
Gabrielle duduk di sisi ranjang sembari menempelkan keningnya di telapak tangan Elea yang masih belum sadar. Berkat donor darah dari Kakek Karim, istrinya berhasil melewati masa-masa kritisnya. Sedangkan si pendonor saat ini masih berada di ruangan lain akibat serangan jantung mendadak. Mungkin itu terjadi akibat Kakek Karim yang begitu terpukul setelah mengetahui kebenaran yang di ucapkan oleh ibunya tadi. Dan Gabrielle tidak peduli akan hal itu. Baginya yang paling penting sekarang hanyalah kesadaran istrinya. Dia ingin Elea-nya segera membuka mata.
"Sayang, kenapa kau terus terluka seperti ini? Tolong bangunlah, maki aku sesukamu karena sudah gagal menjadi suami yang baik untukmu. Bangun Elea, ayo sadarlah sayang!."
Mendengar ratapan Gabrielle semua orang hanya bisa menarik nafas prihatin. Liona, Greg, Bryan, Levi, Reinhard, Grizelle dan Drax tengah berkumpul di dalam ruangan ini. Mereka semua tengah menunggu Elea membuka mata.
"Elea, kau ingin pergi berlibur ke pantai bukan? Kalau begitu ayo cepat bangun. Setelah kau pulih kita akan langsung pergi jalan-jalan. Kau boleh mengajak siapapun yang kau mau, aku tidak akan protes. Tapi sekarang aku mohon cepatlah bangun sayang" ucap Gabrielle lirih kemudian menatap wajah istrinya yang masih terlihat pucat.
Tak tahan, Levi memilih untuk keluardari ruangan itu. Entahlah, meski bukan saudara kandung dia merasakan sesak yang sangat luar biasa memikirkan lika-liku hidup yang di alami oleh teman kecilnya. Belum lagi jika Elea tahu tentang rahasia yang baru saja terbongkar, Levi yakin gadis kecil itu pasti akan kembali merasakan luka yang sangat dalam. Ibunya mati di siksa oleh ayah kandung ibunya sendiri. Rumit dan juga sangat kejam.
Elea yang masih terpejam samar-samar seperti mendengar suara orang yang sedang berbicara dengannya. Dia ingin membuka mata, namun rasanya sangat berat. Seakan ada batu besar yang mengganjal di kelopak matanya.
"Sayang, kau mencintaiku bukan? Aku mohon bangunlah, aku takut melihatmu diam seperti ini Elea. Bangun Elea, bangun!."
Suara teriakan Gabrielle akhirnya berhasil membuat mata Elea sedikit terbuka. Dia melenguh lirih saat sinar lampu mengenai netranya yang membuat matanya kembali terpejam. Gabrielle yang saat itu sudah akan menangis tersentak kaget mendengar suara lenguhan pelan dari atas ranjang. Dia segera berdiri kemudian mensejajarkan wajahnya dengan wajah Elea.
"Sayang....."
'Kak Iel, haus...'. Karena masih sangat lemah, akhirnya Elea berbicara melalui pikirannya. Dia benar-benar merasakan rasa haus yang sangat luar biasa.
"Zel, coba kau redupkan sedikit lampu kamar ini. Sepertinya itu yang membuat kakak iparmu kesulitan membuka mata" ucap Liona sembari menghela nafas lega.
Grizelle mengangguk. Dia segera melakukan apa yang di perintahkan oleh ibunya kemudian kembali berdiri di sisi ranjang bersebelahan dengan Drax, suaminya.
"Elea, hei, buka matamu sayang" bisik Gabrielle lembut.
Dengan perlahan-lahan mata Elea terbuka. Gabur, itu yang pertama dia lihat saat menatap wajah tampan yang berada tepat di depan wajahnya. "H,ha-us..."
Bryan tanggap. Dia segera mengambilkan air minum beserta sendok kecil yang ada di meja. Sambil menahan airmatanya yang hampir jatuh dia meminta izin pada menantunya untuk memberi minum pada putrinya.
__ADS_1
"Gabrielle, bisakah Ayah saja yang memberikan minum ini pada Eleanor?."
Liona mengusap lembut bahu Gabrielle saat putranya itu terlihat enggan mengabulkan keinginan ayah mertuanya. "Iel, mengalahlah sebentar. Biarkan istrimu merasakan kasih sayang dari Ayahnya. Kau tidak boleh egois, mengerti?."
Dengan berat hati akhirnya Gabrielle bersedia untuk mengalah. Dia memang mengizinkan ayah mertuanya untuk mendekat, namun dia hanya bergeser sejengkal dari jarak yang sebelumnya. Yang mana kelakuannya itu membuat semua orang menarik nafas panjang, tak terkecuali Bryan. Dia tersenyum sambil menepuk bahu menantunya sebelum memberikan suapan pertamanya pada Eleanor. Menyaksikan bagaimana putrinya terlihat begitu lemah saat ingin menelan air minum membuat Bryan tak kuasa untuk menahan suara tangisnya. Sepasang ayah dan anak itu akhirnya menangis, mereka sama-sama terlukai oleh sebuah keegoisan yang sangat kejam.
Greg dan Drax yang notabennya adalah pria-pria dingin, mendadak berubah seperti jelli saat mereka menyaksikan kejadian haru yang sedang terjadi di depan mata. Sungguh ironis nasib Bryan dan Elea. Mereka berdua adalah korban dari keegoisan dari sebuah status dalam satu lingkup keluarga. Tak tahan melihat keharuan itu akhirnya mereka berdua pergi keluar ruangan. Meninggalkan istri-istri mereka yang juga sedang menangis dalam diam.
