
"Yura, apa kau pernah bersinggungan dengan salah satu anggota dari Keluarga Ma?" tanya Bryan di sela-sela makan malam bersama keluarganya.
Yura yang saat itu tengah mengunyah makanan langsung terdiam. Keningnya mengernyit. Dia lalu menatap bingung kearah suaminya.
"Bryan, kenapa kau bertanya seperti itu padaku? Dan Keluarga Ma, aku bahkan tidak pernah bertemu dengan mereka!".
"Benarkah? Kau tidak sedang berbohong padaku kan?" tanya Bryan curiga.
Awan mendung segera muncul di wajah Yura begitu dia menyadari ada nada curiga dari pertanyaan suaminya. Tidak ada yang tahu kalau sekarang kuku tangannya telah menancap kuat di kulit pahanya. Bertahun-tahun hidup sebagai Nyonya Young, tidak pernah sekalipun Bryan menaruh rasa percaya padanya. Jangankan percaya, di anggap ada pun tidak. Selama ini Yora selalu menerima perlakuan yang cukup buruk dari suaminya. Namun dia berusaha menahan semua itu karena satu alasan. Cinta, itulah yang membuatnya mampu berdiri di atas tumpukan duri tajam.
"Bryan, keuntungan apa yang akan aku dapatkan dengan membohongimu? Kau suamiku, tidak mungkin aku melakukan sesuatu yang bisa membuatmu merasa rugi!" jawab Yora dengan suara bergetar.
Patricia melirik kearah tangan ibunya yang tersembunyi di bawah meja. Dia tahu betul kalau saat ini ibunya pasti sedang menyakiti dirinya sendiri karena di curigai oleh ayahnya. Dengan memendam kesedihan, Patricia menarik tangan ibunya keluar dari bawah meja. Dia berusaha agar tidak menangis begitu melihat ada bercak darah yang menempel di sana.
'Ibu, mau sampai kapan kau menyakiti dirimu seperti ini?'.
"Bryan, sebenarnya apa yang telah terjadi? Kenapa kau menuduh Yura seperti itu?" tanya Karim, ayahnya Bryan.
"Gabrielle tiba-tiba saja bertanya tentang Yura dan Patricia padaku. Jika tidak ada apapun, orang besar sepertinya pasti tidak akan sudi menanyakan kabar tentang keluarga kita. Jika kita bertukar posisi, Ayah pasti akan memiliki pemikiran yang sama sepertiku. Pasti ada alasan tersendiri kenapa Gabrielle tiba-tiba bisa tertarik dengan keberadaan keluarga kita!" jawab Bryan.
Karim terdiam. Dia lalu melihat kearah menantu dan cucu perempuannya.
"Yura, katakan saja kalau kau memang pernah bermasalah dengan keluarga itu. Kebetulan ini tidak bisa di pandang remeh. Gabrielle bukanlah orang yang boleh kita singgung, kita tidak sebanding jika harus terlibat masalah dengannya!" ucap Karim penuh nada peringatan.
"Ayah, aku sama sekali pernah bertemu dengan mereka. Dan aku mengetahui mereka pun hanya melalui berita di televisi saja. Jika Ayah tidak percaya, silahkan perintahkan orang untuk menyelidikinya!" jelas Yura sedih.
"Ayah,Kakek, aku juga tidak pernah berurusan dengan Gabrielle ataupun keluarganya. Dalam bisnis pun kami tidak terlibat kerjasama!" timpal Patricia ikut menjelaskan.
"Coba kalian ingat-ingat saja dulu. Siapa tahu kalian telah melewatkan sesuatu yang berhubungan dengan keluarga mereka!" ucap Bryan masih tidak percaya.
__ADS_1
Karim menghela nafas panjang. Dari sorot mata menantu dan cucunya dia sudah bisa menebak kalau mereka memang tidak pernah berurusan dengan keluarga itu. Karim yakin kalau menantu dan cucunya berkata jujur karena selama ini mereka tidak pernah berkata bohong padanya.
"Sudahlah Bry, Yura dan Patricia tidak mungkin berkata bohong. Mungkin Gabrielle bertanya seperti itu karena ingin menjalin hubungan baik dengan keluarga kita. Itu bisa saja terjadi kan? Siapa tahu dia sengaja bertanya seperti itu karena ingin mengambil hati Patricia. Lihatlah, putrimu itu sangat cantik. Dia juga sangat pandai mengelola bisnisnya. Jadi sangat wajar bukan kalau Patricia menjadi incaran pria sekelas Gabrielle?".
Patricia tersenyum malu mendengar perkataan kakeknya. Di negara ini, siapa yang tidak ingin menjadi kekasih dari pria sesempurna Gabrielle? Pria tampan nan kaya yang selalu di buru oleh banyak wanita.
"Kakek terlalu melebih-lebihkan aku. Kemampuan bisnisku mana bisa di bandingkan dengan kemampuan Ayah!" ucap Patricia sambil melirik kearah ayahnya.
Bryan tidak suka saat ayahnya mulai mengagung-agungkan Patricia. Dengan wajah muram dia segera menghabiskan makanan di piringnya kemudian bergegas pergi dari meja makan.
"Aku lelah dan ingin beristirahat di kamar. Kalian silahkan nikmati makan malam ini bersama!" pamit Bryan pada keluarganya.
