Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Bibit Psikopat


__ADS_3

"Waahhhh Elea, apa saat mandi kau menelan bohlam? Wajahmu bersinar sekali" puji Levi takjub.


Elea tersipu. Rambutnya yang panjang dia biarkan terurai, sementara tubuhnya sendiri di balut dengan kimono mandi berwarna putih. "Kak Levi ikut pergi bersamaku tidak?."


Levi menggelengkan kepala kemudian menarik tangan Elea untuk duduk di kursi rias. Dengan cekatan dia mengeluarkan seluruh peralatan tempurnya lalu menyusun rapi di atas meja.


"Tidak. Itu adalah acara keluarga, aku kan hanya orang luar" jawab Levi santai.


"Orang luar? Kak Levi itukan temanku, jadi ikut saja ya. Nanti di sana Kakak bisa belajar bagaimana tata cara sebuah pernikahan. Siapa tahu setelah itu Kak Levi bisa segera menikah" ucap Elea memberi saran.


Cetak


"Awww, sakit" ringis Elea pelan sambil mengusap kepalanya yang baru saja di pukul menggunakan hairdryer.


Levi mendengus. Tak tega, dia akhirnya ikut mengusap bekas pukulan di kepala Elea.


"Sakit sekali tidak?."


"Tidak Kak, tapi sepertinya sedikit benjol" sahut Elea kemudian tersenyum kearah cermin.


Sudut bibir Levi berkedut. Orang mana yang bisa marah jika bertemu manusia bodoh seperti Elea. Bahkan untuk sekedar merasa tersinggung saja Levi tidak bisa. Elea-nya terlalu manis untuk memancing amarah orang lain. Tapi lain urusannya jika kata-kata nyeleneh yang keluar dari kerongkongannya. Bisa di pastikan kalau jantung semua orang akan berhenti berdetak.


"Elea..?."


"Iya Kak, ada apa?."


"Apa yang kau rasakan pada Gabrielle?" tanya Levi penasaran.


"Sayang Kak" jawab Elea jujur.


Levi mengangguk. Tapi jawaban itu belum membuatnya puas. Levi ingin agar Elea segera menyadari perasaannya sendiri supaya dia bisa memiliki pertahanan saat Patricia mulai berulah. Sebenarnya bisa saja Levi menghalau segala tipu muslihat yang akan di lakukan oleh kucing belang itu, tapi Levi sadar kalau ini bukanlah urusannya. Dia tidak boleh ikut campur terlalu jauh dalam masalah rumah tangga Gabrielle dan Elea. Jadi satu-satunya jalan yang bisa dia lakukan sekarang adalah mendidik Elea agar menjadi kucing liar yang jauh lebih garang di bandingkan Patricia, si kucing belang itu.


"Rasa sayang itu ada berbagai macam, Elea. Sekarang katakan padaku, saat berdekatan dengan suamimu, apa yang kau rasakan?."


Elea terdiam sejenak. Dia berbalik menatap Levi kemudian bertanya dengan tampang polosnya. "Kak Levi, sejujurnya aku memendam suatu perasaan aneh setiap kali berdekatan dengan Kak Iel. Tapi aku ragu untuk mengatakannya."


"Ragu kenapa bodoh? Gabrielle itu kan suamimu. Kau berhak mengatakan apa saja kepadanya, termasuk dengan perasaan yang kau rasakan" sahut Levi menggebu-gebu.


'Semoga saja apa yang akan di katakan oleh Elea adalah sebuah kebenaran tentang perasaannya. Jadi aku tidak perlu sampai menguras tenaga jika dia sadar terlebih dahulu.'


"Kakak tahu tidak."

__ADS_1


"Tidak."


"Ish Kak Levi ini bagaimana. Aku kan belum selesai bicara, dasar tidak sopan" hardik Elea.


Levi tercengang saat makhluk kecil ini berani menghardiknya. "Kau berani memarahiku?."


"Aku tidak" sahut Elea sembari mengendikkan bahu.


Emosi Levi kembali di uji. Dia menatap langit-langit kamar sambil menarik nafas panjang. Bicara dengan Elea selalu saja membuat stok kesabarannya menipis.


"Kak Levi, setelah aku dan Kak Iel menikah, entah kenapa dadaku selalu berdebar kuat setiap kali bersamanya. Jantungku seperti akan meledak" ucap Elea dengan raut wajah yang sangat serius. "Apa aku terkena gejala sakit jantung ya Kak?."


Jika tadi Levi memukul kepala Elea menggunakan hairdryer, sekarang dia ingin sekali melubangi ubun-ubunnya untuk melihat kabel seperti apa yang tersembunyi di balik otaknya yang sempit. Bisa-bisanya makhluk kecil ini menyebut dirinya terkena gejala sakit jantung hanya karena dadanya berdebar hebat.


'Ya Tuhan, apa aku boleh menjadi manusia kanibal sekarang? Gigiku gatal ingin mengunyah tulang-tulang rawan milik Elea! Astaga, maafkan aku Tuhan, tapi tolong beritahu aku sedikit saja.... Saat Elea terbentuk, apa yang sedang kau pikirkan? Mungkinkah Engkau lupa meletakkan kabel di bagian syarafnya? Lihatlah sekarang seperti apa ciptaanmu, dia sangat luar biasa bodoh. Saking bodohnya sampai membuat orang lain ikut menjadi bodoh sepertinya. Hiksss, aku lelah...'


