Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Gizi Buruk


__ADS_3

"Tuan Muda, dokter mengatakan kalau rahim Nyonya Elea sedikit bermasalah. Beliau menderita Kista Endometrium. Itulah kenapa Nyonya selalu mengalami sakit perut hebat setiap kali datang bulan!".


"Kista Endometrium?" tanya Gabrielle kaget.


Nun mengangguk. Dia kemudian meminta Ares untuk mencari tahu tentang penyakit itu lewat internet kemudian menyerahkannya pada Tuan Muda mereka.


"Benar, Tuan Muda. Dan dokter juga mengatakan kalau Nyonya Elea kekurangan gizi baik di dalam tubuhnya. Pola makan yang tidak teratur dan terlalu kelelahan juga menjadi salah satu pemicu rasa sakit yang di alami Nyonya setiap bulannya!".


Gabrielle menghela nafas panjang setelah tahu jenis penyakit yang di derita oleh Elea. Nasib istrinya benar-benar sangat menyedihkan. Hatinya terasa seperti di iris-iris pisau yang sangat tajam.


"Mulai besok atur pola makan yang sehat untuk istriku, Nun. Dan juga pastikan semua makanan itu sudah termasuk dalam takaran gizi seimbang!".


"Baik Tuan Muda!".


Nun memerhatikan wajah Tuan Muda-nya yang terlihat begitu sedih. Dia sangat paham akan apa yang tengah di rasakan olehnya. Kehidupan yang di jalani oleh nyonya kecilnya benar-benar sangat memilukan. Dia merasa begitu prihatin.


"Nun, apa dokter mengatakan bagaimana cara untuk mengobati penyakit Elea?" tanya Gabrielle lirih.


"Iya, Tuan Muda. Dokter menyarankan agar Nyonya Elea di bawa ke dokter spesialis saja. Secepatnya, sebelum kista itu membesar dan merusak jaringan sel telur di dalam rahim Nyonya" jawab Nun.


Lagi-lagi Gabrielle menghela nafas panjang. Dia kemudian mengangguk.


"Ares, atur jadwal pemeriksaan untuk Elea besok. Cari dokter spesialis terbaik di negara ini dan harus dokter wanita. Apa kau mengerti?".


"Mengerti, Tuan Muda!" sahut Ares.


"Ya sudah, kau kembalilah ke perusahaan. Aku akan tinggal di rumah untuk menemani Elea!" ucap Gabrielle kemudian beranjak pergi dari ruang kerjanya.


Nun dan Ares berjalan mengikuti Tuan Muda mereka dari belakang. Setelah Tuan Muda mereka masuk ke dalam lift, Ares segera pergi ke perusahaan. Ada banyak pekerjaan yang sudah menunggunya di sana.


Ting


Pintu lift terbuka. Gabrielle melangkah keluar dari sana dengan wajah suram. Pikirannya kacau memikirkan keadaan istrinya yang ternyata mengidap suatu penyakit. Pantas saja istrinya sampai jatuh pingsan hanya karena datang bulan, rupanya karena ada sesuatu yang hidup di dalam perutnya.


"Gabrielle, apa kata dokter?".


Gabrielle yang hendak membuka pintu kamar menoleh ke belakang saat ada yang bertanya. Wajahnya yang suram semakin bertambah suram setelah tahu siapa orang itu.


"Bukan urusanmu!" jawab Gabrielle dingin.


Levi berjalan mendekat kearah Gabrielle. Dia memperhatikan dengan seksama raut wajah pria yang sedang berdiri di depannya.


"Elea, baik-baik saja kan?" tanya Levi khawatir.

__ADS_1


"Sudah aku bilang bukan urusanmu. Berhenti untuk mencampuri urusan rumah tanggaku dengan Elea, Levi. Aku tidak suka!" jawab Gabrielle setengah membentak.


"Selama itu menyangkut nama Elea, maka itu akan menjadi urusanku juga Gabrielle. Aku tidak peduli meskipun kau tidak menyukainya. Elea sudah seperti adikku sendiri, aku berhak tahu semua tentangnya!" sergah Levi sengit.


