
"Yura, dimana Patricia? Pelayan bilang semalam dia tidak pulang ke rumah?" tanya Karim sambil menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.
Tangan Yura yang ingin menyendok sayur terhenti di udara begitu ayah mertuanya menanyakan keberadaan Patricia. Dengan dada yang berdebar-debar Yura mencarikan alasan agar ayah mertuanya tidak merasa curiga. "Em itu Ayah, Cia bilang mulai sekarang dia akan tinggal di apartemen saja. Itu memudahkannya untuk bolak-balik ke perusahaan mengingat Bryan yang masih belum bisa kembali bekerja!."
"Oh, aku pikir ada apa" sahut Karim. "Ya sudahlah, biarkan saja dia mau melakukan apa. Toh sekarang kita semua hanya bisa bergantung padanya. Mungkin dengan seperti ini Cia bisa sedikit menghilangkan rasa lelahnya."
Yura mengangguk pelan. Ekor matanya terus melirik kearah ayah mertuanya, menimang apakah dia harus mengatakan kebenarannya atau tidak. 'Ya Tuhan, aku harus bagaimana sekarang? Aku terjebak dalam simalakama yang kubuat sendiri. Seandainya saja kemarin aku tidak gegabah, aku pasti tidak akan tertekan seperti ini. Tolong aku Ya Tuhan, tolong sadarkan Patricia dari niat jahat yang ingin dia lakukan pada Eleanor. Aku tidak mau kehilangannya jika Bryan dan Ayah mertuaku sampai mengetahui kejahatannya. Tolong sadarkan dia Tuhan, aku mohon.'
Dengan perasaan yang tidak menentu, Yura menghabiskan sarapan pagi bersama dengan ayah mertuanya. Setelah ini mereka akan kembali ke rumah sakit untuk menjenguk suaminya yang entah kenapa tidak bersedia untuk pulang ke rumah. Padahal dokter sendiri sudah memperbolehkannya keluar dari rumah sakit. Baik Yura ataupun ayah mertuanya akhirnya membiarkan Bryan tetap tinggal di sana sini meskipun benak mereka di liputi oleh rasa penasaran.
"Yura, apa semalam kau ada menghubungi Bryan?" tanya Karim sambil menyeka mulutnya menggunakan tisu.
"Iya Ayah" sahut Yura.
"Apa sikapnya masih seramah kemarin siang?."
Yura mengangguk. "Bryan sepertinya benar-benar sudah berubah, Ayah. Sikapnya menjadi lebih lembut sekarang!."
Karim tersenyum. Dia merasa lega karena sekarang putranya sudah bersedia berdamai dengan masa lalunya dengan menerima kehadiran Yura. Sebuah kabar yang sangat baik mengingat betapa besar pengorbanan menantunya selama ini.
"Ayah berharap hubungan kalian akan terus seperti ini sampai maut memisahkan" doa Karim tulus. "Haaaahhhh... Akhirnya satu beban di pundak Ayah terangkat juga!."
Yura pun tak kalah bahagia sama seperti ayah mertuanya. Penantian yang selama ini dia harapkan, akhirnya berbuah manis juga. Tanpa ada bujuk rayu ataupun paksaan, tiba-tiba saja Bryan mengajaknya untuk membuka lembaran baru. Suatu hal yang jauh dari bayangan Yura selama ini.
"Permisi Tuan Karim, Nyonya Yura, di luar ada tamu yang sedang menunggu untuk di izinkan masuk!" lapor salah seorang pelayan.
"Tamu?" beo Karim. "Oh oh itu orang suruhanku. Tolong bawa dia masuk kemari!."
"Baik Tuan Karim."
"Orang suruhan untuk apa, Ayah?" tanya Yura penasaran.
__ADS_1
"Untuk mencari calon anak sambungmu nanti, Yura. Sudah cukup lama Ayah meminta mereka untuk mencari keberadaan Eleanor, tapi sampai saat ini Ayah masih belum menerima kabar baik juga. Semoga saja kali ini mereka tidak hanya membawa laporan kosong" jawab Karim semringah.
Yura ikut merasa senang seperti ayah mertuanya. Dengan tidak sabaran dia menunggu orang suruhan tersebut datang membawakan kabar gembira untuk mereka.
"Selamat pagi Tuan Karim, selamat pagi Nyonya Yura!."
"Pagi. Bagaimana? Apa kali ini kau berhasil melacak keberadaan cucuku?" tanya Karim.
"Maaf Tuan Karim, lagi-lagi kami gagal melacak keberadaan Nona Eleanor" jawab orang suruhan Karim sambil menundukkan kepala. "Tapi Tuan Karim, saya tidak sengaja menemukan seseorang yang juga sedang mencari keberadaan Nona. Saat kami menyelidikinya, tiba-tiba saja orang itu melakukan penyerangan. Sepertinya dia memiliki niat jahat pada Nona Eleanor!."
Nafas Yura tercekat. Kedua tangannya saling meremas kuat begitu mendengar laporan dari orang suruhan ayah mertuanya. Dia yakin sekali kalau orang yang di maksud adalah anak buah Patricia. Memikirkan hal itu membuat wajah Yura memucat. Keringat dingin nampak mulai mengalir membasahi tubuhnya akibat tekanan rasa takut yang mendera batinnya.
