Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Dokter Berkacamata


__ADS_3

Di depan sebuah bandara, terlihat seorang pria mengenakan pakaian dokter masuk ke dalam mobil yang menjemputnya. Dokter pria itu melepas kacamata yang membingkai mata sipitnya, dia lalu mengeluarkan ponsel dari dalam tas, membuka galeri kemudian menatap sebuah foto.


"Aku kembali gadis kecil!".


Orang yang mengemudikan mobil melirik kearah belakang. Sudut bibirnya tersenyum sinis.


"Masih terobsesi padanya, hm?".


Jack, dokter pria berkacamata itu diam tak menyahut saat Fendry mengejeknya. Dia sedang tak berminat untuk berdebat.


"Kau benar-benar pedofil, Jack. Apa enaknya sih mengincar anak kecil seperti gadis itu? Coba buka matamu lebar-lebar, banyak gadis cantik bertebaran yang siap memuaskan juniormu. Kau tinggal pilih ingin yang bagaimana, wanita berdada besar atau wanita yang sudah berpengalaman membuat pria berkeringat di atas ranjang. Aku bisa menyiapkan sebanyak apapun yang kau mau!" ucap Fendry heran.


"Diamlah Fen, aku tak berminat pada wanita-wanita murahan yang kau sebutkan tadi. Hanya gadis kecil ini yang aku mau, yang lain untukmu saja" sahut Jack dingin.


"Sialan kau. Tapi Jack, kejadian itu sudah lama berlalu, dia tidak mungkin masih mengingatmu kan!".


Jack menarik nafas panjang mendengar pertanyaan Fendry. Ada benarnya juga, tapi Jack tetap tidak akan melepaskannya. Dimanapun gadis kecil itu bersembunyi, dia pasti akan menemukannya. Jack sudah menyiapkan sangkar emas untuk calon ratunya nanti. Dan sekarang waktu itu sudah tiba. Sudah saatnya dia membawa ratunya pulang ke rumah. Dan yang akan menjadi ratunya adalah gadis kecil itu, gadis kecil yang tidak berdaya saat berada di bawah kungkungan tubuhnya dulu.


"Jika dia berani melupakan aku, maka aku akan membuatnya ingat kembali. Yang sudah menjadi miliknya Jack, selamanya tidak akan pernah bisa lepas. Tidak akan bisa sampai aku sendiri yang melepaskannya!".


Fendry menyebikkan bibir sambil menganggukkan kepala. Dia sangat hafal dengan perangai temannya jika sudah menginginkan sesuatu. Apapun caranya Jack harus mendapatkannya, tak peduli meski harus menantang badai dan bahaya yang sangat besar.


"Jiwamu sakit, Jack. Aku jadi kasihan padanya!" ledek Fendry sambil terkekeh.


"Jiwaku memang sudah sakit, Fen. Dan sekarang aku sangat membutuhkan dia sebagai obat!" ucap Jack sambil terus menatap foto di tangannya.


Tatapan Fendry mendingin.


"Jack, apa yang akan kau lakukan seandainya dia sudah menjadi milik orang lain? Kau akan mundur atau.....


"Pertanyaan bodoh. Apa selama ini kau pernah melihat seorang Jack mundur dari medan peperangan? Tidak Fendry, siapapun orang itu aku pastikan dia berhenti bernafas jika berani menyentuhnya. Gadis kecil itu milikku, dia yang akan menjadi ratunya Jack. Kau dengar itu!" teriak Jack emosi sambil memukul bagian belakang kursi yang di duduki Fendry.


"Oke oke, tenang dulu Jack, kendalikan emosimu. Aku hanya berandai saja, dan itu belum tentu benar!" jelas Fendry sedikit takut melihat kemarahan di diri temannya.


Nafas Jack memburu, dadanya bergerak dengan sangat cepat setelah emosinya terpancing keluar.


"Segera cari tahu dimana keberadaannya sekarang, Fen. Aku rindu, aku ingin melihat wajah polos itu!".


"Baiklah, tapi setelah aku mengantarmu sampai di apartemen. Oke?".


