Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Status Baru


__ADS_3

"Lusi, tolong kau antarkan berkas ini ke rumah Tuan Bryan. Ingat, harus sampai tepat waktu karena Tuan Muda Gabrielle sudah menunggu berkas ini untuk di bawa ke perusahaan!" perintah Nun sembari menyodorkan sebuah berkas pada Lusi yang sedang membereskan dapur.


"Baik Nun!.


"Ganti pakaianmu. Nyonya Elea bisa marah jika melihatmu berpenampilan seperti ini!.


"Tapi Nun, inikan seragam untuk bekerja. Kenapa harus di ganti?" tanya Lusi bingung.


Wajah Nun terlihat datar. Ingin rasanya dia menjitak kepala pelayan ini yang lupa akan status barunya.


"Lusi...


"Iya Nun, kenapa?" sahut Lusi.


"Apa kau lupa dengan statusmu sekarang? Bukankah baru kemarin malam Ares mengatakan padamu kalau mulai sekarang kau bukan lagi pelayan di rumah ini. Kau di pilih secara khusus oleh Tuan Muda Gabrielle untuk menjadi pengawal pribadi Nyonya Elea. Yang artinya kau tak perlu lagi memakai seragam itu. Apa gunanya Nyonya Elea mengajakmu berbelanja banyak pakaian bagus kalau kau lebih memilih menggunakan pakaian pelayan?" tegur Nun tak habis fikir.


Lusi tersentak kaget.


'Astaga, bagaimana bisa aku lupa dengan pekerjaanku yang baru? Matilah, Nun pasti akan membunuhku setelah ini.'


"M-maaf Nun, aku lupa."


"Lupakan. Sekarang cepat ganti bajumu dan antarkan berkas ini pada Tuan Muda. Cepatlah, kau tahu bukan kalau Tuan Muda kita tidak suka menunggu?.


"Baik Nun!.


Dengan langkah seribu Lusi segera berlari menuju kamarnya. Dia kemudian berganti pakaian, mengikat rambutnya keatas lalu menyambar tas yang tergantung di dekat lemari.


Tanpa membuang waktu lagi Lusi segera berlari keluar menuju gerbang. Dia kembali lupa meminta penjaga untuk mengantarkannya ke rumah Tuan Bryan. Nun yang melihat kecerobohan Lusi hanya bisa menggelengkan kepala. Dia kemudian meminta salah seorang penjaga untuk mengikutinya.


"Kembali setelah kau memastikan Lusi sampai di rumahnya Tuan Bryan. Hati-hati, keselamatannya sekarang menjadi prioritas kita bersama!.


"Baik Nun!.


Lusi yang saat itu sudah berada di dalam taksi duduk dengan sangat gelisah. Dia takut terlambat mengantarkan berkas yang di bawanya. Karena terus merasa tidak tenang, dia akhirnya meminta sopir taksi untuk melaju sedikit lebih cepat.


"Nona, sepertinya ada mobil yang mengikuti kita. Apa Nona sedang di kejar oleh seseorang?" tanya si sopir.


Lusi segera menoleh kearah belakang. Keningnya mengerut ketika melihat ciri khas pada mobil yang sedang membuntuti taksi yang di naikinya.


"Eh, kenapa mobil penjaga mengikutiku?" gumam Lusi yang hafal dengan plat nomor kendaraan yang tertempel di bagian depan mobil.

__ADS_1


"Nona mengenal mereka?.


"Oh, iya. Mobil itu milik penjaga yang bekerja di rumah majikanku. Tidak apa-apa Pak, mereka bukan orang jahat kok" jawab Lusi.


"Syukurlah. Saya pikir mereka adalah penjahat yang sedang mengikuti Nona. Baru-baru ini ada banyak kasus perampokan di dalam mobil taksi, Nona. Saya hanya khawatir pada keselamatan penumpang saya" ucap si sopir lega.


Lusi tersenyum. Dia maklum dengan ketakutan si sopir taksi. Tak lama kemudian, mobil mereka akhirnya sampai di depan pintu gerbang rumah Tuan Bryan. Setelah membayar ongkos taksi, Lusi bergegas masuk ke dalam. Dia menyempatkan diri untuk melihat kearah mobil penjaga yang tadi mengikutinya. Dan ternyata mobil itu langsung berputar arah begitu melihatnya masuk ke halaman rumah ini.


"Lusi, apa yang sedang kau lakukan disana? Mana berkasnya?.


Ares yang memang sedang menunggu kedatangan Lusi segera menghampirinya. Dia kemudian meminta berkas yang tadi di titipkan Nun pada gadis ini.


"Maaf Tuan Ares kalau saya datang terlambat" ucap Lusi takut.


"Kau sudah membuat Tuan Muda menunggu selama sepuluh menit. Mungkin kalau kau datang dua menit lebih lama kau akan langsung berurusan dengan amarah Tuan Muda. Kau tahu sendiri bukan kalau Tuan Muda kita benci menunggu?" tegur Ares sembari memperhatikan penampilan gadis pelayan yang kini sudah naik status menjadi pengawal pribadi nyonya kecilnya.


Lusi segera membungkukkan badan kearah Ares begitu dia mendapat teguran. Segera dia menjelaskan alasannya kenapa datang terlambat.


"Saya tadi sedang beres-beres di dapur saat Nun meminta saya untuk mengantarkan berkas ini, Tuan. Dan saya juga membutuhkan beberapa menit untuk berganti pakaian karena Nun melarang saya memakai seragam pelayan untuk datang kemari!.


Sebelah alis Ares terangkat keatas. Sungguh, gadis ini sangat sangat mirip dengan sikap nyonya-nya. Polos dan jujur apa adanya saat bicara.


