangan gemetar Safira mengambil kertas tersebut kemudian membacanya. Matanya terbelalak.
'Apa-apaan ini?'.
PERATURAN KONTRAK:
Tidak boleh membahas pria lain saat belajar
Tidak boleh membahas pria lain saat belajar
Tidak boleh membahas pria lain saat belajar
Tidak boleh membahas pria lain saat belajar
Tidak boleh membahas pria lain saat belajar
JIKA MELANGGAR, KAU AKAN KU KIRIM KE PLANET MARS 🤬🤬🤬🤬
Mata Safira sampai tidak berkedip memandangi peraturan aneh yang tertera di dalam kertas tersebut. Dia kemudian menatap kearah Ares.
"Maaf Tuan Ares, peraturan di dalam sini sama sekali tidak terhubung dengan pembelajaran yang akan saya berikan pada Nyonya Elea. Ini, ini terlihat tidak relevan untuk pekerjaan ini!".
Ares menatap tak suka kearah Safira. Dia merasa kalau wanita ini terlalu banyak protes.
"Kau berani membantah keinginan Tuan Muda, iya?".
Safira menelan ludah. Dia kemudian menggeleng takut.
"Siapa yang tidak mau menuruti keinginanku?".
__ADS_1
Ares dan Safira menoleh kearah belakang kemudian berdiri. Mata Safira membelalak lebar seperti bertemu hantu melihat penampilan sepasang suami istri yang sama-sama mengenakan baju couple berwarna merah muda.
'Ya Tuhan, apa mataku tidak salah lihat? Sejak kapan Tuan Muda mau mengenakan pakaian dengan warna cerah seperti ini? Bukankah selama ini dia hanya menyukai warna hitam dan putih saja?'.
Gabrielle menghembuskan nafas kasar mendengar apa yang sedang di pikirkan oleh wanita yang sedang berdiri terpaku di samping Ares.
Rupanya hembusan nafas Gabrielle menarik perhatian Elea. Dia menengadah menatap wajah suaminya yang memang memiliki tubuh yang sangat tinggi.
"Kak Iel, apa kau sedang flu?" tanya Elea penasaran.
"Tidak, kenapa kau bertanya seperti itu?".
Gabrielle duduk di sofa kemudian menarik Elea duduk di atas pangkuannya. Mengabaikan tatapan kaget di wajah Safira.
"Tadi Kakak seperti kesulitan bernafas. Kalau benar flu, Kakak harus menjauh dariku" jawab Elea.
Kening Gabrielle mengernyit bingung.
"Tidak sayang, aku baik-baik saja. Sungguh!" ucap Gabrielle. "Tapi kenapa kau menyuruhku menjauh kalau aku benar-benar terkena flu?".
"Kak Iel ini bagaimana sih. Kan Kakak sendiri yang bilang kalau aku tidak boleh berdekatan dengan orang yang membawa virus. Nanti bisa tertular!" ucap Elea dengan tatapan yang sangat serius.
Ares menunduk, sementara Safira tercengang dengan mulut terbuka lebar mendengar bagaimana gadis kecil ini dengan beraninya bicara seperti itu pada Gabrielle.
'Sayang, kau sudah pintar membalikkan kata-kataku ya sekarang. Ya Tuhan, kenapa aku termakan hasutanku sendiri?'.
Tak mempedulikan wajah suaminya yang terlihat menyedihkan, Elea beralih menatap kearah guru lesnya.
"Halo Kak Safira" sapa Elea sopan sembari tersenyum manis.
Safira tergagap. Dia mengerjapkan mata sebelum membalas sapaan dari nyonya kecil yang sedang duduk di depannya.
"Ha,halo Nyonya Elea. Bagaimana kabarmu?" tanya Safira dengan suara gugup.
"Aku baik, sangat baik malah. Tahu tidak Kak, aku baru saja mendapat hadiah dari Kak Iel. Sebuah ponsel, bagus sekali!".
"Oh, benarkah?" sahut Safira mulai tenang.
"Iya. Nanti aku akan tunjukkan padamu, sekalian mengambil foto bersama. Kak Safira mau kan?".
Ares melirik kearah wajah Tuan Muda-nya yang sudah terlihat masam. Dia sangat hapal dengan ekpresi itu.
Safira mengelap keringat yang muncul di keningnya saat menyadari tatapan sinis dari Tuan Muda Gabrielle. Dia sekarang paham kalau pria itu tidak suka melihatnya terlalu dekat dengan Nyonya Elea.
"Emmmm Nyonya, bagaimana, bagaimana kalau kita langsung belajar saja? Hari sudah mulai malam!" ucap Safira ketakutan.
"Ayo ayo" sahut Elea bersemangat kemudian beranjak dari pangkuan suaminya.
