Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Siapa Yang Benar?


__ADS_3

Patricia merasa bingung saat Junio mengajaknya datang ke rumah sakit. Setelah makan siang, Junio menepati janji yang ingin mengajaknya pergi mengunjungi makam sang ibu. Tapi anehnya, mereka berdua malah datang ke salah satu rumah sakit milik Group Ma bukannya pergi ke pemakaman.


"Ayo jalan, kenapa berhenti!" tanya Junio sambil berbalik menatap Patricia yang menolak untuk masuk ke dalam rumah sakit.


"Jun, kenapa kau malah membawaku kemari. Aku itu ingin pergi ke makam ibuku" ucap Patricia mulai kesal.


"Lalu?.


Junio sengaja tak membiarkan Patricia tahu kalau ibunya masih berada di rumah sakit ini. Dia ingin memberikan syok jantung pada wanita yang kini sudah kehilangan arah.


"Lalu? Kau ini sudah gila atau bagaimana sih. Sudahlah, aku mau pulang saja!" rajuk Patricia kemudian menghempaskan tangan Junio yang sedang menggenggam tangannya.


"Mau kemana, hm?.


"Lepas!.


Baik Junio mau pun Patricia sama-sama melemparkan tatapan tajam. Kelakuan mereka akhirnya membuat seorang gadis belia datang.


"Kakak-kakak, kalau mau bertengkar itu jangan di rumah sakit. Naik ke ring tinju saja sana!" celetuk Nania kemudian pergi begitu saja.


Junio menelan ludah. Dia seperti baru saja melihat malaikat pencabut nyawa.


"Itu Nania kan?.


"Nania? Nania siapa?" tanya Patricia bingung.


"Itu tadi yang baru saja lewat di depan kita,"


Patricia kemudian melihat kearah pintu masuk dimana ada seorang remaja tengah berjalan bersama pria yang dia kenal, Gleen.


"Oh, jadi Nania itu pacar temanmu ya?.


Junio menggeleng. Dia lalu menggunakan kesempatan itu untuk menarik tangan Patricia masuk ke dalam rumah sakit. Patricia yang hendak berteriak langsung kaku saat tak sengaja melihat ayahnya yang sedang mendorong kursi roda sang kakek. Kakinya mendadak lemas seperti tak bertulang.


"Kau kenapa Patricia?" tanya Junio heran.


"A-ada Ayahku, Jun. Ak-aku takut" jawab Patricia dengan mata yang mulai sembab.


Junio segera melihat kearah depan dimana memang benar kalau Tuan Bryan ada di sana. Bukannya membawa Patricia bersembunyi, dia malah menariknya kearah kesana. Sontak saja perbuatannya itu membuat Patricia kaget setengah mati.


"Junio, apa-apaan kau. Lepaskan aku!.


"Diamlah. Jangan lari dari kenyataan, kau harus bisa menghadapi Ayah dan Kakekmu" sahut Junio mengencangkan tarikan di tangan Patricia.


"Aku belum siap, Junio. Tolong jangan paksa aku,"


Sia-sia sudah Patricia merengek pada Junio karena sekarang mereka sudah berada tepat di belakang orang yang ingin di hindari oleh Patricia.

__ADS_1


"Tuan Bryan!.


Mendengar namanya di panggil, Bryan pun menoleh. Matanya membelalak lebar begitu tahu siapa yang sedang berdiri di belakangnya.


"Cia, kau datang Nak" ucap Bryan kemudian segera menghampiri putrinya.


"H-halo A-A-Ayah" sapa Patricia kikuk.


Greeepp


Tubuh Patricia menegang saat ayahnya tiba-tiba memeluknya. Dia heran, tidak mengerti kenapa ayahnya malah melakukan hal ini alih-alih mengamuk karena sudah membunuh ibunya dan juga menyakiti Eleanor.


"Kau kemana saja, Cia. Ayah dan Ibu selalu menunggumu setiap hari. Kenapa kau tak pernah datang menjenguk Ibumu di rumah sakit?" tanya Bryan sambil mengurai pelukannya. "Kau kurusan sekarang!.


"I-Ibu menungguku?.


Tidak mungkin. Patricia pasti salah dengar. Ibunya sudah meninggal, Junio sendiri yang mengatakan hal itu padanya.


"Iya, Ibumu selalu menantikan kedatanganmu" jawab Bryan heran melihat putrinya terkejut. "Ada apa, Cia? Kenapa kau terlihat begitu kaget saat tahu kalau Ibumu terus menunggumu?.


"Ayah, Ayah tahu kan kalau aku yang merencanakan pembunuhan di hutan waktu itu? Aku-aku ingin membunuh Ibu dan juga Eleanor. Aku memasang bom di tempat yang mereka datangi. Aku-aku....


Patricia kalut. Dia seperti tidak bisa membedakan mana yang nyata dan tidak nyata. Jelas-jelas Junio bilang kalau ibunya meninggal dalam ledakan itu, lalu kenapa ayahnya bilang kalau ibunya terus menunggu kedatangannya?.


'Ini sebenarnya ada apa?.


Bryan sadar ada yang tidak beres dengan putrinya. Dia lalu menatap curiga kearah Junio yang hanya diam saja sambil menatap putrinya yang sedang kebingungan.


"Aku bilang pada Patricia kalau Nyonya Yura sudah meninggal" jawab Junio acuh.


"Apaaa???.


Karim dan Bryan sama-sama berteriak kaget. Pantaslah Patricia terlihat bingung sampai seperti ini, rupanya karena dia tidak tahu kalau ibunya sebenarnya masih hidup.