Lusi mengangguk. Dia meremas kuat tali tasnya ketika melihat raut datar di wajah pria mengerikan ini.


"Lusi, kau ingat tidak siapa kau sekarang?.


"M-maafkan saya, Tuan Ares. Saya-saya lupa" jawab Lusi lirih.


Ares menghela nafas. Sulit untuknya mempercayai kalau gadis ini melupakan status baru yang tentu saja jauh lebih berharga ketimbang menjadi seorang pelayan. Kali ini Ares benar-benar yakin kalau Lusi adalah duplikat nyonya-nya namun dalam versi yang jauh lebih bodoh.


"Lain kali kau jangan seperti ini lagi, Lusi. Kau sekarang adalah pengawal pribadi Nyonya Elea. Mulai dari kau membuka mata sampai matamu kembali terpejam, sikap dan penampilanmu tidak boleh sembarangan. Kau harusnya tahu kalau tidak semua orang bisa mendapatkan penghormatan seperti ini, apalagi kau di pilih secara khusus oleh Tuan Muda. Jadi kau harus mengemban tugas ini dengan sebaik-baiknya. Karena sekali kau membuatnya kecewa maka kau akan menyesal seumur hidup. Paham tidak!.


"Paham, Tuan Ares. Sekali lagi saya minta maaf. Setelah ini saya janji tidak akan ada hal semacam ini lagi, saya hanya belum terbiasa dengan status baru saya, Tuan. Karena selama ini saya hanya melakukan pekerjaan sebagai seorang pelayan. Tolong Tuan Ares bisa memakluminya!" jawab Lusi.


"Baiklah, untuk kali ini kau kumaafkan. Ya sudah, kalau begitu kau kembalilah ke rumah. Nyonya Elea sedang pergi jalan-jalan bersama Nyonya Yura, jadi kau tidak perlu menunggunya!.


"Baiklah. Kalau begitu saya pamit, Tuan. Permisi!.


"Tunggu dulu. Siapa yang mengantarmu kemari?" tanya Ares yang tidak melihat seorang pun penjaga di luar gerbang.


Lusi meringis. Lagi-lagi dia melakukan kesalahan. Ares yang melihat reaksi Lusi hanya bisa menghela nafas panjang. Gadis ini benar-benar ceroboh.

__ADS_1


"Lusi, sekali lagi aku melihatmu bersikap ceroboh, aku akan langsung menjadikanmu makanan untuk para buaya peliharaan Nyonya Besar Liona. Bisa-bisanya kau pergi tanpa ada pengawalan seperti ini. Bagaimana kalau seandainya kau di serang oleh penjahat saat di jalan? Nyonya Elea pasti akan merasa sedih dan itu adalah petaka bagi kita semua. Kau tahu kan apa arti kebahagiaan Nyonya Elea di mata Tuan Muda? Astaga Lusi, apa kau berencana mengirim kita semua pergi ke neraka! Kau sudah gila ya!" bentak Ares emosi.


Mata Lusi berkaca-kaca. Dia tidak tahu kalau kecerobohannya akan berdampak besar seperti ini. Ares yang melihat Lusi hampir menangis segera meminta salah satu anak buahnya untuk mengantarkannya pulang ke rumah. Ini masih pagi, dan emosinya sudah di uji oleh gadis ini.


"Jangan ulangi kebodohan ini, Lusi. Kemanapun kau pergi mulai sekarang harus ada penjaga yang bersamamu. Tak peduli meski kau hanya melangkah satu jengkal dari gerbang, jangan pernah coba-coba untuk keluar seorang diri. Ingat ini baik-baik!" omel Ares kemudian menutup pintu mobil dengan sangat kuat.


Lusi baru bisa bernafas lega ketika mobil mulai bergerak pergi dari halaman rumah Tuan Bryan. Dia benar-benar merutuki kecerobohan yang dia buat pagi ini. Dua kali, dua kali dia melakukan kesalahan di hari pertamanya bekerja sebagai pengawal pribadi nyonya-nya.


"Bodoh, bodoh, bodoh" gumam Lusi sembari memukuli kepalanya sendiri.


Saat mobil yang di naiki Lusi melewati sebuah persimpangan jalan, dia tidak sengaja melihat dua orang wanita yang sedang berjalan sambil melihat kearah belakang.


"Astaga, itu bukannya Nyonya Elea ya!" pekik Lusi sambil menunjuk sebuah mobil hitam dimana nyonya-nya terlihat masuk kesana.


"Mana?" tanya penjaga sambil menghentikan mobil di sisi jalan.


"Itu, mobil hitam itu membawa Nyonya Elea pergi. Cepat ikuti mereka, ayo cepat!" teriak Lusi histeris sambil memukuli kursi kemudi.


Karena panik, baik Lusi maupun si penjaga lupa untuk menghubungi Tuan Ares. Mereka berdua sibuk membuntuti mobil yang membawa nyonya mereka pergi. Hingga akhirnya mobil yang mereka buntuti berhenti di depan sebuah gedung kosong yang berada di tengah hutan.


Apakah yang akan terjadi pada Elea selanjutnya??? Pinisirin kin???? 🤣🤣🤣🤣🤣


🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄


Kuy gengss mampir. Ceritanya seru banget...


Author @ Lotus Putih


Judul - KESAYANGAN SANG MAFIA


Ada giveaway nya juga lho.. 5 orang pemberi vote terbanyak akan dapat masing-masing voucher pulsa sebesar 25k. Jangan lupa juga buat like dan komen di setiap chapternya. Ayok rame-rame kita bantu author baru kita... ☺☺☺



...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....


...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...


...🌻 IG: emak_rifani...


...🌻 FB: Nini Lup'ss...

__ADS_1


__ADS_2