Gabrielle menghela nafas. Tangannya bergerak memijit pelipisnya.


"Kecilkan suaramu, Elea sedang tidur sekarang!".


"Baik!" sahut Levi cepat.


Tahu kalau gadis bar-bar ini tidak akan pergi sebelum mendapatkan jawaban darinya, dengan setengah hati Gabrielle mengajaknya bicara di balkon samping kamarnya. Dia membutuhkan udara yang segar untuk menyampaikan apa yang di katakan oleh dokter tentang Elea.


"Dia tidak baik-baik saja. Rahimnya lemah, dan dia juga mengidap kista Endometrium. Hah, aku tidak bisa membayangkan jenis kehidupan seperti apa yang di jalani oleh istriku sebelumnya Levi. Dia juga mengalami gizi buruk, terdengar menakutkan bukan?" tanya Gabrielle sambil menahan rasa sesak di dada.


Levi begitu syok setelah mengetahui keadaan Elea sekarang. Matanya bahkan sampai berkaca-kaca.


"Malang sekali nasib makhluk kecil itu. Aku tidak percaya dia bisa sampai mengalami gizi buruk. Bukankah hal seperti itu biasanya hanya terjadi di negara miskin saja? Bagaimana bisa Elea mengalami hal semengerikan itu Gabrielle? Dan bukankah selama ini dia juga bekerja, masa iya dia tidak makan sedikitpun!".


"Elea pernah mengatakan padaku kalau dia hanya makan satu kali dalam sehari. Dan makanan yang dia makan pun tidak layak di konsumsi oleh manusia. Itulah kenapa aku memutuskan untuk membawanya tinggal bersamaku di rumah ini. Aku ingin merawatnya, aku juga ingin melihatnya hidup bahagia seperti yang lain!" jelas Gabrielle.


Levi terisak pelan setelah mendengar penuturan Gabrielle. Dia tidak tahu kalau Gabrielle mempunyai alasan seperti ini demi melindungi Elea. Levi merasa sangat tidak berguna sebagai seorang teman. Dia tidak bisa melihat penderitaan yang di alami oleh gadis yang sudah dia anggap seperti adiknya sendiri.


"Gabrielle?" panggil Levi sambil sesenggukan.


"Apa?".


"Levi, hanya dia satu-satunya wanita yang bisa membuatku gila seperti ini. Aku tidak hanya mencintainya, tapi sangat sangat mencintainya. Elea adalah separuh nafasku, dia hidup di setiap dengut nadiku sejak pertemuan pertama kami!" jawab Gabrielle jujur.


"Kau tidak ada niat untuk memanfaatkan kebodohannya saja bukan?".


Levi sangat berharap kalau Gabrielle memang benar-benar mencintai Elea. Bukan apa, dia hanya ingin memastikan kalau teman kecilnya itu tidak jatuh ke pelukan pria yang salah. Elea sangat bodoh dan polos, Levi khawatir kalau Gabrielle hanya memanfaatkannya demi kesenangan sesaat.


Gabrielle tersenyum simpul menyadari kecurigaan Levi. Namun anehnya Gabrielle tidak merasa tersinggung dengan pertanyaan tersebut. Dia tahu kalau kecurigaan itu merupakan bentuk kepedulian Levi terhadap istrinya. Dan ya, meksipun baru saling mengenal, Gabrielle cukup bisa melihat kalau gadis bar-bar ini begitu menyayangi Elea. Meksipun Levi sendiri tak pernah mau menunjukkan perasaan itu secara terbuka di hadapan istrinya.


"Dia sudah mati sejak awal kalau aku hanya ingin memanfaatkannya saja, Lev. Kau lupa ya bagaimana gadis kecil itu membuat kita berdua terlihat seperti orang bodoh?" tanya Gabrielle.


Tangis Levi langsung terhenti saat Gabrielle mengingatkannya akan kebodohan Elea. Dia tersenyum kecil sambil mengelap ingusnya.


