Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Rencana


__ADS_3

Wajah Levi langsung pias begitu mendengar penjelasan Gabrielle. Dia lalu melirik kearah teman kecilnya yang sedang sibuk menggambar di meja yang lain.


"Elea, sebenarnya di kehidupan yang lalu aku ini hutang apa pada dirimu? Kenapa aku harus membayar dengan begini mahal?."


Gabrielle memalingkan muka menahan tawa saat mendengar gumaman Levi. Ya, dia baru saja menyampaikan niatnya yang ingin menjadikan Levi sebagai umpan untuk memancing Jack-Gal keluar dari topengnya. Dan sudah bisa di tebak seperti apa responnya. Levi tercengang namun tak kuasa untuk menolak.


"Mimpi apa aku semalam, kenapa bisa aku menjadi umpan untuk menangkap orang jahat? Apa kecantikanku ini sudah tak paripurna lagi sampai-sampai harus di gunakan untuk hal berbahaya seperti ini?" gumam Levi sambil menatap datar kearah Elea.


Sementara yang di tatap, sibuk menuangkan idenya ke sebuah kertas. Sebenarnya jika di cermati dengan sangat teliti, gambar nyeleneh yang sering Elea buat adalah sebuah tanda. Gambar-gambar tersebut adalah sebuah perumpamaan dari setiap kejadian yang dia lihat dalam mimpinya. Contohnya anak ayam yang lehernya terjepit di dalam cangkang. Itu menandakan jika dirinya tak bisa lepas dari satu kejadian yang terus membelenggunya. Juga dengan gambar-gambar yang lain, tentang bibi suaminya yang terjatuh dari tangga, saudaranya yang berdarah-darah, dan juga satu kebakaran hebat dimana ada Grizelle di dalamnya. Sayangnya tidak ada satupun orang yang menyadari hal tersebut, bahkan sampai hari ini.


"Ekhm, berhenti meratap. Kau bersedia atau tidak?" tanya Gabrielle sambil menahan tawa.


"Bersedia saja Kak, nanti dapat hadiah dari Kak Iel lho" celetuk Elea.


Levi mendengus. Ingin sekali dia menjitak kepala Elea setelah mendengar celetukannya. "Hei kau makhluk kecil, tahu tidak apa maksud dari pertanyaan suamimu?."


"Tidak tahu lah. Memangnya Kak Levi tidak lihat kalau sejak tadi aku menggambar disini?" jawab Elea dengan polosnya.


"Sudah tahu begitu kenapa asal menguap saja hah? Tahu tidak kalau suamimu ini memintaku untuk melakukan sesuatu yang sangat beresiko?" teriak Levi mulai naik darah.


"Melakukan apa memangnya Kak?" tanya Elea pura-pura tidak tahu.


Gabrielle hanya mengulum senyum melihat akting istrinya. Elea mampu memainkan dua kepribadian yang patut di acungi jempol menurutnya. Tanpa cacat, istrinya mengelabui semua orang dengan sikap dan tatapan polosnya. Akan sangat terkejut jika ada yang mengetahui seperti apa kepribadian Elea yang sebenarnya.


"Sudahlah, menjelaskannya padamu akan membutuhkan waktu berabad-abad lamanya. Lebih baik kau diam saja, gambarlah semua imajinasimu yang aneh itu" sungut Levi.


"Daritadi aku memang sudah diam, Kak. Kakak saja yang mengajakku bicara" gumam Elea kemudian kembali asik menggambar.


Levi mendengus pasrah. Dia lalu menatap tajam kearah Gabrielle yang seperti sedang menahan tawa.


"Untung saja istrimu itu banyak berguna untukku, Gabrielle. Jika tidak, sudah ku tenggelamkan dia ke dasar laut" ucap Levi dongkol. "Oh ya, apa rencanamu dengan mengumpankan aku pada Jack-Gal?."


"Sebenarnya tidak hanya kau saja Levi, tapi Elea juga. Dia..


