Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Permintaan Elea


__ADS_3

"Grandma, apa kau baik-baik saja?" tanya Elea.


Clarissa yang sedang duduk sendirian di ruang tamu langsung menoleh kearah sumber suara. Dia tersenyum mendapati cucunya yang tengah berdiri sambil menatapnya.


"Kenapa kau bertanya seperti itu, hm? Ada kau bersama Grandma di sini, jadi mana mungkin Grandma tak baik-baik saja?" jawab Clarissa. "Kemarilah sayangku, mari kita berbincang."


Elea berjalan mendekat kearah neneknya kemudian duduk di sebelahnya. Dia terdiam.


"Sayang, ada apa? Apa ada yang mengganggu pikiranmu?" tanya Clarissa.


"Aku ingin mengunjungi makam Mama Sandara. Tapi hatiku tidak kuat, Grandma. Aku harus bagaimana?.


Bohonglah jika Elea tak pernah merindukan makam ibunya. Tapi dia memendam perasaan rindu itu, Elea tak siap jika harus terkenang dengan kesakitan yang di alami oleh ibunya semasa hidup.


"Sayangku, katakan saja apa yang kau inginkan. Grandma tahu masih ada sesuatu yang menghambat perasaanmu. Iya kan?.


Clarissa harus mengalah. Ya, dia harus melakukan itu demi cucu kesayangannya. Clarissa sebenarnya sangat tahu apa yang tengah membebani pikiran Elea, tapi dia memutuskan untuk menunggunya bicara sendiri. Dia masih ingat dengan jelas pesan yang di ucapkan Gabrielle saat mereka berada di pemakaman kemarin.


"Apa Grandma membenci Kakek Karim?" tanya Elea lirih.


"Iya."


Jawaban singkat itu membuat dada Elea terasa sesak. Dia tidak ingin ada kebencian di sini, yang Elea mau adalah kehangatan. Dia ingin mendapat itu semua dari keluarganya. Baik itu dari orang yang telah menyengsarakan ibunya, atau dari orang yang telah menelantarkan ibunya. Elea sadar semua itu tidak mudah, Grandma-nya pasti sangat sakit hati sekali terhadap kelakuan Kakek Karim. Tapi dia ingin semua ini berakhir, hati Elea sudah terlalu lelah.


"Grandma tidak ingin berbohong padamu, sayang. Jauh di lubuh hati Grandma, Grandma begitu kecewa pada Kakekmu. Dia tega menyiksa Mama-mu hingga di penghujung nafas, bahkan tega membuang dan menyingkirkanmu dari tengah-tengah keluarga mereka. Akan terdengar sangat munafik jika Grandma berkata tidak membencinya. Tapi di balik semua kelakuan kejam Kakekmu Grandma sadar, dia tidak sepenuhnya bersalah karena Kakekmu tidak tahu kalau Mama Sandara adalah putri kandungnya. Mungkin ceritanya akan berbeda jika Grandma memberitahu keberadaan Mama-mu di negara ini. Jadi sayang... " jeda Clarissa kemudian mengusap pelan pipi cucunya. "Demimu Grandma akan memaafkan semua kesalahan Kakekmu. Biarlah semua kesalahan itu menjadi dosa yang akan kami pertanggungjawabankan di hadapan Tuhan kelak. Yang penting sekarang Grandma bisa melihatmu bahagia, karena itu jauh lebih berharga dari apapun. Seandainya Mama-mu masih ada, dia pasti akan setuju dengan perkataan Grandma. Mama-mu sangat baik, hatinya begitu bersih. Grandma.. Grandma....


Elea langsung memeluk neneknya yang sedang menahan diri agar tidak menangis. Dia lega, sekaligus merasa sedih. Lega karena neneknya bersedia untuk berdamai dengan kakeknya tanpa Elea minta, dan merasa sedih karena mereka sama-sama merindukan sosok wanita yang kini telah hidup damai di surga.

__ADS_1


"Maafkan kelalaian Grandma ya sayang. Semua kesakitan ini berawal dari sikap Grandma yang tidak berdaya menghadapi tekanan dari kakek buyutmu. Andai saja waktu bisa di putar, Grandma akan lebih memilih untuk mati bersama Mama-mu" ucap Clarissa sedih.


"Tidak apa-apa Grandma, semua sudah terlanjur jadi begini. Kita tidak bisa melakukan apapun lagi kecuali memperbaiki keadaan yang masih tersisa" sahut Elea tak kalah sedih. "Grandma, boleh aku meminta sesuatu darimu?.


Clarissa menyeka airmata di wajahnya kemudian mengangguk. Dia mencoba untuk tersenyum saat Elea melepaskan pelukan mereka.


"Kakek Karim sedang sakit, bagaimana kalau kita pergi menjenguknya?.


"Memangnya Kakekmu sakit apa sayang?.


Elea menarik nafas dalam-dalam sebelum menjawab pertanyaan neneknya. Dia kemudian menoleh kearah belakang ketika mendengar suara langkah kaki berjalan mendekat.


"Tuan Karim kini tengah menuai karma atas apa yang telah dia perbuat terhadap mendiang Nyonya Sandara. Kondisinya akhir-akhir ini sering memburuk, dan kebetulan juga Tuan Karim menderita penyakit jantung. Jadi dia sering sekali menginap di rumah sakit" ucap Liona ikut menimbrung.


