Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Sarapan Pagi


__ADS_3

Yura dengan penuh perhatian menyendokkan makanan ke dalam piring suami dan ayah mertuanya. Hari ini Yura merasa lebih bersemangat karena semalam entah ada angin apa tiba-tiba suaminya tidur sambil memeluknya. Sebuah pelukan yang selalu Yura impi-impikan selama ini.


"Selamat pagi Kakek, selamat pagi Ayah, selamat pagi juga Ibu!" sapa Patricia yang baru bergabung di meja makan.


"Selamat pagi sayang" sahut Yura sambil tersenyum manis.


"Pagi Cia, kau terlihat cantik dengan setelan kantormu!" puji Karim.


"Terima kasih Kakek" sahut Patricia sembari melirik kearah ayahnya yang hanya diam tanpa membalas sapaannya.


Melihat wajah putrinya yang berubah murung, Yura segera memikirkan cara untuk meredam keadaan itu. Dia lalu menemukan sebuah ide.


"Hmm Ayah, Bryan, Cia.. Bagaimana kalau malam ini kita makan malam di luar? Sudah sangat lama kita tidak melakukan hal seperti itu lagi" ucap Yura sambil memperhatikan satu-persatu orang yang ada di sana.


"Ide bagus Yura. Bagaimana Bry, kau setuju tidak?" tanya Karim yang sangat menyadari maksud dan tujuan menantunya.


"Aku ikut saja" jawab Bryan singkat.


"Cia, malam ini kau tidak sibuk kan?" tanya Karim sembari menatap cucunya yang terlihat sedih.


Patricia tak langsung menjawab pertanyaan kakeknya. Dia melihat kearah ayahnya, berharap kalau pria itu akan mengatakan sesuatu.


"Minta sekertarismu untuk merubah janji pertemuan dengan Gabrielle menjadi siang ini. Dan usahakan semua pekerjaanmu selesai sebelum jam kantor usai!."


Senyum manis langsung tersungging di bibir Patricia begitu dia mendapatkan apa yang dia mau. "Baik Ayah. Nanti aku sendiri yang akan menghubungi sekertaris Tuan Muda Gabrielle untuk memberitahukan perubahan jadwal."


Bryan mengangguk. Dia lalu mulai menikmati sarapan paginya. Mengabaikan raut bahagia di wajah Yura dan juga Patricia.


"Oh iya Yura, setelah ini tolong siapkan air hangat untuk Ayah ya" ucap Karim di sela-sela sarapannya.


"Air hangat untuk apa Ayah? Ayah sedang tidak enak badan ya?" tanya Yura khawatir.


Karim menggeleng. "Ayah ingin berjalan-jalan di taman. Yahh, orang renta seperti Ayah katanya tidak baik jika terus berada di dalam rumah. Jadi sesekali perlu berolahraga di luar untuk menghasilkan keringat!."


"Maksud Ayah, Ayah ingin berolahraga?."


"Iya, bukan olahraga berat. Hanya sekedar jalan-jalan saja di taman" jawab Karim.


"Perlu di temani tidak Yah? Aku memiliki banyak waktu luang" ucap Yura menawarkan diri.


"Tidak usah. Lebih baik kau buatkan cemilan untuk Ayah saja di rumah. Nanti biar asisten Ayah yang menemani di sana!" sahut Karim.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu."


Patricia sedikit curiga mendengar niatan kakeknya. Namun dia juga tidak bisa terlalu menunjukkan kecurigaannya itu karena takut kalau semua orang malah balik curiga padanya.


"Um Kakek, kenapa tidak hari libur saja jalan-jalannya? Aku juga kan ingin menemani Kakek berolahraga?" tanya Patricia penuh selidik.


Karim terkekeh mendengar pertanyaan cucunya. Sebenarnya dia juga sangat ingin ada yang menemani. Tapi entah kenapa pagi ini tiba-tiba saja dia merasa begitu bersemangat untuk pergi ke taman. Seolah ada magnet berkekuatan besar yang menariknya untuk datang kesana seorang diri.


"Untuk hari ini Kakek sendiri dulu, Cia. Minggu nanti baru kita pergi bersama. Bagaimana? Kau mau tidak?."


Patricia pura-pura memasang ekpresi wajah tidak rela. Tingkahnya itu malah mengundang gelak tawa kakek dan juga ibunya.


"Sayang, begitu saja sudah merajuk. Kan Kakek sudah bilang kalau Minggu nanti dia akan mengajakmu pergi berolahraga bersama!" ucap Yura sambil menggelengkan kepala.


"Tapi kan kasihan Kakek Bu kalau pergi sendirian. Bagaimana nanti kalau ada wanita yang menculik Kakek? Aku tidak rela Kakekku yang tampan ini di goda oleh mereka" sahut Patricia kesal.


"Hahahahhahaaa.... Patricia, Patricia. Kakekmu ini sudah tua dan bau tanah, memangnya siapa yang tertarik untuk menculik Kakek hah? Kau ini ada-ada saja" ucap Karim merasa lucu dengan perkataan cucunya.


"Tentu saja banyak lah wanita yang ingin memiliki Kakek. Kakekku sangat tampan, memangnya siapa yang mampu menolak pesona seorang Karim Young?."


