Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Tapak Dewa


__ADS_3

Levi bagai orang kesurupan saat di beritahu kalau Fulgi telah mencemari tubuh Elea. Dia yang saat itu masih memakai kimono mandi dengan handuk yang membungkus kepalanya segera mencari keberadaan pria tersebut. Levi berniat memberi pria itu sedikit pelajaran karena sudah berani mengganggu Elea-nya.


"Sayang, kau mau kemana?" tanya Reinhard yang tidak sengaja berpapasan dengan Levi di tangga.


"Mau membasmi kecoa" jawab Levi asal tanpa menatap wajah kekasihnya.


Reinhard mengerutkan kening, dia bingung kenapa Levi ingin memberantas kecoa. Padahal dia sendiri sangat takut pada binatang tersebut. Tak ambil pusing dengan kelakuan nyeleneh kekasihnya, Reinhard kembali melanjutkan langkah menuju kamar Gabrielle. Dia berniat memeriksa keadaan Elea setelah mendengar kalau gadis itu terserang flu akibat terlalu lama berada di bawah hujan salju semalam.


Levi yang saat itu sudah sampai di depan kamar Fulgi segera menggedor pintunya dengan sangat keras. Dia menatap tajam kearah seorang pelayan yang ingin menghentikan aksinya.


Ceklek


"Mana bajingan itu hah!" teriak Levi begitu pintu kamar di buka.


Kimmy berjengit kaget saat dia mendengar suara teriakan Levi. Sambil menatap sinis dia menahan pintu kamar saat gadis ini berniat masuk ke dalam.


"Hei Nona bangsawan, seperti inikah caramu bersikap pada tuan rumah, hem?" tanya Kimmy penuh nada sindiran.


Sadar kalau lembu busuk ini ingin mengajaknya berdebat, tanpa ragu Levi segera mengangkat dagu untuk meladeninya. Sambil berkacak pinggang Levi mulai gencar mengirimkan serangan pertama.


"Apa kau bilang? Tuan rumah? Hei Nyonya Kimmy yang mengaku-ngaku sebagai bangsawan, kau sebaiknya segera pergi berkaca. Apa iya wanita buruk rupa sepertimu pantas menjadi tuan rumah ini? Astaga, aku yakin sekali lalatpun tidak akan sudi untuk mengakuinya!."


"Yaakkkkk!."


"Yaaaaakkkkkkk!" sahut Levi balas berteriak. "Memangnya hanya kau saja yang bisa berteriak apa. Aku juga bisa!."


Dada Kimmy bergerak naik-turun dengan cepat. Baru beberapa patah kata bicara dengan wanita gila ini sudah membuat emosinya meledak-ledak. Kimmy menoleh ke dalam kamar saat putranya bertanya apa yang sedang terjadi.


"Ma, kenapa berteriak?."


"Ada jin yang membuat Mama menjadi sangat emosi" jawab Kimmy dengan sengaja menyebut Levi sebagai lelembut.

__ADS_1


Levi yang mendengar suara Fulgi segera mendorong tubuh Kimmy dari depan pintu. Dia kembali berkacak pinggang sembari menatap tajam kearah Fulgi yang sedang terbaring tanpa pakaian. Pria itu hanya memakai celana panjang, di bagian perutnya ada luka lebam yang masih baru yang Levi yakini adalah hasil karyanya Gabrielle.


"Oh, ternyata memang jin yang datang berkunjung" ucap Fulgi dengan sangat santai. "Kenapa? Apa kau datang karena Elea?."


"Kau bajingan, Fulgi" hardik Levi.


"Sst sst sst, hati-hati dengan ucapanmu Nona. Lidah tajammu itu suatu saat bisa menjadi bumerang untuk dirimu sendiri kalau kau mau tahu" sahut Fulgi kemudian duduk. "Bicaralah dengan sopan saat berkunjung ke kamar orang."


"Apa kau baru saja mengancamku?" tanya Levi meradang.


"Kalau ku jawab iya apa yang akan kau lakukan, hem? Mengadukan hal ini pada kekasihmu? Atau merengek meminta pertolongan dari Gabrielle? Iya!" jawab Fulgi penuh nada ejekan.


Levi menyeringai. Tanpa merasa takut sedikitpun dia mendekat kearah Fulgi kemudian duduk di sebelahnya. Satu jarinya terulur kearah lengan pria ini yang tidak tertutup benang. Berusaha menyampaikan jika dirinya sama sekali tidak merasa gentar akan ancaman yang baru saja terlontar.


"Kau tahu Fulgi, aku dan Elea pernah menantang bahaya yang sangat besar. Rasanya akan sangat lucu jika aku harus merasa takut pada ancamanmu. Dan juga aku ini bukan gadis cengeng yang sebentar-sebentar pergi mengadu pada orang lain. Sejak remaja aku menaklukan duniaku tanpa bantuan siapapun, jadi kakiku sudah cukup kuat untuk bertahan dari seranganmu. Gabrielle dan kekasihku adalah bonus, dan aku harap kau jangan sampai berurusan dengan salah satu dari mereka jika tidak mau berakhir tragis. Mereka adalah pria-pria yang mudah mengaum jika wanitanya di sentuh pria lain. Kau harus ingat kata-kataku ini dengan baik!."