Melihat kebungkaman Levi, Elea jadi semakin yakin kalau dirinya memang terkena gejala sakit jantung. Saat dia hendak bicara, tiba-tiba saja mulutnya langsung di sumpal menggunakan kapas.


"Tutup mulutmu dan jangan bergerak. Kalau kau berani membangkang, akan kujahit lubang hidungmu supaya tidak bisa bernafas. Mau?" ancam Levi sembari mengacungkan pencapit bulu mata di depan hidung Elea.


Dengan mulut yang tersumpal Elea menggelengkan kepala. Dia akhirnya duduk diam tanpa berani bergerak sedikit pun saat Levi mulai merias wajahnya.


Levi dengan serius memoles wajah natural Elea dengan make up yang dia bawa. Statusnya yang sebagai mantan model membuat Levi bisa dengan cepat merubah penampilan Elea menjadi sangat cantik bak putri kerajaaan.


Elea sendiri begitu takjub akan kepiawaian Levi dalam memoles wajah. Masih dengan mulut yang tersumpal dia tak henti-hentinya memuji wanita cantik yang sedang duduk sembari menatap kearah cermin.


"Sudah selesai. Sekarang kau gantilah pakaianmu dulu, nanti aku baru akan merapihkan bagian rambut" ucap Levi puas melihat hasil karyanya.


Mata Levi memicing saat Elea tak bergeming dari duduknya. Penasaran, dia segera mengambil kapas di mulutnya kemudian bertanya. "Kenapa diam saja? Kau tahu tidak kalau suamimu sedang keranjingan ingin segera bertemu denganmu?."


"Aku mana bisa tahu, Kak Levi. Tadi kan Kakak yang menyuruhku untuk diam dan jangan bergerak" sahut Elea polos.


Glukkkk


Lagi. Emosi Levi kembali di uji.


"Tapi tidak seperti ini juga, Elea.... Astaga, aku bisa gila. Sudah sana, cepat ganti pakaian sebelum aku mencukur semua bulu yang ada di tubuhmu" ancam Levi frustasi.


Takut dengan ancaman yang di lontarkan oleh Levi, Elea bergegas masuk ke kamar mandi untuk berganti pakaian. Tapi baru saja Elea masuk kesana, dia kembali keluar dengan tampang kebingungan.


"Kak Levi, di kamar mandi hanya ada kimono seperti ini saja. Apa tidak masalah kalau aku memakainya ke pernikahan Grizelle?" tanya Elea sambil memperlihatkan baju berwarna putih yang di bawanya dari dalam kamar mandi.

__ADS_1


Levi terduduk lemas. Rasanya dia ingin sekali membenturkan kepalanya ke tembok karena sudah tak tahan lagi menghadapi kebodohan Elea.


"Elea, apa kau pernah melihat orang memakai kimono mandi saat menghadiri upacara pernikahan?."


"Tidak pernah Kak Levi. Rata-rata mereka semua memakai gaun yang indah" jawab Elea.


"Kalau tahu seperti itu kenapa kau masih bertanya juga hah? Tolong Elea tolong, pintar lah sedikit. Kasihani lah temanmu ini Elea" keluh Levi sambil mengatupkan kedua tangan di depan dada. "Itu, gaunmu ada di sana. Ambil dan cepat pakai sebelum emosiku benar-benar meledak. Ambil sekarang."


Elea lari terbirit-birit menuju kamar mandi setelah mengambil gaun di atas ranjang. Dia sangat takut melihat kemurkaan Levi.


"Benar kata Kak Iel tadi kalau siluman itu akan mengamuk jika terlalu lama membuatnya menunggu. Aduuhh, kepalaku jadi pusing" gumam Elea setelah gaun cantik itu terpasang di tubuhnya.


Sebelum keluar dari kamar mandi, Elea terlebih dahulu melongokkan kepalanya keluar untuk memastikan keadaan. Dia tersenyum kecut begitu mendapati Levi yang sedang menatapnya tajam.


"Kenapa kau mengintip seperti maling? Cepat kemari" tanya Levi sambil menghembuskan nafas kasar.


Sabar, sabar


"Jangan galak-galak Kak Levi. Nanti wajahmu cepat keriput" canda Elea setelah duduk di depan meja rias.


"Jika wajahku sampai keriput, maka kau adalah penyebabnya" sahut Levi ketus.


"Kenapa aku?" tanya Elea heran.


"Memangnya siapa lagi hah! Sejak tadi hanya kau saja yang memancing kemarahanku. Kebodohanmu yang sudah membuat otot-otot di wajahku mengeras" jawab Levi dengan tangan yang mulai menata rambut panjang Elea.


Elea mengangguk. Dia memilih diam karena takut kalau Levi akan menancapkan sisir runcing itu di kepalanya jika kembali membuatnya marah.


"Kalau diam seperti ini kan jadi terlihat manis" gumam Levi lirih sambil mengulum senyum.


🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄


... 🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS......


... LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...


... 🌻 IG: nini_rifani...


... 🌻 FB: Nini Lup'ss ...


... 🌻 WA: 0857-5844-6308...

__ADS_1


__ADS_2