Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Musuh Bebuyutan


__ADS_3

Di kediaman Gabrielle, saat ini ada Jackson dan juga Kayo. Mereka berdua datang bersama-sama untuk menjenguk sang nyonya rumah. Gabrielle yang saat itu tahu kalau musuh bebuyutannya datang, buru-buru memberi peringatan agar Jackson tidak terlalu dekat dengan istrinya.


"Ck, apa kau pikir aku ingin mengajak Elea kawin lari dari sini?" kesal Jackson yang tidak terima dengan perbuatan Gabrielle.


"Itu bisa saja terjadi. Hati manusia siapa yang tahu," sahut Gabrielle dengan entengnya.


"Kau sebaiknya jangan sembarangan bicara, Gab. Elea itu adikku, lagipula aku juga sudah mempunyai calon istri."


"Cih, masih calon pun,"


Jackson mendengus. Tadi itu dia ingin sekali memeluk adiknya. Namun keinginannya itu terus di halang-halangi oleh Gabrielle dengan alasan kalau istrinya bisa mengalami gatal-gatal jika bersentuhan dengan orang asing. Kalau saja tak menghargai keberadaan Nyonya Liona yang kebetulan sedang berada di ruang tengah, Jackson pasti sudah mengajak Gabrielle baku hantam. Dia geram sekali melihat keposesifannya yang kian menjadi.


"Kak Iel, dokter Jackson, kalian ini kenapa selalu bertengkar sih? Seperti pasangan suami istri saja!" celetuk Elea sambil menikmati potongan buah yang disiapkan oleh Kayo.


Gabrielle dan Jackson langsung mencelos begitu mendengar celetukan Elea yang sangat menusuk hati. Seperti biasa, Elea akan selalu membuat orang lain terpana sekaligus syok begitu kata-kata ajaibnya keluar. Kayo yang melihat kedua pria ini saling memalingkan muka nampak tersenyum geli. Kakak iparnya benar-benar sangat pandai merusak keadaan.


"Oh ya Kayo, kapan kau dan dokter Jackson akan menikah?" tanya Elea.


"Aku masih belum menerima lamarannya, kakak ipar," jawab Kayo santai. "Masih kurang yakin."


"Kenapa?"


"Kurang yakin saja,"


Elea menganguk-anggukkan kepala. Dia lalu melihat ke arah dokter Jackson yang sedang diam sambil menatapnya.


"Apa dokter Jackson bermain dengan wanita lain?"


"Hanya kau dan Kayo,"


Jackson singkat menjawab. Dia tak mau mati kutu di depan adiknya. Jadi sebisa mungkin Jackson berjaga-jaga supaya jangan sampai salah bicara.


"Kalau benar begitu harusnya dokter Jackson lebih berusaha lagi untuk mendapatkan simpatiknya Kayo. Aku sudah tidak sabar lho ingin melihat kalian menikah!" desak Elea.


"Nanti waktunya juga akan tiba dengan sendirinya," sahut Jackson kemudian melirik ke arah Kayo yang terlihat begitu tenang.

__ADS_1


Astaga, kenapa gadis ini sama sekali tak menunjukkan reaksi apapun sih. Dia ini sebenarnya mau atau tidak kalau kuajak menikah? Heran.


Gabrielle yang mendengar isi pikiran Jackson nampak mengulum senyum. Akhirnya ada yang bisa membuat Jackson frustasi juga selain istrinya. Gabrielle mengucapkan banyak terima kasih dari dalam hatinya pada Kayo karena sudah membuat pria ini gelisah tak menentu. Dia lalu berencana menambahkan api dalam hubungan mereka supaya Kayo bisa lebih lama lagi menyiksa Jackson. Rasanya sungguh puas melihat dokter kurangajar ini menderita.


"Kak Iel, kau sedang memikirkan niat jahat ya?" tanya Elea menuduh sang suami yang sedang tersenyum-senyum sendiri.


"A-apa?" Gabrielle memekik kaget. "Astaga sayang, kau ini bicara apa sih. Niat jahat apa yang kau maksud, hem?"


"Aku perhatikan kakak tidak berhenti tersenyum ke arah Kayo dan dokter Jackson. Apa Kakak berniat merusak hubungan mereka? Menjadi pembinor mungkin?"


Gabrielle tercengang.


"Pembinor? Apa itu, kakak ipar?" tanya Kayo penasaran.


"Kata Kak Levi pembinor itu adalah laki-laki yang suka merusak hubungan pasangan lain. Aku curiga Kak Iel ingin menjadi orang seperti itu,"


Jackson dan Kayo langsung menyeringai ke arah Gabrielle. Kini giliran si pria posesif tersebut yang dibungkam dengan tuduhan tidak manusiawi oleh istrinya sendiri. Gabrielle yang sadar akan tatapan itu hanya bisa mendesah pelan. Dia pasrah harus menerima nasib seperti ini.


