
Ares mematikan mesin mobil kemudian menoleh ke kursi samping. Dia tersenyum, bahagia sekali rasanya.
"Kenapa senyum-senyum seperti itu?" tanya Cira heran.
"Memangnya tidak boleh ya?.
"Ish, aku sedang bertanya padamu kenapa kau malah ikut bertanya sih, Res?.
Cira menggerutu. Padahal yang sebenarnya terjadi tidaklah seperti itu. Jantung Cira sejak tadi tidak berhenti berdegub, jadi dia sengaja mengalihkan kegugupan itu dengan berpura-pura merajuk seperti ini. Dia tentu saja sadar arti dari tatapan pria di sebelahnya. Karena mereka baru saja..
"Aku yakin sekali di dalam kepalamu pasti sedang terkenang dengan kejadian panas yang kita lakukan barusan. Iya kan?" terka Ares sambil menaik-turunkan kedua alisnya.
"K-kau ini bicara apa sih, Res. Tidak ada gunanya juga mengingat-ingat hal seperti itu. Tidak baik!" sahut Cira seraya memalingkan wajah kearah lain.
"Tidak baik? Yakin?.
Sudut bibir Ares berkedut. Dia suka sekali menggoda gadisnya ini.
"Jangan menggodaku terus, Res. Sudah cukup."
"Cukup apa sayang?.
Semburat merah muncul di pipi Cira saat Ares mendekat kearahnya. Dia menelan ludah, mencoba menahan nafas agar aroma tubuh pria ini tidak merusak kinerja syaraf otaknya. Sungguh, pesona Ares sangat mengerikan. Cira harus extra waspada agar tidak terjebak oleh rayuan iblis yang terus membisikkan kata untuk menyerah, pasrah, kemudian memiliki.
"Cira sayang, kenapa kau memejamkan mata? Ayo buka dan tatap aku" bisik Ares sambil menatap seksama kearah bibir ranum yang tadi sempat dia nikmati.
Kesal karena ayah dan ibunya menguasai Cira sepenuhnya saat mereka bertandang ke rumah, Ares dengan sengaja menghentikannya mobilnya di tempat yang sepi. Dia menuntut pertanggungjawaban Cira yang sudah berani mengabaikannya dengan memberi beberapa sentuhan hangat di bagian titik-titik tertentu, terutama daerah bibir. Dan hampir saja dia tidak dapat mengontrol diri jika saja Cira tidak menampar pipinya. Ares tidak marah, justru dia malah merasa bangga. Iya bangga. Bangga karena calon istrinya masih sanggup untuk menahan godaan hawa nafsu yang coba di salurkan iblis pada mereka berdua.
"Res, jangan di ulangi lagi. Bagaimana kalau kali ini kita sama-sama tidak bisa menahan diri? Akibatnya bisa fatal, Res!" tolak Cira yang masih enggan untuk membuka mata.
Dada Cira tidak berhenti bergemuruh. Detak jantungnya semakin bertalu-talu ketika dia merasakan benda basah mulai menempel di bibirnya. Cira tahu, Ares kembali menyentuhnya. Jadi sebisa mungkin dia berusaha untuk menahan diri agar tidak terbawa suasana. Cira diam membiarkan Ares menyesap bibirnya, membiarkan pria ini mendapat kepuasan dengan caranya sendiri.
__ADS_1
"Sayang...."
"Aku tidak akan membalas ciumanmu" sahut Cira cepat. "Bisa gawat."
Hening. Untuk beberapa saat tidak ada suara apapun di dalam mobil. Penasaran, Cira akhirnya sedikit membuka mata. Dia tertegun melihat Ares yang tengah menatapnya sambil berpangku dagu.
"Ckck, memang benar-benar bisa gawat."
"Apa maksudmu, Res? Apanya yang benar-benar bisa gawat?.
"Tentu saja pesonamu, sayang. Memangnya kau tidak sadar seberbahaya apa dirimu, hm? Lihat, aku yang biasanya sangat pandai menahan diri tiba-tiba saja berubah menjadi pria mesum ketika bersamamu. Ini sangat tidak cocok dengan kepribadianku yang biasanya" keluh Ares dengan wajah terluka yang di buat-buat.
Cira terbengang. Namun sedetik kemudian dia terbahak-bahak, bahkan dia sampai mengeluarkan airmata saking lucunya mendengar keluhan Ares.
"Hahaa, kau ini ada-ada saja, Res. Mana ada aku seperti itu, posisinya terbalik. Bukan pesonaku yang membahayakan, tapi pesonamu yang jauh lebih mengkhawatirkan. Kau ini!.