Gabrielle dan Levi sama-sama terdiam setelah itu. Kepala mereka terisi dengan berbagai macam pemikiran tentang Elea, gadis polos nan bodoh yang membuat keduanya merasa jatuh cinta akan kemurniannya.


"Oh ya Gab, apa yang akan kau lakukan untuk mengobati Elea?" tanya Levi ingin tahu.


"Besok aku akan membawanya pergi ke rumah sakit untuk di periksa. Kita berdoa saja semoga tidak ada kabar buruk setelah itu!" jawab Gabrielle.

__ADS_1


"Semoga saja. Elea pasti akan merasa sangat terbebani jika mengetahui hal ini. Mengukur dari kebodohannya, dia pasti akan berusaha kabur dari sini karena takut membuatmu susah. Percaya tidak, gadis bodoh itu pasti akan berfikir kalau kau bisa bangkrut karena merawatnya yang penyakitan?".


Sudut bibir Gabrielle tertarik keatas. Hatinya merasa sedikit terhibur setelah berbicara dengan gadis bar-bar ini.


"Aku percaya, karena kebodohannya lah yang sudah membuatku jatuh cinta. Bahkan rasa cintaku semakin bertambah setiap harinya meskipun....


Gabrielle tak melanjutkan perkatannya. Tak lama kemudian, mereka berdua terkekeh lucu.


"Istrimu adalah gadis yang sangat unik, Gab. Sangat susah untuk tidak jatuh cinta padanya!" ucap Levi senang.


"Kau benar, Elea-ku memang sangat unik. Dan aku sangat beruntung karena dia adalah milikku!" timpal Gabrielle.


Levi kemudian melihat jam yang melingkar di tangannya.


"Sebenarnya aku masih ingin di sini sampai Elea bangun. Tapi aku tidak tahan melihat wajah suram dari pengantin pria yang gagal melakukan misi malam pertamanya. Jadi sepertinya aku lebih baik tidak di sini dulu!" ejek Levi sengaja.


"Baguslah kalau kau sadar diri!" sahut Gabrielle acuh.


"Astaga, aku menyesal pamit pergi dari sini. Dasar pria tengik!" omel Levi kesal.


Gabrielle berbalik kemudian pergi meninggalkan Levi yang masih menggerutu seorang diri. Dia tersenyum.


"Datanglah kembali besok kalau kau ingin mengobrol dengan Elea. Tapi ingat pesanku, jangan coba-coba mencemari pikirannya dengan perkataan aneh yang keluar dari mulutmu. Tahu tidak apa yang di katakan Elea padaku tadi?" tanya Gabrielle tanpa melihat kearah Levi.


"Apa?".


'Jangan bilang Elea menyebut Gabrielle sebagai buaya darat. Hahahahaha,, jika tebakanku benar, pasti harga diri Gabrielle terluka parah di sebut seperti itu oleh istrinya sendiri. Hahahahhaha🤣🤣🤣🤣🤣!'.


Gabrielle mendengus kesal mendengar isi pikiran Levi. Dia kemudian beranjak pergi dari sana tanpa melanjutkan perkataannya.


"Hahahhahaaa, yakk Gabrielle, apa tadi Elea menyebutmu sebagai salah satu hewan yang hidup di kolam penangkaran? Emmm, kalau tidak salah namanya buaya darat, benar tidak? Gabrielle, hei.... Hahahhaha!".


Levi tertawa dengan bebas setelah mengolok-olok Gabrielle. Dia begitu puas karena ternyata Elea benar-benar mendengarkan perkatannya tempo hari.


"Elea-Elea, kau memang murid yang sangat patuh. Lain kali aku akan mengajarkanmu tentang hal-hal yang bisa membuat Gabrielle mati berdiri. Hahahhahaa, aku jadi tidak sabar melihat seperti apa repson Gabrielle jika kau mengetahui banyak istilah aneh untuk memojokkannya!" ucap Levi penuh rencana jahat.


🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄


🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSSS..


LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA


🌻 IG: nini_rifani

__ADS_1


🌻FB: Nini Lup'ss


🌻WA: 0857-5844-6308


__ADS_2