Jack mengangguk. Dia mengambil sebatang rokok kemudian membakarnya. Menghisapnya dengan kuat kemudian menghembuskan asapnya keatas.


"Terserah kau saja!".


.............................


"Elea, sebelum menikah dengan Gabrielle kau bekerja dimana?" tanya Reinhard memulai pendekatan dengan istri temannya.


Elea yang saat itu tengah menikmati sushi dengan Levi menoleh kearah Reinhard. Lagi-lagi dia merasa kalau dia pernah bertemu dengan pria ini. Tapi dimana?.

__ADS_1


"Hei, pak dok... Em maksudku Reinhard sedang bertanya padamu. Kenapa malah melamun?" ucap Levi sambil menyenggol lengan Elea.


Hampir saja Levi kelepasan menyebut Reinhard sebagai dokter. Dia meringis mendapati Reinhard yang sedang melotot kearahnya.


"Kak Reinhard bertanya apa tadi?".


Reinhard segera menormalkan wajahnya. Dia lalu tersenyum kearah Elea.


"Aku tadi bertanya sebelum menikah dengan Gabrielle kau dulu bekerja dimana?".


"Oh.. Aku dulu bekerja di banyak bidang, Kak Rein. Aku pernah jadi pemulung, jadi tukang cuci piring, penjual koran, pengangkut barang di pasar, dan yang terakhir bekerja jadi pelayan di restorannya Kak Iel. Di restoran itu juga aku pertama kali bertemu dengan Kak Levi. Iya kan Kak?" jawab Elea kemudian melihat kearah Levi.


Levi hampir tersedak saat Elea mengingatkannya tentang kejadian buruk yang menjadi cikal bakal pertemuan mereka. Dia lalu melirik kearah Elea dengan mulut komat-kamit mengirim kode morse.


"Kenapa Kak? Aku kan tidak bohong, kita saling bertemu saat Kakak menampar dan memarahiku gara-gara aku tidak sengaja mengotori gaun yang Kak Levi pakai. Oh oh aku ingat sesuatu Kak, waktu itu Kakak bilang kalau gaun it...... Eeemmmppppppttt!".


Levi segera membungkam mulut Elea menggunakan tangan saat Elea berniat mengatakan tentang kejadian memalukan itu. Levi tentu saja tidak akan membiarkan Elea membongkar kebohongannya. Harga dirinya bisa terluka nanti.


"Levi, kenapa kau menutup mulut Elea? Cepat lepas, aku mau dengar apa yang ingin dia katakan tadi!" omel Reinhard penasaran.


'Astaga Elea, kenapa juga kau harus menyinggung kejadian hari itu? Apa kau berniat membuatku malu di hadapan Reinhard? Ya Tuhan gadis inj... '.


"Kalau kau berani bicara lagi, akan aku jahit mulutmu sekarang juga. Mau!" ancam Levi berbisik di telinga Elea.


Mata Elea membulat lebar. Dia kemudian menggeleng dengan cepat, takut kalau Levi akan benar-benar menjahit mulutnya.


"Ekhmmm, sekarang bicaralah!".


"Makanya jangan sembarangan bicara. Sudah sana lanjutkan pembicaraanmu dengan Reinhard. Aku mau makan dulu!" ucap Levi sambil memasukkan sepotong sushi ke dalam mulutnya.


"Memang boleh ya Kak aku memberitahu Kak Rein?" tanya Elea hati-hati.


"Tidak!" jawab Levi singkat.


Reinhard yang melihat pembicaraan tidak biasa itu merasa curiga. Dia yakin kalau Levi pasti telah melakukan sesuatu pada Elea dulu.


"Apa Levi pernah menyakitimu sebelumnya, Elea?".


"Pernah, tapi sedikit" jawab Elea pelan sambil melirik takut kearah Levi. "Kak Levi pernah menamparku dua kali lalu menabrak kakiku sampai berdarah. Tapi setelah itu Kak Levi mengantarkan aku pergi ke rumah sakit. Dia baik kan Kak Rein?".