Ares tersenyum.
"Jadi kesimpulannya kau dan aku sama-sama berbahaya, begitu?.
Tawa Cira langsung terhenti ketika Ares menautkan jari tangan mereka. Suasana yang tadinya terasa ceria tiba-tiba berubah menjadi serius.
"Cira, kau adalah wanita pertama yang berhasil merebut perhatianku. Memang cukup singkat untuk aku menyimpan rasa ini, tapi semuanya adalah tulus. Rasaku benar-benar jujur kalau aku menginginkan cinta dan tubuhmu dalam artian yang semestinya. Kau anggun dan juga hangat, itu yang aku lihat. Aku tidak membutuhkan statusmu, kastamu, brand yang melekat di tubuhmu atau apapun itu, aku tidak peduli. Karena yang aku inginkan hanya satu, memilikimu. Kau mau kan melangkah ke jenjang yang lebih serius bersamaku?.
Ada cairan bening yang menetes keluar dari sudut mata Cira ketika dia mendengar ungkapan hati Ares. Hatinya begitu membuncah, dia merasa sangat berharga karena di cintai dengan begitu dalam oleh pria tampan ini.
"Kenapa aku, Res?.
"Karena hanya kau yang aku inginkan, sayang. Aku ingin kau menjadi orang pertama yang aku lihat ketika membuka mata, menjadi orang terakhir yang aku sapa sebelum terlelap, juga menjadi satu-satunya orang yang akan menghangatkan malam-malamku. Aku juga ingin kau yang membuatkan kopi untukku di pagi hari, membuatkan sarapan untukku, dan juga yang akan menemaniku di akhir pekan. Semua hanya tentangmu sayang" jawab Ares bersungguh-sungguh. "Jadi Cira sayang, maukah kau memenuhi segala inginku tadi?.
Setelah berkata seperti itu, Ares meraih satu tangan Cira kemudian mengecupnya penuh perasaan. Dia lalu merogoh sebuah kotak kecil yang tersimpan di balik saku jasnya.
__ADS_1
"Will you marry me, Cira?.
"A-Ares, kau..
"Ya, aku melamarmu" sela Ares sambil membuka kotak cincin yang ada di tangannya. "Aku tidak ingin menjadi pria brengsek yang tidak bisa menjaga kesucian gadisnya. Tapi aku melakukan hal ini bukan semata-mata hanya karena nafsu saja. Aku mencintaimu, aku menginginkanmu, dan aku sangat mendambakanmu. Itu adalah poin terpenting dari lamaran ini. Jadi aku harap kau tidak salah mengartikan ucapanku. Paham?.
Sambil berderai airmata, Cira menyaksikan Ares yang sedang memakaikan cincin ke jari manisnya. Dia sudah tak tahu lagi bagaimana cara melukiskan kebahagiaan ini. Baik Ares maupun kedua orangtuanya, mereka menerima Cira tanpa ada syarat atau embel-embel apapun. Bahkan mereka tidak ada yang mempedulikan statusnya yang berasal dari anak jalanan. Sungguh, Cira benar-benar sangat beruntung karena bisa di pertemukan dengan orang-orang baik seperti Ares dan yang lainnya.
Cup
"Sayang, aku tidak akan memaksamu untuk menikah dalam waktu dekat. Hanya satu pesanku, di jarimu ini.. " ucap Ares sambil menciumi cincin yang baru saja dia pasangkan ke jari Cira. "Sudah ada pria yang menantimu. Jadi, jangan ragu untuk menunjukkannya jika ada pria hidung belang yang ingin mendekatimu. Kalau kau sampai ketahuan bermain mata dengan pria lain, maka detik itu juga aku akan langsung menyeretmu ke pelaminan. Apa kau mengerti?.
"Hiksss... apa kau baru saja mengancamku?" tanya Cira masih dengan terisak-isak.
"Iya, itu tadi ancaman khusus dariku" jawab Ares sambil menyeka airmata yang membasahi wajah calon istrinya.
"J-jahat.. mana ada orang melamar sambil mengancam? Hiksss, kau jahat Res."
Ares terkekeh.
"Aku mencintaimu.."
"Aku juga" sahut Cira malu-malu.
Sedetik kemudian, Ares dan Cira tenggelam dalam ciuman yang hangat. Cinta mereka saling bersambut, membuat hati keduanya merasa teramat sangat bahagia.
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
__ADS_1
...🌻 IG: emak_rifani...
...🌻 FB: Rifani...