"Kau gila ya!" sentak Levi. "Elea itu menyimpan trauma, Gab. Bagaimana bisa kau juga mengumpankannya untuk memancing keluar orang yang sudah membuatnya seperti itu? Tidak bisa, aku tidak akan membiarkan Elea ikut. Masalah ini biar aku saja yang menanganinya!."


Sejenak Gabrielle merasa terharu akan kepedulian Levi. Namun yang terjadi selanjutnya membuat Gabrielle menghela nafas dalam sambil mengelus dada.


"Satu unit mobil sport, tas, sepatu, berlian dan juga jam tangan. Semua itu harus barang keluaran terbaru dan hanya aku beserta si makhluk kecil itu saja yang punya. Aku sudah lama tidak pamer pada teman-teman sosialitaku. Kasihan urat leher mereka, semenjak aku fakum dari dunia ke-branditan mereka pasti hidup dengan sangat tenang!" ucap Levi meminta bayaran atas apa yang akan di lakukannya nanti.


"Ingat Kak Levi, orang serakah itu matinya susah" celetuk Elea lagi.


'Astaga Kak Iel, apa Kak Levi berniat menguras habis hartamu? Luar biasa, dia benar-benar sangat matrealistis.'


Gabrielle melirik kearah Elea saat mendengar isi pikirannya. Dia lalu tersenyum samar.

__ADS_1


"Berhenti menyela pembicaraan orangtua, Elea" omel Levi.


"Oh, jadi Kak Levi sudah tua ya?" tanya Elea kaget lalu berjalan menghampiri suaminya. "Kak Iel, lebih baik Kakak turuti saja apa yang di inginkan oleh orangtua ini."


"Yaaakkkkk Elea...!" amuk Levi frustasi. "Ya Tuhan, berdosakah aku jika membunuh makhluk kecil ini? Aku sudah tidak tahan lagi Tuhan."


Elea tersenyum simpul mendengar ratapan frustasi Levi. Dia menoleh saat merasakan sebuah elusan pelan di pinggangnya. "Ada apa Kak?."


"Tidak ada apa-apa sayang" jawab Gabrielle.


"Kalau tidak ada apa-apa kenapa mengelus pinggangku? Cabul sekali!."


Gabrielle tergelak. Meskipun ini hanya pura-pura, nyatanya Gabrielle masih terkejut mendengar ucapan frontal Elea. Rupanya dia masih akan sering merasakan kejut jantung seperti hari-hari yang lalu.


"Suamimu itu memang sangat cabul, Elea. Makanya kau menjauhlah, jangan dekat-dekat dengan orang sesat sepertinya" ucap Levi memanaskan keadaan.


"Baik Kak" sahut Elea kemudian melepaskan pelukan tangan suaminya.


"Sayang, yang aku lakukan tadi bukan cabul. Kita ini suami istri, wajarlah jika aku menyentuh aset milik istriku sendiri. Jangan dengarkan wanita gila ini, dia hanya merasa iri karena tidak memiliki pasangan!" sindir Gabrielle lalu kembali merengkuh pinggang istrinya yang ingin menjauh.


Mata Levi melotot mendengar sindiran Gabrielle. Ingin rasanya dia menjambak rambut pria beku ini kemudian membenturkannya ke dinding.


Tok, tok, tok


Gabrielle melihat kearah Levi kemudian menganggukkan kepala. "Pergilah, kami akan mengawasi kalian dari jauh."


"Pergi kemana Kak? Dan kenapa harus di awasi? Memangnya ada penjahat ya?" cecar Elea sembari menatap lekat kearah suaminya.


"Ekhm, begini sayang. Levi akan mengajakmu pergi jalan-jalan keluar. Dan sebagai suami yang baik tentu saja aku harus memastikan keamanan kalian bukan?" jawab Gabrielle lembut.


"Cih, perutku mual mendengar kata-katamu barusan, Gab. Benar-benar sangat menjijikkan" seloroh Levi dengan tubuh bergidik geli.


"Terserahku. Iri bilang saja" sahut Gabrielle kemudian terkekeh penuh kemenangan.


Levi berdecih. Dia berdiri kemudian menyambar tasnya yang tergeletak di atas meja. "Kau makhluk kecil, hari ini kita akan memainkan permainan yang cukup memacu adrenalin!."