"Hmmm, kalau untuk hal itu aku maklum, Nyonya Liona. Dia dan istrinya sudah sangat keterlaluan dalam memperlakukan putriku. Wajar saja jika Tuhan menghukumnya dengan kondisi seperti ini" ucap Clarissa dengan nada sedikit sinis. "Sayang, istrinya sudah meninggal lebih dulu. Padahal aku ingin meminta banyak penjelasan darinya mengapa tidak memberitahu Karim kalau aku dan Sandara pernah datang ke rumah mereka. Kalau saja dia tidak memiliki hati yang jahat, Karim pasti tidak akan menyia-nyiakan Sandara. Dan cucuku juga tidak akan mungkin mengalami kepahitan hidup selama sembilan belas tahun lamanya. Jika bukan karena demi Elea, aku..


Clarissa langsung berhenti bicara saat dia mendapat kode dari Nyonya Liona agar tak melanjutkan kata-katanya. Dia lupa kalau cucunya masih ada di sebelahnya. Dengan perasaan was-was Clarissa melihat kearah Elea, dia gusar.


"Tidak" sahut Elea santai. "Apa yang Grandma katakan tadi memang benar, itu adalah fakta yang tidak bisa di sangkal. Akar dari semua dosa-dosa kalian sepertinya memang berasal dari istrinya Kakek Karim. Syukurlah dia sudah mati, jadi kita semua tidak perlu tercerai-berai menghadapi tipu muslihatnya. Biarkan Tuhan saja yang membalas, karena balasan dari Tuhan seribu kali lipat lebih menyakitkan dan tiada akhir."


Liona dan Clarissa terpaku. Mereka tidak menyangka kalau Elea akan bicara seperti itu. Padahal tadi mereka sempat khawatir kalau-kalau Elea akan murung setelah Clarissa mengeluarkan unek-uneknya. Tapi untunglah kekhawatiran mereka tidak terjadi.


"Grandma, setelah ini ayo kita pergi ke rumah sakit. Grandma dan Kakek Karim harus segera membereskan masalah ini karena aku tidak mau ada jarak lagi di antara kita semua. Aku ingin semuanya akur dan hidup dengan bahagia. Lupakan semua kesalahpahaman yang ada, perbaiki diri dan mari membuka lembaran hidup yang baru" ujar Elea penuh harap.


Clarissa begitu terharu mendengar ucapan bijak cucunya. Dengan penuh sayang dia membelai rambut Elea sembari membatin membayangkan jika seandainya Sandara masih hidup.


'Lihatlah Sandara, putrimu tumbuh menjadi gadis yang memiliki hati suci seperti malaikat. Kau benar-benar terberkati sayang, kau berhasil mendidik putrimu melalui tangan Tuhan. Meski hidup dalam kesengsaraan, nyatanya Elea bisa menata kepribadiannya dengan apik. Mama bangga padanya.'

__ADS_1


Liona tersenyum samar mendengar apa yang sedang di pikirkan oleh nenek Elea. Menantunya memang benar-benar terberkati, dan dia sangat beruntung karena gadis lugu nan bijak ini telah menjadi bagian dari Keluarga Ma.


"Sayang, apa hari ini kau tidak ikut Gabrielle pergi ke perusahaan?" tanya Liona.


"Tidak Bu. Hari ini aku meminta izin tidak masuk kerja karena ingin menyelesaikan masalah ini. Aku benar-benar sangat ingin mengunjungi makam Mama Sandara, tapi aku tidak bisa pergi jika Grandma dan Kakek Karim belum berbaikan. Aku butuh kesadaran dari mereka untuk menguatkan kakiku sebelum melangkah pergi ke tempat peristirahatan Mama yang terakhir" jawab Elea.


"Kerja? Jadi selama ini kau bekerja di perusahaannya Gabrielle?" tanya Clarissa kaget.


"Iya."


"Pekerjaan apa yang kau lakukan di sana?.


"Sebagai sekretarisnya Kak Iel, Grandma" jawab Elea jujur. "Tugasku adalah menggambar dan menemani Kak Iel di ruangannya. Itulah pekerjaanku selama menjadi sekretaris CEO di Group Ma."


Liona melihat kearah lain sambil menahan tawa. Lagi-lagi Elea membuat orang lain tak bisa berkata-kata. Dan kali ini yang menjadi korban adalah neneknya sendiri. Wanita bangsawan itu nampak terbengang dengan mulut menganga lebar. Dia pasti tidak menyangka kalau pekerjaan sekertaris yang di lakoni oleh Elea adalah jenis pekerjaan yang sangat menggelitik hati. Sekretaris mana yang tugasnya adalah menggambar sambil menemani sang CEO di ruangannya. Hal itu hanya Elea saja yang mampu melakukannya karena dia adalah gadis yang istimewa.


"Aku hebat kan, Grandma?.


"Ha... Oh i-iya, kau sangat hebat. Grandma salut padamu" jawab Clarissa tergagap.


Elea tertawa. Dalam hatinya dia merasa sangat puas karena bisa mengerjai neneknya. Hmmm, mungkin ini adalah salah satu kelebihan mempunyai dua kepribadian. Orang lain akan selalu menganggapnya bodoh dan tak bisa melakukan apapun, padahal yang terjadi sebenarnya adalah Elea selalu membantu suaminya menyelesaikan berkas-berkas kerjasama di perusahaan. Sekaligus menjalankan tugas sebagai istri yang patuh terhadap suami. Kalian pasti tahu apa artinya bukan?? 🤣🤣🤣🤣


🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄


...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....


...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...

__ADS_1


...🌻 IG: emak_rifani...


...🌻 FB: Rifani...


__ADS_2