Gabrielle berdehem saat Elea dengan santainya bergelayut di lengan guru lesnya. Seketika dia terbakar api cemburu.
'Cih, apa menariknya wanita ini sih. Bisa-bisanya Elea lebih memilih untuk memeluknya dari pada memelukku!'.
"Tuan Muda, kalau begitu saya permisi dulu. Sudah waktunya Nyonya Elea belajar!" pamit Safira pelan.
"Kau sudah membacanya?" tanya Gabrielle sambil terus melirik tangan istrinya yang menempel di lengan Safira.
"Sudah Tuan Muda".
"Jangan coba-coba melanggar aturan kontrak itu. Atau Ares akan melakukan apa yang sudah kau baca tadi!" gertak Gabrielle.
"B,baik Tuan Muda!".
"Kak Iel, boleh tidak aku dan Kak Safira belajar di dekat kolam renang saja?" tanya Elea penuh harap.
__ADS_1
"Tidak, angin malam tidak sehat untukmu sayang. Kau belum sepenuhnya sembuh" jawab Gabrielle khawatir.
"Kak Iel, aku tidak akan mati jika terkena angin malam. Kau ini berlebihan sekali!" celetuk Elea tanpa sadar.
Ares dan Gabrielle tergelak mendengar perkataan Elea. Mereka sampai tidak bisa berkata apa-apa.
"Boleh ya?" rayu Elea sambil menusuk-nusuk tangan Gabrielle menggunakan jari telunjuknya.
Gabrielle langsung meleleh melihat tingkah menggemaskan istrinya. Tanpa sadar dia menganggukkan kepala.
"Pergilah. Nun akan menyiapkan semuanya untukmu".
Cup
Safira dan Ares menatap kearah lain saat nyonya kecil mereka meninggalkan sebuah kecupan manis di pipi pria yang saat ini sedang tersenyum bahagia.
"Sayang, apa ini juga nasehat yang di berikan oleh temanmu?" tanya Gabrielle sambil menyentuh pipinya yang baru saja mendapat ciuman dari istrinya.
"Bukan Kak, aku hanya mengikuti apa yang sering Kak Iel lakukan padaku. Emm tidak boleh ya?" tanya Elea polos.
"Oh boleh, tentu saja boleh. Jika kau mau, kau boleh melakukannya setiap hari!" jawab Gabrielle cepat.
'Tuan Muda, anda pandai sekali mengambil keuntungan dari kepolosan Nyonya'.
"Baiklah. Kalau begitu aku belajar dulu ya Kak. Ayo Kak Safira!" pamit Elea sambil menarik tangan guru lesnya menuju kolam renang.
Sepeninggal Elea, Gabrielle tidak henti-hentinya tersenyum sambil terus memegangi pipinya. Dia seperti kejatuhan durian montong malam ini.
"Mimpi apa aku semalam sampai Elea menciumku tanpa harus aku menipunya dulu. Hahahaha!".
Ares tersenyum samar melihat kebahagiaan di wajah Tuan Muda-nya. Dia ikut merasa senang.
"Oh ya Ares, siapa nama teman Elea yang tadi memberinya petuah?" tanya Gabrielle penasaran.
"Namanya Lusi, Tuan Muda. Dia pelayan termuda di rumah ini. Usianya juga tidak berbeda jauh dari usia Nyonya" jawab Ares.
"Berapa?".
"21 tahun, Tuan Muda".
Gabrielle mengangguk-anggukkan kepala.
"Pantas saja mereka bisa sama-sama mempunyai pemikiran yang aneh. Naikkan gajinya, dan untuk tiga bulan ke depan beri dia gaji tiga kali lipat dari yang sekarang. Sepertinya aku perlu mengapresiasi petuahnya yang membawa perubahan banyak pada istriku!".
"Baik Tuan Muda" sahut Ares.
"Ahh Elea, kau sangat menggemaskan sayang" gumam Gabrielle seraya kembali mengusap bekas ciuman di pipinya.
Ares hanya diam memperhatikan Tuan Muda-nya yang sedang berbunga-bunga.
"Ayo ke ruanganku. Jika kita terus berada di sini Elea tidak akan bisa belajar dengan baik karena aku sangat ingin menculiknya masuk ke kamar!" ucap Gabrielle sembari menatap istrinya melalui kaca jendela.
'Bukan kita Tuan Muda, tapi itu anda. Astaga'.
Ares berjalan mengikuti Tuan Muda-nya. Bibirnya berkedut setiap kali mendengar celetukan Tuan Muda-nya yang tidak berhenti mengucapkan kata cinta untuk Nyonya Elea.
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSSS......
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
...🌻 IG: nini_rifani...
__ADS_1
...🌻 FB: Nini Lup'ss...
...🌻 WA: 0857-5488-6308...