Mata Reinhard mengerjap. Entah darimananya bisa di sebut baik kalau tindakan Levi saja sudah seperti preman jalanan. Dia jadi bingung sendiri memikirkan cara Elea menilai orang lain.


"Iya dia baik, baik sekali malah. Saking baiknya sampai aku jadi bingung kenapa bisa ada orang seperti dia di dunia ini" jawab Reinhard.


Levi hanya tersenyum kecil setelah mendengar perkataan Reinhard. Dia sedang senang karena Elea tidak membongkar kebohongannya dulu.


"Tapi Kak Rein, alasan Kak Levi menamparku itu lucu sekali. Dia berbohong kalau gaun yang di kenakannya itu berasal dari luar negeri dan hanya ada satu di dunia. Padahal yang sebenarnya gaun itu milik perusahaan Kak Iel yang kebetulan Kak Levi lah yang menjadi modelnya. Ares yang bilang seperti itu!" ucap Elea.


Uhuk,uhuk,uhuk

__ADS_1


Sushi yang di telan Levi seperti berubah menjadi rudal yang langsung meledak di tenggorokannya begitu Elea membongkar kebohongannya dengan begitu gamblang di hadapan Reinhard. Sambil terbatuk-batuk dia menatap geram kearah Elea yang terlihat biasa saja setelah membuatnya malu.


"Elea.....!!!!".


"Iya Kak, kenapa?".


Elea segera menutup mulutnya begitu menyadari kalau dia telah kelepasan bicara. "Maaf Kak aku tidak sengaja".


"Tidak sengaja kepalamu. Aisshhh kau ini!" kesal Levi bersungut-sungut.


Reinhard mengulum senyum. Dia gemas sekali melihat wajah malu-malu Levi saat ini.


"Kak Reinhard, bisa tidak Kakak pura-pura tidak mendengar apapun tadi. Aku tidak sengaja mengatakannya, sungguh!" ucap Elea memelas.


"Yaaakkkkkk kau, jangan bahas masalah itu lagi atau aku akan memotong tubuhmu dan kujadikan makanan seperti sushi ini. Mau!" teriak Levi frustasi.


"Tidak mau" cicit Elea takut.


"Sudahlah Levi, tidak perlu merasa malu padaku. Menurutku awal pertemuan kalian sangat lucu, kalian berdua sama-sama unik!" lerai Reinhard menutupi rasa malu di diri wanita yang di sukainya.


Levi mendengus. Dia memunggungi Elea saat gadis itu hendak meminta maaf padanya.


"Maaf Kak Levi. Aku janji lain kali tidak akan kelepasan lagi. Aku tidak bohong!" pinta Elea sambil menusuk-nusuk punggung Levi, berharap kalau temannya ini mau memaafkan kesalahannya.


"Aku tidak peduli. Hari ini pertemanan kita berakhir, titik!" kesal Levi tanpa menoleh.


"Kak Levi" rengek Elea.


"Apa sih".


"Jangan marah, ya? Em, Kak Levi mau belanja tidak?" bujuk Elea kemudian mengambil sebuah kartu dari dalam tasnya.


Kekesalan Levi musnah begitu dia mendengar kata belanja. Ekor matanya lalu melirik kearah kartu yang di pegang Elea.


'Oh my god, itukan kartu kredit tanpa batas? Levita Foster, jangan sia-siakan kesempatan emas ini. Cepat hasut Elea supaya dia mau mengajakmu pergi menguras harta milik Gabrielle!'.


Reinhard tergelak melihat perubahan yang sangat cepat di diri Levi begitu dia melihat Elea mengeluarkan sebuah kartu yang hanya bisa di miliki oleh orang-orang sekelas Gabrielle. Dia lalu menghela nafas.


"Semua wanita sama saja. Matanya langsung berubah hijau jika sudah melihat uang".


😅😅😅😅😅😅😅


🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄


...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS......


...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...


...🌻 IG: nini_rifani...

__ADS_1


...🌻 FB: Nini Lup'ss...


__ADS_2