Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Tuhan Tidak Tidur


__ADS_3

πŸ€ Minta waktunya sebentar ya gengs... Mohon bantu doakan Nenek emak ya karena beliau keadaannya masih belum stabil. Udah berkantong-kantong darah di transfusikan tapi masih belum ada perubahan. Do'akan semoga Nenek bisa segera sembuh agar semua orang bisa tenang. Aminnn πŸ™ πŸ€


"Cira, kau istirahatlah dulu. Sejak tadi kau terus saja sibuk membantu sampai belum ada waktu untuk makan," ucap Clarissa tak tega.


"Tidak apa-apa, Nyonya. Ini sudah menjadi tugas saya untuk membantu anda,"


Cira tersenyum. Dia mana mungkin mau meningggalkan majikannya yang sedang kerepotan menangani gaun pengantin yang di pakai Lusi. Juga karena dia yang sedang menunggu kedatangan Ares. Ya, Cira memang sengaja tidak makan apapun karena ingin makan bersama dengan calon suaminya. Entah kenapa sejak pagi dia terus saja merindukan pria itu. Mungkin karena terbawa perasaan melihat bagaimana mempelai pria begitu lembut dalam memperlakukan si mempelai wanita.


"Nyonya Clarissa, terima kasih banyak atas hadiah ini. Saya benar-benar sangat beruntung bisa memakai karya indah milik seorang desainer ternama seperti anda!" ucap Lusi setelah duduk di kursi pelaminan.


"Jangan sungkan, Lusi. Anggap saja ini adalah balasan atas semua kebaikan yang sudah kau lakukan pada cucuku. Terima kasih sudah ikut menjaga Elea selama ini," sahut Clarissa sembari menggenggam erat tangan si mempelai wanita.


Gleen yang sedang mendengarkan percakapan antara Nyonya Clarissa dan istrinya, menoleh ke arah pintu masuk begitu melihat kedatangan seseorang yang paling di tunggunya. Ya, sahabat karibnya muncul sambil menggandeng Patricia di sebelahnya. Tapi Gleen begitu kaget ketika melihat wajah Junio yang begitu pucat. Sementara Patricia, wanita itu terlihat seperti sedang tertekan. Entah masalah apa yang sudah terjadi di antara mereka berdua, Gleen tidak tahu.


"Ada apa Gleen?" tanya Lusi ketika melihat sang suami terdiam seperti orang bingung.


"Oh, itu. Junio datang bersama Patricia," jawab Gleen. "Tapi raut wajah mereka terlihat aneh."


"Aneh bagaimana?"


Lusi langsung mengedarkan pandangan ke arah tamu-tamu yang mulai memenuhi tempat resepsi. Dia kemudian melihat sahabat suaminya yang sedang duduk bersama dengan Patricia yang terus menundukkan kepala.


"Apa kau menemukan mereka?" tanya Gleen.


"Iya, sudah."


"Aneh kan? Patricia terlihat sangat tertekan, sedangkan Junio terlihat seperti zombie. Bukankah saat acara pemberkatan di gereja hubungan mereka baik-baik saja ya? Hanya berselang beberapa hari masa keadaan mereka jadi mengerikan begini. Seperti orang yang sedang terlilit hutang saja."


"Jangan bicara seperti itu, Gleen. Kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada mereka, jadi jangan sembarangan mengambil kesimpulan. Junio terlihat seperti itu mungkin karena kelelahan bekerja setelah kau mengambil cuti panjang. Sedangkan Patricia, dia terlihat tertekan mungkin karena masih merasa canggung untuk bertemu keluarga besar Elea. Makanya sekarang mereka berdua terlihat aneh!" ucap Lusi menegur sang suami.


Gleen tersenyum. Hatinya benar-benar terasa sangat teduh setiap kali mendengar perkataan istrinya. Gleen kemudian berdiri dari tempat duduknya saat dua orang perawat datang sambil mendorong kursi roda milik mertuanya.

__ADS_1


"Hati-hati!"


Kedua perawat itu mengangguk. Gleen dan Lusi kemudian berjongkok di hadapan kedua orangtua mereka. Membiarkan banyak lenza kamera mengabadikan momen mengharukan ini.


"Gleen, Lusi, kalian berdua terlihat sangat serasi. Ayah sungguh beruntung karena masih bisa menyaksikan pernikahan kalian," ucap Luyan dengan mata berkaca-kaca.


"Iya Nak, Ibu do'akan semoga rumah tangga kalian selalu di limpahi banyak kebahagiaan. Dan maaf, sepertinya Ayah dan Ibu tidak bisa menemani kalian di atas pelaminan. Kalian lihat sendiri kan bagaimana kondisi Ayah dan Ibu sekarang? Akan sangat memalukan jika kami duduk di sini," imbuh Nita sambil menyeka airmatanya.


Lusi hampir saja menangis jika Gleen tidak segera menenangkannya. Lidahnya mendadak terasa sangat kelu saat mendengar perkataan orangtuanya. Sungguh, tidak sedikitpun Lusi merasa malu mempunyai orangtua meski kini ayah dan ibunya hanya bisa duduk di atas kursi roda. Dia justru merasa sangat bangga karena bisa di lahirkan sebagai anak mereka.


"Tuan Luyan, Nyonya Nita, tolong jangan bicara seperti itu di depan pengantin kita. Lihatlah, nanti kecantikannya jadi luntur kalau mereka sampai menangis,"


Semua orang langsung menoleh ke arah Nyonya Liona yang baru saja datang bersama dengan Tuan Greg. Kedua pasangan legendaris ini terlihat begitu memukau dengan balutan pakaian mewah yang memiliki warna senada.