"Ayah, siapa Sandara?" tanya Elea lirih setelah puas menumpahkan airmata.
Bryan terhenyak kaget mendengar pertanyaan putrinya. Sedetik kemudian dia ingat kalau putrinya memiliki satu kelebihan yang besar kemungkinan hal itu yang menyebabkan putrinya bertemu dengan almarhum Sandara, istrinya.
"Sandara adalah nama Ibumu, Nak. Kenapa? Apa kalian baru saja bertemu?" jawab Bryan berusaha tegar.
Elea mengangguk pelan. "Pantas saja wajahnya sangat mirip denganku. Oh iya Ayah, siapa Clarissa?."
"Clarissa adalah orangtua dari Ibu Sandara, Elea. Dia adalah Nenekmu" jawab Liona mewakilkan.
"Nenekku ya?" beo Elea sedih. "Tapi kenapa dia jahat pada Ibu Sandara, Ayah? Kenapa dia meninggalkan Ibu di tengah hujan malam? Kenapa aku dan Ibu memiliki kisah yang sama? Apa salah kami? Kenapa aku dan Ibu tidak di inginkan?."
Sadar kalau kejiwaan Elea sedang terguncang, Reinhard cepat mengambil tindakan. Dia segera meminta semua orang untuk pergi meninggalkan ruangan. "Maaf, Elea baru saja sadar. Sebaiknya dia jangan di paksa untuk banyak bicara dulu. Berikan dia waktu untuk menenangkan diri dari semua masalah ini. Gabrielle, biar aku saja yang menemani Elea di sini, dia butuh pendamping sekarang!."
"Aku yang akan mendampinginya" sahut Gabrielle tak ingin pergi. "Aku suaminya, aku yang paling berhak ada di sini!."
Reinhard menghela nafas dalam. "Bibi Liona, tolong bantu aku. Kalian bisa lihat sendiri bagaimana kondisi Elea sekarang. Sepertinya saat dia kehilangan detak jantung arwahnya berada di alam lain. Percaya tidak percaya, aku rasa arwah ibunya memberitahu rahasia yang membuatnya terguncang seperti ini. Bibi, berikan aku waktu untuk memenangkan Elea, tolong bawa Gabrielle keluar dari sini dulu!."
Setelah di bujuk oleh semua orang, Gabrielle akhirnya bersedia untuk pergi dari sisi istrinya. Dia terlihat sangat tidak rela saat adik dan ibunya menariknya keluar dari sana. Setelah semua orang berada di luar ruangan, bagai orang yang kehilangan arah Gabrielle duduk bersimpuh di lantai. Pikirannya kacau.
"Baru saja Elea terlepas dari traumanya pada Jack-Gal, sekarang datang lagi masalah lain. Sebenarnya apa salah istriku pada kalian semua hah! Kenapa kalian terus membuatnya menderita!."
__ADS_1
"M,maafkan aku... Aku,aku yang salah, aku yang salah!."
Mata semua orang tertuju kearah Karim yang baru saja datang dengan di papah oleh dua orang perawat. Meski dadanya masih terasa sakit, dia tetap memaksa ingin pergi mengunjungi cucunya. Karim sangat menyesal, dia ingin meminta maaf pada Eleanor.
"Ya memang benar kau yang bersalah Karim. Kau dan istrimu yang jahanam itu adalah penyebab utama dari penderitaan istriku. Kau manusia biadap, terlahir darimana kau sebenarnya hah! Bisa-bisanya kau mencelakai anak dan cucu kandungmu sendiri. Dimana hati nuranimu Karim. Dimana!!."
Gelap mata, Gabrielle bangkit dari duduknya kemudian berniat menghampiri kakeknya Elea, dia ingin memberi pelajaran pada si tua bangka ini. Namun pukulan Gabrielle harus terhenti di udara saat tubuhnya di tarik ke belakang oleh seseorang. Dia menoleh, semakin emosi begitu tahu siapa yang sedang menahan tubuhnya.
"Lepas atau aku akan menghajarmu!."
"Tenang dulu, jangan membuat kekacauan di sini. Kau lupa bagaimana kondisi istrimu sekarang?" sahut Drax.
"Tapi si tua bangka ini penyebabnya!" sentak Gabrielle seraya menatap benci kearah Kakek Karim yang hanya berdiri diam tanpa berniat untuk menghindar.
"Aku tahu, semua orang di sini pun tahu. Tapi bukan seperti ini jalan penyelesaiannya. Pikirkan ketenangan istrimu terlebih dahulu, masalah si tua bangka ini nanti saja mengurusnya!."
Bryan sama sekali tak bergeming melihat Gabrielle yang ingin menghajar ayahnya. Dia bingung bagaimana harus bersikap sekarang. Orang yang selama ini telah membesarkannya ternyata adalah orang lain yang tidak memiliki ikatan darah dengannya. Mulai timbul rasa canggung di benak Bryan untuk menyebut orang itu sebagai ayah.
'Kenapa hidupku jadi serumit ini Ya Tuhan??? Ibu, kenapa kau meninggalkan noda besar setelah kematianmu? Kenapa kau tidak pernah memberitahuku tentang semua ini? Apa yang sudah membuatmu tega menyakiti kami sampai seperti ini, Bu? Apaa?.'
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGS.....
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
...🌻 IG: emak_rifani...
...🌻 FB: Nini Lup'ss...
__ADS_1