"Cia, mendekatlah Nak. Biarkan Kakek menjelaskan sesuatu padamu, kau salah memahami sesuatu" ucap Karim tak tega.


Saking bingungnya Patricia dia sampai meneteskan airmata. Dia menoleh saat lengannya di usap oleh Junio.


"Kakekmu ingin bicara,"


"Bicara?.


Junio mengangguk. Lama-lama dia jadi tidak tega melihat Patricia seperti ini. Dia kemudian mendorongnya agar mendekat kearah Tuan Karim yang sedang duduk di kursi roda.


"Kakek, aku benar-benar sangat bingung. Junio bilang Ibu meninggal dalam ledakan itu, tapi Ayah bilang Ibu sedang menungguku? Sebenarnya yang mana yang benar? Ayah atau Junio?" tanya Patricia semakin kacau.


"Cia, Ibumu dan juga Eleanor sama-sama selamat dari ledakan itu berkat bantuan anak buahnya Gabrielle. Akan tetapi ada kejadian tidak terduga dimana Lusi menjadi korban karena salah mengira Eleanor terjebak dalam ledakan itu. Teman Junio adalah kekasihnya Lusi, dia salah paham pada Ibumu lalu memukuli Ibumu hingga terluka parah. Dan baru kemarin Ibumu di izinkan untuk pulang ke rumah" jawab Karim sambil mengusap tangan cucu kesayangannya.

__ADS_1


"J-jadi Ibu masih hidup?.


"Iya, Ibumu masih hidup."


"Ibu masih ada di dunia ini?.


Karim mengangguk.


Dada Patricia tiba-tiba terasa sangat sesak. Dia kesulitan bernafas begitu tahu kalau ibunya ternyata masih hidup. Dia masih bisa bertemu dengannya.


"Hiksssss Ibu..."


Junio menarik nafas panjang ketika melihat Patricia bernafas dengan tersendat-sendat. Tak tega, dia pun segera datang mendekat kemudian mengusap punggungnya pelan.


"Hikssss J-Junio, k-kau berbohong pa-padaku. K-kau jahat!" ucap Patricia sambil memukuli dada pria gila yang telah membohonginya.


"Maaf, aku melakukan hal itu supaya kau jera dan tidak lagi berbuat sesuatu yang jahat. Sekali lagi aku minta maaf" sahut Junio lirih.


"J-jahat, jahat!.


Patricia kemudian jatuh terduduk di lantai. Dia menangis tersedu-sedu sambil terus meremas dadanya yang terasa begitu sesak. Patricia bahkan tidak peduli ketika menjadi tontonan orang-orang yang datang berkunjung ke rumah sakit.


"Cia, sudah ya, jangan menangis lagi. Sekarang lebih baik kau temui Ibumu di kamar rawat Kakek. Ibumu pasti akan sangat senang saat bertemu denganmu" ucap Bryan ikut merasa sedih menyaksikan putrinya menangis sampai seperti ini.


"Ibu... Ibu....."


Tak tahan mendengar suara tangisannya, Junio akhirnya membantu Patricia berdiri. Dia lalu menanyakan di kamar mana Nyonya Yura berada.


'Ya Tuhan, terima kasih. Ibuku masih hidup, aku tidak sendirian sekarang!.


Bryan segera mendorong kursi roda ayahnya kemudian mengikuti Patricia dan juga juga Junio yang sedang menuju ke kamar dimana istrinya berada. Entahlah, Bryan tidak tahu harus bagaimana untuk sekarang. Dia ingin marah pada Patricia, tapi melihatnya menangis seperti tadi membuat Bryan menjadi tidak tega. Biarlah, lagipula semuanya sudah berlalu. Istri dan putri kandungnya


sekarang baik-baik saja. Pun semua ini tidak sepenuhnya salah Patricia, ada peran Bryan yang menjadi pemicu terbesar hingga terjadi kejadian seperti ini. Sikap acuh tak acuh Bryan terhadap Patricia-lah yang menyebabkannya nekad melakukan sesuatu yang sangat kejam. Dan mau tak mau Bryan harus mengakui semua itu.


"Sudah sampai. Sekarang kau masuk dan temuilah Ibumu. Dia ada di dalam" ucap Junio kemudian membuka pintu kamar rawat milik Tuan Karim.


Tubuh Patricia gemetaran saat pintu perlahan-lahan mulai terbuka. Dia langsung menjerit histeris begitu melihat seorang wanita cantik tengah duduk sendirian sambil menonton televisi.


"IBUUUU......!!!!!! .


🍀 Saat manusia terpojok dalam suatu kegelapan, dia tidak akan bisa menyadari keberadaan orang-orang di sekelilingnya. Mata dan hatinya sudah tertutup oleh bujuk rayu iblis yang akan menariknya menuju ruang yang pekat dan sesat. Orang bilang penyesalan akan selalu datang di belakang. Benar, itu adalah pepatah yang sangat masuk akal. Akan tetapi, tidak semua penyesalan akan berakhir luka. Ada kalanya penyesalan menjadi titik awal dalam membangun sebuah kebahagiaan dan keharmonisan. Tergantung bagaimana manusia itu menempatkan rasa sesalnya. Semoga saja kisah Patricia bisa memotivasi kita semua agar ke depannya kita tidak gegabah dalam mengambil keputusan. I Lope Yu Gengss 💜💜💜


🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄


...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....


...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...

__ADS_1


...🌻 IG: rifani_nini...


...🌻 FB: Rifani...


__ADS_2