Yura ikut berdiri saat melihat suaminya sudah ingin beranjak.
"Apa kau ingin aku membuatkan sup jahe kesukaanmu?" tanya Yura hati-hati.
Mulut Yura keki. Kedua tangannya saling meremas kuat. Seandainya saja di sini tidak ada putri dan ayah mertuanya, Yura pasti akan langsung meneteskan airmata. Hatinya begitu pedih karena selalu di perlakukan dengan begitu dingin oleh suaminya sendiri. Dan bukan baru sekarang, tapi sudah dia alami selama belasan tahun.
"Ibu, jangan hiraukan perkataan ayah barusan. Itu sudah menjadi sikapnya selama ini, jadi Ibu tidak perlu merasa sedih. Masih ada Patricia dan Kakek yang akan menyayangi Ibu. Benar kan Kek?" tanya Patricia mencoba menghibur kesedihan ibunya.
Karim mengangguk. Dia tidak tahu harus bagaimana sekarang. Sejak menikah, Bryan tidak pernah mau memperlakukan Yura layaknya seorang istri. Bahkan setelah kematian wanita miskin itu, putranya seperti kehilangan selera terhadap wanita. Ya, Bryan menjadi pria impoten karena terlalu di rundung kesedihan waktu itu. Dan Patricia bukanlah cucu kandungnya. Gadis itu adalah anak dari kerabat jauh Yura yang kebetulan di tinggal mati oleh kedua orang tuanya dalam kecelakaan pesawat. Yura kemudian meminta izin untuk mengadopsi Patricia karena dia sadar dia tidak akan pernah bisa hamil. Meskipun Yura dengan tulus mau menerima kekurangan Bryan, putranya itu masih terlihat enggan untuk menerima kehadiran Yura dan Patricia. Dia baru akan bersikap layaknya seorang suami yang mencintai istrinya jika sedang berhadapan dengan kolega maupun sorotan kamera. Terkadang Karim merasa begitu iba pada nasib menantunya. Namun dia tidak bisa melakukan apapun untuknya.
"Yura, Ayah minta maaf karena tidak bisa merubah pandangan Bryan terhadap kalian berdua. Ini semua terjadi karena keegoisan Ayah. Dia menjadi begitu dingin karena kesalahanku di masa lalu. Tolong maafkan Ayah ya!" ucap Karim sambil menunduk sedih.
"Ayah ini bicara apa. Bryan bersikap seperti itu karena memang itulah sikapnya. Jadi Ayah tidak perlu menyalahkan diri atas apa yang tidak pernah Ayah perbuat!" sahut Yura tak tega.
Yura sangat tahu bagaimana dan apa yang telah membuat suaminya berubah menjadi seperti ini. Memang benar kalau apa yang terjadi pada Bryan ada campur tangan dari ayah mertuanya. Tapi Yura tidak sejahat itu untuk memojokkan ayah mertuanya dengan kesalahan yang pernah dia perbuat dulu.
"Seandainya saja...
__ADS_1
"Ayah, cukup. Aku mohon jangan lanjutkan perkataan Ayah. Yang sudah berlalu biarkan saja berlalu, biarkan semua itu menjadi kenangan. Ayah, aku mohon jangan ungkit-ungkit masalah itu lagi ya!" ucap Yura memotong perkataan ayah mertuanya.
Karim menatap pilu kearah menantunya. Dadanya terasa sesak. Yura adalah wanita yang sangat baik, dia rela menanggung beban kesalahan masa lalunya hanya karena dia yang begitu mencintai Bryan. Seandainya saja waktu bisa di putar, Karim tidak akan pernah mau melakukan kebodohan yang malah merusak kebahagiaan putranya. Dan sekarang menantu dan cucunya juga ikut terkena imbas dari dosa-dosa masa lalunya.
"Kakek,Ibu... Aku memang tidak seharusnya ikut campur dengan permasalahan kalian. Tapi bisakah kita melanjutkan makan malam ini? Aku masih lapar karena baru sebelah perutku saja yang terisi makanan!" ucap Patricia berusaha mencairkan suasana.
Karim dan Yura terkekeh pelan mendengar perkataan Patricia.
"Yura, coba lihat putrimu itu. Bagaimana bisa dengan tidak tahu malunya dia bicara seperti itu di hadapan kita berdua!" ledek Karim.
"Kakek... ".
"Hahahhahaa, baiklah. Sekarang tidak ada lagi kesedihan. Karena Yang Mulia Ratu Patricia Young sudah sangat kelaparan. Yura, ayo kita makan. Kita tidak boleh membuat ratu kita marah!".
Bibir Patricia mengerucut mendengar ledekan yang di lontarkan oleh kakeknya. Dia kemudian menarik nafas lega karena kedua orang tua itu tidak lagi terlihat sedih. Sesuatu yang sering kali terjadi setiap mereka berkumpul bersama dengan ayahnya.
'Ibu, meksipun aku bukan anak kandungmu, aku tidak akan pernah membiarkan siapapun merusak kebahagiaan keluarga kita. Aku akan berusaha sebaik mungkin agar ayah mau melihat keberadaan kita berdua. Aku berjanji padamu, Ibu!'.
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSSS..
LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA
🌻 IG: nini_rifani
🌻 FB: Nini Lup'ss
🌻 WA: 0857-5844-6308
__ADS_1