"Dokter Jackson?" panggil Elea sambil tersenyum malu-malu.


"Apa, hm?"


"Mana kartu hitamnya? Ini sudah satu minggu, tapi aku masih belum dapat hadiah darimu."


Sebelah alis Kayo terangkat. Cepat-cepat dia melihat ke arah Jackson yang hanya diam tanpa ada niat untuk menanggapi pertanyaan kakak iparnya.


"Jackson, jangan bilang kau sudah jatuh miskin makanya kau belum juga memberi apa yang kakak ipar inginkan!" tandas Kayo.


"Sahamku sangat banyak, Kay. Aku tidak akan semudah itu jatuh miskin," sahut Jackson sembari mendengus kesal.


Enak saja jatuh miskin. Bahkan diapun memiliki saham yang cukup besar di perusahaan milik Gabrielle. Dia belum memberikan blackcard pada adiknya karena ada alasan tersendiri, bukan karena tak kaya lagi. Calon istrinya ternyata memiliki keposesifan yang cukup besar pada adiknya. Jackson jadi makin jatuh cinta padanya.


"Kalau sahammu banyak lalu kenapa tidak segera memberikan blackcard yang kakak ipar mau?"


Gabrielle dan Elea sama-sama penasaran dengan alasan yang akan dikatakan oleh Jackson. Bahkan Kayo pun memasang ekpresi yang sama.

__ADS_1


"Blackcard-nya sebenarnya sudah ada, dua malah. Tapi Kay, saat ini aku sedang mengalihkan beberapa asetku untuk Elea, aku ingin dia memiliki banyak uang supaya hidupnya terjamin. Begitu juga dengan dirimu. Aku juga sedang memproses beberapa aset atas namamu. Karena bagaimanapun kita akan segera menikah. Jadi aku harus memastikan masa depanmu dan juga Elea agar baik-baik saja," jawab Jackson di barengi dengan senyum tulus di bibirnya.


Pipi Kayo bersemu merah jambu. Dia bahkan sampai mengalihkan pandangannya ke arah lain. Sedangkan Gabrielle dan Elea, mereka berdua speechless. Tida menyangka kalau Jackson akan berpikir sejauh ini.


"Tapi dokter, aku itu sudah kaya raya, jadi untuk apa kau repot-repot memberiku banyak harta. Aku kan punya ATM berjalan!" celetuk Elea sembari mengelus-elus dada suaminya.


Gabrielle, Jackson, dan Kayo hanya bisa menarik nafas panjang saat mendengar celetukan Eela. Tiga kali, ini ketiga kalinya Elea membuat semua orang tak bisa berkata-kata. Gabrielle yang menjadi korban pun akhirnya bereaksi. Dia mencium tangan istrinya yang usil ini lalu menggigit salah satu jarinya.


Mendapat perlakuan seperti itu membuat Elea terkikik lucu. Rasanya puas sekali bisa membuat suaminya merasa kesal karena dianggap sebagai ATM berjalan.


"Elea, meski kau kaya, aku akan tetap memberikannya untukmu. Keputusan ini sudah tidak bisa di ganggu gugat!" ucap Jackson menegaskan.


"Em, begitu ya?" ujar Elea. "Ya sudahlah kalau kau memaksa, dok. Aku akan menerimanya nanti. Terima kasih banyak, dokter Jackson."


"Sama-sama sayang,"


Jakun Jackson langsung bergerak cepat. Karena tiba-tiba saja dia merasa seperti ada bahaya yang mengancam setelah dia memanggil Elea dengan sebutan sayang. Benar saja, singa di samping adiknya saat ini tengah menatapnya dengan tatapan membunuh. Biasalah.


"Ck, begitu saja langsung marah!"


"Tentu saja aku harus marah. Kau baru saja memanggil istriku dengan sebutan yang tidak seharusnya!" amuk Gabrielle tak terima.


"Cih!"


Kayo membisikkan kata-kata pada kakak iparnya agar segera melerai kedua pria ini yang masih asik bersitegang. Benar-benar pria yang sangat bising. Entah sampai kapan Gabrielle dan Jackson akan menjadi musuh setiap kali berurusan dengan kakak iparnya. Kayo sungguh tidak paham.


"Kak Iel, dokter Jackson, tolong selesaikan urusan rumah tangga kalian di luar saja. Karena urusan pribadi sebaiknya tidak di umbar di hadapan orang lain!"


Teguran Elea sukses membuat Gabrielle dan Jackson menelan ludah. Urusan rumah tangga mereka? Cih... Di masukkan ke dalam perut bumi pun mereka tidak akan sudi menjadi pasangan seperti itu. Lidah Elea benar-benar.


πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„


...🌻VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....


...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...

__ADS_1


...🌻IG: rifani_nini...


...🌻FB: Rifani...


__ADS_2