"Tuan Besar Greg, Nyonya Besar Liona," sapa Luyan dan Nita berbarengan.


"Malam ini adalah malam yang sangat membahagiakan karena putri kita resmi menggelar acara pernikahannya. Jadi tolong bersukacitalah untuknya, mari kita tertawa bahagia agar semua orang tahu kalau putri kita adalah pemenangnya malam ini!" ucap Liona tak sungkan memberi pelukan pada wanita yang pernah di tolongnya itu.


Liona mengangguk. Dia kemudian melihat ke arah Lusi yang sedang di tenangkan oleh Gleen. Seperti anaknya sendiri, Liona menarik Lusi ke dalam pelukannya. Gadis polos yang dulu tidak sengaja dilihatnya sedang kebingungan di pinggir jalan kini menjelma bak bidadari yang luar biasa cantik. Liona merasa sangat senang saat tahu kalau gadis ini memiliki pribadi yang sangat baik dan juga santun. Meski bekerja sebagai pelayan di rumah putranya, diam-diam Liona selalu mengawasi Lusi. Dia begitu menyayanginya seperti putri kandungnya sendiri.


"Jangan menangis, sayang. Ini adalah hari bahagiamu, tersenyumlah."


"Nyonya Liona, terima kasih atas segala kebaikan yang pernah anda beri pada kami semua. Tanpa uluran tangan Nyonya dan Tuan, saya tidak akan mungkin merasakan kebahagiaan seperti ini," ucap Lusi sambil menahan tangis.


"Kau berhak mendapatkan semua ini, Lusi. Tuhan tidak pernah tidur, Dia pasti melihat dari atas sana seperti apa pengorbananmu untuk membahagiakan orangtua dan juga kedua adikmu.Tuhan itu Maha Adil, Nak."


Jepretan lenza kamera tak henti-hentinya mengambil moment yang begitu membahagiakan itu. Bagaimana tidak! Keluarga paling berpengaruh di negara ini hadir sebagai keluarga dari pihak wanita yang notabenenya adalah mantan pelayan di rumah mereka. Sungguh, mereka begitu iri akan nasib baik yang di alami oleh si mempelai wanita. Lusi bagaikan Cinderella yang menikah dengan seorang pangeran tampan nan kaya raya.


Setelah puas saling memeluk, kini Liona beralih ke arah Gleen. Raut wajahnya yang tadi terlihat lembut sekarang langsung berubah menjadi dingin saat berhadapan dengan si mempelai pria.


"Kau tahu bukan apa konsekuensinya jika berani membuat putriku menangis?"

__ADS_1


Gleen menelan ludah. Dia langsung menganggukkan kepala detik itu juga begitu ibunya Gabrielle membuka suara.


"Saya sangat mencintai Lusi, Nyonya Liona. Anda boleh membunuh saya jika suatu saat nanti saya membuat Lusi bersedih."


"Kau yang memintanya, Gleen!" sahut Liona kemudian tersenyum ke arah Luri dan Nania yang baru saja bergabung.


Greg yang melihat istrinya mengintimidasi si mempelai pria nampak terkekeh pelan. Istrinya ini ada-ada saja. Meminta Lusi agar tidak menangis karena khawatir make-upnya rusak, sekarang malah membuat Gleen mandi keringat. Sudah bisa di pastikan kalau parfum di tubuhnya luntur seketika.


"Santai saja, Gleen. Istriku hanya terlalu menyayangi Lusi. Aku harap kau bisa paham!" ucap Greg seraya menepuk pelan pundak Gleen yang masih terlihat takut.


"Saya bersumpah tidak akan pernah membuat Lusi menangis, Tuan Greg. Nyonya Liona benar-benar sangat mengerikan," sahut Gleen kemudian menyeka keringat di keningnya.


"Dia memang sedikit mengerikan. Tapi dia adalah wanita dan juga ibu terhebat di mataku!" ucap Greg memuji sang istri. "Gleen, jagalah Lusi dengan baik. Dia adalah permata di hati orangtuanya, kembalikan dia pada kami kalau memang kau tak sanggup lagi untuk mencintainya. Ingat Gleen, wanita yang kau nikahi adalah wanita yang akan menemanimu dalam suka dan duka. Jadi jangan pernah sekalipun kau menyakitinya, apalagi menyia-nyiakannya. Lusi adalah gadis yang sangat baik, aku jamin kau tidak akan pernah menyesal menikahinya."


Gleen tersenyum. Dia seperti mendapat petuah dari ayahnya sendiri saat mendengar nasehat ayahnya Gabrielle.


"Terima kasih untuk nasehatnya, Tuan Greg. Kata-kata itu akan saya jadikan pedoman dalam rumah tanggaku. Sekali lagi terima kasih, Tuan!"


"Sama-sama."


πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„


βœ…Yoo unjuk jari siapa yang udah nonton si gadis beracun? Kira-kira gimana ya rasanya di jejelin telur ama Nania? Pada penasaran gk nih? Kalo iya, kuy mampir ke chanel emak aja. PESONA SI GADIS DESA akan siap mengocok perut kalian semua karena di sana ada Fedo, Luri, dan juga Nania. Yuklah pada mampir



...🌻VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....


...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...


...🌻IG: rifani_nini...

__ADS_1


...🌻FB: Rifani...


__ADS_2