"Apa di sana nanti kita akan membeli makanan, Kak? Aku masih ingat hari itu Kakak tidak jadi membelikan aku cumi bakar. Dasar pelit" tuduh Elea saat teringat dengan kejadian di taman.


Levi ternganga di katai pelit oleh Elea. Dia lalu menengadahkan wajahnya keatas kemudian menarik nafas sedalam-dalamnya untuk meredam emosinya yang kembali naik.


"Elea, sebaiknya kau jangan bicara sembarangan lagi atau aku akan melakban mulutmu. Mau!" gertak Levi sambil memelototkan mata.


"Tidak mau" sahut Elea cepat.


"Kalau begitu tunggu apalagi. Ayo berangkat!."

__ADS_1


Gabrielle menggenggam tangan Elea sebelum melepaskannya pergi menantang bahaya. Hatinya begitu gelisah, dia takut kalau Jack-Gal akan benar-benar mendapatkan istrinya kali ini.


Sadar jika suaminya berat untuk melepaskannya, Elea segera memberinya sebuah pelukan hangat. Untung saja Levi sudah keluar, jadi untuk sementara waktu dia bisa melepas topengnya.


"Tidak apa-apa Kak, semua pasti baik-baik saja" hibur Elea sembari mengelus punggung suaminya.


"Sayang, aku benar-benar sangat takut terjadi sesuatu padamu. Aku...


"Kak Iel, cepat atau lambat semua ini akan tetap terjadi. Doakan saja aku masih bisa mengenalinya karena aku mendapat gambaran kalau dia akan mendatangiku dengan wujud yang berbeda!."


Mendengar penuturan istrinya, semakin lah Gabrielle merasa sangat khawatir. Dia jadi tidak rela untuk melepaskan istrinya pergi keluar.


"MAU SAMPAI KAPAN KALIAN SALING MENGUCAPKAN KATA PERPISAHAN, HAH! GABRIELLE, ELEA ITU HANYA AKAN PERGI JALAN-JALAN, BUKAN PERGI KE AKHIRAT.. CEPAT LEPASKAN DIA ATAU KU LEMPAR KAU DENGAN SEPATU INI!" teriak Levi di depan pintu sambil mengacungkan high heelsnya yang runcing.


Gabrielle menghela nafas. Dia lalu melepaskan pelukan istrinya dengan sangat tidak rela.


"Sayang, berjanjilah untuk kembali tanpa luka sedikitpun. Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri jika ada hal buruk terjadi padamu!" ucap Gabrielle dengan tatapan sendu.


Elea tersenyum kecut kemudian menganggukkan kepala. "Aku akan mengusahakannya, Kak. Kalau begitu aku pergi dulu ya, Kak Levi sudah kesurupan."


Gabrielle mengangguk. Dia lalu mengantarkan istrinya sampai ke depan pintu dimana Levi masih berdiri sambil berkacak pinggang.


"Jaga istriku dengan baik!."


Levi menatap dalam kearah Elea yang sedang menatapnya dengan tampang polos. Sungguh, hatinya benar-benar sangat tidak rela membiarkan makhluk kecil ini ikut pergi menantang bahaya.


"Kau pastikan saja semuanya aman untuk kami, Gab. Dan juga, tolong bergeraklah dengan cepat jika dia sudah muncul" sahut Levi lirih.


"Siapa yang muncul Kak?" tanya Elea ikut menimpali.


"Setan" jawab Levi asal. "Dasar bocah, ingin tahu saja kau dengan urusan orangtua. Ayo berangkat!."


Dan akhirnya, Gabrielle melepaskan istrinya pergi dengan kekhawatiran yang menyelimuti hatinya. Sedangkan Levi, dia tidak menyadari jika gadis kecil yang sedang bersamanya sudah sangat siap menerima segala konsekuensi yang akan terjadi.


🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄


...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSSS.....


...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...


...🌻 IG: emak_rifani...


...🌻 FB: Nini Lup'ss...


...🌻 WA: 0857-5844-6308...

__ADS_1


__ADS_2