'Uh suamiku ini sangat tampan. Aku yakin di dunia ini pasti tidak ada wanita yang sanggup menolak pesona seorang Bryan Young.'


"Bryan, ada apa? Kenapa kau terlihat linglung begitu?."


"Bryan..?."


'Kau tahu Bryan, aku adalah wanita yang paling beruntung di dunia. Kenapa? Karena aku di nikahi oleh pria tertampan yang ada di muka bumi ini. Namanya Bryan Young,'


"Bryan, kau kenapa?" tanya Yura lagi sambil mengguncang tangan suaminya yang sedang melamun.


"Haaa..." beo Bryan kaget. "Ada apa Yura? Kenapa kau mengagetkanku?."


Tatapan Yura menyendu. Dia bisa langsung tahu kalau suaminya tengah memikirkan almarhum Sandara, istri pertamanya. Sambil menahan rasa perih di hatinya, Yura berusaha untuk terlihat biasa saja. Dia memaksakan untuk tersenyum yang mana malah membuatnya terlihat semakin menyedihkan.


"Tidak apa-apa. Makanlah, nanti makananmu menjadi dingin" jawab Yura dengan suara yang sangat lirih.


Karim hanya bisa menarik nafas panjang melihat hubungan anak dan menantunya yang selalu terhalang jarak. Putranya teramat sangat dingin dengan sikapnya, sementara menantunya sendiri terlalu baik hati sampai-sampai mengorbankan kebahagiannya hanya demi pria yang tidak pernah mencintainya. Tak ingin kesedihannya di lihat oleh anak dan cucunya, Karim berpamitan untuk segera pergi olahraga.


"Yura, tolong ambilkan air hangat itu untuk Ayah. Sepertinya matahari sudah semakin naik ke atas, Ayah takut tidak kuat menahan panasnya!" ucap Karim seraya menyeka mulut menggunakan tisu.


"Baik Ayah, tunggu sebentar."

__ADS_1


Yura bergegas menyiapkan air hangat yang di minta oleh ayah mertuanya. Dengan cekatan dia juga menyiapkan handuk kecil berserta sedikit cemilan untuk menemaninya saat beristirahat nanti.


"Bryan, Ayah tahu kau tidak mencintai Yura. Tapi Ayah mohon tolong jangan abaikan dia. Yura adalah wanita yang sangat baik, kurang apa dia padamu selama ini hah!" omel Karim pelan.


"Jangan paksa aku Ayah. Sudah cukup Ayah dan Ibu membuat hidupku jadi seperti ini sejak kematian Sandara. Kalian yang menginginkan Yura menjadi istriku, bukan aku!" sahut Bryan emosi kemudian pergi meninggalkan ayahnya yang terdiam sedih.


Tangan Patricia terkepal kuat. Dia muak, benar-benar sangat muak melihat keegoisan ayahnya. Di dalam hatinya, Patricia bersumpah akan segera melenyapkan Eleanor agar hidup ayahnya semakin menderita.


"Ayah, dimana Bryan? Apa dia sudah berangkat ke kantor?" tanya Yura sambil menoleh kesana kemari mencari keberadaan suaminya.


"Ayah sudah berangkat lebih dulu Bu. Ada urusan mendadak katanya tadi" jawab Patricia menggantikan kakeknya bicara. "Ya sudah Bu, Kakek, aku berangkat kerja dulu. Kakek nanti pelan-pelan saja ya, aku khawatir tulang punggung Kakek patah kalau terlalu lama berjalan-jalan."


"Astaga Yura, lihatlah gadis nakal ini. Tega sekali dia mengatai Kakeknya seperti itu" ucap Karim sembari menggelengkan kepala.


Yura tertawa mendengar aduan dari ayah mertuanya. Dia kemudian menggelengkan kepala kearah putrinya yang ingin kembali mengerjai kakeknya.


"Patricia, sudah cukup" cegah Yura.


"Tapi aku masih ingin bermain dengan Kakek Bu" rengek Patricia.


"Sudah sana berangkat ke kantor. Nanti Ayahmu bisa marah lho kalau bawahannya datang terlambat" sahut Yura kemudian mendorong tubuh putrinya kearah depan.


"Ibu...


"Astaga anak ini. Sudahlah, nanti saja bercandanya, sekarang pergi dan carilah uang yang banyak. Ibu ingin membeli berlian!."


Dengan langkah gontai Patricia berjalan masuk ke dalam mobil. Dia lalu melambaikan tangan kearah ibunya dengan wajah yang terlihat sangat masam. Setelah mobilnya berada di luar gerbang, Patricia tertawa sinis. Lagi-lagi aktingnya berakhir sempurna.


"Dasar Kakek bodoh, begitu saja sudah lupa daratan. Aku jadi penasaran akan seperti apa expresi di wajahmu nanti jika tahu kalau Eleanor telah mati. Hahaha, kau pasti akan hidup dalam penyesalan yang sangat dalam sampai ajal menjemputmu!."


🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄


...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSSS.....


...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...


...🌻 IG: emak_rifani...


...🌻 FB: Nini Lup'ss...


...🌻 WA: 0857-5844-6308...

__ADS_1


__ADS_2