"Oh ya? Aku takut sekali" sahut Fulgi sembari memasang ekpresi ketakutan di wajahnya. "Ahahahaha, Levi Levi. Kau seharusnya tidak memandang remeh lawanmu kalau kau belum tahu seberapa kuat kekuasaannya. Ku beritahu kau satu hal, Fulgi Alexander Wu tidak akan pernah takut berhadapan dengan siapapun itu. Termasuk Tuhan. Aku tidak akan ragu untuk melawannya karena aku di ciptakan bukan untuk menjadi seorang pengecut, melainkan menjadi seorang pria kuat yang bisa menaklukan dunia. Justru aku malah khawatir kau yang akan segera jatuh ke lubang hitam jika terlalu percaya diri seperti ini. Kau sedang dalam bahaya, Nona!."


"Benarkah kau tidak takut akan kekuatan Tuhan?" tanya Levi dengan seribu maksud.


"Tentu saja benar" jawab Fulgi dengan bangga.


"Kalau begitu apa kau pernah mendengar kisah tentang seorang biksu yang melakukan perjalanan ke barat untuk mengambil kitab suci?."


"Apa kau sedang membicarakan kisah tentang si monyet yang melegenda itu?" tanya Fulgi sedikit bingung dengan arah pembicaraan mereka.


"Tepat sekali" jawab Levi sambil menepuk tangan. "Dan apa kau tahu kekuatan seperti apa yang di miliki oleh Dewa pada agama mereka?."


Fulgi menggeleng. Kimmy yang sejak tadi hanya berdiri diam menyimak pun ikut menggelengkan kepala. Mereka berdua di buat kebingungan dengan cerita yang di sampaikan oleh Levi. Entah apa hubungan cerita itu dengan masalah yang sedang mereka bahas.


"Tapak Dewa" imbuh Levi kemudian menyeringai. "Dan sekarang aku akan mewakilkan Tuhan memberimu pelajaran karena sudah berani menghinanya. Bersiaplah, karena kau akan segera merasakan serangan Tapak Dewa dariku!."

__ADS_1


Paakkkkkkkkk


"Hkkkkkkkkkkk.....!!."


Mata Fulgi melotot lebar dengan wajah merah padam saat Levi dengan kuat menepak juniornya. Rasa sakit yang di timbulkannya seakan menerobos keluar melalui ubun-ubunnya. Fulgi kemudian jatuh ke ranjang dengan bibir yang bergetar menahan sakit. Sedangkan Levi, dia dengan santainya menikmati pemandangan indah dimana Fulgi tengah menggeliat kesakitan sambil memegangi sang junior yang baru saja mendapat sapaan dari jurus Tapak Dewa-nya.


"Levi, apa yang kau lakukan pada putraku hah?" bentak Kimmy yang sudah duduk di sebelah Fulgi.


"Memangnya matamu tidak bisa melihat apa yang baru saja aku lakukan pada anakmu? Itu akibatnya jika berkata sombong pada Tuhan. Tanpa harus Dia yang turun tangan, jurus Tapak Dewa ini langsung memberi anakmu pelajaran" jawab Levi kemudian meniup jari-jarinya.


"Aarrgggggg Ma, rasanya sakit sekali. Cepat cari obat untukku Ma" teriak Fulgi kesakitan dengan wajah bercucuran keringat. "Dan kau Levi, aku tidak akan melupakan kejadian ini. Aku pasti akan segera membalasmu dengan rasa sakit berkali-kali lipat dari pada ini. Kau tunggulah saja... Arrggg Ma, mana obatnya!."


"T,tunggu sebentar sayang. Mama akan segera mengambilkan obat untukmu" sahut Kimmy kemudian berlari keluar untuk mengambil obat.


Levi berdiri kemudian menatap sangat puas kearah Fulgi. Jujur saja, dia sebenarnya merasa takut akan ancaman pria ini. Tapi dia tidak mungkin memperlihatkan ketakutannya di depan Fulgi, harga dirinya bisa menurun nanti.


"Fulgi, jurus Tapak Dewa ini adalah satu peringatan untukmu agar tidak mengusik ketenangan Elea lagi. Aku memang belum tahu apa tujuanmu sebenarnya, tapi aku tidak akan pernah membiarkanmu mengusiknya. Elea adalah adikku, jadi aku akan melindunginya dari tikus busuk sepertimu. Ingat ini baik-baik Fulgi!."


"Brengsek kau Levi" umpat Fulgi kemudian kembali menjerit kesakitan saat Levi melemparkan handuk kearah juniornya. "Aaarrggg, pergi kau dari sini!."


"Aku memang akan pergi. Siapa juga yang betah berlama-lama di dalam ruangan pengab ini. Membuat paru-paruku sesak saja" sahut Levi kemudian melenggang pergi dengan sangat santai.


Levi berhenti kemudian berbalik saat dia sampai di depan pintu. Sambil tersenyum usil, dia membuat gerakan seperti sedang meremas sesuatu yang langsung membuat Fulgi berteriak memakinya. Levi terbahak-bahak melihat wajah Fulgi yang terlihat sangat tidak enak. Dia segera kembali ke kamarnya untuk berganti pakaian sebelum akhirnya pergi mendatangi kamar Elea. Dia tiba-tiba saja merindukan makhluk kecil itu setelah memberikan pelajaran pada orang yang telah berani menyentuhnya.


🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣


...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....


...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...


...🌻 IG: emak_rifani...

__ADS_1


...🌻 FB: Nini Lup'ss...


__ADS_2