"Selidiki siapa orang itu. Jangan sampai mereka mencelakai cucuku, jebloskan ke penjara begitu kalian bisa menangkapnya!" ucap Karim geram. "Beraninya mereka mengincar cucuku, cari mati rupanya!."
"Baik Tuan Karim. Kalau begitu kami permisi!."
Karim mengangguk. Dia lalu melihat kearah menantunya yang hanya diam tak bersuara. "Yura, bagaimana....
"A,aku tidak apa-apa, Ayah. Aku, aku ha,hanya takut" sahut Yura terbata-bata.
Tanpa pikir panjang lagi Karim segera berteriak memanggil para pelayan untuk membawa menantunya pergi ke kamar. Sementara dia sendiri mengikutinya dari belakang.
Setelah mereka sampai di kamar, Karim duduk di kursi samping ranjang. Dia menatap lekat ke wajah menantunya yang semakin memucat. "Yura, kau seperti ini apa karena takut Bryan akan meninggalkanmu jika Eleanor masih belum di temukan?."
"A,Ayah... A,aku aku....
Suara Yura tersendat di tenggorokan. Dia begitu ketakutan sampai tidak bisa mengontrol dirinya sendiri karena kaget mendengar ancaman yang di lontarkan ayah mertuanya tadi. Yura tidak bisa membayangkan jika Patricia benar-benar tertangkap kemudian di jebloskan ke dalam penjara oleh kakeknya sendiri. Masa depan putrinya bisa hancur.
"Yura, aku tahu seperti apa perasaanmu sekarang. Eleanor belum bisa di temukan itu bukan karena salahmu, jadi kau jangan merasa panik begini. Ayah yakin Bryan juga berpikiran sama seperti Ayah, dia tidak akan mungkin menyalahkanmu. Jadi kau jangan khawatir lagi, oke?" hibur Karim yang mengerti betul betapa menantunya sangat tidak ingin di pisahkan dari putranya.
"Tapi Ayah, Eleanor, dia...
__ADS_1
Lagi. Suara Yura kembali tersendat saat dia ingin mengatakan satu kebenaran yang sedang dia coba sembunyikan. Sungguh, dia terjebak dalam keegoisannya sendiri. Patricia dan Bryan sama pentingnya bagi Yura. Dia tidak bisa melukai salah satu dari mereka. Tapi menyimpan kesalahan seperti ini membuatnya merasa sangat tertekan. Yura tidak tahu bagaimana cara untuk menyelesaikan masalah yang tidak sengaja dia buat.
"Sudah, lebih baik kau istirahat saja. Masalah Eleanor biar orang suruhan Ayah yang mengurusnya. Kau jangan khawatir, nanti Ayah akan membahas masalah ini dengan Bryan. Apapun yang terjadi Ayah tidak akan membiarkan Bryan mengkambing hitamkan dirimu hanya karena putrinya yang masih belum berhasil Ayah temukan. Sekarang istirahatlah. Nanti setelah tenang kita baru berangkat ke rumah sakit!."
Setelah berkata seperti itu Karim melangkah keluar dari dalam kamar menantunya. Membiarkan Yura seorang diri berada dalam ketakutan yang sedang membelenggunya.
"Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku tidak mau Patricia sampai tertangkap oleh orang suruhan Ayah, tapi bagaimana caraku mencegahnya" gumam Yura panik sambil mengusap wajahnya yang di basah keringat. "Tidak tidak, aku tidak boleh membiarkannya tertangkap. Sekarang aku harus segera menghubungi Patricia dan mengatakan kalau orang suruhan Ayah sedang melacak anak buahnya. Ya, begini baru benar!."
Dengan tubuh yang masih gemetaran Yura berjalan menuju meja rias untuk mengambil ponselnya. Dia kemudian segera menekan nomor Patricia, menunggu panggilannya di jawab dengan harap-harap cemas.
"Ayo angkat telfon Ibu Nak!' ucap Yura mulai putus asa saat telfonnya tak kunjung di angkat oleh Patricia.
"Ha....
"Maaf, nomor yang anda tuju sedang sibuk. Silahkan hubungi beberapa saat lagi!."
Yura langsung jatuh terduduk di lantai saat panggilannya di tolak. Dia mulai menangis mengkhawatirkan nasib putrinya jika benar-benar tertangkap oleh orang suruhan ayah mertuanya.
"Hiksss Patricia, kenapa kau jadi seperti ini Nak? Mana putri Ibu yang biasanya bersikap manis dan penurut? Tolong jangan begini Patricia, Ibu benar-benar sangat mengkhawatirkanmu sekarang" ucap Yura terisak sedih.
Karena panggilannya terus di tolak, akhirnya Yura memutuskan untuk berangkat saja ke rumah sakit. Siapa tahu berada di dekat suaminya bisa membuat hatinya sedikit lebih tenang.
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
...🌻 IG: emak_rifani...
...🌻 FB: Nini Lup'ss...
__ADS_1
...🌻 WA: 0857-5844-6308...